Kamu Milikku

Kamu Milikku
Kehidupan Baru Shelomitha


__ADS_3

Addrian pulang ke rumah dan disambut oleh istrinya yang dari tadi cemas menunggu kedatangannya.


Aira terkejut melihat wajah Addrian yang agak lebam. "Mas, ini kenapa wajah kamu?"


"Aku habis bertengkar dengan Dewa."


"Apa? Kamu bertengkar dengan mas Dewa di rumah sakit?"


"Aku kesal melihat dia. Pria itu tidak memiliki tanggung jawab, aku sangat kasihan melihat She, tapi sekarang aku bersyukur karena She akhirnya mengambil keputusan yang tepat dengan meminta bercerai dengan Dewa.'


"Apa? Jadi Mitha minta bercerai?" Aira sekali lagi terkejut.


"Ya, sayang dan keputusan itu sangat tepat diambil olehnya. Kamu tidak tahu apa yang sudah Dewa lakukan pada She, dia benar-benar sakit jiwa dan tidak memiliki perasaan," terang Addrian dengan nada kesal.


Aira dengan lembut memeluk suaminya itu. Dia ingin membuat suaminya agak tenang. Addrian pun membalas pelukan istrinya.


"Sebenarnya aku tidak menginginkan mas Dewa dan Mitha sampai bercerai."


"Kenapa? Kamu takut jika mereka bercerai? Takut jika Dewa akan mengejarmu lagi? Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkannya."


"Mas, aku obati dulu luka kamu kalau begitu."


Aira menggandeng tangan suaminya dan mengajaknya ke dalam kamar, kemudian Aira mengambil kotak obat untuk mengobati luka lebam pada pipi Addrian.


"Mas, sebenarnya apa yang terjadi dengan Shelomitha. Kenapa dia bisa sampai keguguran?"


"Semua itu karena Dewa, Dewalah yang membuat Mitha harus kehilangan bayinya. Aku kasihan melihat She dan Langit. Dewa benar-benar tidak peduli dengan mereka, bahkan Dewa menuduhku jika aku adalah ayah dari bayi yang dikandung She. Aku benar-benar ingin menghajar dia, kalau perlu aku buat dia koma lagi."


"Mas, kamu jangan bicara seperti itu. Jika Mitha ingin bercerai, Mitha akan bahagia karena dia akan lepas dari mas Dewa, aku juga tidak menyangka jika Mas Dewa akan berubah seperti ini, dia bilang dia seperti itu karena aku, aku yang membuat keadaannya seperti itu."


"Oh ya! Tadi kamu bicara apa saja sama Dewa? Apa dia mengatakan cinta terus sama kamu? Pria itu benar-benar ingin aku hajar saja." Raut wajah Addrian tampak kesal.


"Aku tidak mau mendengarkan dia, dan juga sekarang aku tidak akan mencoba menasehatinya lagi. Mungkin memang lebih baik Mitha dan Mas Dewa berpisah, dan semoga Mitha akan menemukan kebahagiaannya setelah ini."


Addrian menarik tangan istrinya perlahan dan menyuruh Aira duduk dipangkuannya. Aira tampak lekat memandang suaminya. Tangannya pun melingkar pada leher Addrian.


"Apa kamu benar-benar mencintaiku?"


"Mas, aku tidak suka kamu memulai pertanyaan itu. Apa ini karena aku tadi bicara dengan mas Dewa?"


Tiba-tiba Addrian tersenyum. "Aku cuma mau memastikan saja, Sayang."

__ADS_1


"Kalau aku bilang aku sekarang bingung karena tahu Mas Dewa dan Mitha akan berpisah, bagaimana tanggapanmu, Mas?"


"Kalau begitu aku akan menculikmu saja dan membawa kamu serta Andrei. Aku akan sembunyikan kalian di suatu tempat yang tidak ada orang yang tau."


"Kamu serius mau melakukan itu, Mas?" Tatap Aira serius.


"Tentu saja serius karena aku tidak mau kamu diambil orang lain, kamu hanya milikku Aira." Aira terdiam sejenak.


"Kapan ?" tanya Aira singkat.


Addrian bingung dengan pertanyaan Aira. "Kapan apanya?"


"Kapan Mas mau melakukan itu? Menculikku dan Andrei, kemudian membawaku pergi sejauh mungkin di mana hanya kita bertiga yang ada di sana?"


Addrian tersenyum tidak menyangka jika istrinya malah menyukai rencana anehnya itu. Dia menarik lembut wajah Aira, dan mereka pun berciuman.


