
Steven melirik.
"Keluarga ku gak akan makan kamu, Va.." katanya lembut.
"Tapi..."
"Enggak akan.
Lagipula kan ada aku." kata Steven menenangkan.
Reva diam tapi dahinya berkerut.
Steven tertawa.
Jarinya mengelus dahi Reva yang berkerut, melicinkannya.
"Mumpung aku lagi disini..
Aku memang biasa datang kesini kalo sedang senggang.
Kamunya aja yang gak tau.
Kayaknya aku pernah ngajak kamu deh. Dulu.."
Reva lalu teringat..
Steven memang pernah dua kali mengajaknya liburan ke China.
Tapi dia saat itu sangat sibuk.
Sedangkan waktu liburnya dipakai untuk pulang ke Indonesia, menengok orang tuanya.
"Yuk ..udah selesai kan ?
Kita jalan-jalan lagi." ajak Steven.
Mereka keluar kedai.
Tadi salju sempat berhenti sekarang kembali turun.
Steven memesan taxi.
Mereka menuju kota terlarang.
Saat turun dari taxi, Reva tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.
"Wow..." desisnya.
Steven tersenyum.
"Yuk..." katanya kembali menggandeng tangan Reva.
Mereka berjalan-jalan menelurusi kota terlarang.
Berkali-kali bibir Reva berdecak.
Dia kagum.
Negara ini berubah dari sistem kekaisaran menjadi pemerintahan komunis.
Tapi kekayaan seni dan intelektual nya masih dipelihara.
Dapat dilihat dari begitu terjaganya kota terlarang.
Saat mereka selesai, hari sudah siang.
Sudah waktunya makan siang.
Steven mengajak Reva kembali naik rickshaw.
"Capek ?" tanya Steven.
Reva menggeleng.
Matanya berbinar.
Dia senang melihat-lihat kota ini.
Steven mengajak ke hutong-hutong tua.
Steven melihat wajah Reva yang bersinar senang, hatinya membuncah, merasa bahagia.
Akhirnya dia bisa membuat Reva tersenyum dan tertawa lepas lagi bersamanya.
Selama ini sejak mereka putus, tidak pernah sekalipun Reva tertawa lepas seperti ini saat bersamanya.
Reva tersenyum.
Reva juga tertawa.
Tapi semuanya terjaga dalam bungkus kesopanan.
Reva tidak bisa lepas seperti dulu lagi.
"Makasih Steve." kata Reva.
Steven menepuk tangan Reva.
"Kita belum selesai." katanya.
"Oh...
mau kemana lagi ?"
"Kita makan dulu ya.."
"Oke."
Mereka sampai di hutong lainnya.
Berhenti di satu restoran yang terlihat tua tapi ramai dengan pelanggan.
"Steve.."
Reva ragu-ragu.
Steven menoleh sambil tersenyum.
"Jangan kuatir..kamu bisa makan di sini."
"Oh ..oke..."
Senyum Reva tampak lega.
Mereka lalu masuk.
"Makan apa, Sayang ?" tanya Steven dalam bahasa Indonesia.
Reva terhenyak mendengarnya.
"Steve !
Jangan panggil aku kayak gitu !" katanya.
Steven hanya tersenyum.
"Kenapa?
Aku emang sayang kamu kok !" katanya lagi.
"Steve !
Kita gak ada hubungan apa-apa lagi !"
"Itu kan menurut kamu, Va !" bantah Steven kalem.
Reva berdiri.
"Aku pergi aja kalo gitu !" katanya mengancam.
Tangannya ditarik.
"Duduk !" perintah Steven.
Reva menepis.
Steven tak bergeming.
Tangannya semakin kuat mencengkeram pergelangan Reva.
"Duduk aku bilang !" desis Steven.
Suara nya kini tidak lagi bernada lembut.
"Steve !!"
Steven kini berdiri.
"Aku gak ragu-ragu bikin keributan disini kalo kamu gak duduk, Va !" katanya.
Reva ternganga.
Dia melihat wajah Steven yang memancarkan tekad.
Reva mengalah.
Dia duduk kembali.
"Makan apa ?" ulang Steven.
Reva dengan cemberut mengambil daftar menu.
"Aku mau ayam asam manis aja." katanya.
"Hmm..oke.
Minum ?"
"Teh susu."
__ADS_1
Steven memanggil pelayan.
Mereka memesan makanan.
Steven sendiri memesan bir untuk menghangatkan dirinya.
Restoran penuh.
"Permisi...
Boleh bergabung ?
