
Sandy tersenyum.
" Eh...Va..."
" Ya Mas ?"
" Aku bukan gak percaya sama kamu tapi...
gak ada Steven kan di sana ?" tanya Sandy to the point.
Wajah Reva langsung merona.
"Enggak Mas..
Enggak ada.
Disini cuma aku sama teman-teman dari seminar."
Sandy tersenyum.
Dia tau bahwa Steven tidak ada disana dari Fen.
Tapi dia ingin melihat reaksi Reva saat dia bertanya langsung.
"Oo..Aku kirain dia ikut.
Soalnya dia kan lagi di Beijing."
Reva berdehem.
"Aku ketemu Steve di sana." katanya dengan nada biasa.
Sandy mengamati Reva.
Dia tertawa kecil.
"Gak usah gugup, Va.
Aku ngerti kok kalo kamu belum bisa sepenuhnya ngelupain dia.
Bukan gampang move on setelah bertahun-tahun pacaran.
Ya kan ?
Aku juga ngerasain kok...susah move on."
Reva mengerutkan kening, bibirnya merengut.
Pikirannya langsung tertuju pada Cindy.
Maksud Sandy itu ?
Sandy tertawa lebar saat melihat reaksi Reva.
Ya...ini yang dia harapkan.
Reva cemburu.
Cemburu berarti ada rasa dalam hatinya.
"Kamu jangan marah dulu.
Maksudku...."
Sandy sengaja memutus ucapannya.
Reva menunggu.
Saat Sandy belum juga melanjutkan kata-katanya, dia menyambar.
"Maksud Om apa ?!" sentaknya.
Sandy kembali tertawa-tawa.
"Maksudku....
Selama bertahun-tahun, aku juga gak bisa melepaskan perasaan ku sama kamu walaupun aku tau kamu pacaran sama Steven.
Makanya begitu kamu jomblo langsung aku samber. Dilamar sekalian.
Gak usah pake pacaran.
Kelamaan.
Kawin.
Nih...kayak sekarang !"
Bibir Reva merekah membentuk senyuman.
"Mas bisa aja !" katanya lega.
"Nah...kaan.
sekarang udah pake Mas lagi.
Tadi Om." sindir Sandy.
Reva merona kembali.
"Jadi kamu kalo marah manggil Om.
Kalo lagi mesra manggil Mas.
Oke..noted." senyum Sandy lagi.
"Ihh...Mas !"
Sandy tertawa melihat Reva yang kehilangan kata-kata.
"Mas ini rupanya mulutnya manis ya..
Pantes...
Banyak yang jatuh tergila - gila sampe gak bisa move on.." balas Reva menyindir.
Sandy merengut.
"Itu bukan urusanku.
Urusanku cuma gimana caranya supaya kamu mau mendampingi ku seumur hidup.
Itu..Va !!" tegas Sandy.
"Nah kan...
Emang Mas ini kalo ngomong semanis madu deh..
Klepek - klepek semua perempuan." Reva masih menyindir.
"Cuma sama kamu doang Va.." rayu Sandy lagi.
Reva hendak membalas saat melihat Sandy mengangkat kepalanya, Melihat ke atas layar ponselnya.
Lalu terdengar suara langkah kaki mendekat.
"Ngobrol sama siapa sih lu.
Ceria amat..."
Sandy tertawa cerah.
"Sama yayang dong.." sahutnya.
"Jiaah...
__ADS_1
Va...kamu masih di Beijing ?"
Terdengar suara Michael.
"Masih Om.
Apa kabar Om ?"
"Kabar baik, Va.
Ini calon pengantin masih keluyuran aja."
Reva tertawa.
"Maaf Om..
Tapi ini seminar yang perlu saya hadiri supaya nanti bisa ngelanjutin penelitian nya."
Michael tertawa.
"Va !
Kamu salah orang.
Mestinya minta maafnya sama orang sebelahku.
Udah kayak cacing kepanasan dia...ditinggal kamu ke Beijing hampir dua Minggu menjelang kalian mau nikah."
Sandy ikut tertawa.
"Yang penting balik on time supaya gue bisa jabat tangan bapaknya."
"Yakin lu bisa jabat tangan bapaknya ?" canda Michael.
"Eitts...lu liat aja nanti !"
Reva tertawa kecil mendengar perdebatan kedua sahabat itu.
"Eh..Va..
Ketemu Steven gak disana ?" tanya Michael.
Reva terkejut ditanya tiba-tiba tentang Steven.
"Ketemu Om.
Di hotel." jawabnya.
"Hah ?! di hotel ?
Dia nyamperin kamu ?" tanya Michael lagi.
Matanya melirik Sandy.
Sementara Sandy nampak lekat memperhatikan reaksi Reva di ponselnya.
Reva merona, matanya menunduk sedikit.
"Eh...enggak Om.
Steven nginep di sini juga, Om.."
"Lho...
Emang kamu nginep di mana?"
"Rosewood Om.."
"Rosewood ?
Lho..katanya dia mau nginep di Mandarin."
Terdengar langkah kaki lainnya.
