Kamu Milikku

Kamu Milikku
Wajah Asli Citra


__ADS_3

Aira mengambil makanan itu menggigitnya separuh. Tampak wajah senang dari Citra melihat hal itu.


Namun, senyum Citra tidak berlangsung lama saat Aira tiba-tiba memuntahkan makanan itu. "Mas, aku mau ke kamar mandi dulu." Aira berjalan ke arah kamar mandi.


"Aira jorok sekali, kenapa malah dimuntahkan?" Citra tampak kesal.


"Dia mungkin tidak cocok dengan makanan itu. Kamu juga harus memaklumi jika orang hamil memang begitu."


"Iya, tapi tidak harus dimuntahkan langsung Addrian."


"Aku minta maaf, ya. Aku mau mencari istriku dulu kalau begitu."


"Eh, biar aku saja yang mencarinya. Apa lagi Aira ada di kamar mandi wanita, tidak enak kalau kamu masuk."


"Kalau begitu aku akan menunggu di meja sana saja." Addrian membiarkan Citra mencari Aira karena siapa tau mereka bisa menjadi teman baik lagi nantinya.


Di luar kamar mandi setelah Aira memuntahkan makanannya dia berjalan keluar dengan memegang perutnya yang tidak enak.


"Kamu kenapa, Nak? Kenapa tadi memuntahkan makanan itu? Tapi makanan itu memang tidak enak," cibir Aira.


Bruk


"Hei, hati-hati."


Ada seseorang menabrak Aira, dan pria itu malah tersenyum pada Aira.


"Kamu tidak apa-apa, kan? Apa ada yang terluka?" Pria itu mencoba menyentuh Aira.


"Singkirkan tanganmu!" seru Aira kesal.


"Aku hanya ingin memeriksa kamu, apa kamu baik-baik saja." Tangan pria itu masih tetap mencoba menyentuh Aira.


"Aku baik-baik saja, kamu jangan kurang ajar!" Aira mencoba menangkis tangan pria itu.


Aira memilih menghindari saja pria yang ternyata mulutnya bau minuman, tapi tangan pria itu malah berhasil menarik Aira sampai Aira masuk ke dalam pelukan pria itu.


"Hei! Lepaskan aku! Kamu jangan kurang ajar!"


"Sayang, kamu mau ke mana? Aku akan memeriksa kamu."


"Tidak perlu!" Aira mendorong tubuh pria itu.


Dari kejauhan tampak Citra tertawa dengan puasnya sambil tangannya merekam apa yang terjadi pada Aira.


"Rasakan itu wanita tidak tau diri. Kamu berani membuatku sakit hati, dan sekarang aku akan membuat kamu malu."

__ADS_1


"Lepaskan, tolong!" teriak Aira.


Ada dua orang gadis di sana mencoba menolong Aira, tapi pria itu malah marah dan mengancam akan memukul mereka.


"Lepaskan, aku, aku sedang hamil." Aira mencoba memegangi perutnya.


"Pasti menyenangkan bisa bersenang-senang dengan wanita hamil."


"Brengsek!"


Seketika tubuh pria yang sedang menggoda Aira terpental dan dengan keras tersungkur di atas tanah.


"Mas Addrian!" Aira seketika memeluk suaminya yang berdiri di sana.


"Kamu tidak apa-apa, kan?"


"Aku takut, Mas. Dia kurang ajar sama aku." Aira menangis memeluk erat suaminya.


"Brengsek!"


Addrian tampak sangat marah. Dia melepaskan pelukan Aira dan dengan emosi dia menghajar pria yang menggoda Aira sampai pria itu mengeluarkan darah pada sekitar wajahnya.


Penjaga di sana segera berlari menuju mereka dan melerainya, diikuti oleh anak-anak lainnya.


"Lepaskan! Aku akan bunuh pria itu! Apa kamu tidak melihat jika wanita itu sedang hamil? Kalau ada apa-apa dengan istri dan bayiku, aku akan cari kamu walaupun ke ujung dunia!" teriak Addrian penuh kemarahan.


"Mas sudah, kita pulang saja." Aira memeluk suaminya.


Citra yang pura-pura tidak mengetahui kejadian itu berada di sana dengan wajah bingungnya.


"Ada apa ini? Addrian ada apa?"


