Kamu Milikku

Kamu Milikku
Di Apartemen


__ADS_3

Sandy berdiri di depan pintu apartemen Reva.


Tidak melakukan apapun.


Tidak juga memencet bel.


Tidak mengetuk.


Dia hanya berdiri di sana.


Emosinya terkuras.


Ini yang tidak pernah ingin dia lakukan.


Menyakiti orang lain.


Sebab itu, dia tidak pernah punya keinginan menjalin hubungan dengan orang.


Dengan Cindy, saat itu dia sedang merasa tertinggal oleh kedua temannya.


Mereka sudah berkeluarga.


Punya anak..


Dan nampak bahagia dengan keluarga kecil mereka.


Sementara dia masih saja sendiri.


Sandy menghembuskan nafas.


Matanya menatap daun pintu yang tertutup.


Gadis ini.


Kalau dia ingin memulainya lagi, dia ingin ini menjadi yang terakhir. Dan harus berakhir dengan bahagia. Sampai maut memisahkan.


Tadi...


Setelah meninggalkan Cindy, dia menyetir berputar-putar.


Menjernihkan pikirannya.


Mengosongkan emosinya.


Dia sungguh tidak tau bahwa Cindy ternyata menyimpan perasaan yang dalam padanya.


Seandainya ini terjadi dulu, mungkin sekarang mereka sudah bahagia bersama.


Tapi dia sudah hampa dengan Cindy.


Dia tidak mampu merasakan cinta yang dulu dia rasakan.


Jadi tangis Cindy, emosi Cindy seperti tidak berarti apa-apa padanya.


Tidak mampu mengoyak keinginannya untuk pergi.


Dia hanya ingin melepaskan Cindy.


berpaling dan berjalan ke depan.


Meninggalkan semua luka di hatinya.


Semua kebencian, rasa sakit hati karena dikhianati.


Pintu terbuka pelan.


Kepala Reva muncul.


Sandy mengangkat kepalanya.


Matanya menatap Reva


"Om..." sapa Reva.


Sandy tidak menjawab.


Reva membuka pintu lebih lebar.


Dia melangkah keluar.


Menghampiri Sandy.


Lalu memeluknya.


Nyesss...


Sandy seperti disiram air dingin.


Air yang menyejukkan dirinya.


Sejenak ragu-ragu, kemudian


Dia membalas pelukan Reva.


Merasakan kelembutan tubuhnya.


Meresapi kehangatannya.


Mereka tetap seperti itu beberapa saat.


Lalu Reva mundur.


Matanya mengamati Sandy.


"Masuk Om ?"


Sandy mengangguk.


Dia melirik sekilas arlojinya.


Sudah pukul satu malam lebih.


Sandy masuk ke apartemen Reva.


Duduk di sofa, dia melihat laptop masih menyala.


Buku-buku berserakan dimeja depan TV.


Kasur Reva masih licin.


Anak ini belum tidur.


Reva menghampiri sambil membawa mug.


"Om, aku tau, Om suka kopi.


Tapi..susu jahe ini bisa bantu Om buat tidur nyenyak.

__ADS_1


Om butuh tidur." katanya sambil menyodorkan cangkir itu ke tangan Sandy.


Reva lalu duduk di karpet.


Kembali menekuri laptopnya.


Sandy meminum susu jahenya.


Matanya sesekali nyalang ke langit-langit apartemen.


Sesekali dia memandang Reva.


Dia memahami kesibukan Reva.


Dia juga pernah berada di posisi Reva.


Sibuk dengan kuliahnya.


Dan Perusahaannya.


Matanya lama-lama terpejam.


Reva memandang nya sekilas.


"Om..


tidur gih..Di kasur." katanya.


Sandy membuka matanya.


"Gak papa, Va ?" tanyanya mengantuk.


"Enggak.


Gih sana !" kata Reva.


Sandy berjalan ke tempat tidur lalu merebahkan diri di sana.


Dia langsung terlelap.


Reva tersenyum kecil.


Dia lalu meneruskan mengerjakan tugasnya.


Satu jam kemudian, Reva menguap.


Dia naik ke sofa lalu tertidur.


Laptopnya masih menyala.


Selama dua jam berikutnya, keduanya terlena dalam mimpi di kesunyian apartemen.


Jam berdetik.


Sandy terbangun.


Sejenak dia tidak tau berada dimana.


Apartemen Reva.


Dia melirik ke samping.


Tidak ada Reva.


Sandy bangun.


Lampu laptop berkedip. Layar nya sudah gelap.


Sandy mematikan laptop.


Lalu mengangkat Reva.


Reva mengeluh merasa tidurnya terganggu.


Reva memalingkan wajahnya ke dada Sandy. Menyurukkan nya di sana.


Sandy menggelengkan kepalanya.


