
Sementara di sudut lain
Cindy dan Helen sedang tertawa terpingkal-pingkal.
Rencana mereka sukses besar.
Dalam satu kali pukul dapat dua burung.
Cindy bisa kembali merasakan pelukan Sandy yang dirindukan nya sekaligus membuat hubungan Reva dan Sandy merenggang.
Mereka berbisik-bisik dengan asik.
Di lain tempat yang private.
Michael menatap Sandy dengan tenang.
Dia mempelajari reaksi wajah Sandy.
Tadinya dia tidak ragu dengan perasaan Sandy pada Reva.
Sebab itu dia mendukung usaha Sandy.
Tapi sekarang ?
Keraguan meliputi benaknya
Dia menyayangi Reva.
Dan tidak ingin terjadi apapun padanya.
Termasuk ikatan pernikahan yang rapuh.
Mereka bertiga duduk berhadapan.
Suasana hening.
Michael menatap Sandy dalam-dalam.
"Gue gak bisa ngasih Reva sama lu, San. " kata Michael akhirnya.
"Ngasih ?
Siapa lu ?
Yang bisa ngasih cuma bapaknya, Kel !" sembur Sandy.
Emosinya kembali naik.
Tangannya mengepal.
Michael tersenyum.
"Satu telpon dari gue.
Lu batal nikah." katanya pendek.
"Lu ngancem gue Kel ?"
"Enggak.
Gue cuma melindungi Reva."
"Melindunginya dari siapa?
Gue ?
Gue gak akan makan dia, Kel !" sembur Sandy.
Michael diam.
Robert berdehem.
"Gue, Michael dan Reva itu bersaudara.
Gue cuma ngingetin barangkali lu lupa." katanya.
"Lu juga, Bet ?
Mau menghalangi pernikahan gue ?" kata Sandy.
"Ah enggak.
Gue cuma mau liat kalian bahagia.
Itu aja."
"Gue bahagia sama Reva, Bet !"
Robert diam.
"Tapi lu bikin Reva gak bahagia, San." kata Robert.
Sandy tersentak.
Reva ?
Tidak bahagia bersamanya ?
Sandy tidak bisa menjawab.
"Gue jadi paham kenapa dulu Eyang Bhahu minta gue mengalihkan nama kepemilikan company pada Tia sebagai syarat menikahi dia."
Sandy menatapnya.
Perlahan pengertian melintas di kepalanya.
"Lu pingin gue mindahin kepemilikan company atas nama Reva ?
Begitu ?"
Michael diam.
"Ini sebagai syarat gue nikahin dia ?" tanya Sandy lagi.
Robert berdehem.
"Gue juga gitu kok.
Ini sebagai...yah..sebagai jaminan finansial seandainya...ehem... seandainya sesuatu terjadi pada kita."
"Reva berbeda." kata Sandy.
"Apa bedanya ?"
"Tia dan Ci Bili enggak sedang jatuh cinta sama orang lain waktu kalian menikah.
sementara Reva ?
Dia masih mencintai Steven !"
"Jadi..bisa dibilang, lu gak percaya sama Reva?"
"Bukan begitu."
"Kalo lu gak percaya dia dan dia pun gak percaya lu, ngapain lu maksa nikah sama dia ?" kata Robert.
"Gue mencintai dia Bet !"
"Tindakan lu gak mencerminkan orang yang jatuh cinta, San.
Lu lebih mentingin perasaan mantan lu daripada perasaan Reva.
Itu..bukan cinta."
Sandy terpukul dengan perkataan Robert.
"Gue kasih waktu sama lu sampe besok.
Tolong pikirin baik-baik.
Reva punya masa depan yang cerah.
__ADS_1
Dia gadis cerdas dan baik.
Gue gak mau, gara-gara kepaksa nikah sama lu, dia jadi sengsara." kata Michael.
"Gue gak bakal bikin dia sengsara, Kel !" kara Sandy dengan keras.
"Tindakan lu malam ini membuktikan sebaliknya.
Lu pikir gue gak liat, si Cindy nempelin badannya ke elu sepanjang malam ?
Bajunya kebuka kayak gitu.
Lu pikir apa yang ada di pikiran Reva ?" kata Michael dengan suara tajam.
Sandy diam.
Dia tau Cindy sibuk menggoda dia sepanjang malam.
Tapi dia sama sekali tidak peduli.
Dia hanya sibuk memandang Reva.
Memuaskan matanya memandang gadis yang dia cintai yang sedang memakai kalung darinya.
Cinta ?
Iya cinta.
Sandy yakin sekali dengan perasaannya.
Dia mencintai dan ingin memiliki Reva seutuhnya.
Dia hanya terlalu baik.
Lalu dia teringat pada sikap Michael yang selalu dingin pada perempuan lain selain Tia.
Tidak pernah ada skandal.
Kecuali satu kali saat Michael dijebak.
Sementara dia ?
Dia sibuk menjaga sikap ramah pada orang lain.
Senyum sana senyum sini, membuat gadis-gadis berfikir lain.
Tidak heran, Cindy berfikir dia masih memiliki harapan.
Sandy mengambil keputusan.
"Gak usah sampe besok.
Sekarang pun gue bersedia.
Tapi dengan tambahan klausul."
Michael menatapnya.
Robert menunggu.
"Reva masih mencintai Steven.
Gue gak bisa tutup mata.
Kalau tau Reva memiliki company, bakal banyak yang berusaha misahin gue dari istri gue.
Jadi gue pun pingin memastikan bahwa enggak ada orang lain dalam pernikahan kami.
Sama seperti syarat kalian dulu.
Gue gak pingin ada perceraian."
Michael mengangguk.
