Kamu Milikku

Kamu Milikku
Aku Terima Syaratmu


__ADS_3

Reva kembali menatap Sandy tanpa ekspresi.


"Enam bulan?


Kenapa enam bulan Va ?" tanya Michael.


"Soalnya...


Dalam waktu enam bulan itu aku akan lulus Om.


Aku perlu konsentrasi sama tugas akhirku.


Sekaligus persiapanku ambil master.


Aku belum mau diganggu sama kehamilan.


Dan kalo sekarang..."


"Dan kalo sekarang ?" kejar Michael.


"Kalo sekarang...


Aku juga butuh yakin sama Om Sandy, Om.


Kalo ternyata kami memang banyak hal seperti ini, aku ikhlas kalo Om mengajukan pembatalan pernikahan.


Toh aku sama Om belum bersama.


Jadi aku dan Om Sandy sama-sama enak.


Kami bisa...yah..memulai lembaran baru masing-masing."


Sandy mengusap wajahnya.


Dia tidak menyangka dampaknya akan serusak ini.


Reva memang meminta waktu enam bulan.


Tapi saat itu dia berusaha mengelakkannya.


Dan Reva menerima.


Tapi sekarang ?


Reva kembali membawa term enam bulan ini dengan alasan baru yang sangat kuat.


"Aku dan kamu gak akan memulai lembaran baru sama orang lain, Va.


Itu gak akan terjadi !!" katanya dengan suara pelan tapi mantap dan penuh tekad.


Reva merinding mendengarnya.


"Itu syaratku, Om." katanya pendek.


Tetap keras kepala.


"Gue temenin lu, San...


Gue temenin lu ngelewatin malam pertama nanti.


Kita bisa nonton..


Main kartu.


Main Methrob ngalahin si Michael.


Ya, Bil...ya ?


Kamu ngijinin kan...


nemenin pengantin baru yang disuruh tidur di luar sama bridenya pas malam pertama.." canda Robert sambil tertawa lebar.


Semua tertawa.


"Lu mau gue tonjok, Bet ?!" geram Sandy yang masih belum terima dengan syarat Reva.


Mumpung dia lagi butuh sansak untuk melepaskan kejengkelannya.


Sandy menatap Reva.


Berfikir. Menimbang-nimbang.


"Oke..aku terima syarat kamu." katanya akhirnya.


Michael dan Robert menatap setengah tidak percaya.


"Tapi aku gak mau tidur terpisah.


Kita tetap tidur bersama." kata Sandy menawar.


"Kalo gitu, tolong syarat ku itu dimasukkan dalam perjanjian." balas Reva


"Masukin, Bet.


Dia harus tetap melayani gue sebagai suaminya meskipun enggak ada penetrasi."


Reva menatap Sandy.


Matanya bertanya.


"Melayani ?


Maksud Om nyediain makan, minum, segala kebutuhan Om ?" tanyanya.


"Iya.


Segala kebutuhanku.


Semuanya.


Kecuali satu itu.


Penetrasi.


Catet ya Bet !"


"Tapi.." Tia hendak menyela.


Michael mencolek tangannya.


Dia sedikit menggelengkan kepalanya.


Tia diam.


"Oke Om..


Aku Terima.." jawab Reva dengan polos.


"Masukin dalam perjanjian, Bet." kata Sandy.


Sekarang suaranya lebih bersemangat.


Robert saling berpandangan dengan Michael.


Tia pun berpandangan dengan Biliyan.

__ADS_1


Sandy menatap mereka berempat.


"Kenapa ?


Begitu selesai ijab kabul, gue suami Reva.


ada hak dan kewajiban yang mengikutinya.


Gue udah setuju syarat dia.


Tapi gue minta hak gue untuk dipenuhi Reva sebagai istri.


Karena gue pun bakal ngasih kewajiban gue terhadap dia." katanya dengan sengit.


"Iya..iya...


Udah..lu jangan ngotot gitu.


Kita semua paham kok sama hak dan kewajiban suami istri." kata Robert menenangkan.


Sandy menyandarkan dirinya ke sofa.


Akhirnya selesai juga.


Dia lalu menyilangkan kakinya.


Dia menepuk sofa di sampingnya.


"Kamu gak duduk di sini, Va ?


Deket sama calon suami kamu ?" katanya santai.


Reva memerah.


"Enggak Om.


Udah enak duduk di sini." tolaknya.


Dahinya mengernyit.


Lalu...


"Satu lagi Om, Tante.


Gak perlu dicatat dalam perjanjian.


Tapi tolong diingat bahwa aku gak mau melanjutkan rencana pernikahan walaupun hari pernikahan itu tinggal besok, kalau seandainya kejadian seperti semalam terjadi lagi.


Aku gak mau.


Jangan harap aku bakal muncul jadi pengantin Om." katanya.


Mata Sandy menyipit.


"Gak bakalan, Va !


Pas hari pernikahan kita, kamu bakal muncul jadi pengantin ku." tekadnya.


