
Citra tetap memaksa agar Addrian mau menikmati masakan yang sudah dia buat dan tidak mau kalau sampai memberikan masakan itu untuk orang lain.
"Apa aku buang saja makanan ini?"
"Jangan dibuang. Sayang sekali jika kamu sampai membuangnya. Kalau begitu biarkan saja di sana dan nanti aku akan membawanya pulang. Aira pasti senang menerimanya. Nanti aku akan makan dengan Aira. Bagaimana?"
Citra tampak berpikir sejenak. "Ya sudah, nanti kamu bawa pulang saja."
"Citra, sekarang aku mau pergi meeting dulu, kamu bisa pergi dulu dari sini. Terima kasih untuk makanannya."
Citra berdiri dari tempatnya. "Addrian, dasi kamu tidak rapi." Tangan Citra seketika sudah berada pada dasi Addrian. Dia malah seenaknya merapikan dasi Addrian. "Begini sudah rapi. Kamu mau menemui klien baru, kalau kamu terlihat berantakan, pasti nanti bisa ditertawakan. Dikira istrimu tidak bisa merawatmu."
"Terima kasih. Kalau begitu aku akan pergi dulu."
"Iya, aku akan merapikan meja kerjamu."
Addrian berjalan pergi dari sana. Citra segera berdiri dan menuju meja kerja Addrian dengan senang. Namun, saat melihat foto Aira di meja kerja Addrian, seketika raut wajah Citra tampak berubah kesal.
"Bukan foto kamu yang seharusnya ada di sini, tapi fotoku dan anakku dengan Addrian. Lihat saja, Aira, setelah ini akan aku buat kamu menangis darah karena susah hadir tanpa permisi merebut pria yang sangat aku cintai dari aku masih kecil." Citra menutup bingkai foto yang ada potret Addrian sedang mencium pipi Aira yang sedang hamil.
Citra bekerja di sana satu lantai dengan Addrian. Dia juga yang membantu Mona dalam menyelesaikan tugasnya. Citra bisa si bilang satu divisi dengan Mona. Mona pun sangat senang dengan Citra karena Citra itu gadis yang pandai dan di mata Mona Citra itu gadis yang baik.
Addrian berada di sebuah restoran besar dengan salah satu rekan bisnis barunya yang seorang pria asal London. Pria itu sudah berkeluarga dan tinggal di London.
"Saya akan ada di sini selama beberapa minggu Tuan Addrian, dan saya tinggal di salah satu hotel dekat dengan kantor milikmu."
"Bahasa Indonesia Tuan Andreas sangat bagus."
"Ahahahh! Tentu saja karena saya juga lahir dari seorang ibu berkewarganegaraan Indonesia, dan saya juga pernah tinggal di Indonesia lumayan lama sampai akhirnya saya kembali ke London. Tuan Addrian apa sudah menikah?"
__ADS_1
"Saya sudah menikah dan akan memiliki seorang bayi kecil."
"Wow! Sungguh luar biasa sekali. Semoga istrimu melahirkan dengan baik sehingga istri dan anakmu bisa sehat dan selamat."
"Terima kasih doanya."
"Tuan Addrian pasti memiliki anak yang tampan kalau tidak pasti dia akan sangat cantik karena istri kamu pasti sangat cantik."
"Istri saya biasa saja, tapi bagi saya dia sangat cantik." Addrian tidak mau mengumbar kecantikan Istrinya apa lagi pada pria lain karena baginya hal itu tidak pantas, cukup dirinya saja yang mengetahui betapa cantik istrinya.
"Ahahaha! Kamu bisa saja. Saya senang bisa bekerja sama dengan perusahaanmu, saat membaca tentang profil perusahaanmu itu. Saya tidak salah memilihmu untuk bekerja sama. Oleh karena itu saya menyuruh sekretaris pirbadiku untuk datang ke tempatmu."
"Saya juga sudah membaca tentang profil perusahaan Tuan Andreas dan senang bisa bekerja sama, dan semoga kerja sama ini bisa saling menguntungkan kedua belah pihak."
