
Satu bulan satu minggu menjelang pernikahan.
Reva dan Sandy sedang makan siang bersama Michael dan Robert dan keluarga mereka di rumah Sandy.
"Jadi kalian kapan pulang ke Indonesia ?"
"Tiga Minggu lagi, Om." jawab Reva.
"Mepet banget." cetus Robert.
"Aku masih ada pekerjaan di lab, Om." jawab Reva.
Sandy memutar bola matanya.
Ini satu lagi yang dia tidak setuju dengan Reva.
Dia ingin Reva berada di Indonesia.
Bersama orang tuanya untuk mempersiapkan pernikahan mereka.
Bukan mengatur karena semuanya sudah diatur rapi oleh orang tua mereka tapi dia ingin Reva mempersiapkan diri menjadi istri.
Mempersiapkan mentalnya membangun rumah tangga bersamanya.
Mempersiapkan diri hidup bersamanya.
Dan nantinya bersama anak-anak nya.
Karena itu pekerjaan seumur hidup.
Bukan hal mudah.
"Jadi cuma dua minggu kalian pisah ?" tanya Tia.
Reva mengangguk.
"Pingitan nya cuma seminggu dong.." kata Tia lagi.
Reva menatap Tia.
Pingitan.
Papa dan Mama nya juga menegurnya soal itu.
Bagaimanapun sebaiknya dia juga harus mengikuti adat dan tradisi keluarga mereka.
"Emang dulu Tante pingitan berapa lama ?"
Tia dan Michael saling berpandangan.
"Lama juga.
Sampe aku kangen" jawab Michael tersenyum.
Tia tertawa.
"Terus.. Tante kamu gak mau terima telpon dari aku.
Katanya kalo pingitan ya...pingitan dalam arti yang sebenarnya.
Gak usah vc, gak usah nelpon.
Padahal kan banyak hal yang harus kita rundingin bersama." curhat Michael.
"Kamu ngeluh, Mas ?" kejar Tia.
Michael melirik istrinya.
"Enggak.
Cuma ngasih tau aja.." katanya.
"Ya udah.. kalo gitu mulai dari sekarang aja." kata Biliyan.
"Hah ?!. Gimana caranya ?
Lha.. mereka kan tinggal bareng." kata Robert.
"Ya tinggal misah aja.
Reva tinggal sama kita.
Sandy sendiri di sini."
Reva memandang Sandy.
Lalu membuang muka.
"Reva gak mau pisah sama gue.." kata Sandy tertawa.
Bibir Reva maju satu senti.
"Ihh..siapa yang gak mau pisah ?" sentaknya.
"Lha itu..langsung manyun." tunjuk Sandy.
"Ihh...enggak.
Aku cuma gak bisa ngawasin Om..
Nanti Om ngundang mantan kesini.
Bilangnya mau berenang
Berenang di kasur ?!" judes Reva.
Mereka semua tertawa.
"Seneng gue dicemburuin." cengir Sandy.
"Bukan cemburu, Om..
Aku gak sudi tidur di tempat tidur yang udah ditidurin perempuan lain !" judes Reva lagi.
Senyum Sandy semakin lebar.
Dia menyukai sikap posesif Reva.
Artinya Reva sudah mulai membuka hatinya.
"Cemburunya kayak kemarin itu dong , Va.." rayu Sandy.
Reva mendelik.
Dia juga heran dengan kelakuannya sendiri saat di kapal pesiar kemarin..
Rasanya itu seperti bukan dirinya.
Pada akhirnya dia menyesal juga.
Kok sepertinya dia merasa dirinya murahan sekali.
Walaupun sikap itu ditunjukkan hanya pada tunangannya seorang.
"Ya udah..
Kamu disini, aku di tempat Michael." kata Sandy menawarkan solusi.
"Hah?!
Om mau begitu ?"
Sandy mengangguk.
"Kita ikutin tradisi walaupun kita berada di luar negeri.
Nyesuain aja.
Kapan biasanya pingitan dimulai ?"
"Secara adat sih harusnya udah dari sekarang." jawab Tia.
Sandy menatap Reva.
"Kamu mau kapan ?
Aku bisa kapan aja, Va.
Nanti ngantor kan bareng Om kamu."
"Yakin San ?" tanya Michael.
"Yakin lah..
Kita harus puasa juga kan, Va ?"
Reva menganga.
Puasa ?
Sandy tau ?
"Om mau ?" tanya nya tak percaya.
