Kamu Milikku

Kamu Milikku
Buang Sial


__ADS_3

"Makan yang banyak, Va..


Abis itu temenin aku milih baju."


"Baju ?"


"Hmm.."


"Om gak kerja lagi ?"


Sandy menggeleng.


"Udah gak mood.


Udah ketemu kamu.


Moodnya yang lain." kata Sandy mengedipkan matanya.


Reva merona.


Sandy tertawa.


Dia menyukai wajah Reva yang merona.


"Kamu cantik banget kalo lagi malu." katanya.


Reva kembali merona.


"Jadi Om gak balik ke kantor ?"


"Kenapa emang ?"


"Aku gak bisa nemenin.


Aku harus balik kampus."


Sandy merasa kecewa.


Dia sudah beberapa hari ini cemas dengan ketiadaan Reva.


Dan sekarang ingin menikmati kebersamaan dengan Reva.


Tapi ya sudahlah...


"Gak papa.


Nanti malam kita ketemu."


Wajah Reva menggelap.


Dia menunduk.


"Kenapa ?


Kamu ntar malam gak tidur disini ?"


Reva mengangkat wajahnya menatap Sandy.


Matanya menyiratkan penyesalan.


"Aku diminta untuk tinggal sama Madam Chang selama disini dan sebelum nikah."


"Oh.."


"Maaf Om.." kata Reva.


Sandy menipiskan bibir.


"Ya udah gak papa.


Kita bisa ketemu kalo makan siang."


Wajah Reva kembali menggelap.


"Ee...itu.."


"Ada apa lagi ?"


"Besok aku harus ke Beijing, Om.


Semuanya udah diatur."


"Hah ?!"


"Yah..tadinya aku gak perlu ikut.


Tapi mendadak Willy minta aku untuk ikut.


Soalnya Madam Chang juga mau nyusul.


Tapi gak bareng sama aku.


Ada seminar di sana.


Dan ada pertemuan dengan kolega dari Profesor Stephen yang sama-sama meneliti hal sama."


"Berapa lama ?" tanya Sandy dengan tajam.


"Harusnya sih sepuluh hari."


"Sepuluh hari ?!" nada Sandy naik.


Reva tidak menjawab.


Dia hanya menatap Sandy.


"Sepuluh hari.


Va..kamu sadar gak sih kalo pernikahan kita kurang dari sebulan lagi ?!"


Reva mengangguk.


"Aku usahakan untuk pulang sesuai jadwal, Om.


Mungkin langsung ke rumah Papa." katanya.


Sandy mengusap wajahnya.


Dia menekan emosinya.


"Setelah kita menikah, kamu punya berapa lama untuk ngasih waktu kita bulan madu ?"


Reva memerah saat Sandy menyebut tentang bulan madu.


Dia berdehem.


"Kan kita punya term, Om.


Please..


Aku belum pingin hamil dulu, Om.


Bukannya gak mau punya anak tapi.."


"Oke..oke..


Tapi kita tetep bulan madu ya..

__ADS_1


Bulan madu bukan cuma tentang itu aja, Va.


Tapi kita dikasih kesempatan buat berduaan supaya sebagai suami istri baru kita bisa saling kenal.


Tau sifat masing-masing, kebiasaan tidurnya misalnya.


Mau pake lampu atau gelap.


Kalo tidur, ngiler apa enggak.." senyum Sandy.


Reva tertawa terbahak-bahak.


"Om ihhh..."


"Lho...aku salah ngomong kah ?"


"Enggak...


Om bener..


Tapi...


Aku kalo tidur enggak ngiler ya Om.."


Sandy tertawa.


"Aku tau gaya kamu kalo tidur.


Kamu suka jadiin aku guling." katanya.


Reva kembali memerah.


"Om bohong !"


"Kamu mau bukti ?"


"Aku gak percaya !!"


Sandy meraih ponselnya.


Dia membuka galeri.


Lalu membuka satu gambar.


Sandy lalu menunjukkan pada Reva.


Di Lombok.


Saat Sandy tidur semalam di kamar Reva.


Reva berguling miring.


Memeluk Sandy.


Satu tangannya melingkari leher Sandy. Sementara wajahnya menyusup di lekuk leher Sandy. Lengan Sandy terentang dibawah lehernya.


"Om !!" kata Reva terkejut.


Dia menatap ponsel Sandy.


"Ini kan...ini..."


"Ada lagi." kata Sandy kalem.


Sandy lalu membuka foto lainnya.


Di tepi tebing.


Sandy sedang mencium hidungnya sementara dia tidur miring menghadap Sandy.


Sama seperti foto sebelumnya, tangannya melingkari dada Sandy.


Om udah...eh...udah..."


Sandy tersenyum.


"Udah apa ?


Kan aku bilang kalo aku ngejar kamu ke sana."


"Om.."


Reva merasa malu.


