
Mami Sandy mengikuti obrolan mereka semua.
Dia menatap Reva.
Memperhatikan nya.
Semua deskripsi yang diberikan oleh Cindy dicocokkan nya dengan pengamatannya secara langsung.
Mami Sandy melirik suaminya.
Suaminya terlihat terang-terangan menyukai gadis itu.
Tapi memang suaminya biasanya menyukai gadis seperti ini.
Yang pintar.
Sementara dia sendiri lebih menyukai gadis yang menonjol.
Yang terkenal.
Karena nantinya bisa membantu mengangkat karir Sandy.
Mengangkat nama Sandy.
Sandy harus memiliki istri seperti itu supaya dia bisa keluar dari bayang-bayang Michael.
Sandy dan Robert, mereka berdua berada di balik bayang-bayang Michael.
Robert sendiri tampaknya tidak keberatan.
Sandy pun sepertinya begitu.
Michael memang menonjol sejak Mami mengenal dia.
Makin terkenal saat semua orang tau bahwa dia sedang memacari kakak kelasnya.
Dan ndilalah, si kakak kelas malah jadi penyanyi kelas dunia yang terkenal.
Namanya bersaing dengan penyanyi-penyanyi K pop yang sedang digandrungi oleh anak muda.
Mami juga tau bahwa Michael lah yang menjadi keputusan terakhir dari sebagian besar keputusan yang diambil oleh perusahaan anaknya.
Diantara mereka bertiga, Michael lah sang ketua suku.
Dan Mami tidak bisa menahan rasa irinya.
Jadi diapun berusaha mencari calon istri yang sama terkenalnya seperti istri Michael.
Mami menatap Sandy dan Reva yang berdiri bersebelahan.
Dia melihat tangan Sandy yang menahan pinggang Reva.
Dan kemudian..
Reva berbicara tentang tidak ingin menjadi pelakor sambil menepis tangan Sandy.
Mami melihat Sandy tampak terkejut, kecewa, sedih dan marah ?
Marah saat Biliyan ikut berkomentar.
Apa dia baru saja menghilangkan kesempatan anaknya mendapatkan istri yang diidamkannya ?
Yang juga disukai suaminya?
Mami Kembali menatap Reva.
Reva terlihat polos. Khas anak sekolah.
Berbeda dengan Cindy.
Cindy tampak berpengalaman. Matang.
Untuk bisa menyaingi Michael, istri Sandy harus sama terkenalnya seperti istri Michael.
Dan Cindy memenuhi syarat itu.
Tapi Sandy tidak menyukainya.
Malah tampak sekali bahwa Sandy menghindarinya.
Bukan awal yang mudah untuk sebuah perkawinan.
Di sisi lain, Sandy sepertinya memang menyukai Reva.
Tapi Reva sebaliknya.
Buktinya baru saja Mami lihat barusan.
Memang.. siapa gadis itu ?
Minta dikejar-kejar oleh anaknya, seorang pemilik game company ternama ?
Mami merapatkan bibirnya.
"San...lebih baik bersama orang yang memang mencintai kita daripada kita yang harus capek ngejar-ngejar dia." cetus Mami Sandy.
Mami Michael tersenyum.
"Dulu memang Michael yang mengejar-ngejar Tia.
Saya tau banget kisah mereka sejak SMA.
Tapi sekarang toh mereka bahagia.
Tia bahagia bersama Michael.
Michael pun bahagia bersama Tia.
__ADS_1
Jadi..menurut saya...
gak masalah ngejar-ngejar perempuan.
Asalkan tau kalo perempuan itu adalah perempuan yang berkualitas.
Berkualitas artinya bisa saling memberi dan saling menerima.
Kita jangan melihat materi.
Tapi juga mengukur immateril."
"Saya juga gak tau kalo Robert sejak awal sudah menyukai Biliyan.
Dan lumayan juga ngejar-ngejarnya.
Tapi...mereka juga kelihatannya bahagia." sahut Mami Robert.
"Yaah. Tante...
Kalo kita gak ngejar dia...mana dia tau kalo kita suka sama dia ?" kata Michael.
"Kita semua yang ada di sini udah kawin.. Kecuali Sandy sama Reva.
Kalo saya...sebagai laki-laki..saya butuh sangat mencintai istri saya."
Robert diam sebentar, lalu melanjutkan,
"Dan kalo kami dipaksa untuk mengawini orang yang gak kita cintai, ya ..paling bertahan cuma setahun dua tahun aja.
Abis itu..
Karena...aduh..berat sekali hidup bersama sampai menua tapi kita gak cinta sama dia.
