Kamu Milikku

Kamu Milikku
Licik


__ADS_3

Addrian berjalan menuju pintu utama dengan membawa troli, dia kemudian menuju area parkir yang ada tidak jauh dari pintu utama.


"Citra mana?" Addrian berbicara dengan Rico yang turun dari mobil karena ingin membantu sahabatnya itu.


"Dia ada di dalam mobil. Aku tadi bertanya tentang wanita yang ribut sama dia."


"Siapa wanita itu?"


"Katanya, itu istri pamannya yang menyuruh dia untuk pulang, tapi Citra tidak mau karena dia tidak mau di siksa lagi."


"Bibirnya itu harusnya kasihan sama Citra. Kenapa dia malah menyuruh Citra pulang?"


Rico sebenarnya agak tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Citra karena dia melihat ekspresi gadis kecil yang seolah takut dengan Citra tadi. Kenapa gadis itu yang malah takut dengan Citra? Apa dia pernah disakiti oleh Citra?


"Rico, kamu sedang mikir apa?"


"Em ... tidak ada. Kita pulang sekarang saja."


Addrian selesai memasukkan barangnya dan dia menuju ke rumahnya.


Beberapa menit kemudian, Addrian sudah sampai di rumahnya. Dia membawa dus besar susu untuk Aira di bantu oleh Rico.


"Mas, itu apa?" tanya Aira yang ada di ruang tamu sambil menonton televisi.


"Susu kesukaan kamu. Aku lupa kalau stok susu hamil kamu habis. Tadi pulang sekalian aku membelinya."


"Banyak sekali. Kamu itu kenapa malah membeli sebanyak ini?"


"Addrian juga mau meminumnya, Aira. Dia, kan, juga lagi hamil. Hamil anak kucing." Rico terkekeh dengan. senangnya.


"Awas kamu, ya! Kalau anakku lahir, tidak akan aku perbolehkan dia memanggilmu Paman Rico."


"Hem ... kenapa sekarang mengancamnya menggunakan si junior? Suami kamu sukanya mengancam. Apa kamu juga sering diancam? Kamu ancam balik saja. Tidak akan kamu beri jatah kalau nakal, pasti dia takut."


Blup


Rico terkena lemparan banyak sofa tepat di mukanya.


"Rasakan itu."


"Kalian ini kenapa malah bisa bercanda? Aku ini tidak enak lama-lama tinggal di sini," Citra pura-pura mengeluh.


"Memangnya Citra tidak jadi pindah, Mas?"


Addrian menggeleng, dan dia menceritakan apa yang tadi terjadi di sana. "Aku minta maaf, Aira. Aku juga tidak menyangka jika pemilik rumah itu malah berbuat seperti ini."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, kita juga tidak ada yang tau akan terjadi hal seperti ini."


"Lalu, aku masih harus di sini? Aku tidak enak menyusahkan kamu terus."


"Tidak apa-apa, Citra, aku tidak keberatan kamu berada di sini. Nanti kita pikirkan lagi semuanya, sekarang kita makan dulu karena aku sudah membuat masakan untuk kita."


"Sayang, kamu memasak? Lalu, juru masak itu untuk apa aku gaji di sini?"


"Mas, aku mau membalas kesalahan masakan aku yang waktu itu keasinan."


Citra tampak kesal karena Aira berhasil memanfaatkan kesempatan saat Citra tidak di rumah.


Mereka bertiga duduk di meja makan dan menikmati masakan yang dibuat Aira.


"Ini masakan kamu?"


"Iya, kenapa? Apa keasinan lagi?"


"Ini enak sekali, bahkan masakan di restoran yang pernah aku coba tidak seenak ini. Aku boleh nambah ya?"


"Benarkah? Terima kasih, Kak Rico. Kamu boleh nambah bahkan dibawa pulang."


"Mas, sekarang masakan aku enak benaran, kan?"


Aira tersenyum senang melihat coklat berbentuk love yang diberikan oleh suaminya.


"Haduh! Bisa kena diabetes aku melihat hal yang sangat manis seperti ini," celetuk Rico.


