
Sudah lima hari Reva pergi.
Sandy pun sudah kembali masuk ke kantor.
Dia dan Michael sudah bersikap biasa saja layak nya teman yang sidah bertahun-tahun bersahabat.
Hari sudah menjelang jam delapan malam saat telpon Sandy bergetar.
Sandy tersenyum.
Nama 'My Sweet Heart' muncul di layar.
"Halo Sayang.." sapanya.
"Om..." sapa Reva tak kalah hangat.
"Udah makan, Sayang ?" tanya Sandy.
Senyumnya lebar.
"Udah, Om..baru aja.
Om udah makan ?"
"Nanti..di rumah Michael.
Malam ini aku ke sana."
Reva terkejut.
Rupanya hubungan antara Om Sandy dan Om Michael sudah pulih.
Syukurlah.
"Va...."
"Ya Om ?"
"Kamu gak takut aku ngundang orang ke rumah kita ?
Kan aku sendirian nih sekarang.." pancing Sandy.
Wajah Reva berubah.
Sandy menatap nya dengan tertarik.
Dia memang ingin melihat Reva cemburu.
"Om bener mau ngundang orang selama aku gak ada ?" tantang Reva.
"Lho...emang gak boleh ?"
"Enggak !"
"Oo..jadi gak boleh ngundang siapa-siapa ?" pancing Sandy.
"Enggak.
Awas ya Om.
Aku gak segan-segan menghukum Om nih !" kata Reva dengan marah.
Bibirnya melengkung cemberut.
Sandy asik sekali melihatnya.
"Tapi aku pingin ngundang dia..." kata Sandy lagi.
Wajahnya serius.
"Ooo...Om gitu ya ?
Aku marah nih ya Om..!
Aku gak mau pulang !" kata Reva.
"Eh...eh...
Ya pulang dong , Va.
Kan kita mau kawin."
"Lupakan saja, Om !
Aku gak mau sama orang yang suka selingkuh." tandas Reva.
Wajah Sandy berubah.
"Aku gak selingkuh ya, Va.."
"Lho..itu..
Om mau ngundang dia !
Pokoknya aku gak mau !"
Wajah Reva memerah marah.
Bibirnya cemberut.
Matanya menyiratkan kemarahan.
Tapi di mata Sandy, Reva terlihat sangat cantik dan menggemaskan.
Sandy tertawa.
"Emang dia siapa ?" pancingnya.
"Om !
Aku gak mau sebut !
Jijik !!" jawab Reva marah.
Sandy tertawa.
Tapi matanya terus menatap dalam pada layar di hadapan nya.
Dia merindukan gadis ini.
Tak sabar rasanya menunggu saat dia menjadikan gadis ini miliknya.
Selamanya.
"Aku ngundang Om-om kamu kok.
Makan siang di rumah.
Si Mbok kan masakannya enak." katanya menenangkan.
Reva mengerucutkan bibirnya.
Dia mengingat masakan si Mbok..
Memang enak. Sesuai dengan lidahnya.
Tentu saja.
Si Mbok dan suaminya merupakan orang dari desanya.
Di rekomendasikan oleh Mama nya.
"Hmmm....
Om....aku jadi laper.
Pingin masakan Mbok.
Disini cuma ada Chinese food sama western food.
Aku bosen." keluhnya.
"Makanya pulang !" kata Sandy menyindir.
Reva menatap Sandy.
Dia menggeleng.
"Gak bisa." jawabnya pasrah.
Sandy mengembuskan napas.
"Ya...
Pokoknya kalo waktunya pulang, kamu pulang.
Kita sebentar lagi lho, Va..." katanya mengingatkan.
Reva mengangguk.
"Iya Om..." senyumnya.
Sandy memajukan bibirnya.
__ADS_1
"Masih manggil Om aja..." protesnya.
Senyum Reva makin lebar.
"Spesial.
Om kan Om spesial buatku.
Gak sama dengan Om Michael dan Om Robert.
Om Sayang..." rayu Reva dengan senyum.
Wajah Sandy menjadi cerah.
"Bener sayang kan, Va ?" katanya menegaskan.
"Hmm..mm.." Reva menganggukkan kepalanya.
Senyum Sandy secerah matahari pagi.
Reva mengamati dengan sayang.
Sandy....dia hutang nyawa padanya.
Sandy juga sudah melakukan banyak hal untuknya.
Sebentar lagi mereka akan menikah.
Menjadi satu kesatuan dalam mengarungi kehidupan.
Reva berdehem.
Lalu matanya menatap ke arah lain.
Bibirnya tersenyum dan terlihat gerakan bahu yang menandakan bahwa Reva sedang melambai.
"Om...
Udah dulu ya..
Udah dipanggil tuh.."
Reva kembali menatap layar.
"Oke ..
Hati-hati ya...:
"iya Om .
Tenang aja..
Aku sama rombongan kok."
"Iya..."
"Bye Om..."
"Bye..."
Sandy mengangkat jarinya hendak mengusap layar ponselnya unyuk menutup telpon saat terdengar suara sayup-sayup dari hadapan Reva.
"Steve !! Disini !!"
Jari Sandy berhenti.
Dia menatap layar ponselnya.
Siapa tadi ?
Tapi hubungan sudah diputuskan oleh Reva.
Sandy mengerutkan kening.
Dia kembali menghubungi Reva.
Tidak diangkat.
Sandy tetap menunggu.
Lalu kembali mendial.
Tidak diangkat.
Sandy kembali mendial.
Tidak diangkat.
Sandy bangkit dari kursinya.
Ruangan Steven gelap.
Sandy membuka pintu.