***


Beberapa hari berlalu, usia Andre sekarang sekitar lima bulan dan dia sudah bisa tengkurap.


Andrei pun sangat lucu dan menggemaskan. Nadin sangat sayang kepada adik angkatnya itu. J


Malam itu di rumah. Mereka berempat sedang berkumpul di ruang tengah, Addrian sedang mengajari Nadin mengerjakan tugas sekolahnya, sedangkan Aira memberi susu pada Andrei.


"Nadin, besok kita menemui ibu kamu di penjara. Apa kamu mau?"


"Benar, Om Adrian? Aku mau! Aku rindu sekali sama Ibu."


"Besok kita akan ke sana, kebetulan sekali besok hari libur."


"Aku juga ingin ikut Mas Addrian , Andrei juga pasti senang bisa bertemu dengan bibi Anna. Bibi Anna pasti juga ingin melihat anak kita."


"Ya, Sayang, besok kita berempat akan mengunjungi ibunya Nadin."


"Om Addrian, apa Nadin boleh minta sesuatu?"


"Tentu saja, kamu mau minta apa, Sayang?


Katakan saja."


"Besok aku mau membelikan kue untuk ibu, ibu sangat suka sekali dengan bakpao isi kacang tanah."

__ADS_1


"Baiklah, besok kita akan membeli bakpao dulu kemudian pergi ke penjara menjenguk ibu kamu." Nadin kembali mengerjakan tugas sekolahnya dengan perasaan yang sangat senang terlihat terpancar dari wajahnya.


Tidak lama pintu rumah ada yang mengetuk. Aira meletakkan Andrei di dalam box bayinya dan dia menuju pintu untuk mengetahui siapa yang mengetuk pintu rumahnya.


"Langit? Kalian berdua di sini?" seru Aira senang.


"Halo, Tante Aira! Apa kabar?"


"Baik, Sayang, kamu bagaimana kabarnya?"


"Aku baik," jawabnya dengan nada lirih.


Aira dapat menebak apa yang dirasakan oleh Langit. Dia mengajak mereka berdua masuk ke dalam.


"Aku senang kalian berdua berkunjung ke rumahku."


Addrian pun terlihat senang melihat sahabatnya datang ke rumahnya. Mitha memeluk Addrian dan menangis.


"Ada apa She? Apa ada masalah? Bukannya kamu dan Dewa Sudah berpisah?


"Aku tidak ada masalah apa-apa, hanya saja sekarang aku lega saja, akhirnya aku dapat berpisah dengan Dewa dan aku sudah menjelaskan kepada Langit kenapa aku dan papinya tidak bisa berkumpul."


"Mami, Mami kenapa menangis? Bukannya Mami bilang akan lebih bahagia jika Mami tidak bersama dengan papi sekarang. Kita akan lebih bahagia jika kita tinggal berdua tidak bersama papi. Lalu, kenapa Mami masih menangis?"


"Mami kamu tidak menangis sedih, Sayang, itu tangisan bahagia. Oh ya! Apakah kamu sudah berkenalan dengan Nadin. Kenalkan dia Nadin."


Aira memperkenalkan Nadin dengan Langit, usia mereka pun hampir seumuran. Nadin berdiri dan mengulurkan tangannya mengajak Langit berkenalan.


"Om Addeian, aku sudah selesai mengerjakan tugasku. Apa aku boleh mengajak Langit untuk bermain?"


"Tentu saja, Sayang. Rapikan alat sekolahmu dan bermainlah dengan Langit di ruang tamu saja."


"Mami, aku bermain dengan Nadin dulu, ya?"


"Iya, Sayang." Shelomitha menatap nanar pada putranya.


"Sekarang kamu tinggal di mana, She? Aku dengar kedua orang tua Dewa menyuruh kamu tetap tinggal di rumah itu. Apa kamu tetap tinggal di sana?"


"Untuk sementara aku tinggal di sana sampai surat-suratku untuk kembali ke London selesai. Aku ke sini mungkin ingin berpamitan dengan kalian berdua, aku mungkin akan lama tidak ke sini lagi. Kalau anak kalian sudah besar, berkunjunglah ke rumahku. Di sana aku pasti akan sangat senang menerima kedatangan kalian."


"Tentu saja, She, .kamu jangan khawatir. She, lupakanlah Dewa dan carilah kebahagiaanmu di sana. Bukalah hatimu untuk orang lain yang benar-benar mencintaimu dan menyayangi Langit."

__ADS_1


__ADS_2