"Tentu saja. Saya juga berharap begitu. Oh ya! Tuan Addrian, apa nanti malam mau saya undang makan malam di restoran ini? Jangan lupa kamu bawa juga istrimu agar kita bisa saling mengenal dengan baik karena saya yakin jika kerja sama ini akan berlangsung cukup lama."
"Apa boleh saya nanti bicara dulu dengan istri saya karena bagaimanapun dia sedang hamil besar dan saya khawatir jika dia keluar pada malam hari."
Acara meeting hari ini selesai. Addrian kembali ke kantornya ditemani oleh mba Mona." Pak, boleh saya bicara sesuatu?"
Addrian berhenti dan menoleh pada sekretarisnya yang berdiri di belakangnya. "Ada apa, Mba?"
"Pak, sebelumnya saya minta maaf jika apa yang saya sampaikan ini tidak berkenan dengan pemikiran Pak Uno."
"Katakan saja ada apa?"
"Pak, kenapa saya merasa jika Tuan Andreas bukan orang yang baik seperti kelihatannya."
"Maksud, Mba Mona?" Addrian tampak bingung mendengar apa yang dikatakan oleh sekretarisnya itu.
__ADS_1
"Saya memang tidak tau pasti tidak baiknya bagaimana, tapi entah kenapa saat tadi saya melihat Pak Uno dan Tuan Andreas berbicara ada hal yang membuat saya merasa bahwa pria ini memiliki hal yang sedang dia rencanakan."
"Maksud Mba Mona, dia mengirimkan rencana kerja sama pada perusahanku karena ada maksud lainnya?"
Wanita cantik itu mengangguk perlahan. "Saya mengatakan hal ini karena saya sudah lama berkecimpung dengan dunia bisnis sebelum bekerja di sini, dan sedikit banyaknya saya bisa tau bagaimana orang dalam dunia bisnis ini. Pak Uno saya harap agar berhati-hati saja karena Tuan Andreas juga baru Pak Uno kenal."
"Terima kasih, Mba Mona. Aku senang sekali bisa memiliki sekretaris seperti Mba Mona."
"Saya juga senang bisa membantu Pak Uno karena selama ini Tuan Daddy juga sangat baik dengan saya dan keluarga."
"Mba Mona, kalau begitu aku mau kembali ke ruanganku dulu sambil mempelajari dokumen milik Tuan Andreas."
Addrian masuk ke ruang kerjanya dan melihat ada rantang makanan milik Citra. "Biar nanti aku berikan pada Aira, semoga dia mau, dan tidak menjadi masalah."
Addrian membaca dokumen kontrak kerja sama itu, dan dia juga kembali memikirkan tentang perkataan sekretarisnya. "Apa aku coba menghubungi daddy dan coba berkonsultasi masalah ini dengannya?" Addrian mencoba berpikir kembali dan memutuskan tidak jadi menghubungi daddynya, dia akan mencoba mengurus sendiri jika ada masalah nantinya karena dengan begitu dia akan lebih belajar tentang dunia bisnis.
Jam kantor di perusahaan Addrian sudah berakhir, dan seluruh karyawan bersiap untuk pulang. Addrian yang keluar dari kantornya melihat di meja Citra, dia masih sibuk dengan laptopnya.
"Citra kamu belum pulang?"
"Aku tinggal sedikit menyelesaikan laporannya. Pak Addrian mau pulang?"
"Iya, aku mau pulang, kamu pulang sama siapa nanti?"
"Aku tidak tau, tadi berangkat dengan di antar supir tante, tapi tidak bisa menjemput karena harus mengantar Tante pergi ke rumah saudaranya."
"Apa mau aku minta tolong supir perusahaan untuk mengantar kamu pulang?"
"Tidak perlu, biar nanti aku pesan mobil online saja."
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu. Pekerjaan kamu jika besok bisa diselesaikan, sebaiknya selesaikan saja besok. Jangan sampai kelelahan."
"Iya, Pak Addrian."