Kami laki-laki, dengan mudah mengambil jalan pintas.
Bercerai atau selingkuh.
Tapi perempuan..entah bagaimana caranya bisa mencintai saat dia merasa sudah dicintai."
Sandy mengangguk.
"Betul.
Liat aja mantan gue tuh"
"Udah mantan Ko ?" ledek Tia.
Sandy menoleh pada Tia , lalu menatap Reva sebentar.
"Udah.
Udah lama.
Kenapa sih kalian gak percaya ?"
Wajar dong kalo gak ada yang percaya kalian udah jadi mantan." cetus Biliyan.
"Lu kan kemana-mana diikutin terus sama dia.
Coba liat besok.
Pas latihan jiu jitsu.
Dia bakal datang kan ?" sindir Robert.
"Terus.. besok kamu bakal nganterin dia pulang lagi kan ?" kejar Tia.
Sandy mengerang.
"Mi...please..
Jangan ngundang lagi ah...
Aku gak mau sama dia !"
Mami Sandy menatap Sandy.
Mengangkat dagunya.
"Tapi Mami udah ngundang dia datang besok.
Dan besoknya lagi waktu kita makan malam." katanya sambil mengedarkan pandangannya ke semua orang.
"Mi !!"
Reva mengangkat wajahnya.
"Dengerin kata orang tua, Om
Kan surga di bawah telapak kaki ibu." katanya.
Lalu...
"Maaf..saya permisi.." katanya sambil keluar dari pantry.
Dia tidak jadi meletakkan laptopnya di meja pantry seperti yang biasa dia lakukan.
Sandy memandang kepergiannya.
Lalu menutup mata.
Bisa kacau kalau begini terus.
Bukan apa-apa.
Dia sedang berusaha membangun kepercayaan dan menumbuhkan rasa cinta Reva pada dirinya.
__ADS_1
Tapi terus menerus di ganggu oleh Maminya sendiri dan Cindy.
Orang yang paling ingin dihindarinya dari seluruh umat manusia di dunia ini.
"Papi besok gak ikut ke sasana." kata Papi Sandy dengan suara tenang.
"Gue juga besok gak latihan dulu, Kel." kata Sandy.
Semua orang saling berpandangan.
Diam.
Tidak berani bicara.
Ini urusan keluarga.
"Eh..kita semua kelamaan di pantry.
Jadi semuanya malah gak masuk." kata Tia.
"Yuk...ke ruangan kamu Kel.." ajak Papi Michael.
"Kasian anak-anak kamu, jadi gak bisa ngambil cemilan."
Mereka lalu keluar dari pantry.
Sandy melewati ruangan Steven.
Kosong.
Ruangan Andrew.
Kosong.
Terdengar tawa teredam.
Ruangan Josh.
Reva, Josh, Andrew dan Steven sedang di sana.
Reva sedang tertawa dengan apa yang sedang dikatakan oleh Josh.
Ditimpali oleh Andrew.
Kecuali Josh yang duduk di mejanya, mereka semua berdiri.
Steven tampak menatap Reva sambil tertawa kecil.
Mereka sendiri sedang mengelilingi cemilan dan mug-mug.
Reva mengangkat matanya.
Dia bertatapan dengan Sandy, mengangguk sedikit lalu memalingkan muka.
Tangan Sandy mengepal.
Dia tau kenapa Reva bersikap seperti itu.
Bersama Sandy artinya Reva akan berhadapan dengan Mami Sandy.
Apalagi kalau nanti sudah jadi ibu mertua.
Jangan harap hubungan anak, menantu dan mertua bisa baik.
Yang ada hanya pertengkaran demi pertengkaran.
Dan Sandy yang berada di tengah-tengah harus memilih.
Ibu atau istri.
Reva cerdas.
Dia sudah memprediksi hal itu.
Tidak mungkin rumah tangga mereka akan berjalan sendiri.
Mami pasti akan ikut campur.
Sekarang pun sudah terlihat.
Maminya ikut dalam menentukan siapa yang harus menjadi istrinya
Dan itu bukan Reva.
Kalau mereka memaksa....
Jangan harap rumah tangga mereka akan setenang rumah tangga Michael atau Robert.
Tapi...
Sandy bukan orang yang gampang.
Akan sulit baginya mencari orang lain.
Hatinya sudah terpaut.
Dia sudah menjatuhkan pilihan.
Sandy tidak ingin orang lain.
Dia yakin, dia bisa berbahagia bersama Reva
Asal...Mami tidak ikut campur.
Tapi.. bagaimana caranya ??
...🍇🌴🍓...
__ADS_1