"Eh...kok pada ngumpul disini.
Reva menyambar kesempatan untuk mengalihkan pembicaraan.
"Mau meeting ya Mas ?" tanyanya.
Reva memandang wajah Sandy.
Ekspresi Sandy berubah.
"Mas..." sapanya lagi.
Sandy yang sedang memandang Michael menoleh kembali ke layar ponselnya.
Dia memaksakan senyum.
"Iya Va...
Sebentar lagi." jawabnya.
Lalu..
"Eh.. sebentar.. sebentar....
Maksud lu, Steven harusnya nginep di Mandarin tapi jadi ke Rosewood gitu ?" desak Sandy pada Michael.
Terdengar Michael berdehem.
"Ya.... mungkin...
maksudnya...gue denger ci Bili bookingin Steven di Mandarin.
Eh..apa gue salah denger ya ?"
Michael berusaha mengelak memberi penjelasan lebih lanjut.
"Maksud lu..."
Sandy tidak meneruskan kalimatnya.
Dia kembali menoleh pada layar ponselnya.
Menatap Reva.
"Va...
Besok aku ke Beijing.
Dari sana kita langsung ke Indo." putusnya.
Reva ternganga.
Satu pikiran melintas di benaknya.
Cincin !
Dia menekan rasa cemasnya agar tidak nampak.
"Mas...
Aku kan lagi enggak di hotel.
Besok baru ke Beijing.
Terus... besoknya lagi pulang.
Mas tunggu aja.
Lusa ketemu kok.." kata Reva menenangkan Sandy.
Sandy diam.
__ADS_1
"Kan lu besok ada meeting sama klien." terdengar suara Robert menyahut.
"Hmmm..."
Sandy hanya menggumam.
Pikirannya berkecamuk.
"Lagipula Lu harus belajar percaya sama Reva.
Dia baik-baik aja kok." kata Michael mencoba menenangkan Sandy.
Robert dan Michael saling berpandangan.
"Va !
Kamu dimana sekarang ?" tanya Robert.
"Sekitar satu jam lebih dari Beijing, Om
Tempat main ski." jawab Reva mengikuti alur percakapan yang sengaja dibuat Robert.
"Gak sama Steven kan ?" tanya Robert lagi.
"Enggak Om.
Sama teman-teman kok."
"Oke..jadi lu bisa berenti kuatir San !
Gak ada Steven kok.
Lagian setau gue, hari ini dia ketemu klien kita." kata Robert menenangkan.
"Va..
Lusa..aku mau kamu langsung pulang." kata Sandy dengan tegas.
Reva menarik nafas lega.
"Iya Mas..
Tenang...Lusa nanti kita ketemu."
"Aku jemput kamu di bandara."
"Enggak usah Mas !
Eh...
Ya gak papa kalo Mas mau jemput."
Reva harus menenangkan Sandy.
Jadi apapun yang Sandy minta akan Reva turuti.
Dia tidak ingin mengacaukan suasana yang akan membuat Sandy curiga.
Sandy terlihat lega saat Reva tidak menolak permintaannya.
"Ya udah..
Makan dulu gih.
Aku mau meeting." katanya.
"Oke Mas.
Selamat meeting yaa..." senyum Reva.
"Bye Sayang..."
"Bye Mas..."
Reva memasukkan teleponnya ke saku mantel.
Dia menengadah memandangi bintang-bintang. Merenung.
Kata orang, kalau mau menikah itu memang banyak setannya.
Banyak gangguan.
Mungkin seperti yang Sandy tadi bilang, karena menikah itu sebuah ibadah.
Mau berdoa saja banyak sekali rintangannya.
Apalagi menikah.
Reva lalu menunduk.
Mengangkat jarinya yang sekarang dihiasi cincin bermata merah.
Kalau Sandy sampai tau dia memakai cincin Steven.....
Mungkin...
Apa yang mungkin terjadi?
Menilai dari sikap Sandy, dia tidak akan melakukan apa-apa yang akan membahayakan pernikahan nya.
Sandy menunggunya sekian tahun.
Sandy akan marah.
Itu pasti.
Tapi tidak akan membuatnya membatalkan pernikahan yang sudah disiapkan oleh keluarga mereka.
Dari celah tirai, Fen mengintip.
Dia tidak mencoba mencuri dengar percakapan Reva dengan tunangannya.
Dia tidak paham bahasanya.
Tapi sekarang dia melihat Reva yang sedang memandangi cincinnya.
Setau Fen, itu cincin Steven.
Karena begitulah yang dia dengar saat makan malam dulu.
Fen mengerutkan keningnya.
Lalu mengetik di ponselnya.
Di seberang lautan..
Sandy melirik pop up pesan di ponselnya.
Tadinya dia hanya ingin melihat saja.
Tapi saat melihat isi dan pengirimnya, Sandy langsung meraih ponselnya dan membuka pesannya.
Dahinya berkerut.
Lalu mulai mengetik.
"San.."
"San..!"
"SAN !!"
Sandy terkejut.
Dia mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Lu dengerin gak ?" sentak Robert.