
Tiga bulan kemudian.
Robert masuk ke ruangan Sandy.
"San !
Ngapain ?"
"ah..enggak.
Kenapa ?"
"Lu gak ke pantry ? Tumben.."
Sandy menggeleng.
Robert mendekat.
"Liatin apaan?"
Sandy memutar monitornya sedikit.
"Hmm...
Lu mau beli rumah ?"
"Liat-liat dulu." jawab Sandy.
"Gue juga berfikir mau beli rumah juga disini.
Kayaknya...kita semua bakal menetap disini." kata Robert.
Sandy menunjuk satu rumah.
"Tetanggaan kita ? " tanyanya.
"Hmm..."
Robert menarik kursinya mendekat.
Dia lalu menyentuh monitor, melihat-lihat gambar.
"Gue kirim ke Michael sama Bili. Tia juga." kata Robert.
Selesai mengetik, Robert menghadapkan kursinya pada Sandy yang kembali memandang gambar-gambar rumah.
"Kenapa mau beli rumah ?"
"Pingin settle down." jawab Sandy singkat.
"alasan lain ?"
Sandy berhenti menatap monitor.
Dia memandang Robert.
"Menurut lu ?"
Robert memandang Sandy dalam.
"Lu mau ngiket."
Sandy tersenyum.
Dia menganggukkan kepalanya ke arah pintu.
"Kalo gue gak bergerak cepat, bisa lepas dia dari tangan gue."
"Emang pernah ada di tangan lu ?"
"Dia tau kalo suatu hari nanti bakal sama gue.
Tapi...lagi fase menyangkal.
Cuma....gue takutnya..dia ketelepasan.
Daripada lepas beneran, atau....
diembat duluan sama orang..
Mending... gue paksa sekarang."
Robert tertawa.
Michael masuk.
"Apaan yang lucu nih ?" tanya nya menarik kursi.
Robert menunjuk Sandy.
"Dia...lagi ngomong persis yang pernah loe omongin dulu !"
"Ngomong apa ?"
"Maksa cewek."
"Hah ?!
Kapan gue begitu ?!"
Robert mencibir.
"Kapan gue begitu ?" cemoohnya sambil mengulangi kata-kata Michael.
"Pas lu nidurin Tia !!" jawabnya sendiri.
Michael menatap Sandy.
"Lu jangan macem-macem, San !"
Sandy balas menatap Michael dengan tenang.
"Jangan samain gue sama elu, Kel.
Gue mau nikahin dulu.
Baru gue tidurin."
Michael memerah.
"Ooh...
Kirain..." senyumnya.
"Ya udah..
Buruan !" sambungnya.
"Ya..itu susahnya.
Dia... belum mau."
"Dia bukan belum mau..
Dia enggak mau sama elu " cengir Robert.
"Aduuh...
emang gue jelek banget ya ?" tanya Sandy.
"Justru sebaliknya
Itu yang bikin dia takut..
Dia cerita ke Tia."
Robert mengangguk.
"Dia juga cerita ke Bili."
"Intinya...dia insecure.
Apalagi..mantan lu, artis terkenal yang karirnya menanjak dan..cantik banget."
__ADS_1
Sandy menghela nafas.
"Lu juga...terlalu ganteng.
Diantara kita bertiga...lu yang paling punya banyak fans.
Inget gak dulu waktu kita kerja di cafe ?" tawa Robert.
Sandy tertawa.
"Dulu.... seneng.
sekarang...?.Gue jadi mikir...
Ini berkah atau musibah ?" katanya.
"Berkah dong, San.
Siapa yang gak mau punya suami ganteng ?" kata Michael.
"Itu...
ponakan lu.." jawab Sandy.
"Yaah....
Kalo dia sih..." kata Michael tidak meneruskan perkataannya.
Dia tersenyum.
"Tapi bukan gak mungkin..." kata Robert.
"Betul...bukan gak mungkin.
Tunjukin aja niat tulus lu." senyum Michael.
"Kurang tulus gimana gue ?" kata Sandy.
Robert menatap Sandy.
Benaknya berputar.
"Lu pada sadar gak sih ?
Dulu..kalo aja gak ada kasus Olive ngirim video, mungkin Tia masih lama kawin sama lu, Kel." katanya.
Michael mengangguk.
"Iya...
Makanya gue dulu gak niat ngeganti bokapnya.
Tapi...ya...tu anak gak tau diri."
Robert kembali menghadap Sandy.
"Mungkin lu butuh momen buat maksa dia."
"Adduuh....itu yang gue gak punya."
"Tunggu aja." jawab Robert santai.
Michael mengangguk.
"Kalo jodoh mah...enggak kemana-mana, San."
...🍇🎀🌴...
Reva berjalan dijejeri oleh Jerry.
Mereka sedang membahas isi laporan yang akan diserahkan pada Willy.
Tin...tin...
Suara klakson membuat mereka menoleh.
Josh melongokkan kepalanya dari jendela mobil.
Reva menatap mobil yang ditumpangi oleh Josh.
"Ganti mobil ?"
"Ah..enggak.
Boss beli mobil baru buat kita."
Reva menoleh pada Jerry.
"Yuk..ikut makan siang." ajaknya.
Jerry menatap ke dalam mobil.
Matanya bertemu dengan Steven di belakang.
Jerry lalu menggeleng.
"Gak usah.
Tapi.. kamu jangan lama-lama." katanya memberi syarat.