Semua meja penuh.
Kalian cuma berdua kan ?" tanya satu suara.
Steven dan Reva mengangkat wajah.
"Steven ?" tanya seorang gadis cantik yang bediri di sebelah penanya tadi.
"Fen ?" Steven bertanya balik.
"Aaaa...ini benar-benar Steven kan ?" Fen tertawa gembira.
Steven ikut tertawa.
Dia berdiri.
Fen tidak ragu-ragu memeluk Steven di tengah keramaian restoran.
Dia juga mencium pipi Steven.
Lalu...
Cup.
Fen mencium bibir Steven.
Steven yang terkejut lalu mundur.
"Fen !!"
Fen hanya tertawa.
Tangannya masih memeluk tubuh Steven.
"Tau gak, aku rindu kamu !!" katanya dengan wajah sendu bercampur gembira.
Steven berusaha melepaskan pelukan Fen sambil melirik Reva.
Reva sendiri juga sedang menatapnya.
Bukan cuma Reva.
Semua orang yang berdiri mengelilingi meja mereka menatap Steven dan Fen.
"Fen !!
Jangan begitu..
Malu !!" kata Steven tajam.
Fen cemberut.
"Kamu kan pacarku..
Wajar aja dong kalo kita bermesraan."
"Fen !!"
Fen duduk.
Lalu mendongak kembali pada Steven yang masih berdiri.
"Siapa dia ?" tunjuknya pada Reva.
Steven duduk.
"Calon istriku." katanya.
"Steve !!" Reva.
"Apa ?!" Fen.
Fen lalu melotot menatap Reva.
"Kamu ?!"
Matanya memandang meremehkan.
Lalu kembali menatap Steven.
"Kamu pasti bercanda !!" bentaknya.
Steven tidak menjawab.
"Kamu ...
Asal kamu tau..kamu gak akan bisa pergi hidup-hidup dari sini kalo berani menggoda pacarku !!" ancamnya.
Reva tidak menyahut.
Dia hanya mengangkat alisnya.
Dia tidak menganggap ancaman gadis ini.
"Fen !.Jangan macam-macam." kata Steven datar.
Fen menatapnya sengit.
Pelayan menghampiri.
"Mau pesan apa ?" tanyanya.
Fen dan ketiga temannya pun sibuk memindai menu.
"Kapan kamu ke sini ?" tanya Fen akhirnya setelah pelayan pergi.
"Empat hari yang lalu." jawab Steven tenang.
"Ngapain ?"
Mata Steven bersinar jail.
"Mau ngenalin dia sama keluargaku." jawabnya.
"Steven !!" bentak dua orang gadis.
Steven menjaga wajahnya tetap datar.
"Lho bener kok !" katanya santai.
"Steve...jangan macam-macam !" desis Reva.
Steven tidak bisa menahan tawanya.
"Aku memang pingin bawa kamu.
kan udah aku bilang tadi." kata Steven melirik Reva.
"Tapi, Steve..."
"Kamu gak usah khawatir."
"Bukan masalah khawatir.
Steve !!
Aku ini mau kawin sama Om Sandy !" kata Reva terang-terangan.
Dia tidak mau memberi harapan palsu pada Steven.
"Iya kalo kamu bisa .." jawab Steven enteng.
"Steve !!"
Fen dan teman-temannya menyaksikan mereka berdua.
Dahi Fen berkerut. Dia tidak mengerti.
Steven dan Reva berbicara dalam bahasa Indonesia.
Dia melihat tatapan sayang yang ditujukan Steven pada gadis asing ini.
Dan Fen tidak suka.
Reva melayangkan pandangannya pada Fen.
Mereka bertemu pandang.
Lalu keduanya memalingkan muka.
Keduanya cemburu satu sama lain.
Steven melirik Reva diam-diam.
Wajah Reva menggelap.
Bibirnya maju.
Dia tidak mau menatap Steven.
Steven tersenyum kecil.
Jadi.. Reva cemburu.
Mau kawin ?
Kawin sama siapa ?
__ADS_1
Steven terkekeh dalam hati.
Kamu sebetulnya belum bisa melepas perasaan kamu sama aku kan, Va ? batin Steven dalam hati.
Makanan Steven dan Reva datang.
"Kami makan dulu.." kata Steven.
Reva diam saja. Dia mengambil sumpitnya dan mulai makan.
Steven meletakkan sepotong daging di mangkuk Reva.
Reva tetap diam, tapi memakan daging yang diberikan Steven dan terus makan ayam pesanan nya.
