
Beberapa hari telah berlalu. Aira yang sedang berada di rumah mamanya tampak sedang berkumpul dengan kedua orang tuanya dan suaminya. Mereka duduk bersama di ruang tamu.
"Sayang, kamu sudah ada gaun untuk acara perpisahan kampusmu?"
"Aku belum membelinya, Ma. Lagi pula aku sebenarnya malas datang ke acara itu?"
"Jangan begitu. Ini moment terakhir kamu menjadi seorang mahasiswi di sana."
"Iya, aku saja ingin merasakan lagi moment seperti itu." Addrian yang duduk dengan kepala Aira bersandar pada dadanya, mengecup lembut kening wanita yang sedang mengandung bayinya.
"Kamu ingin karena pasti niatnya tebar pesona dengan banyak wanita yang tergila-gila sama kamu."
"Hm! Kenapa pikirannya selalu negatif padaku? Aku serius sangat menyukai acara perpisahan itu."
"Iya, aku tau."
"Anak mama ini kenapa curigaan terus padaku? Padahal semua hidupku sudah aku serahkan padanya.
Kedua orang tua Aira malah terkekeh bersama. "Mama ini senang melihat keluarga kalian yang sangat harmonis. Aira juga akhirnya bisa menerima dan mencintai kamu, Uno."
"Ini semua juga berkat perjodohan Mama. Ternyata kita memang jodoh."
Aira tersenyum kecil. "Kalau ingat dulu aku sangat membenci kamu, aku jadi merasa ingin menertawai diriku sendiri. Kenapa aku bisa malah jatuh cinta sama kamu?" Aira melihat pada wajah suaminya yang melihatnya datar.
"Kita tidak ada yang tau dengan siapa Tuhan menjodohkan."
Aira memeluk Addrian hangat. Kedua orang tua mereka tampak senang melihatnya.
"Nyonya, permisi. Ini ada kiriman paket dari seseorang untuk tuan muda Addrian."
"Kirim paket?" Wajah Tatian agak bingung. Kalau memang ada kiriman paket untuk Uno, kenapa malah ditujukan pada alamat rumah Aira? Bukannya Uno dan Aira sudah punya rumah sendiri?
"Paket dari siapa? Aku tidak pernah memesan barang, dan apa lagi di tujukan ke alamat ini? Apa kamu, Sayang?" tanya Addrian heran.
"Aku tidak memesan apa-apa. Lagi pula kalau pesan aku tujukan juga di rumah kita, Mas."
"Coba aku lihat siapa pengirimnya?" Addrian membaca nama di sana. "Dari Lita?" Addrian tampak bingung dengan nama yang ada di sana.
"Siapa Lita, Mas?"
__ADS_1
"Aku tidak tau? Seingatku tidak ada teman atau mantan kekasihku dulu namanya Lita."
"Coba kamu ingat lagi. Siapa tau ada yang kamu lupakan nama mantan kamu." Aira mengerucutkan bibirnya.
"Tidak ada, Aira, dan aku sangat yakin."
"Buka saja kalau begitu kadonya. Nanti kita tau dia mengirim apa untuk kamu."
Addrian yang penasaran membuka paket itu perlahan. "Oh ****!" umpat Addrian marah. Dia langsung menutup kembali kardus paket itu.
"Mas, apa isinya? Kenapa kamu sampai seperti itu?"
Addrian melihat pada kedua mertuanya yang juga tampak penasaran dengan isi paket itu.
"Sayang, lebih baik kamu tidak perlu tau apa isi paket itu."
"Kenapa, Mas? Apa ada hal yang membahayakan?" Wajah Aira seketika panik.
"Bukan bahaya, tapi hal yang tidak pantas. Untuk apa dia mengirimi aku paket seperti itu?"
Aira yang penasaran segera beranjak dari tempatnya dan mengambil paket yang ada di atas meja.
"Aira, sebaiknya tidak perlu. Paket itu sepertinya orang iseng yang tidak punya kerjaan."
"Sini! Aku mau lihat, Mas."
Aira mencoba memaksa pada suaminya, dan Addrian yang ada di sana tidak bisa saling berebut paket itu. Apa lagi Aira sedang hamil.
