Kamu Milikku

Kamu Milikku
Aku Perempuan Egois


__ADS_3

Malam semakin larut.


"Va...


Kamu nginep sini ya ?" kata Sandy di telinga Reva saat mereka sedang menonton film.


Reva otomatis melirik arlojinya.


"Astaga..Om..


Aku pulang.


Udah jam segini." katanya kaget.


"Kamu tidur sini aja." kata Sandy.


"Enggak mau.


Besok aku latihan lagi."


"Besok aku antar, Va."


"Om...kita belum nikah.


Belum tunangan.


Pacaran aja enggak.


Enak banget Om nyuruh aku nginep.


Kalo...ehm...


kalo ada apa-apa...Om bisa lepas tanggung jawab !" balas Reva.


"Reva !!


Aku gak perlu pacaran sama kamu.


Tunangan juga enggak.


Kalo perlu besok kita pulang.


Kamu langsung nikah sama aku !" Sandy menegakkan tubuhnya.


"Hih !!


Aku belum lulus, Om !"


Sandy menghembuskan nafas.


"Kamu tidur sini atau aku tidur tempat kamu." katanya memberi ultimatum.


"Ngapain sih Om ?"


"Enggak ngapa-ngapain, Va.


Tapi kamu harus terbiasa sama aku."


"Lho selama ini aku udah biasa kok sama Om."


"Biasa gimana ?


Kalo biasa, enggak pacaran sama orang lain." gerutu Sandy.


"Ampun deh, Om !!"


Reva menepuk dahinya. Gemas.


"Aku pulang !


Males sama cowok ngambekan." katanya sambil berdiri.


Sandy ikut berdiri.


"Kamu diam dulu.


Tunggu disini." katanya.


Sandy masuk ke kamar.


Dia menyambar tas lalu memasukkan bajunya ke dalam tas.


Sandy lalu keluar.


"Yuk..." ajaknya.


Reva mengamati tas yang dibawa Sandy.


"Tumben bawa tas, Om." katanya.


"Hm...


Sandy tidak menjawab.


Dia menggandeng Reva keluar.


...🎀...


"Om, disini aja." kata Reva.


"Enggak."


Sandy terus menuju parkiran dan memarkir mobilnya di sebelah mobil Reva.


"Ayo.." ajaknya.


Reva membuka pintu mobil.


Matanya terus menatap Sandy curiga.


Saat Sandy menyambar tas yang tadi dibawanya, kecurigaannya terbukti.


"Om mau nginep." katanya menyusul langkah Sandy.


Sandy tidak menjawab


Dia hanya meraih tangan Reva, menggandeng.


Sandy juga yang memasukkan password.


Pintu terbuka.


Sandy memiringkan tubuhnya


Menyuruh Reva masuk duluan tanpa kata-kata.


Reva berjalan melewati Sandy.


"Harusnya aku ganti password besok." gumamnya cukup keras.


Plak !


"Aduuh... Om !!" jeritnya saat kepalanya dikeplak oleh Sandy.


Dia berbalik menghadap Sandy.


Mukanya geram.


"Sekarang aku tanya, Om.


Om pernah ngeplak kepala Cindy gak ?"


"Enggak !" jawab Sandy pendek.


Dia malas sekali kalau harus bertengkar gara-gara Cindy lagi.


"Terus kenapa aku sering dikeplak sama Om ?" tanya Reva ngambek.

__ADS_1


Bibirnya maju satu senti.


"Soalnya aku lebih sayang sama kamu." jawab Sandy melempar tasnya di samping tempat tidur lalu merebahkan dirinya.


"Hmm...jadi ngantuk.


sana mandi dulu, Va.


Abis itu tidur.


Udah malam." katanya memeluk bantal.


Reva menatap Sandy dengan sebal.


Dia lalu mengambil baju dan masuk ke kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian Reva keluar dari kamar mandi.


Dia menatap Sandy yang sudah tertidur.


Matanya melembut.


Sandy yang tertidur sama sekali tidak se-menyebalkan saat dia bangun.


Wajahnya tenang.


Kekanakan.


Alisnya yang lebar dan melengkung menambah kepolosan wajahnya.


Reva mengalihkan pandangannya ke sofa.


Malam ini dia harus tidur di sofa.


Dan itu semua gara-gara Om keras kepala dan menyebalkan ini.


Reva melangkah ke sofa.


Lalu merebahkan diri.


Baru saja matanya menutup.


"Va.." suara malas Sandy membuatnya membuka mata.


Reva diam.


Dia menutup mata.


Pura-pura sudah tidur.


"Va !" kali ini lebih keras.


Reva tetap diam.


"Va..


Aku tau kamu masih bangun.


Kamu kesini sendiri atau aku gendong."


Reva masih tetap diam.


"Aku gendong kalo gitu.


Tapi...ada bayarannya." ancam Sandy.


Reva langsung bangun.


Dia berjalan ke tempat tidur.


Sebelum merebahkan diri, dia meletakkan bantal guling ditengah-tengah.


Sandy menunggu sampai Reva merebahkan diri nya lalu menyingkirkan guling yang diletakkan Reva.


