
Pingitan sudah dimulai seminggu ini.
Sandy bergantian tidur di rumah Michael dan Robert.
Dan setiap hari pula mereka akan menjemput Reva dari kampus untuk makan siang.
Hari ini Reva sedang menunggu mereka menjemputnya di kampus.
Dia sedang duduk di bangku taman sambil membaca diktatnya.
Tin..tinn...
Reva mengangkat wajahnya.
Josh, Steven, dan teman-temannya.
Reva berdiri menghampiri.
"Yuuk...makan siang.." ajak Andrew yang duduk di samping Josh.
"Aku lagi nungguin Om.." kata Reva.
Matanya bersirobok dengan Steven yang juga sedang menatapnya.
"Aku telpon Om kamu kalo gitu." kata Josh sambil mengeluarkan ponselnya.
"Kamu disini aja." ajak Anna.
Reva ragu-ragu.
"Boss...
aku ajak Reva ya.
Makan siang.
Ketemu di tempat biasa." kata Josh.
Josh lalu mendengarkan sebentar dan kemudian memutuskan sambungan.
"Ayo.." katanya pada Reva.
Steven lalu turun.
"Aku di pinggir aja Steve.." tawar Reva.
Steven hanya diam sambil menatap Reva.
Reva menghela nafas.
Dia masuk.
Steven menyusul.
Bertiga mereka duduk berdempetan dengan Anna.
Di jalan.
"Va...kamu masih tinggal di rumah Boss ?" tanya Josh.
"Masih, Josh."
"Bareng Boss ?"
"Kenapa kamu tanya ?" tanya Reva yang tidak terlalu ingin bicara banyak.
Dia sedang tegang.
Datang dengan Steven ke tempat dia dan Sandy nanti bertemu.
Apa Sandy nanti marah ?
"Boss-boss selalu datang bersama sejak minggu lalu." jawab Josh.
Reva menunduk.
Steven meliriknya, menatap hidung mancung yang mencuat dari balik helaian rambutnya yang jatuh ke depan.
Steven mengeluh dalam hati.
Dia nyaris memiliki gadis ini.
Dan sekarang dia tidak bisa melupakannya.
"Ehmm....itu...
Ada adat dari suku aku yang meminta agar calon pengantin tidak bertemu sampai dengan hari pernikahan.
namanya pingitan."
"Oo..jadi Sandy sekarang tinggal dimana ?" tanya Andrew.
"Di rumah Om Michael di Taipei." jawab Reva.
"Jadi kamu sendiri di rumah Boss ?"
"Iya..."
Josh melirik sekilas melalui spion ke arah Steven.
Steven sedang menatap ke luar.
"Tapi kok kamu masih ketemu ?" tanya Anna.
"Ya ...
Itu...ehmm.. gimana ngomongnya ya ?
Pingitan itu ya tergantung kondisi dan situasi juga.
Kan aku sama Om perantau.
Jadi agak di perlunak aturannya.
Nanti kalo udah sampai di rumah, baru aku sama Om pingitan beneran."
"Beneran gak ketemu ?"
"Iya."
"Telpon ?"
"Enggak."
Sekali lagi Josh memandang Steven melalui spion.
Kali ini dia melihat Steven menunduk menatap Reva.
Josh menggelengkan kepalanya.
Dia merasa kasihan pada Steven.
Tidak pernah sekalipun Steven jatuh cinta pada seorang gadis.
Seingat yang dia tau.
__ADS_1
Padahal mereka saling mengenal sudah lama sekali.
Hanya sejak Reva hadir, Steven baru membuka hatinya.
Josh tidak heran.
Reva selain cantik, dia cerdas.
Banyak perempuan lain yang juga sama cerdasnya, tapi entah mengapa, cuma Reva yang menarik hati Steven.
Sayang sekali...
Ibunya menentang habis-habisan.
Hanya karena masalah keturunan.
Dan sekarang, satu-satunya gadis yang singgah di hatinya itu sedang mempersiapkan pernikahan dengan orang lain.
Josh tidak tau bagaimana rasanya menjadi Steven.
Dia dipaksa untuk patah hati.
Tapi itu sebuah keuntungan untuk Sandy.
Dan keduanya, Steven dan Sandy adalah orang-orang yang dekat dengannya.
Dia ikut berbahagia untuk Sandy.
Mobil memasuki parkiran.
Mereka semua turun.
Dengan hati-hati, Reva memilih tempat duduknya.
Dia berusaha duduk sejauh mungkin dari Steven.
Dia ingin menghindari konflik dengan Sandy.
Steven sepertinya tau bahwa Reva sedang menghindarinya.
Dia diam saja.
Hari ini dia tumben tidak banyak bicara.
Josh menyenggolnya.
"Kamu sakit ?"
Steven menggeleng.
Reva yang mendengar pertanyaan Josh, menatap Steven.
Mempelajari.
Steven tidak pucat.
Tapi sejak tadi dia tidak banyak bicara.
Steven lalu memandang Reva.
"Apa ?" tanya nya.
"Ah enggak.
Aku pikir kamu sakit.
Dari tadi gak ngomong apa-apa." jawab Reva.
"Aku sakit ?"
Semua orang memandangnya.
"Aku emang sakit.
Sakit hati." katanya pelan tapi masih terdengar oleh teman-temannya.
Reva tidak mau menjawab.