"Sayang, jangan! Nanti kamu bisa marah sama aku."
Aira tetap membuka dan dia tampak kaget melihat isinya. "Lingerie, dan ada surat di sana.
"Untuk kekasihku yang aku cintai. Bahkan walaupun hubungan kita sudah kamu akhiri, tapi aku tetap mencintai kamu. Aku kirimkan benda-benda di mana mengingatkan hal yang indah bagi kita saat di atas ranjangku. Aku sakit sekali jika melihat benda ini. Mereka seolah mengingatkan aku akan hangatnya sentuhan kamu dan ciumanmu." Aira melihat pada suaminya.
"Aku tidak mengenal wanita itu. Percayalah, Aira. Itu hanya untuk merusak rumah tangga kita. Aku sudah mengakui dulu aku seperti apa, tapi jujur wanita bernama Lita ini aku tidak kenal, dan barang-barang ini aku sama sekali tidak pernah melihatnya," Addrian coba menerangkan pada Aira.
Aira mukanya sudah ditekuk kesal saja. Addrian juga sudah berusaha meyakinkan. Bahkan dia juga berani bersumpah dia tidak kenal dengan namanya Lita.
"Keterlaluan sekali orang yang mengirim paket ini dan tulisannya benar-benar membuat jijik." Aira membuang surat yang tadi dia baca
__ADS_1
dan sebenarnya ada kelanjutannya, tapi Aira tidak mau membacanya.
"Kalian berdua jangan langsung tersulut emosi dan kemarahan sehingga nanti kalian jadi bertengkar. Sebaiknya cari dulu siapa pengirimnya," terang ayah Aira.
"Iya, dan kamu, Aira, kamu jangan langsung marah pada suami kamu. Sebagai istri kita harus percaya pada suami kita."
"Iya, Ma."
"Kalau begitu nanti akan aku cari tau siapa yang mengirim ini. Berani sekali dia mencari masalah denganku." Tangan Addrian mengepal erat.
***
Addrian membuang paket itu dan mereka izin pulang. Di depan rumahnya Addrian dan Aira tampak kaget karena ada paket di Depan pintu utamanya.
Addrian langsung menuju paket itu dan saat mau membaca siapa yang mengirimkan. Senyum Addrian tampak terlukis.
"Dari siapa?"
"Dari mamaku. Dia mengirimkan sesuatu untuk kamu sepertinya."
Aira segera membuka paket itu dan ternyata itu sebuah gaun yang sangat indah.
"Mama Amanda kenapa memberiku gaun ini? Apa lagi gaun ini sangat bagus."
"Kamu bukannya mau menghadiri acara perpisahan kampus. Mungkin mama mengirimkan ini agar bisa kamu pakai di acara itu."
"Iya, sepertinya begitu. Mama tau sekali jika menantunya ini sedang membutuhkan gaun."
Aira membawa masuk dan mereka berada di dalam kamarnya.
"Aira, soal pengirim paket itu, kita tidak perlu membahasnya lagi. Anggap saja itu orang iseng yang ingin mengganggu rumah tangga kita."
"Siapa yang sedang mengerjai kita, Mas? Jujur saja aku seolah percaya dengan apa yang wanita itu tuliskan di atas kertas tadi. Mungkin itu memang benda yang dia biasa kamu dan dia gunakan pada saat dia atas tempat tidur."
"Aira, aku memang sering bercinta dengan banyak gadis, tapi aku dengan Lita dan benda itu semua tidak pernah. Aku masih bisa mengingat semuanya, aku tidak bohong sama kamu." Tangan Addrian menggenggam tangan istrinya untuk meyakinkan istrinya jika semua yang dia katakan adalah benar adanya.
Addrian menghubungi Rico dan dia juga mencoba bertanya pada Rico tentang gadis bernama Lita. Rico sedikit banyaknya tau sepak terjang siapa saja wanita dalam hidup Addrian.
"Seingatku tidak ada yang bernama Lita? Memangnya tidak coba kamu cari tau saja dia mengirim paket itu dengan bantuan kurir dari mana?"
__ADS_1
"Masalahnya yang menerima paket itu pelayan di rumah Aira, dan sepertinya dia menggunakan kurir langsung."