Kamu Milikku

Kamu Milikku
Bibir Kamu Bengkak !


__ADS_3

Beberapa langkah Reva masuk, ponselnya bergetar


Reva menatap jam di ponsel.


Om Sandy !


Reva buru-buru meluruskan bajunya, merapikan rambutnya.


Dia lalu mengintip cermin dan memeriksa makeup nya.


Pipinya nampak kemerahan.


Ah...wajar.


Dia kan baru dari luar.


Hawa dingin membuat pipi siapapun memerah.


Reva berdehem untuk membersihkan tenggorokannya.


"Om...." sapanya dengan manis.


Senyum Sandy mengembang saat melihat wajah Reva di layar.


"Dari mana ?" tanyanya.


"Ehmm...


Kok Om tau kalo aku dari luar ?" tanya Reva berusaha menjaga suaranya tetap tenang.


"Baju kamu rapi, pake mantel.


Pipi kamu merah." jawab Sandy.


Reva tersenyum.


"Jalan-jalan Om.


Liat-liat Beijing sama teman-teman." katanya berbohong.


Anggap saja Steven dan saudara-saudaranya itu teman.


"Oh...asik dong.."


"Iya Om..."


"Hmm..


Panggil aku Mas.."


Reva tertegun sejenak mendengar permintaan Sandy.


"Mas..." katanya menurut.


Sandy tersenyum.


"Udah jam sebelas.


Kamu harus istirahat."


"Iya Mas.


Mas udah makan ?"


"Udah dong.


Kamu udah makan ?"


"Udah Mas."


"Makan apa ?


Pedes nih kayaknya.


Bibirnya sampe merah bengkak gitu ..


Makan apa sih ?"


Reva terkejut.


Dia mengusap bibirnya.


Steven !! pikirnya geram.


"Ee....tadi...


Aku makan apa ya ?" kata Reva sambil tersenyum menutupi kekalutannya menjawab pertanyaan sederhana dari Sandy.


Sandy tertawa.


"Kamu !


Sampe lupa makanan yang baru dimakan."


Reva tertawa kecil menutupi gugupnya.


"Grogi sama Om !" jawabnya bercanda.


"Mas." kata Sandy membetulkan sambil berdecak.


"Ehm...Mas.


Tadi aku makan macem-macem.


Tapi yang pedes oyster mie." jawab Reva.


Sandy menatap Reva.


"Eh...kenapa Mas ?" tanya Reva kembali gugup.


"Hm...


Bibir kamu.


Bikin nafsu."


"Mas !"


Sandy kembali tertawa.


"Bibir kamu kalo abis aku cium kan kayak gitu.


Jadi pingin nyium."


Reva jadi ikut tertawa.


Dirinya menjadi santai.


"Nanti Mas.


Nunggu akad."


Senyum Sandy berhenti.


"Kalo abis akad, aku maunya lebih dari bibir, Va !"


Reva memerah mendengar perkataan Sandy.


"Ih..Mas.


Udah gih...


Tidur !


Ngomongnya udah mulai ngelantur !"


Sandy tertawa.


"Kamu sih...Kamu itu bikin aku selalu ngelantur."


"Lha...kok jadi aku yang salah, Mas."


"Iya..


Kamu tersangkanya.


Dari dulu, kamu itu yang bikin aku ngelantur !"


"Gak usah bo'ong deh Mas !"

__ADS_1


" Lho..ngapain aku bohong?" senyum Sandy.


" Iya deh.


Mas Sandy gak pernah bohong.


Cowok paling jujur diantara semua cowok !"


Sandy kembali tertawa.


"Bisa aja.


Kamu mau minta apa emangnya ?"


Kali ini Reva yang tertawa.


"Gak minta apa-apa Mas.


Cuma minta pernikahan sekali seumur hidup."


Sandy berhenti tersenyum.


Wajahnya terlihat serius.


"Kamu tau , Va ?


Aku bahagia.


Aku bahagia karena tau kalo sebentar lagi kita akan menikah.


Kamu akan jadi istriku."


Reva terdiam, tidak mampu mengeluarkan kata-kata.


"Va..."


"Eh...i.. iya Mas..."


Reva terbata menjawab.


Rasa bersalah menyelimuti hatinya.


"Kamu jadi bengong." tawa Sandy.


"Terpesona sama kata-kata Mas." senyum Reva.


Sandy tertawa.


"Bagus !


Jadi kamu harus ingat ya..


Bulan depan kita nikah.


Minggu depan kita balik Indonesia.


Kamu udah mulai pingitan.


Jaga diri, jaga kesehatan.


Siapin fisik dan mental supaya kita berdua siap mengarungi hidup baru kita berdua.


Sebagai suami istri."


Reva merapatkan bibir.


"Iya Mas.


Mas juga."


"Ya udah..


Udah malam.


Kamu tidur biar besok seger."


"Oke Mas."


"Aku cinta kamu, Va."


"Eh...em


Sandy tersenyum.


"Selamat malam, Sayang.."


"Selamat malam, Mas."


Telpon ditutup.


Reva mengusap wajahnya.


