Kamu Milikku

Kamu Milikku
Cincin yang Indah


__ADS_3

Acara di rumah Aira berjalan dengan lancar, meskipun menyisahkan banyak pertanyaan di kepala Aira dan Riani juga.


Waktu berjalan dengan cepat. Besok Addrian akan pulang karena pekerjaannya di sana sudah selesai tinggal pengerjaannya yang nanti dapat Addrian awasi dari kantornya.


"Addrian, apa kamu tidak mau berbelanja? Mungkin kamu mau membelikan sesuatu untuk istri kamu di rumah?"


"Kamu mau belanja? Kalau kamu ingin belanja kamu boleh pergi. Aira bilang jika dia tidak ingin dibelikan apa-apa, dia hanya mau aku pulang, aku sendiri juga sudah sangat merindukan dia dan bayiku."


"Menyenangkan sekali jika ada yang dirindukan di rumah. Aku jadi malas pulang ingin tinggal di tempat yang tidak ada orang yang mengenalku saja."


"Kamu salah, hidup ditengah kehangatan keluarga lebih baik daripada kita hidup sendirian karena kesepian itu tidak enak. Aku sendiri pernah merasakannya."


"Tapi jika memiki keluarga sepertiku juga tidak menyenangkan, Addrian, hanya ada penderitaan yang aku rasakan."


Addrian hanya tersenyum kecil. "Bangunlah keluarga kecil kamu sendiri, maka hidup kamu akan bahagia."


Citra tampak memandang Addrian dengan lekat. "Aku memang ingin sekali membangun sebuah keluarga dengan orang yang sangat aku cintai, dan aku juga ingin seperti Aira bisa hamil dan disayangi oleh ayah dari bayiku."


"Kamu wanita yang baik, dan pasti akan mendapat hal yang baik. Kalau begitu selesaikan makan pagi kita, lalu kita akan belanja karena aku ingat di sini ada sebuah toko barang antik yang dulu pernah aku datangi. Semoga apa yang ingin aku beli di sana masih ada."


"Toko barang antik? Memangnya apa yang ingin kamu beli?"


"Ada. Habiskan makanan kamu dan kita segera pergi ke sana."


Setelah selesai sarapan pagi mereka pergi ke suatu tempat dengan mengendarai mobil yang disiapakan oleh pihak hotel di mana mereka menginap.


Di dalam mobil mereka duduk terpisah karena Addrian memilih duduk di depan sampai supir dan Citra di belakang. Beberapa menit mereka sampai di sebuah toko yang tidak terlalu besar, malah hampir mirip sebuah rumah sederhana.

__ADS_1


Addrian turun dan masuk ke dalam diikuti oleh Citra. Di dalam suasananya tidak begitu nyaman bagi Citra, dia agak takut sampai memegang lengan tangannya Addrian.


"Addrian, tempat ini kenapa terasa seram begini?"


Addrian melepaskan pegangan tangan Citra perlahan dan menggenggam tangan Citra untuk meyakinkan jika dia tidak perlu takut karena tempat ini tidak menakutkan.


"Grandma, apa kamu ada di rumah?" panggil Addrian, tapi panggilan Addrian tidak mendapat balasan.


"Addrian, kamu dari mana bisa mengetahui tempat seperti ini?"


"Waktu beberapa tahun yang lalu, aku pernah ada pertandingan basket persahabatan di sini, dan setelah tidak ada kegiatan, aku dan teman-temanku berjalan-jalan dan menemukan tempat yang unik ini."


"Unik apaanya? Ini menyeramkan." Citra mengedarkan pandangannya melihat sekitar. "Kamu sebenaranya mau mencari apa di tempat ini? Lihat saja benda-benda di sini sangat tidak penting dan usang."


"Ada benda di sini yang ingin aku beli waktu itu, tapi tidak jadi karena aku belum memiliki seorang istri dan Grandma tidak mau menjualnya padaku dan yang membuat aku senang membeli barang di sini karena apa yang aku beli, nanti uangnya akan mereka berikan untuk rumah sakit khusus anak-anak penderita kanker. Siapa tau kamu ingin membeli sesuatu di sini."