Fen memperhatikan mereka berdua.
Alisnya berkerut.
Reva tidak menampakkan tanda-tanda bersikap mesra pada Steven.
Hanya Steven.
"Kamu nanti ke rumah aunty ?" tanya Fen.
"Iya." jawab Steven singkat.
Dia kembali meletakkan jamur dan daging di mangkuk Reva.
Reva mengangkat kepala.
Matanya menyapu wajah Steven yang menatap nya lalu memandang sekilas pada Fen.
"Kamu gak usah ngasih daging lagi sama aku.
Malu sama pacar kamu." desis Reva pada Steven.
Steven tertawa.
Gadis ini lucu sekali.
Sejak pagi selalu sibuk mengingatkannya bahwa dia tunangan orang tapi melihat gadis lain mengklaim sebagai pacarnya, dia langsung marah.
"Aku ngasih daging ke kamu, gak ada hubungannya sama dia kan ?" jawab Steven.
"Jangan bikin orang cemburu untuk alasan yang gak ada !" kata Reva.
"Ah...ada kok."
"Steve !"
Steven tidak menjawab karena saat itu pelayan mengantarkan pesanan untuk Fen dan teman-temannya.
"Steve...makan.." ajak Fen.
"Makan aja..
Aku kan udah duluan." jawab Steven santai.
Dia meminum birnya.
Reva menatapnya sekilas.
"Jangan kuatir, aku gak akan mabok cuma karna bir doang." kata Steven menangkap lirikan Reva.
Reva mengangguk.
Terserah Steven mau minum apa.
Lagipula...itu bukan urusan dia kan ?
Dia dan Steven bukan...
Reva berdehem.
Fen mendengar percakapan itu.
"Kamu...berani melarang Steven minum ?" katanya tidak suka.
Reva mengedikkan bahunya, tapi tetap diam.
Dia malas melayani Fen.
"Heh ?!
Kalo di tanya jawab !!" bentak Fen.
Steven dan teman-teman Fen terkejut.
Salah satu teman Fen menyenggol Fen.
"Jangan bikin ribut di sini Fen." kata Steven.
Reva menoleh.
"Aku gak larang.
Kapan kamu pernah dengar aku larang dia.Terserah dia mau minum apa !
Aku gak peduli !
Kamu yang ngaku jadi pacarnya harusnya yang tau !" jawab Reva dengan suara malas.
Fen makin emosi mendengarnya.
Reva menyelesaikan makannya.
Setelah itu dia meletakkan sumpitnya.
"Aku udah selesai.
Kalo masih mau jalan lagi, ayo.
Kalo kamu masih mau ngobrol sama dia, aku balik ke hotel dulu." katanya.
"Minum dulu, Va." kata Steven.
Steven lalu menoleh pada Fen.
"Kamu makan disini.
Emang dekat sama kampus kamu ?"
Fen berdehem.
Dia senang Steven mengajak nya mengobrol.
"Kebetulan aja.
Tapi kayaknya kita punya telepati ya.
Kok bisa kita ketemu disini." jawab Fen sambil melirik sekejap pada Reva.
Steven juga melirik Reva.
"Ya... barangkali hati kita memang terhubung ya.." jawabnya tersenyum sambil mengerling pada Reva.
Wajah Reva semakin menggelap.
"Berarti kita jodoh, Steve.
Kapan kamu melamar aku ?" kata Fen terang-terangan.
Steven tertawa.
"Kamu belajar dulu yang pinter !" jawabnya mengacak rambut Fen.
"Dia siapa ?" tanya Fen semakin berani.
"Kan aku udah bilang..
Calon istriku." jawab Steven.
Reva mendengar kata-kata Steven.
"Steve...
Aku balik ke hotel.
Kamu ngobrol aja." katanya sambil berdiri.
Steven cepat menangkap pergelangan Reva.
"Duduk." katanya pendek.
Reva menggerakkan tangan hendak melepaskan dari cengkeraman Steven.
"Aku bilang duduk, Va !" kata Steven.
"Aku gak mau ganggu." kata Reva berkeras.
Steven menghentak tangan Reva.
Reva terduduk.
Semua yang ada di meja memperhatikan, termasuk Fen.
Wajah Steven berubah.
Reva pun sama.
Apa-apaan Steven ?!
Sudah jelas dia bukan calon istri Steven, kenapa masih mengaku-ngaku di depan orang lain.
Jauh di sudut terdalam hatinya, Reva merasa hangat mendengarnya.
Tapi sekaligus sakit.
Sakit sekali.
__ADS_1