Kamu Milikku

Kamu Milikku
Menjaga Perasaan


__ADS_3

Riani bersama dengan Arlan pergi menuju rumah sakit. Di tengah perjalanan Riani ingin membeli sesuatu untuk bayi kecil Aira.


"Addrian, kita berhenti di toko itu sebentar, ya?"


"Untuk apa?"


"Aku mau membeli hadiah untuk keponakan kamu."


"Ya sudah."


Mereka berhenti di sebuah toko yang menjual barang-barang khusus bayi.


Arlan menemani Riani masuk ke dalam toko itu dan mereka melihat-lihat apa yang harus Riani beli untuk bayi kecil Aira?


"Aku beli apa, ya?" Riani tampak bingung memilih barang apa yang harus dia beli.


"Permisi ada yang bisa saya bantu?" Seorang penjaga toko itu bertanya pada Riani.


"Mba, saya ingin membeli sebuah kado untuk bayi yang baru lahir."


"Oh! Saya kira mau mencari barang untuk mba yang sedang hamil karena di sini ada barang baru untuk kenyamanan ibu hamil."


Riani seketika melihat ke arah Arlan. "Saya belum menikah, Mba."


"Maaf, saya kira Mba sudah menikah. Kalau begitu saya akan carikan baju untuk bayi saja. Bayinya laki-laki apa perempuan?"


"Laki-laki."


Riani diajak pergi ke bagian baju-baju bayi. Di sana dia melihat banyak sekali baju khusus bayi laki-laki.


"Bagus sekali bajunya." Riani memilih sekitar lima pasang baju setelah dan juga tiga pasang sepatu baju.


"Ini saja, Mba?"


"Iya, Mba."


Riani kemudian berjalan untuk membayar baju itu. Saat dia menuju ke arah kasir, Riani tidak sengaja di tabrak oleh seorang anak kecil yang sedang berlari hingga rambutnya tergerai dan wajahnya yang luka dapat terlihat oleh beberapa orang di sana.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Riani yang malah khawatir dengan anak kecil yang menabraknya.


"Tidak apa-apa. Aku minta maaf sudah menabrak Tante."


"Tante tidak marah, kamu pasti tidak sengaja."


"Rio, sini! Kamu itu malah berlarian. Maaf anakku sudah menabrak kamu. Kamu tidak apa-apa, kan?"


"Tidak apa-apa. Anak ini tidak sengaja."


"Eh, wajah kamu kenapa? Apa kamu baru saja mengalami kecelakaan?"

__ADS_1


Riani memegangi wajah yang sudah dia tutupi dengan rambutnya. "Ini luka bakar waktu saat aku masih kecil dulu. Kalau begitu aku permisi dulu."


Riani berjalan ke arah meja kasir dan beberapa dari ibu-ibu di sana malah membicarakan dia. Mereka mengatakan sangat kasihan pada si prianya yang mau saja berpacaran dengan wanita dengan wajah ada luka seperti Riani.


Riani yang mendengar hal itu hanya bisa menahan sedihnya. Arlan yang tidak tau karena dia sedang sibuk berbicara dengan seseorang di telepon.


"Arlan, ayo kita ke rumah sakit sekarang," ucap Riani dengan bibir bergetar.


Sekilas Arlan melihat aneh ada Riani. Tadi perasaan Riani terlihat senang sekali ingin membeli kado untuk bayinya Aira, tapi kenapa sekarang terlihat sedih.


"Kamu baik-baik saja?"


"Aku baik. Kita pergi sekarang." Riani berjalan lebih dulu melewati Arlan keluar dari toko.


Arlan bingung dan melihat sekitarnya.


Di dalam mobil. Riani hanya duduk terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Riani, ada apa sebenarnya? Apa ada yang membuat kamu sedih di dalam toko tadi?"


"Aku tidak apa-apa, Arlan. Semuanya baik-baik saja."


"Kalau baik-baik saja, kamu tidak mungkin diam dan tadi aku lihat kamu seperti habis menangis."


"Siapa yang menangis? Aku kelilipan. Sudah! Kamu perhatikan jalannya saja."