"Apa kamu berminat untuk ngobatin sakit aku, Va ?
Seperti kamu dulu ngobatin sakitnya Sandy ?" sindir Steven pelan.
Semuanya yang ada di meja tidak ada yang bersuara.
Reva diam.
Steven rupanya sedang mengajak berdebat,
dan dia tidak mau melayani.
Reva mengangkat wajahnya.
"Apa kita belum mau pesan makanan?
Aku lapar." tanyanya.
""Iya...kita pesan sekarang." kata Andrew menjawab pertanyaan Reva sekaligus mengalihkan pembicaraan.
Komentar dari Steven membuat teman-temannya tidak berani membuka suara.
Suasana menjadi canggung.
Sepuluh menit kemudian, Sandy dan teman-temannya datang.
Senyum Sandy melebar saat melihat Reva.
Dia mendekat.
"Halo, Sayang.." sapanya sambil mengecup pelipis Reva.
Steven menatap mereka lalu melayangkan pandangannya ke arah lain.
Sakit.
Reva mengangkat kepala nya.
"Om...kok lama..?" tanyanya.
Sandy duduk.
"Hmm....tadi ada yang harus diambil sama Michael." jawabnya.
"Udah lama ?" tanya Sandy pada yang lain.
"Lumayan.
Dua puluh menit." jawab Josh.
Sandy tersenyum.
Pesanan Reva datang.
"Kok dikit, Va ?
Biasanya kamu makan banyak ?" tegur Sandy.
__ADS_1
Tangan nya melayang, menepikan anak rambut Reva yang jatuh ke pipinya.
"Tadi udah nyemil, Om.
Jerry sama Prof Stephen bawa makanan banyak."
"Kalo gitu nanti malam kamu harus makan banyak." kat Sandy.
"Iya Om...tenang aja...
Aku juga suka makan kok.." jawab Reva tersenyum.
Sandy mengangguk.
Sekilas dia melirik Steven.
Sandy tidak bodoh.
Saat datang tadi dia sudah melihat suasana tegang di meja.
Baru kali ini, Reva makan siang bareng dengan Steven bersama dia dan juga yang lainnya sejak pertunangan mereka resmi diumumkan.
Dengan kehadirannya, Steven maupun Reva harus menahan diri.
Untuk tidak menunjukkan aksi mesra atau apapun itu.
Menahan diri ?
Dia calon suami Reva.
Dan dia tidak ingin sedikitpun berbagi dengan Steven.
Reva sudah mulai membuka hati untuknya.
Sandy akan mempertahankan hal itu.
Dia harus menjauhkan Reva dari Steven.
Sandy sudah sedekat ini untuk memiliki Reva.
Dia sudah pasti tidak akan mundur.
"Sayang...abis ini masih ada kelas ?"
Reva menatap Sandy.
Kata 'Sayang' diucapkan dalam bahasa Mandarin.
Akhir-akhir ini Sandy sering memanggil nya 'Sayang' tapi dalam bahasa Indonesia.
Reva tidak bodoh.
Dia tau Sandy sengaja menggunakan panggilan sayang untuk memperingatkan Steven bahwa sekarang Reva miliknya dan mereka sebentar lagi akan menikah.
Reva tersenyum.
"Satu lagi, Om Sayang.." balas Reva dalam bahasa Indonesia.
"Jam berapa?"
"Ehmm .. selesai nanti jam dua."
"Aku tunggu."
"Tunggu ?"
"Iya...
Kita nginap di tempat Michael malam ini."
Reva mengangguk lalu melayangkan pandangannya ke sekitarnya.
Matanya menangkap mata Steven yang sedang memandangnya.
Reva diam-diam mengeluh dalam hati.
Dia berharap Steven untuk move on.
Perlakuan Steven yang tidak berubah padanya membuat diapun kesulitan untuk belajar berhenti mencintai Steven.
Tapi dia harus.
Reva sudah membuka hatinya untuk Sandy.
Kalau tidak..dia akan menolak untuk menikah.
Tapi...
Dia juga belum bisa sepenuhnya menghapus Steven dari hatinya.
Apalagi hubungan mereka rusak bukan karena Steven selingkuh.
Tapi restu ibunya yang tidak mereka dapatkan.
Dan Reva punya prinsip bahwa restu orang tua penting untuk dikantongi kalau ingin membentuk keluarga.
Dengan sengaja, dia mendekatkan tubuhnya pada Sandy.
"Ehmm...
Om gak mau suapin aku ?" bisiknya mesra.
Sandy mengangkat wajahnya dengan terkejut.
"Kamu mau disuapin ?
Gak papa ?" tanya nya melirik sekilas pada Steven.
"Ehmm.." angguk Reva.
Dia harus melakukan ini.
Kejam.
Tapi harus.
"Oke."
Sandy menyendok nasi dengan lauknya dari piring nya sendiri.
"Ehm...pake itu" tunjuk Reva manja pada potongan brokoli.
Sandy mengambil brokoli itu.
Lalu mengangkat sendoknya.
"Aaa..." katanya tersenyum.
Reva menyuap.
Sandy menghapus sedikit noda di atas bibir Reva dengan ibu jarinya.
Semua yang ada di meja memperhatikan mereka berdua.
Lalu diam-diam melirik Steven.
__ADS_1
Steven tetap makan dengan tenang.