Mereka tidak tau jika Citra menggenggam erat sendok makannya, seolah dia ingin mematahkan sendok itu.


Rico berada di rumah itu sampai sore hari. Dia senang sekali bersama keluarga Addrian yang sangat menyenangkan.


Addrian mengajak Rico bertanding basket di lapangan dekat rumah mereka. Aira memilih di dalam rumah karena dia nanti membaca lagi skripsi yang sudah dia buat agar nanti saat sidang dia benar-benar bisa menghadapinya.


"Aira, aku mau ke lapangan sebentar untuk berlari sebentar karena sudah lama aku tidak berolahraga."


Aira melihat Citra sudah memakai baju olahraganya yang memperlihatkan bagian perutnya yang rata.


"Kamu tidak takut bertemu dengan paman kamu?"


"Tadi sebenarnya aku bertemu bibiku dan dia menyuruh aku pulang karena pamanku sedang pergi ke luar kota dalam beberapa hari, tapi aku tidak mau."


"Ya sudah kalau begitu. Citra, aku mau menitip minuman untuk mas Addrian dan Kak Rico."


Aira mengambilkan dua botol jus yang baru selesai dia buat tadi.

__ADS_1


"Enak sekali, setelah berolah raga minum jus. Aku akan memberikannya."


Citra berjalan menuju lapangan dekat taman, tapi sebelum dia sampai ke sana dia membuang jus yang sudah dibuatkan oleh Aira dan menggantinya dengan air mineral yang dia beli. Dia pun membuat seolah-olah dirinya habis terjatuh dan bajunya agak kotor.


"Minum air putih lebih sehat. Dasar! Aira istri yang bodoh."


Citra berjalan menuju lapangan dan berdiri memperhatikan pria yang diam-diam dia cintai bermain basket.


"Hai, ini minuman untuk kalian."


"Terima kasih, ya Citra." Addrian mengambil dan meminumnya.


"Baju kamu kenapa kotor begitu? Kamu habis terjatuh?" Rico melihat heran.


"Sebenarnya tadi Aira membawakan aku jus untuk kalian, tapi aku tidak sengaja kalau tersandung dan jatuh. Botol yang aku bawa menggelinding masuk ke parit dekat salah satu rumah, aku tidak bisa mengambilnya."


"Tapi kamu tidak apa-apa?"


"Tidak, hanya saja aku merasa bersalah karena jus yang dibuatkan oleh Aira tidak bisa aku berikan kepada kalian."


"Sudahlah! Kamu tidak perlu memikirkan. Aira pun tidak akan marah sama kamu."


"Iya, istri kamu itu memang sangat baik. Addrian, kita pulang sekarang saja, aku mau pulang ke rumah karena malam ini aku ada janji dengan seseorang."


"Citra, kami mau pulang, kalau kamu masih mau berolah raga tidak apa-apa."


"Aku pulang saja karena badanku juga kotor terkena pasir tadi pas jatuh."


"Mau aku gendong tidak? Siapa tau kaki kamu sakit buat berjalan," celetuk Rico.


Citra melihat ke arah Addrian. Coba Addrian yang menawari hal itu pasti dia akan langsung menerimanya.


"Tidak perlu, aku bisa berjalan, lagi pula kamu itu sudah punya kekasih, kenapa masih menggoda gadis lain."


"Ahahaha! Aku ini sedang mencari yang terbaik dari wanita yang bisa aku jadikan calon istri. Kamu bisa masuk menjadi salah satunya kalau mau." Rico kembali terkekeh.


"Aku sudah punya pilihan sendiri siapa yang menjadi calon suamiku." Citra membalas senyum Rico dan berjalan pergi dari sana.


Mereka bertiga sampai di rumah, dan melihat Aira yang sedang berdiri dengan membawa baju miliknya yang kapan hari dipinjam oleh Citra.


"Aira, itu baju yang ada di kamarku?"


"Iya, tadi aku sedang mencarinya dan ingat jika baju itu pernah kamu pakai."


"Jadi, kamu tadi masuk ke dalam kamarku?" Wajah Citra agak terkejut.

__ADS_1


__ADS_2