Reva kembali bergidik mendengar nada suara Sandy.


"Ya udah...


Udah selesai kan masalahnya ?


Jadi kalian tetap sebagai pasangan yang bertunangan." kata Robert menengahi.


"Oh iya...


Lu aja yang nyebarin berita, Ti." kata Sandy.


Tia menatap Sandy.


"Oke.


Ponsel Reva bergetar.


Dia menatap layarnya.


Lalu tersenyum.


Sandy mengamati nya.


Sepanjang pertemuan mereka, Reva tidak pernah tersenyum.


Dahinya mengernyit.


Siapa ?


Steven kah ?


"Siapa Va ?"


Reva tersadar lalu dengan canggung membalikkan layar ponselnya.


"Teman.


Aku keluar dulu." katanya.


Lalu segera meninggalkan ruangan.


Sandy menolehkan kepalanya mengikuti Reva yang menghilang di balik pintu.


Perlahan dia berdiri.


"Mau kemana ?" tanya Michael.


"Keluar sebentar." jawab Sandy.


Dia membuka pintu lalu menoleh ke kiri dan kanan.


Tidak nampak sosok Reva.


Sandy berjalan menyusuri lorong.


Tak lama terdengar suara tertawa renyah khas Reva.


Sandy pelan-pelan mendekati.


"Iya..aku juga kangen" kata suara Reva dalam bahasa Mandarin.


Lalu diam.


"Beneran ?


Kita bedua aja ?"


Diam


"Aku pulang dua hari lagi."


Reva kembali cekikikan.


"Hmm..kalo kamu mau, aku bakal sayang kamu selamanya deh."


Diam mendengarkan.

__ADS_1


"Kamu mau kemana siih ?


Aku belum sanggup berjauhan nih "


Reva kembali tertawa renyah.


Lalu diam mendengarkan.


"Iya..


Bye sayang..."


Sandy mengernyit.


Siapa ?


Pake sayang segala.


Enggak sanggup berjauhan ?


Pake bahasa Mandarin, berarti orang sini dong.


Jangan-jangan....


Sandy mengepalkan tangannya.


Reva keluar dari ruangan kosong yang tadi dimasukinya.


Sama sekali tidak menyadari bahwa Sandy berada di dekatnya.


Dia langsung masuk ke ruang duduk.


Tak berapa lama kemudian, Reva terlihat kembali keluar dari ruangan dan menuju lift.


Sandy mengawasi.


Mau tidak mau benaknya bertanya-tanya.


Siapa tadi ?


...🍇🍎☘️...


Sore itu, para personil SHE berkumpul di kamar mereka.


Bergosip.


Apalagi kalau bukan tentang peristiwa semalam.


"Aku udah tau kalo dia itu ular betina..!" kata Mini.


"Hussh... pelan-pelan..Dia senior."


"Ahh..senior apanya ?


Lebih senior Tia dong." bantah Jasmine.


"Aku emang kemarin liat.


Dia bisik-bisik sama Helen.


Kayaknya emang bikin rencana."


Reva mendengarkan.


"Yah..tadi aku dikasih tau sama tante kalo...emm..kalo Om Sandy didorong dari belakang." katanya.


"Kamu percaya ?" tanya Selina.


"Aku enggak tau."


"Terus kamu tadi ngomongin apa ?"


"Tadi ?


Ya pokoknya Om Sandy minta maaf dan kesepakatan nya dia mau ngasih company-nya buat aku." jawab Reva jujur.


"Hah ?


Beneran ?!"


"Iya.


Tante Tia sama Tante Bili juga begitu.


Jadi.. Om Sandy juga begitu."


"Wuihh... tajir dong kamu."


"Ah..enggak.


Aku enggak mau.


Aku lebih suka punya suami yang enggak macam-macam.


Enggak dikejar-kejar sama pelakor."


Mereka semua menatapnya.


"Jadi..enak jadi perempuan tajir tapi lakinya dikerubuti pelakor apa perempuan biasa tapi lakinya setia gak macem-macem ?" tanya Else.


"Enak jadi perempuan tajir yang suaminya setia enggak macem-macem kayak tante kamu tuh." kata Mini.


"Eh..tapi malam sebelumnya, aku liat Cindy keluar dari kamar Aaron.


Jamnya mencurigakan.


Jam tiga malam.


Ngapain coba ?"


"Ya pasti ***-*** lah !" sambar Else.


"Padahal aku suka Aaron.


Dia aktor terkenal tapi ramah.


Enggak sombong." kata Selina.


"Tapi mereka memang dekat.


Aku sering liat mereka berdua." kata Mini.


"Gimana kalo kita kerjain ?" kata Else.


"Siapa yang dikerjain ?


Pelakor ?" tanya Jasmine.


"Iya dong..


Kita bikin dia cemburu."


"Hah ?!


Gimana caranya ?" tanya Reva tertarik.

__ADS_1


Else mendekatkan kepala lalu menceritakan rencananya.


...☘️🍎🍇...


__ADS_2