Mejanya yang biasanya berantakan terlihat rapi dan bersih.
Sandy mengingat-ingat bahwa sudah beberapa hari ini dia tidak melihat Steven.
Sandy mendatangi ruangan Michael.
"Kel !"
Michael mengangkat wajahnya.
"San...
sini !
Pas banget.
Gue mau ngomongin tentang Buy U tech."
Michael mengundang Sandy masuk.
Sandy masuk.
Tapi dia tidak duduk.
Michael menatapnya.
Alisnya berkerut.
"Duduk, San.." katanya.
Sandy tetap berdiri.
"Gue gak liat Steven.
Mana dia ?" tanyanya acuh tak acuh.
"Steven ?
Dia di Beijing." jawab Michael.
"Apa ?!"
Sandy merasa detak jantung nya berhenti.
"Di Beijing ?
Ngapain ?
Berapa lama ?
Sampai kapan ?"
Pertanyaan berturut-turut keluar dari mulut Sandy.
Michael tersenyum.
"Yang mana yang harus gue jawab duluan nih ?"
"Jawab semua !" jawab Sandy tegas sambil menarik kursi di hadapan meja Michael.
"Udah dua hari.
Kita ada kerjasama sama Buy U tech.
Kan lu tau juga.
Terlalu ribet kalo kita yang kesana.
Lu tau sendiri kan...
Lebih baik Steven. Dia punya hubungan lebih dekat.
Lagian Katanya dia sekalian mau ngunjungin saudaranya."
"Berapa lama rencananya dia di sana ?"
"Sepuluh hari." jawab Michael.
Sandy menatap langit-langit, menghitung hari.
__ADS_1
Kepulangan Steven dan Reva sama.
Mereka juga di kota yang sama.
Beijing.
Tapi Beijing luas.
"Nginep dimana ?" tanya Sandy masih dengan nada tak acuh.
"Rosewood."
Kali ini bulu kuduk Sandy meremang.
Rosewood ?
Rosewood ?
Itu tempat Reva seminar.
Sandy terbatuk-batuk.
"Kenapa lu ?" tanya Michael berdiri mengambil gelas, mengisinya dengan air putih lalu menyodorkan pada Sandy.
Sandy tidak menjawab.
Dia sibuk menarik nafas.
Mencoba menenangkan dirinya.
Reva dan Steven.
Satu hotel.
Sandy berdiri.
"Mau kemana lu ?" tanya Michael.
Sandy menoleh sedikit.
"Ke Beijing."
"Hah ?!"
Sandy meneruskan langkahnya.
Michael tiba-tiba muncul di hadapannya.. Menghalangi jalannya.
"Lu gak bisa pergi." kata Michael tegas.
"Gue harus pergi."
"Enggak !
Lu tau ?
Lu punya tanggung jawab disini.
Besok lu ada meeting.
Seminggu ke depan kita semua sibuk.
Lu gak bisa seenaknya ninggalin kantor."
"Gue bisa ngerjain dari sana."
"Enggak !
Lu tau kalo itu enggak bisa !" jawab Michael.
Nadanya datar.
"Gue bisa cover setelah itu." kata Sandy berkeras.
"Lu tau kalo itu gak bisa.
Kita punya tenggang waktu."
Sandy menarik sweater Michael.
"Kel !!"
"Lu terikat disini.
Lu kan mau kawin.
Lu harus selesai kan semua sebelum itu."
Michael perlahan mengangkat tangannya, melepaskan tangan Sandy yang mencengkeram kerah sweaternya.
"Lu sengaja Kel ?" tanya Sandy curiga.
"Apa ?"
"Mengirim Steven bersamaan dengan Reva seminar ke Beijing ?
Tepat sebelum gue mau kawin ?" tanya Sandy dengan nada dingin.
"Kenapa gue harus ngelakuin itu ?" Michael balik bertanya.
"Karena lu gak pingin gue ngawinin Reva !"
Michael tertawa.
"Lu lucu, San !"
"Gue lagi gak ngelucu, Kel !"
Michael berhenti tertawa.
"Kalo iya...kenapa ?"
" Kel !!"
"Gue masih berfikir kalo Reva lebih baik enggak sama lu." kata Michael berterus terang.
Sandy terhenyak.
Dia tidak menyangka sahabatnya sendiri akan mengatakan hal itu.
"Lu keterlaluan, Kel."
"Lu yang keterlaluan."
"Terus..kalo gue gak pantes buat Reva, siapa yang pantes ?
Steven ?" tanya Sandy mencibir.
Michael diam, tidak menjawab.
Dia hanya mengamati Sandy.
Sandy balas menatapnya.
Keduanya sudah bersahabat belasan tahun.
Tanpa kata-kata, mereka sudah saling mengerti.
"Gue tau lu sodaranya Reva.
Tapi sebagai calon suami dan suaminya nanti.
Hubungan gue dan Reva akan lebih dekat.
Baik personal maupun legal."
Sandy berhenti sejenak.
"Gue akan membuat Reva bahagia.
Ini bukan janji buat lu.
Ini janji buat diri gue sendiri. " lanjut Sandy.
Michael tidak ingin menginterupsinya.
Dia membiarkan ruangan itu sunyi tanpa kata-kata setelah ucapan Sandy.
Mereka saling menatap.
Michael lalu kembali ke meja.
"Lu gak bisa nyusul.
Kita punya banyak outstanding." katanya.
Sandy menatap langit-langit.
Dia menghembuskan nafas.
Dia tau...
Sementara ini, dia hanya bisa berharap Reva bisa menjaga dirinya.
__ADS_1
Menjaga komitmen mereka.
...🌴🍒🍇...