Matanya memandang cincin yang tersemat di jarinya.


Cincin Steven.


Minggu depan dia kembali ke Taiwan dan kemudian bersama Sandy, mereka akan kembali ke Indonesia untuk menikah.


Menikah !


Reva memangku wajah dengan kedua belah telapak tangannya. Merenung menatap wajahnya di cermin.


Sementara di seberang lautan.


Sandy mengerutkan keningnya.


Dia menatap ruangan Steven yang gelap.


...🌳🌺🌻...


Beberapa hari kemudian.


"Reva..."


Reva menoleh.


"Fen !" sapanya heran.


Fen memaksa dirinya tersenyum lalu berjalan menghampiri Reva diikuti oleh ketiga temannya.


Reva mengernyit sesaat.


Tapi dia tidak takut.


"Reva...


Aku lagi nemenin temanku ikut seminar yang kamu ikutin." kata Fen sesaat setelah berhadapan dengan Reva.


"Oh..."


Reva menoleh menatap teman Fen.


Teman Fen balas menatapnya dengan ramah.


"Aku tau profesor Stephen.


Beliau kolega Professor ku.


Kamu tim nya ya ?" sapa teman Fen.


Reva mengangguk.


"Aku Shú Làn."


Shú Làn mengulurkan tangannya.


Reva menyambut.


"Aku Hong Tao." sapa pemuda di sebelah Shú Làn.


Reva kembali menjabat.


"Aku Li Na." sapa seorang gadis di samping Fen.


Dia dan Reva berjabat tangan.


"Aku Reva." kata Reva memperkenalkan dirinya.


"Hei Reva !"

__ADS_1


Reva menoleh.


"Ayo..udah mulai."


Jerry mendatangi mereka.


"Siapa ini ?" tanyanya.


"Oh..halo...


Kami juga peserta.


Shu Làn malah panitianya." jawab Hong Tao.


Jerry menatap Shú Làn.


Lalu mengenalinya.


"Oh iya..."


Mereka lalu bersama-sama masuk ke ruangan seminar.


Fen mendekati Reva.


Reva menoleh padanya.


"Kamu penelitian kanker juga ?" tanya Reva.


"Oh..enggak.


Aku management."


Reva mengangguk.


"Kamu kesini mencari Steven ?" tanyanya lagi.


Fen melirik Reva, memperhatikan ekspresinya.


"Kenapa kalo iya ?" tanya Fen menantang.


"Gak papa.


Cuma...dia bukan peserta seminar ini."


Reva menjawab tak acuh.


Fen tertawa kecil.


"Aku tau.


Tapi aku juga tau kalo dia menginap disini.


Kami sering berhubungan." kembali Fen memancing.


Reva tidak menjawab.


"Kamu cemburu !" kata Fen.


Reva tersenyum kecil.


Dia berbalik menghadap Fen.


"Cemburu ?


Enggaklah !


Buat apa ?


Gak ada apa-apa diantara kami." katanya sambil kalem.


Reva langsung berbalik meninggalkan Fen.


Fen menyeringai.


Selama tiga hari berikutnya, Fen selalu datang ke hotel.


Dia duduk di dekat-dekat tim Reva.


Awalnya Reva fikir, Fen akan mencari kesempatan untuk menyelinap dan bertemu dengan Steven.


Tapi ternyata tidak.


Fen nampak anteng mendengarkan dan mengikuti acara seminar.


Hari keempat, Reva tak bisa menahan keingintauannya.


Dia duduk di sebelah Fen.


"Aku salut." katanya saat mendudukkan dirinya di samping Fen.


"Apanya ?"


"Emang ada saudara kamu yang sakit ?"


"Hah ?!


Sakit?!


Gak ada !" jawab Fen polos.


"Terus ..


Ngapain kamu rajin betul kesini ?" kejar Reva.


"Gak ada apa-apa.


Aku seneng aja ketemu Shú Làn, Hong Tao, dan Li Na.." jawab Fen.


"Emang kamu gak ada teman yang satu jurusan ?" tanya Reva penasaran.


"Ada dong.


Tapi...aku emang lagi pingin ke sini"


Reva mengernyit tapi hanya sesaat.


Dia lalu membuka laptopnya.


Drrt...drrrt...


Ponselnya bergetar.


Reva menatap ponselnya.


Om Sandy.


"Fen..."


"Ya ?"


"Aku titip laptop ku ya.."


Fen mengangguk.


"Oke."


Reva buru-buru keluar menjawab telpon dari Sandy.


Fen melirik laptop Reva.


Sudah on.


Tanpa menarik perhatian, dia menggeser sedikit arah laptop itu.


Lalu tangannya membuka-buka file.


Dua menit kemudian, Fen menutup kembali file yang dia buka.


Bibirnya tersenyum.


Paling tidak ada kemajuan dalam penyelidikan amatirnya selama empat hari ini.


Hmm....


Dia akan membantu tunangan Reva memuluskan pernikahan mereka.


Sekarang tinggal mencari satu hal lagi.


...🌻🌺🌳...

__ADS_1


__ADS_2