Malu karena saat itu pikirannya sibuk dengan Steven.


Sementara ada laki-laki yang pantang menyerah sedang berusaha mendapatkannya.


Dia malah tidak terlalu memperhatikannya.


Tapi itu bukan salahnya.


Om Sandy waktu itu kan masih berhubungan dengan Cindy.


Mengingat nama Cindy, senyumnya memudar.


Nama itu dan orangnya masih jadi batu sandungan dalam hatinya.


Walaupun Sandy sudah memberi penjelasan panjang lebar.


"Kenapa ?" tanya Sandy yang memperhatikan perubahan wajah Reva.


"Ah..enggak..Om.." elak Reva.


Sandy mengernyit sedikit.


"Va...


Kalo ada yang kamu pikirkan tentang kita..kamu ngomong aja.


Kita belajar terbuka.


Sebagai suami istri, komunikasi kita harus lancar." kata Sandy.


"Iya Om." kata Reva.


Dia lalu melihat arlojinya.


Sandy melihatnya.


"Mau berangkat jam berapa ?" tanya Sandy.


"Rencananya jam tiga, Om.


Aku nanti di jemput."


"Bilang gak usah jemput..


Nanti aku antar kamu."


"Gak usah, Om."


"Gak papa.


Aku bisa lembur nanti malam.


Lagian kamu juga gak ada."

__ADS_1


Reva tersenyum tipis.


Dia merasa tidak enak.


Tapi sebetulnya, kondisi ini malah bagus kan untuk pingitan mereka berdua ?


" Om mau milih baju untuk apa ?"


"Untuk dibuang."


"Hah ?!"


"Buang sial."


"Maksud Om ?"


"Segala sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu, mau aku buang.


Buang sial."


Reva diam menunggu Sandy meneruskan ucapannya.


"Aku mau menempuh hidup baru.


Dan itu sama kamu.


Aku pingin kita bahagia.


Kamu bahagia bersamaku, Va."


"Om..."


Reva terharu.


Matanya berkaca-kaca.


"Aku juga pingin Om bahagia sama aku." katanya.


Sandy bangkit.


Dia berjalan dan duduk disebelah Reva.


Dia memeluk Reva.


Selesai makan, Sandy menggandeng Reva ke kamar.


Dia membuka lemari dan mulai mengambil baju-baju dari gantungan.


Setengahnya dia keluarkan.


Celana, kaus.


Pada saat Sandy selesai, lemarinya nyaris kosong.


" Om...yang bener aja.


Masa Om udah putus dua tahun tapi gak pernah beli baju selama itu ?"


Sandy menggeleng.


"Aku sibuk." katanya.


"Sekarang tugas kamu nyariin baju buat aku, Va." katanya menatap Reva.


"Oke Om..


Gak masalah.


Tapi..


Kalo Om buang sekarang, nanti Om gak punya baju.


Padahal hari ini sampe sepuluh hari kedepan,


aku gak bisa nemenin belanja baju."


Sandy menggeleng.


"Gak apa.


Aku gak butuh baju banyak.


Nanti nunggu kamu aja belinya.


Yang ini tetep aku buang."


Reva tersentuh.


Sandy betul-betul berpegang pada ucapannya.


Dia benar-benar ingin melangkah ke masa depan bersamanya.


Dia juga harus begitu.


Meninggalkan kenangan, perasaan yang masih tertinggal di hatinya.


Sandy keluar memanggil si Mbok.


"Mbook...."


Si Mbok bergegas datang.


Baru saja tadi majikannya ini marah-marah, jadi sejak tadi dia dan suaminya berjaga-jaga kalau-kalau dipanggil kembali.


Sandy menunjuk tumpukan baju dan beberapa barang di lantai.


"Buang Mbok !


Mbok boleh ambil tapi gak boleh pake disini.


Simpan.


Nanti kalo pulang kampung baru di bawa.


Atau..paketin aja.. Pokoknya aku gak mau barang-barang itu ada di rumah ini lagi !" katanya.


Reva hanya menatap Sandy.


Sandy betul-betul tegas mengambil sikap.


Oke...


Dia sekarang bisa percaya.


Apalagi melihat foto dirinya bersama Sandy yang diambil dua tahun lalu.


Sandy sudah menyimpan perasaan padanya sejak saat itu.


Sandy memang sudah berkali-kali berkata dan menyiratkan hal itu padanya.


Tapi dia yang berkeras mengingatkan pada dirinya sendiri bahwa itu hanya pelarian Sandy dari patah hati dan rasa kecewanya saat itu.


Dan sekarang..


Tanpa sadar, Reva menghembuskan nafas lega.


Dia bisa tenang menjalani proses pernikahan nya dengan Sandy.

__ADS_1


Meskipun tetap ada secuil rasa khawatir menyelinap di sudut hatinya.


...🍇🍒🌴...


__ADS_2