"Kamu ke mana? Katanya kamu mau menemui Aira?" tanya Addrian marah.


"Tadi aku ke ruang dosen sebentar karena ada urusan di sana. Memangnya ada apa?"


"Apa pria itu mahasiswa di sini? Berani sekali dia berbuat buruk pada istriku."


"Oh Tuhan! Aira, kamu tidak apa-apa." Citra berpura-pura cemas pada Aira. Aira menggeleng perlahan dengan tetap memeluk suaminya.


Salah satu penjaga di sana mengatakan jika keadaan pria itu buruk akibat perkelahian dengan Addrian, tapi Addrian malah menjawab tidak peduli, kalau perlu dia mau menghabisi pria itu.


Addrian mengajak Aira pergi dari sana. Dia tidak mau membuat Aira tambah bersedih dengan kejadian barusan.


Di dalam mobil Addrian melihat istrinya yang masih menangis tersedu. Dia ingin sekali kembali ke sana dan benar-benar menghabisi pria itu.

__ADS_1


"Mas, ayo pulang."


"Iya, kita pulang."


Addrian membawa Aira pulang. Dia sepanjang perjalanan Aira hanya bisa menangis. Addrian mencoba membuat Aira lebih tenang, hingga akhirnya Aira tertidur.


Di kampusnya, Citra tampak senang karena rencananya membuat Aira shock berhasil setelah dia gagal membuat perut Aira kontraksi.


"Citra," panggil seseorang dari belakang Citra.


Saat dia menoleh Citra terkejut melihat siapa yang ada di sana. "Kamu mau apa datang ke sini?" tanya Citra marah.


"Bibi ingin melihat kamu wisuda kelulusan."


"Tidak perlu! Aku tidak perlu kamu datang ke sini. Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini!" Citra menekankan ucapannya dengan mata mendelik.


"Ibu, kita pulang saja. Aku takut dengan Kak Citra." Seorang gadis kecil menarik-tarik tangan ibunya.


"Benar apa yang dibilang bocah cerewet ini, sebaiknya kamu dan anak kamu segera pergi dari sini. Aku tidak suka melihat kalian dekat-dekat denganku," usirnya ketus.


"Citra, apa wanita teman kamu?"


"Wanita mana?"


"Yang sedang hamil itu. Tadi aku ke sini melihat dia dengan suaminya sangat akrab dengan kamu. Siapa mereka?"


"Apa? Kamu tau soal Aira dan Addrian?" Citra yang tidak mau dilihat orang lain dengan sikap kasarnya menarik wanita paruh baya itu ke tempat yang agak sepi. "Jawab pertanyaanku tadi, wanita bodoh?"


Wanita paruh baya yang lebih pantas menjadi ibu Citra itu mengangguk perlahan. "Tadi Nadin yang memberitahu jika istri pria itu sedang dalam masalah. Kasihan wanita hamil itu, dia itu orang baik."


"Apa? Jadi anak kamu yang memberitahu suaminya? Dasar kamu anak nakal! Sini kamu." Citra yang hendak memukul anak kecil itu ditahan tangannya oleh ibu si anak.


"Jangan memukul Nadin, dia hanya ingin menolong karena wanita itu sudah baik pernah menolong Nadin saat Nadin jatuh di jalan karena terserempet motor."


Citra sekali lagi sangat kaget mendengar hal itu. "Apa kamu pernah bertemu dengan mereka? Maksud aku, apa kamu pernah bicara dengan Aira?"


"Pernah, bibi mengucapkan terima kasih dan dia memberi Nadin uang jajan."


"Apa ada lainnya yang kalian bicarakan?" Wajah Citra tampak bertanya dengan cemas.


"Memangnya kenapa jika bibi dan Aira berbicara? Wanita itu sangat baik dan lembut."


"Dengar ya wanita bodoh!" Tangan Citra menarik kasar lengan tangan wanita yang mengaku menjadi bibinya.


"Aduh, sakit," rintih wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Kak, jangan kasar dengan ibuku."


"Diam kamu! Anak kecil," bentak Citra. "Aku peringatkan kamu wanita bodoh. Jangan kamu sekali-kali menemui Aira dan keluarganya karena kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan segan-segan menyakiti anak kamu ini."


__ADS_2