Kamu Milikku

Kamu Milikku
Kebaikan Hati Niana


__ADS_3

Niana mengatakan tidak akan bisa dekat lagi dengan Arlan jika nanti Arlan sudah menikah karena Niana bukan wanita yang kejam, dan tega menyakiti hati wanita lain.


"Niana, aku akan memberikan kamu salah satu cafeku yang bisa kamu kelola setelah lulus kuliah."


"Jangan, Mas, aku tidak mau dianggap mendekati kamu hanya untuk harta yang kamu miliki. Aku masih bisa berusaha memenuhi kebutuhan hidupku dengan tanganku sendiri."


Arlan memeluk Niana di depan mobilnya dengan erat. "Maaf, jika suatu saat nanti aku tidak bisa mempertahankan kamu untuk bisa bersamaku."


Ada kesedihan yang mendalam yang Niana rasakan karena dia sebenarnya sangat mencintai pria yang adalah kakak sahabatnya itu, tapi Niana juga sangat mengerti posisi Arlan yang tidak akan mungkin Niana paksa untuk menentang kedua orang tuanya.


"Aku sudah bahagia bisa mencintai kamu dan bersamamu walaupun tidak bisa memiliki kamu, Mas. Aku akan selalu berdoa nantinya akan kebahagiaamu dengan wanita yang menjadi pilihan mamamu."

__ADS_1


"Niana, aku mau jujur sama kamu. Sebenarnya, selama kita berpacaran dalam waktu satu bulan ini, aku masih sering berhubungan dengan seseorang bernama Lidya. Dia mantanku, dan dia masih sangat mencintaiku."


"Aku, tau," jawab Niana singkat.


"Kamu tau?" Arlan menarik tubuh Niana dan melihatnya heran.


Kepala Niana mengangguk beberapa kali. "Aku pernah melihat chat di pesan whatsup kamu saat tidak sengaja kamu tertidur di ruanganmu di cafe. Aku tidak marah karena aku sudah diberitahu Aira jika berpacaran dengan kakaknya aku harus siap sakit hati."


"Tidak pernah, Aira tidak mungkin berbicara tentang wanita lain di hidup kamu karena Aira sayang sama aku, Mas, dan dia sebenarnya tidak setuju kalau aku pacaran sama Mas Arlan, tapi aku saja yang bandel."


"Karena kamu mencintaiku. Aku dan Lidya hanya chat mesra saja, tapi aku juga memberitahu jika aku sudah memiliki kekasih dan sangat mencintainya. Aku juga tidak pernah bertemu dengan Lidya karena dia sudah pindah ke luar negeri."

__ADS_1


"Mas, apa tidak bisa belajar untuk setia?"


Arlan terdiam sejenak. "Aku setia sama kamu, Niana, buktinya aku tidak pernah ketemuan dengannya. Sebenarnya Lidya sedang sakit, dia terkena kanker otak dan hidupnya sudah tidak lama lagi. Dia ingin diakhir hidupnya aku menemaninya seolah kita masih berpacaran. Dia saja tidak mau aku ajak video call karena dia malu dengan penampilannya yang sekarang."


"Kamu serius, Mas?"


"Sangat serius, kalau tidak percaya akan aku hubungkan kamu dengannya."


Arlan menghubungi wanita yang bernama Lidya, tapi wanita itu seperti apa yang dikatakan oleh Arlan tidak mau melakukan video call. Arlan kemudian mengirim pesan dalam bahasa Inggris jika dia ingin memperkenalkan Lidya dengan kekasihnya yang sering Arlan ceritakan jika sedang berbicara dengan Lidya.


Lidya akhirnya mau melakukan video call dan Niana sangat terkejut mengetahui Lidya sedang berada di rumah sakit dengan oksigen pada hidungnya dan Lidya sudah tidak memiliki rambut di kepalanya.

__ADS_1


Niana dan Lidya saling berkenalan dalam bahasa Inggris yang Niana mengerti sedikit. Arlan tampak senang melihat Niana yang begitu bisa akrab dengan mantan kekasih sekaligus sekingkuhannya. Dalam hatinya yang paling dalam, Arlan berharap ada keajaiban dirinya dengan Niana dapat bersatu.


__ADS_2