Kamu Milikku

Kamu Milikku
Menghindar


__ADS_3

Sepanjang malam Reva menghindari Steven.


Dia mengobrol dan bercanda dengan yang lain. Tapi begitu Steven mendekat, dia langsung pergi.


Reva tau dia tidak boleh sendiri.


Tadi dia melihat sekilas raut wajah Steven.


Reva tidak bisa menduga apa yang ada dalam pikiran Steven.


Tapi, Reva mengira Steven marah padanya.


Tapi..kenapa dia harus marah ?


Harusnya kan aku yang marah ?! batin Reva.


Aku hanya merespon tindakannya yang kurang ajar. Merendahkan ku, pikir Reva sambil mencibir.


Reva melihat ke sisi lain.


Sandy sedang menemani Cindy.


Reva nyengir.


Sandy menoleh.


Mata mereka bertatapan.


Diam-diam Reva mengacungkan kepalan tangannya. Memberi semangat.


Sandy membalas dengan acungan jempol lalu cepat-cepat menggandeng Cindy.


Reva tersenyum diam-diam.


Dia menatap lebih jauh.


Dia menangkap kelibat Steven bersama Jenny.


Tampaknya mereka sedang berdebat.


Jenny menunjuk-nunjuk Steven.


Sementara Steven hanya menjawab sesekali.


Reva mengalihkan pandangannya.


Melihat Michael dan Tia.


Tangan Michael tak lepas dari tubuh Tia.


Reva memperhatikan interaksi diantara mereka.


Luar biasa.


Setelah hampir empat tahun menikah, mereka masih saja mesra seperti orang yang baru pacaran.


Reva lalu memandang ke samping Michael.


Robert pun sedang menggandeng Biliyan.


Sesekali tangannya dilepaskan untuk memeluk pinggang Biliyan.


Reva tau bahwa Biliyan sekarang sedang mengandung anak kedua.


Mesra sekali keduanya.


Mungkinkah suatu hari nanti aku bisa ketemu sama orang yang seperti itu.


Mencintai tanpa batas dan syarat ?


Reva Bertanya-tanya sendiri.


"Kamu lagi melamun." kata Liu.


Reva menengadah.


Lalu mengangguk.


"Ngelamunin apa ?"


"Boss kalian." jawab Reva menganggukkan dagunya ke arah Michael dan Robert.


Liu ikut menatap mereka.


"Mereka beruntung.


Ada juga orang yang enggak seberuntung itu." kata Liu.


Reva menoleh, menatap Liu.


"Kamu kan masih muda.


Masih banyak kesempatan." katanya.


Liu menatap Reva.


"Apalagi kamu.


Kesempatan kamu lebih banyak.


Cewek cantik itu tinggal milih."


Reva memajukan bibirnya.


"Milih apanya ?!


Gak ada yang bisa dipilih !" ketusnya.


Liu tertawa.


"Kadang manusia enggak tau apa yang ada dihadapannya.


besi biasa atau permata."


"Aku pernah bilang begitu sama om Sandy." cetus Reva.


"Karena...besi bisa ditutupi dengan lapisan lain. Yang menutupi kekurangannya.


Permata sebaliknya..Dari luar seperti batu biasa. Dia harus dipotong, diasah.


Perlu usaha lebih untuk dapat sepotong permata.


Hasilnya...ya itu..." kata Liu menganggukkan kepalanya pada Tia.


Reva tersenyum.


"Kamu itu permata, Va.

__ADS_1


Kamu harus tau itu.


Jangan biarkan orang menganggap kamu hanya besi." kata Liu.


"Makasih Liu.


Om Sandy juga bilang begitu."


"Boss Sandy ?"


Reva mengangguk.


Sementara di pojok lain.


"Saan...udah lama ya kita gak ketemu." kata Cindy.


Sandy melirik.


Menatap sekilas pada belahan dada yang membusung.


Kulit putih mulus.


Hidung mancung dan bibir penuh yang seksi.


Cindy menempelkan dadanya di lengan Sandy.


Sandy menarik nafas dalam.


Dia laki-laki biasa.


Dan tadinya, dia jatuh cinta setengah mati pada pemilik dada ini.


Penuh khayalan, bagaimana rasanya memegang, meremas dan me...


Sandy menggelengkan kepalanya.


Akal sehatnya sudah kembali.


Dan dia tidak ingin kembali terjerumus.


Dia ingin memiliki keluarga yang stabil seperti teman-temannya.


Memiliki anak dari ibu yang sudah siap menjadi ibu yang mencintai dan menyayangi anaknya.


Bukan hanya sekedar punya anak.


Supaya nantinya anak itu menjadi seorang unggulan seperti... seperti....


Sandy melirik ke arah Reva.


"San!!


Kamu denger aku gak sih ?!" omel Cindy.