Dia pun paham.
"Kalaupun ada..." kata Sandy tidak melanjutkan perkataannya.
"Kalaupun ada ?" tanyanya dengan suara mengancam.
"Kalaupun ada,
Kalau Reva berselingkuh dengan pria lain, semua haknya ditarik.
Perjanjian batal.
Hak asuh anak ada sama gue. "
"Dan kalau lu yang berselingkuh ?"
"Semua Untuk Reva."
"Termasuk hak asuh anak.
Lu keluar dari rumah hanya dengan baju di badan.
Lu mulai dari nol." ancam Michael.
Sandy menatap Michael.
Paham bahwa ancaman Michael tidak main-main.
Sialan !! makinya dalam hati.
"Gue akan siapkan perjanjiannya." kata Robert.
"Satu lagi." kata Michael.
"Pastikan bahwa lu keluar dari rumah dalam kondisi nol itu diketahui oleh semua orang.
termasuk mantan lu yang genit itu." katanya tajam.
Sandy diam.
Dia tidak peduli pada Cindy.
"Pingin tau gue..
Kalo lu gak punya apa-apa, masih mau gak dia ?" kata Michael pelan tapi masih terdengar oleh Sandy.
"Lu tau, Kel ?
Gue gak peduli !!
Gue cuman mau bangun rumah tangga sama Reva." kata Sandy sewot.
Michael tersenyum.
Dia sedikit lega dengan bersedianya Sandy menyerahkan kepemilikan company pada Reva sebagai tanda keseriusan dan kesetiaan.
"Satu lagi." cetus Robert.
Kedua temannya memandangnya.
"Gue sama Michael gak bertanggung jawab untuk ngebujuk Reva.
Lu yang harus lakukan sendiri." katanya.
"Aaahh...." Sandy mengerang.
Dia menutup mata dengan kedua tangan.
Mengusapnya dengan keras.
Teman-temannya tertawa.
Membujuk Reva, itu yang paling berat.
Mencari keberadaan Reva sekarang saja sudah susah.
Dia pasti tidak mau mengangkat telpon darinya.
__ADS_1
Sandy berdecak.
Urusan sama mantan ini menyulitkan nya.
Cindy masih sibuk mengejar-ngejar dia.
Dia jadi ingat.
Tadi dia didorong dari belakang sehingga mau tidak mau terpaksa harus berdansa dengan Cindy.
Harusnya dia menolak dengan tegas.
Sudah tau Reva sedang marah, dia malah menambah bensin dalam kemarahan nya.
Tapi...
Dia juga sebal.
Sebal karena Reva terang-terangan membantah ucapannya yang melarang nya menerima hadiah dari Daniel.
Sandy menghembuskan nafasnya.
Dia berdiri.
"Gue nyari Reva dulu." katanya.
Robert mengangguk sementara Michael hanya menatapnya.
Sandy kembali menghembuskan nafas.
Michael masih marah.
Lain kali latihan jiu-jitsu, dia pasti kena sama Michael.
Sandy berjalan tak tentu arah.
Telpon darinya tidak diangkat.
Tadi dia mampir ke kamar Reva dan teman-temannya.
Mini yang yang membuka pintu langsung cemberut saat melihatnya.
"Reva gak ada disini." katanya ketus.
"Bener ?
Kamu gak bohong ?
Please...aku perlu ketemu dia." kata Sandy merendahkan harga dirinya.
"Dia gak ada." kata Mini sambil menutup pintu.
Sandy dengan cepat menyelipkan kakinya di pintu.
Tangannya menahan pintu.
"Tolong..aku perlu ketemu tunangan ku." katanya.
"Udah kubilang, gak ada !" ketus Mini.
Tidak ada yang suka dengan laki-laki pengkhianat.
"Mini.." mohon Sandy.
Selina menghampiri pintu.
"Reva gak ada di sini.
Kami gak bohong.
Kamu bisa liat sendiri."
Selina lalu membuka lebar-lebar pintu kamar.
"Kamu bisa cek sendiri." katanya.
Sandy masuk, melemparkan pandangan nya ke seluruh ruangan lalu melangkah ke kamar mandi.
Kosong.
Balkon pun kosong.
Tiba-tiba dia merasa cemas.
"Kenapa kalian disini ?
Kenapa enggak ada yang nemenin Reva ?" tuntutnya.
"Bukannya harusnya itu tugas kamu ?" sentak Else.
Sandy memerah.
Dia lalu keluar tanpa mengatakan apa-apa.
Kemana Reva sendirian malam-malam begini ?
Sandy bergegas menelusuri setiap lorong, koridor dan ruangan.
Tidak ada.
Dia naik ke lantai paling atas.
Menelusuri semuanya.
Kosong.
Lalu turun satu persatu.
Menelusuri setiap lantai.
Satu-satunya lantai yang tidak dia telusuri hanya lantainya.
Tidak mungkin Reva di sana.
Itu lantai kamar dia dan kamar Cindy.
Reva tidak mungkin ke kamarnya.
Dia sedang marah.
Sandy ingin buang air kecil.
Dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya sebentar.
Dia naik tangga, berbelok lalu tertegun.
Reva sedang berdiri bersandar di dinding.
Melamun.
Wajahnya ditundukkan.
Matanya menekuri lantai.
Reva sedang menunggunya.
"Reva !!" seru Sandy lega.
Reva tidak menyahut.
Hanya menatapnya.
Sandy tidak peduli.
Yang penting dia menemukan Reva.
"Ayo masuk." ajaknya sambil membuka pintu.
Reva menatapnya.
"Aku cuma mau ambil bajuku, Om."
__ADS_1
...🎀☘️...