"Iya dong.
Biar rumah tangga kita bahagia.
Mohon berkah dari Yang Maha Kuasa." jawab Sandy serius.
__ADS_1
Reva menatap Sandy.
"Om....." katanya pelan.
Reva tidak menyangka.
Dan dia menjadi terharu.
Sandy rupanya betul-betul serius ingin menikahinya dengan niat yang bersih, tulus dan bersedia melalui tantangan-tantangan adat budaya darimana dirinya berasal.
Sandy tertawa.
"Gak usah terpesona gitu dong.
Nanti aja pas malam pertama." katanya.
Reva memerah.
"Emang ada malam pertama ?
Bukannya malam pertama lu sama gue dan Michael, San ?" ledek Robert.
"Sialan lu !!" kata Sandy.
Reva sendiri menunduk malu, menekuri piring nya.
Malam pertama ?
Sudah terjadi dan dia bahkan tidak merasakan apa-apa.
Dia hanya tau keesokan harinya bangun dengan tubuh polos tanpa sehelai benang.
Sandy mengacak-acak rambutnya.
Reva mengangkat wajahnya.
Dilihatnya Sandy tersenyum menenangkan.
Lalu Sandy menunduk, menempel kan bibirnya di telinga Reva.
"Nanti kita ulang.
Versi yang tak terlupakan." bisiknya.
Reva memerah.
Tangannya memukul lengan Sandy.
"Aduh !!"
"Kenapa nih bisik-bisik ?!" tanya Michael kepo.
"Ishh..ish...ish...
Lu kayak gak pernah bisik-bisik mesra aja.." kata Biliyan.
"Ya pernah.
Makanya jadi penasaran."
"Jadi kapan kalian mulai pingitan nih ?" tanya Tia lagi.
"Ehm..kapan ya Va ?"
"Terserah Om.." jawab Reva menatap mata Sandy.
Mata mereka bertemu.
Sandy menatapnya dalam.
Tersirat rasa sayang yang jelas dimatanya.
Reva lalu memerah.
Dia menunduk.
Sandy kembali mengacak-acak rambut Reva.
"Ih..kamu ngegemesin banget sih, Va !" bisiknya lagi.
"Aduh...!" katanya saat tangan Reva mencubit pinggangnya.
"Kamu maunya aku gak ada di sini kapan, Va?" tanya Sandy.
"Minggu depan aja ya, Om ?" pinta Reva.
Dia tidak ingin berpisah lama-lama.
Entah kenapa.
Sandy mengangguk.
"Tempat gue aja." kata Robert.
"Tempat gue
Kan Sandy bilang mau di tempat gue." kata Michael.
"San..tempat gue aja." bujuk Robert.
Sandy menatap kedua sahabatnya bergantian.
"Ini pada kenapa sih rebutan gue ?
Gue kok jadi serem .." tanyanya.
Biliyan dan Tia tertawa.
"Pada mau ngelempar anak ke elu, San.." kata Biliyan.
"Hah ?!
Emang udah pada bosen sama anaknya ?
Siniin deh..
Buat temen gue sama Reva !"
Om Sandy memang kesayangan Jason, Billy dan Sybill.
"Yakin lu mau ditemenin sama anak-anak kita ?"
tanya Michael dengan nada skeptis.
"Iya...
sekarang..
Nanti kalo udah kawin, gue buang tuh anak-anak lu.
Gangguin gue aja mau bikin anak !" kata Sandy santai.
"Om...
Ishhh..
Ngomongnya !!" sentak Reva.
"Lho...aku gak ngomong vulgar kok." elak Sandy.
Reva mencebikkan bibirnya.
Cup.
Sandy mencium pipi Reva sekilas.
"Ihh .Om...
Malu dong.." kata Reva.
Pipinya kembali memerah.
Semua yang ada di meja memperhatikan interaksi mereka.
"Malu apanya ?
Mereka udah biasa kok.
Lagian mereka sahabat-sahabat ku.
Saudara-saudara kamu."
"Lha iya..
Makanya aku malu, Om."
Sandy mendekatkan bibirnya ke telinga Reva.
"Di club waktu itu, kamu malah lebih dari ini, Va..
Ini mah gak ada apa-apanya." bisiknya.
Reva memerah.
Dia balas mendekatkan bibirnya ke telinga Sandy.
"Waktu itu Aku lagi khilaf, Om.
Sekarang aku lagi sadar." katanya.
__ADS_1
"Kapan kamu khilaf lagi ?"