"Tidak ada yang mau aku beli di sini. Benda-bendanya sangat menakutkan semua." Addrian hanya tersenyum mendengar apa yang Citra katakan.


"Grandma, apa kamu masih kenal denganku?" Addrian mencoba mendekati wanita tua yang usianya sekitar kepala 8 atau kalau tidak 9 itu.


Wanita tua itu membenarkan kaca matanya melihat pada wajah Addrian. "Kamu Uno?"


"Wah! Grandma ternyata masih mengingatku? Aku Uno dan sekarang aku datang ke sini ingin bertanya, apa cincin sepasang milik Grandma yang indah itu masih ada karena aku mau membelinya?"


Wanita dengan kacamata putihnya itu melihat ke arah Citra. "Apa kamu sudah menikah? Dia istri kamu?"


Citra yang mendengar pertanyaan nenek itu tampak tersenyum senang. "Aku sudah menikah, tapi bukan ini istriku," terang Addrian.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu," jawab nenek tua itu.


Nenek itu sepertinya tau jika Citra memang tidak pantas menjadi istri dari Addrian. Kena mental ini Citra.


Wajah Citra yang bahagia karena tadinya dikira istri Addrian mendadak berubah kesal mendengar apa yang dikatakan wanita tua itu.


"Maksud Grandma apa?" tanya Citra dengan wajah masih kesal.


"Uno, aku akan mengambilkan cincin itu. Grandma sengaja tidak menjual cincin itu karena aku sudah tau jika kamu akan kembali untuk membelinya."


Wanita itu tidak menghiraukan apa yang ditanyaakan Citra, dia malah pergi masuk lagi ke dalam.


Addrian mencoba menerangkan pada Citra agar tidak kesal pada Grandma karena dia sudah tua dan pendengarannya kurang baik. Addrian juga menjelaskan sebenarnya Grandma itu asli orang Indonesia yang menikah dengan orang Singapur dan tinggal lama di sini sampai suaminya meninggal dunia.


Tidak lama wanita tua itu kembali dengan membawa kotak kayu berwarna hitam. Grandma membuka kotak itu dan memperlihatkan dua pasang cincin dengan bahan paladium. Cincin berwarna putih itu sangat cantik dengan ada beberapa batu berlian kecil yang tertanam di dalamnya.


"Cincin ini tidak bisa dijual di toko perhiasan manapun wkarena jarang ada yang menerima, walaupun harganya sangat mahal, tapi suamiku berpesan boleh menjualnya sendiri pada orang yang sudah menikah dan sangat mencintai istrinya, seperti mendiang suami Grandma yang sangat mencintai grandma, tapi grandma akan memberikan uang penjualannya untuk anak-anak yang sedang berjuang untuk tetap hidup itu."


"Entah kenapa sejak pertama kali melihat cincin ini aku sangat tertarik, tapi waktu itu Grandma tidak mau memberikan padaku karena aku belum menikah, kan? Dan sekarang aku ingin membelinya untuk aku berikan kepada wanita yang sangat aku cintai."


"Ambillah." Wanita itu memberikan cincin itu pada Addrian.


"Wah! Ini indah sekali, Addrian." Citra mengambil satu dan ingin mencoba pada jari manisnya.


"Jangan!" Wanita tua itu dengan cepat mengambil dari tangan Citra sebelum Citra memakainya. "Cincin ini hanya boleh dipakai untuk seorang wanita yang sudah menikah dan sangat dicintai suaminya." Grandma memberikan cincin itu pada Addrian. "Kamu bawa dan nanti kalau pulang berikan pada istrimu dan sampaikan salam hangatku untuknya."


"Iya, Grandma. Jadi, berapa aku harus membayarnya, Grandma? Citra, apa ada yang ingin kamu beli?"

__ADS_1


"Tidak ada, aku mau belanja saja di toko besar di ujung jalan sana. Addrian aku akan menunggu kamu di mobil saja. Permisi Grandma." Citra berjalan keluar dari rumah itu dan tentu saja dengan perasaan kesal.


"


__ADS_2