Reva menatap Jerry lalu melirik Josh.
"Bener nih gak mau ikut ?" tanyanya sekali lagi.
Jerry mengangguk.
"Iya." jawabnya pendek lalu langsung membalikkan badannya.
"Va !
Cepetan !" kata Josh.
"Iya...iya..sabar.. Napa sih ?!" jawab Reva menggerutu.
Dia membuka pintu tengah.
Steven keluar.
"Kamu ditengah." katanya.
"Aku dipinggir. kan aku belakangan, Steve !" protes Reva.
Steven tidak menjawab.
"Adduh...
Steve !!" jerit Reva yang telinganya dijewer.
Jeritannya membuat Jerry menoleh.
Dia melihat kepala Reva miring karena mengikuti arah jeweran Steven.
Jerry berhenti berjalan.
Steven meliriknya sekilas sebelum mendorong tubuh Reva masuk ke dalam mobil.
Reva duduk di tengah-tengah sambil cemberut.
Anna sudah cekikikan.
Dibelakang Liu juga terdengar tertawa.
Pintu ditutup.
Josh melajukan mobilnya.
Andrew melambai sekejap pada Jerry yang menatap kepergian mereka.
"Ngapain jalan beduaan ?" tanya Steven.
"Emang kenapa ?" tantang Reva.
"Jawab kalo ditanya !!" tukas Steven.
__ADS_1
Satu mobil diam.
Mereka menikmati pertengkaran keduanya.
"Lho...wajar dong jalan sama orang.
Apalagi dia satu tim ku." kilah Reva.
"Mana Ruby, Yuxi, Cheryl ?" tanya Steven.
"Ngapain nanya temanku ?
Kamu naksir salah satu ?" Reva balik bertanya.
Nadanya masih menantang.
"Addduhh..!!
Steeeve !!"
Telinga Reva kembali di jewer.
"Kalo ada orang nanya, dijawab !!" kata Steven gemas.
"Lho aku kan cuma nanya alasan kamu nanya ?" gerutu Reva mengusap telinganya.
"Jawab dulu pertanyaan nya !" kata Steven.
"Ngapain jalan beduaan ?" katanya meneruskan pertanyaan nya sebelumnya.
"Emang gak boleh?
Kenapa gak boleh ?
Aku gak ngapa-ngapain kok sama dia.
Dia kakak kelas ku." gerutu Reva.
"Yang bilang gak boleh siapa ?
Yang bilang kamu ngapa-ngapain sama dia siapa ?" kata Steven.
"Abis kamu nanyanya gitu sih ?!" jawab Reva.
Bibirnya maju setengah senti.
Steven meliriknya gemas.
Dia menunduk.
Dengan cepat memegang kepala Reva lalu menyambar bibirnya sekilas.
"Ngegemesin !" katanya.
"Steeeve !!" jerit Reva.
Semua menutup telinga.
"Astaga kalian !!" bentak Andrew.
"Kalo mau berantem nanti aja di kamar !"
"Siapa yang berantem ?!" gemas Reva.
"Kalian." jawab Anna kalem.
"Anna !! Please deh !!
Ngapain aku berantem sama...sama...." Reva mendelik.
Tidak berani meneruskan ucapannya yang sudah ada di ujung lidahnya.
"Sama apa ?
Hmm....sama apa ?
Terusin !!" tantang Steven.
"Sama dosen kepala batu yang gak mau terima kalo dia salah dan kalo dikomplen malah lebih marah dia dibanding kita !!" jawab Reva pedas.
"Apa kamu bilang ?!" nada Steven sudah naik.
"Kamu dengar." jawab Reva sambil memalingkan muka.
Steven memaksa kepala Reva menghadapnya.
"Mulutnya perlu di ajarin !" katanya.
Reva mendorong dada Steven.
"Lepasin Steve !!"
Steven menunduk lalu mulai mencium bibir Reva.
Memegang kepalanya dengan kuat.
"Steve...hmmmph..hmmphh..." Reva meronta-ronta.
Steven melepaskan pegangannya.
Kepalanya menjauh.
Menatap Reva yang memerah dan menatap marah.
Malu dicium di depan semua orang.
"Steve !!" protesnya.
"Steve !
Apa perlu kita drop kalian di apartemen ?" kata Josh yang melirik lewat spion.
"Makan dulu." jawab Steven pendek.
"Lagian siapa yang mau ke apartemen bedua sama dia ?" gerutu Reva mengusap bibirnya dengan tissue.
"Ada kuliah lagi, Va?" tanya Liu.
"Ada nanti.
Tapi aku gak bisa lama-lama.
Mau bikin laporan sama Jerry." jawab Reva.
Lalu diam.
Menyadari kesalahannya.
"Bedua aja ?" tanya Steven.
"Ya enggaklah." jawab Reva berusaha membetulkan kesalahannya. Melirik Steven.
Steven menatapnya.
Steven memang sengaja menyebarkan berita bahwa dia dan Reva menjalin hubungan.
Menunjukkan.
Untuk menyingkirkan orang-orang yang menyukai Reva.
Dia malas harus bersaing dengan mereka.
Cukup dengan Sandy saja.
Itupun sudah melelahkan nya.
Dia juga dengan sengaja mendekati teman-teman Reva.
Membuat mereka menjaga Reva supaya tidak kemana-mana.
Mobil memasuki parkiran restoran.
...🎋🍓☘️...
__ADS_1