"Jangan Om...
berabe.."
Sandy tertawa.
"Ketemu buat makan siang boleh gak ?" tanyanya pada teman-temannya.
Tia memutar matanya.
"Namanya pingitan tuh ya, Ko....
Kagak ketemu, kagak ngobrol juga."
"Aduuh...
Ngobrol juga gak boleh ?"
"Enggak !!" tegas Tia.
"Ehmmm....kalo ketemu gak sengaja...
ya gak papa kan..." tawar Sandy.
"Misalnya ?"
"Yaa....
Mana tau Michael sama Robert mau ngajakin ponakannya makan siang pas lagi ada gue.."
"Itu gak bakal terjadi, San !!" kata Michael kejam.
"Wani piro, San ?" tawa Robert.
"Kalian ini temen gue bukan sih ?!" keluh Sandy.
Dia kembali menundukkan kepalanya.
Berbisik pada Reva.
"Va...kita pingitan pas udah di Indonesia aja ya..
Kamu di rumah kamu, aku di rumah aku.
Kan rumah kita deketan..
Nanti aku joging lewatin rumah kamu deh.." bisik Sandy.
Reva tertawa.
"Sebentar doang Om..
Abis itu kita bakal ketemu seumur hidup."
"Tapi..aduuuh...
kalo dipikir-pikir..." keluh Sandy.
Semua tertawa.
"Sabar San..." kata Robert.
"Gue tau kenapa dia ngeluh...
Term nya Reva yang enam bulan kan langsung berlaku begitu ijab kabul selesai." cengir Michael.
"Aduuh...
Mana udah gue tanda tangan." Sandy kembali berkeluh kesah.
"Va...." rayunya dengan nada manja.
Reva tidak menjawab.
Dia hanya tersenyum memandang Sandy.
Kemarin tamu bulanannya datang.
Dia memandang bercak merah itu dengan lega dan penuh syukur.
Kalau tamu itu tidak datang, dia tidak tau harus berkata apa pada kedua orang tua dan mertuanya saat bayi mereka lahir dalam waktu tujuh bulan setelah menikah.
"Oh iya...
Selama kita pingitan, kamu enggak boleh lepas cincin pertunangan kita." kata Sandy dengan nada serius.
"Iya Om..
Gak aku lepas kok."
"Kamu kuatir banget sih, San ?!
Kan Reva nya udah mau dikawinin.." kata Biliyan.
"Ci...lu gak inget kasus adek lu dulu.
Calon bininya hampir di gondol orang ?" kata Sandy.
Puk.
Sandy langsung mendapatkan lemparan tissue.
"Lho....gue bener kan ?
Padahal udah lamaran." katanya membela diri.
"Wajar dong kalo gue juga takut, calon bini gue diganggu.
Apalagi..." Sandy tidak meneruskan ucapannya.
"Aku kan gak kemana-mana, Om..." kata Reva.
Sandy diam, tidak menyahut.
Semua merasakan ketegangan Sandy.
"Ya udah..gini aja.
Tiap hari, kamu aku jemput makan siang, Va.
Kita makan siang bareng.
Malamnya bisa makan bareng di rumah ini.
Mbok Surti selalu masak kan ?
Tapi lu, San.... tetep pulang ke rumah gue." putus Michael.
"Rumah gue." sela Robert.
Michael melotot.
"Apa ?
Gantian dong...
Gue juga pingin manjain calon pengantin." kata Robert.
"Kalian berdua ini ya..." kata Biliyan sambil geleng-geleng kepala.
"Oke...jadi...
Mulai minggu depan ya..
Gak pingitan banget.
Tapi karena kalian ini tadinya serumah, untuk sementara berpisah dulu.
Biar kangen..." kata Robert.
"Kangen apanya ?!
Mereka kan ketemu pas makan siang sama makan malam." gerutu Michael.
"Tapi kan malamnya gak tidur serumah, Kel.." kata Biliyan dengan gemas.
Michael mencibir.
"Dulu gue enggak serumah.
Enggak makan siang makan malem juga sama Tia.
Tapi tetep aja...telpon gue gak diangkat."
"Jadi lu mau bales dendam sama junior ?" kata Robert.
"Iya dong !!
Mereka harus ngerasain yang kita rasain dulu, Bet !"
Puk.
Tissue melayang ke muka Michael.
"Gue bukan junior lu !!" bentak Sandy.
...🎀🍇☘️🍎...
__ADS_1