"Om !" protes Reva.


"Kalo belum kawin gak boleh tidur bareng, Om."


"Makanya kawin, Va." jawab Sandy dengan suara malas.


"Di getok aku kalo minta kawin sebelum lulus." kata Reva pelan.


"Enggak kalo suaminya aku." jawab Sandy.


"Udah ah..sini..Aku pingin peluk kamu."


"Gak mau !!


Pelukan Om bekas orang."


Plak !


"Om !!"


"Kamu ini cari alesan terus."


"Tapi emang kan...


Om bekasnya Cindy !" gumam Reva sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Sandy.


Sandy tidak menjawab.


Dia ikut berbaring miring menghadap punggung Reva.


Perlahan dia bergerak mendekat.


Tangannya memeluk pinggang Reva.


Reva menepis tangan Sandy.


Sandy memperkuat pelukannya.


Tidak membiarkan tepisan tangan Reva membuatnya lepas.


"Emang masalah banget buat kamu, Va ?"


"Ngantuk Om.


Debatnya besok aja." kata Reva.


Sandy menarik Reva menempel tubuhnya.


"Om !"


"Aku sayang kamu, Va.


Kamu kasih tau, apa yang bisa aku lakukan supaya kamu bisa nyaman sama aku."


Reva diam.


"Aku ini perempuan egois yang pingin milikku adalah milikku sepenuhnya." katanya akhirnya setelah terdiam lama.


Sandy mencium rambut Reva.


"Aku milik kamu, Va.


Tolong jangan menjauh dari aku."


Reva tidak menjawab.


Dia menutup matanya.


Nyaman dalam pelukan Sandy.


Tak lama dia tertidur.


Sementara Sandy tidak bisa tidur.

__ADS_1


Dia memikirkan kata-kata Reva.


Saat mendengar nafas Reva yang teratur, Sandy perlahan membalikkan tubuh Reva telentang.


Tangan nya diselipkan dia bawah leher Reva, ditekuk. Dia membelai pangkal rambut di dahi Reva.


Membuai Reva supaya tidur dengan nyenyak.


Sandy menoleh.


Mendekatkan bibirnya di telinga Reva.


"Kamu enggak boleh kemana-mana, Va.


Aku janji jagain kamu seumur hidupku.


Kamu milikku.


Selamanya." bisiknya pada Reva yang telah memasuki tidur lelap.


Mensugesti pikiran Reva.


Paginya...


"Aaaaa..!!!" jerit Reva di depan cermin.


Sandy yang sedang membongkar tasnya terlonjak kaget.


"Apaan sih Va ?!


Jerit-jerit ?!" protesnya.


"Ooom !!


Leherku merah semua !!" jerit Reva panik.


"Hah ?!"


Sandy buru-buru menghampiri Reva yang sedang di depan cermin.


Pikiran buruk sudah memenuhi kepalanya.


Alergi parah, cacar, keracunan makanan...


Sandy berhenti.


Matanya menatap leher Reva.


Bekas Kissmark miliknya terpampang jelas di leher Reva.


Bekas... kissmark.


Sandy menghembuskan nafasnya.


Ini resiko pacaran dengan anak kecil.


Mereka cepat panik.


Tapi Reva bukan anak kecil lagi.


Usianya sudah lewat dua puluh tahun.


Hampir dua puluh satu.


Tapi masih polos.


"Va..."


"Om....Aduh..gimana ini ?!


Keliatan banget. Di semua tempat.


Om siih...!" omel Reva.


"Va !!"


Reva menoleh.


"Perlu kah kamu njerit-njerit kayak gitu ?


Pagi-pagi kayak gini ?"


"Perlu Ooom.


Om yang bikin !.Aduhh..


Malu aku kalo ketauan orang..


Ntar pada ngeledekin deh.


Aku diketawain.


Aduuh..gimana nih ?!" keluh Reva.


Sandy membuang nafasnya.


Dia berjalan mendekati.


Memegang Reva dan menunduk.


Hampir berhasil membuat satu lagi Kissmark saat kepalanya didorong keras.


"Oom !!.


jangan ditambahin lagi !!" jerit Reva kencang.


Nyaris pekak telinga Sandy dibuatnya.


"Kalo kamu enggak berenti jerit, aku tambahin tiga lagi." ancam Sandy.


"Oom !!" tapi kali ini lebih pelan.


"Aduuh...


aku gak punya kerah tinggi.


Mana yang ini tinggi banget." keluh Reva mengangkat lehernya.


Jarinya perlahan mengelus bekas merah.


Sandy menelan ludah.


Jari Reva seperti mengundangnya untuk membuat satu lagi Kissmark di leher nya.


Sandy berbalik.


Dia kembali mengambil bajunya di tas.


"Om !!.Tanggung jawab dong !!


Bantuin mikir


gimana nyembunyiin ini ?!" desak Reva.


"Ya udah..hari ini gak usah latihan.


Bilang aja capek.


Hari ini sama aku seharian.


Kita tiduran di rumah aja."


"Enak aja !"


Sandy tersenyum kecil.


Dia masuk kamar mandi.

__ADS_1


...🎀...


__ADS_2