Arlan akhirnya tidak meneruskan dan mereka sampai di rumah sakit. Riani dan Arlan masuk ke dalam kamar Aira.


Arlan melihat dengan datar pada Niana kemudian bergantian pada Kenzo.


Kenzo pun melihat pada Arlan dan wanita yang datang bersama dengan Arlan.


"Mba Riani!"


"Aira, maaf aku baru datang." Riani menghampiri Aira dan mereka saling berpelukan.


"Aira senang Mba Riani mau datang ke sini."


"Aku yang senang diberitahu jika kamu sudah melahirkan. Ini ada sedikit hadiah dariku untuk bayi kecil kamu."


"Terima kasih, Mba."


Niana berjalan mendekati Aira dan memberikan bayi kecil itu karena dia minta susu pada Aira.


"Na, ini kenalkan Mba Riani, dan dia calon istrinya Mas Arlan."


Riani menjulurkan tangannya dan Niana menyambutnya dengan tersenyum.


"Riani."

__ADS_1


"Niana. Senang bisa berkenalan dengan Mba Riani."


"Aku juga senang bisa berkenalan dengan sahabat baiknya Aira."


Arlan yang ada di sana hanya bisa memandang datar pada dua wanita yang satunya dulu adalah kekasihnya dan satunya calon istrinya.


Suasana di sana begitu hangat. Riani bisa dengan cepat membuat dengan lainnya bahkan Niana.


"Mba Riani, aku doakan semoga nanti Mba segera menikah dan cepat juga mendapat momongan supaya keponakan aku ini memiliki teman. Pasti sangat lucu."


"Kamu saja yang menikah lebih dulu dengan Niana, Ken, bukannya kalian tadi sudah sangat cocok saat menggendong anaknya Aira," sahut Arlan.


"Kalian pacaran?" tanya Riani.


Niana melihat ke arah Kenzo. Pun Kenzo juga melihat ke arah Niana. "Kita adalah sahabat dekat, dan tidak memungkiri jika sahabat bisa menjadi cinta. Iya, kan, Na?"


Niana hanya bisa mengangguk perlahan. Suasana di sana seketika agak canggung.


"Jodoh itu di tangan Tuhan dan kita tidak ada yang tau. Seperti Aira dan Kak Addrian. Jadi, biar nanti Tuhan yang mempertemukan atau menyatukan aku dengan jodohku." Niana tersenyum.


"Nanti aku akan bilang sama Tuhan supaya kamu dijodohkan denganku."


"Kalau tidak bagaimana?" tanya Niana.


"Nanti aku kenalkan adikku yang super tampan ini dengan domba yang ada di rumah paman Suryo. Dia, kan pemilik peternakan domba," kata Addrian asal.


"Enak saja, memangnya aku ada keturunan domba? Kalau aku keturunan domba kamu kakaknya domba. Eh, salah, kamu buaya, kan."


"Apa kamu bilang?" Addrian langsung memiting leher Kenzo. Adik kakak itu kembali bercanda.


Riani melihat ke arah Arlan yang sedang duduk dengan pandangannya melihat pada Niana.


Beberapa jam mereka di sana. Arlan meminta izin untuk mengantarkan Riani pulang.


Kenzo dan Niana masih ingin di sana menemani Aira karena Niana sangat senang melihat bayi kecil Aira.


"Na, nanti kita pulang aku ingin mengajak kamu makan malam di restoran yang baru dibuka di dekat rumah sakit ini."


"Iya," jawab Niana singkat.


Arlan yang mendengarnya tampak menggenggam erat kepalan tangannya.


Riani berpamitan dan mereka turun ke area parkir untuk masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil Arlan tampak terdiam dan Riani tau kenapa Arlan seperti itu.


"Arlan, kalau kamu mau membatalkan acara pertunangan kita aku akan bicara pada kedua orang tuaku." Arlan melihat pada Riani. "Aku tau jika Niana adalah gadis yang menjadi kekasih kamu."


"Kamu sudah tau?"

__ADS_1


"Aira juga pernah menceritakan tentang Niana padaku. Dia gadis yang baik dan cantik."


__ADS_2