"Hmm...


Apa ?"


"Kamu lagi ngelamun." kata Cindy.


"Iya..


Aku mikirin kerjaan.


Nanti malam harus begadang sama Michael.


"Nanti malam ?" kerut Cindy.


Sandy mengangguk.


"Saan..nanti malam aku tidur di kamar kamu ya ?"


Sandy menghela nafas.


"Cin..kan kamu denger tadi Michael ngomong apa."


"San!!


Yang punya Methrob itu bukan cuma Michael.


Kamu juga !


Kamu kalah dari dia ?" tantang Cindy.


"Bukan gitu.


Tapi Michael bener.


Gak enak


Banyak yang single-single di sini."


"ehmm...kalo gak ketauan kan gak papa San..." senyum Cindy merayu.


Tangannya membelai dada Sandy.


Menggoda.


Sandy merasakan jantungnya berdebar.


Sandy menarik nafas.


"Cin...emang udah bisa ?" katanya.


"Bisa apa?"


"Ini.." tangan Sandy membelai pangkal paha.


"Kalo gak bisa aku gak kesini San!" jawab Cindy tersenyum.


"Ah masa sih ?


Bukannya kamu lagi dapet?"


"Enggak."


"Kamu bilang kamu lagi dapet ?"


Sandy harus memastikan bahwa Cindy tidak hamil karena dia.


"Itu sih minggu lalu.


Aku udah bersih kok." jawab Cindy.


"Tuuu..kan..


Kamu sampe lupa jadwalku.

__ADS_1


Padahal dulu kamu inget banget, San.." senyum Cindy.


"Ya inget lah.


Kapan aku harus puasa." jawab Sandy mencium pipi Cindy.


Cindy menahan rahang Sandy, lalu mencium bibirnya.


Sejenak mereka berciuman.


Cindy lalu menjauhkan kepalanya.


"Sejak kapan aku jatuh cinta sama kamu, San ?" bisiknya di bibir Sandy.


Sandy menatap mata Cindy.


Hatinya berdebar.


Cindy cantik, seksi dan bersedia untuknya.


Pusat dirinya sudah mengeras.


Dirinya tergoda untuk menyeret Cindy ke kamar.


Matanya turun ke bibir Cindy.


Lalu...


Uhuk..uhukkk...


Sandy terbatuk-batuk.


Dia ingat percakapannya dengan Reva.


Tentang virus, bakteri dan...barang yang tidak dicuci.


"Astaga San...


Kamu keselek ya..." Cindy cekikikan.


Sandy berdiri.


"Aku minum dulu." katanya sambil meninggalkan Cindy.


Kepala atasnya kembali mengambil alih.


Sementara dia mengasingkan diri di Indonesia, dia tidak tau Cindy tidur dengan siapa saja untuk memuaskan dirinya.


Waktu dia berada di sisi Cindy pun, Cindy tidak ragu-ragu untuk tidur dengan laki-laki lain.


Apalagi saat dia tidak ada.


Dua bulan.


Sandy berjalan perlahan.


Benaknya berputar.


Dia harus segera menyelesaikan masalah ini.


Dia tidak mungkin harus terjebak terus menerus.


Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membangun kembali hidupnya.


Menata kembali hidupnya yang sebelumnya berantakan.


Dia sendiri sudah tidak memiliki rasa apapun pada Cindy.


Akan adil bagi dia dan Cindy kalau dia melepas Cindy.


Dia dan Cindy bisa mencari pasangan masing-masing.


Membangun hidup masing-masing.


Michael menghadangnya.


Menatapnya dengan tajam dan dalam.


Sandy menghembuskan nafas.


Michael, sahabatnya ini, sudah banyak melalui ujian.


Dibandingkan dirinya, Michael jauh lebih memahami hidup dan kehidupan.


Dan Michael merupakan sedikit orang yang memahami dirinya.


Michael tersenyum.


Dia merangkul pundak Sandy.


Sandy lega.


Dia merasa mendapatkan dukungan.


Dan saat dia menoleh, Robert, Biliyan dan Tia sedang tersenyum memberi semangat padanya.


Dia balas tersenyum.


Matanya berpindah.


Reva sedang menatapnya juga.


Tersenyum memberi dukungan.


Sandy terus berjalan menuju meja.


Mengambil minum untuk mendinginkan kepalanya.


Sandy minum.


Lalu meletakkan gelasnya di meja.


Mereka semua bertatapan.


"Gue harus kembali ke sana." kata Sandy menganggukkan kepalanya ke arah dia berjalan tadi.


Robert menoleh.


"Gak perlu.


Dia udah kesini.


Lu lebih aman di sini.


Di antara kami semua." katanya.


Cindy sedang berjalan menuju mereka.

__ADS_1


...⛰️🍎🎋...


__ADS_2