Dia lalu meletakkan Reva di kasur menyelimutinya.


Sandy menemaramkan lampu-lampu lalu berbaring di sebelah Reva.


Mencoba tidur.


Besok dia ada rapat.


Sandy berbaring miring.


Menatap lama pada wajah Reva.


Reva manis, cenderung cantik.


Kecantikan khas Indonesia.


Tapi gadis ini seperti tidak sadar bahwa dia cantik.


Sandy sering menemukan laki-laki lain yang menatap Reva.


Lama dan penuh ketertarikan.


Pelan-pelan Sandy menyelipkan tangannya di bawah leher Reva.


Tangannya yang satu menyelip di bawah pinggul. Menariknya mendekat.


Sandy menghembuskan nafasnya.


Rasanya...tenang sekali.


Sandy jadi mengerti sekarang apa yang dirasakan oleh Michael.


Saat bersama Tia, Michael terlihat santai, rileks, banyak senyum sehingga mengundang komentar teman-temannya.


Sejak menikah, Michael makin terlihat santai.


Demikian juga dengan Robert.


Sejak tau bahwa Biliyan menerimanya, Robert semakin sering bercanda.


Biliyan pun terlihat selalu tertawa saat tengah bersama dengan Robert.


Sandy menginginkan istri yang seperti itu.


Yang membuatnya nyaman dan diapun bisa membuat istrinya nyaman bersamanya.


Dan dia menemukan nya saat bersama Reva.


Bersama Reva, dia selalu merasa tenang.

__ADS_1


Tapi gadis ini sedang menyukai orang lain.


Jadi dia harus pelan-pelan.


Pelan-pelan membuka hati Reva.


Menunjukkan pada Reva bahwa dia menginginkannya.


Bukan karena alasan teman-temannya,


Bukan sebagai pengganti,


bukan juga karena dia sedang patah hati yang sebetulnya tidak dirasakan nya saat ini.


Pulang ke Indonesia kemarin, dan menghabiskan waktu dengan Reva membuatnya melupakan sakit hatinya.


Dirinya terobati dengan kehadiran gadis ini.


Itu yang membuatnya mantap untuk menjadikannya pendamping hidupnya.


Mengejarnya. Kalau perlu mengejarnya seperti Michael mengejar Tia. Lintas benua.


Sandy tersenyum tipis.


Sementara itu...


Cindy masih menangis di apartemennya.


Dia sedih, marah, sakit hati dan patah hati.


Tapi juga kesal dengan dirinya sendiri.


Dengan bodohnya, dia membiarkan seseorang yang berharga seperti Sandy lepas dari tangannya.


Kalah dengan seorang mahasiswa biasa.


Cindy kembali menangis.


Bagaimana ini ?


Bagaimana ini ?


Dirinya sekarang begitu mendambakan Sandy.


Dia bukan orang yang mudah jatuh cinta.


Dan begitu jatuh....dia sulit berpaling kepada orang lain.


Cindy bangkit..


Dia berjalan menuju meja.


Menatap cermin besar di sana.


Dia harus mencari cara agar Sandy kembali padanya.


Dia tidak akan menyerah semudah itu.


Lagipula...Dulu Sandy yang mengejarnya.


Tidak mungkin begitu saja rasa itu hilang kan ?


Tidak mungkin. Dia tidak ingin percaya.


Dia cantik.


Terkenal.


Aktris dengan karir yang sedang menjulang.


Apa yang kurang ?


Oke...dia pernah selingkuh.


Dan kenapa itu jadi hal besar.


Semua orang pernah melakukannya.


Dan dia melakukannya dengan alasan yang jelas.


Dia belum yakin pada Sandy.


Cindy membalikkan badannya.


Menatap tubuhnya yang berlekuk indah.


Kulitnya yang putih bening.


Senyumnya yang mempesona.


Dia adalah orang yang selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.


itu sebabnya karirnya bisa seperti sekarang ini.


Sandy sempurna untuknya.


Walaupun Cindy terlambat menyadarinya.


Cindy tidak ingin kehilangan Sandy.


Cindy meraih ponselnya.


Mencari nomor Mami.


Besok dia akan menelpon Mami.


Membujuk Mami untuk berada di pihaknya.


Agar Mami membujuk Sandy.


Kalau perlu mengancamnya.


Kalau perlu ....


Cindy mengatupkan bibirnya dengan geram.


Kalau perlu dia akan menjebak Sandy dan memaksanya menikahinya.


Dan..anak kecil itu harus diberi pelajaran.


Beraninya dia mencuri miliknya.


Tapi.. bagaimana caranya?


Nanti dia akan bertanya-tanya dan mencari tau tentang gadis itu.


Satu kampus dengannya kan?

__ADS_1


__ADS_2