Kamu Milikku

Kamu Milikku
Tinggal Empat Minggu Lagi


__ADS_3

Reva bangun dengan seluruh badan terasa sakit.


Kepalanya pusing.


Tapi badannya tidak demam lagi.


Ternyata dia memang kena flu.


Reva mengeluh.


Kenapa saat liburan begini dia malah sakit.


Tangannya meraih ponsel.


Dia mendial nomor Steven.


Dua kali nada dering, Steven langsung mengangkat.


"Aku kesana sebentar lagi." kata Steven.


"Steve..gak usah.


Aku minta obat aja yang kemarin.


Aku...kirim aja sama bellboy." gumam Reva.


Steven memutuskan sambungan.


Dia mengambil bungkusan obat di bufet lalu keluar kamar.


Bergegas menuju kamar Reva.


"Va...."panggil Steven.


Tok..tok..


"Va..!!" Steven memanggil lebih keras.


Pintu kamar Michael terbuka.


Tia keluar.


"Kenapa?"


"Reva..minta obat." jawab Steven lalu kembali mengetuk.


"Va !!


Reva !!"


Terdengar sayup-sayup gumaman di dalam.


Michael keluar.


Robert ikut keluar mendengar ribut-ribut.


"Ada apa ?" tanyanya.


Pintu kamar Reva terbuka.


Wajah Reva muncul.


Rambutnya berantakan.


Steven mendorong pintu lebih lebar.


Reva terhuyung-huyung berjalan ke tempat tidurnya.


Steven tidak sabar.


Dia segera mengangkat Reva.


Menggendongnya ke tempat tidur.


"Steve!!" protes Reva lemah.


"Ck..!" Steven berdecak.


Dia membaringkan tubuh Reva dengan hati-hati.


Steven meletakkan tangannya di dahi Reva.


Tidak demam.


Dia menyobek bungkus obat lalu menyodorkannya bersama air.


"Minum !" perintahnya.


Reva meminum obatnya.


Steven menyobek bungkus lainnya.


"Ini juga."


"Apa ini ?"


"Vitamin.


Minum !" perintah Steven.


Reva kembali minum.


Lalu merebahkan dirinya.


Steven menoleh pada semua yang menontonnya.


"Hari ini aku gak ikut diving.


Biar aku aja yang nungguin Reva." katanya tegas dan tidak mau ditawar.


Michael berpandangan dengan Robert.


"Oke.


Bili juga gak ikut." kata Robert.


"Ayo kita keluar.


Biar Reva bisa tidur." ajak Tia.


Steven tidak bergerak.


Dia tetap duduk di tepi tempat tidur.


"Steve...


Aku gak papa.


Kamu pergi aja.


Nanti kalo ada apa-apa aku bisa panggil bellboy." ucap Reva pelan.


"Kamu tidur aja."


"Steve !!"


Steven bangkit lalu membuka gorden.


Membiarkan matahari masuk.


Reva menarik nafas.


Dia lalu berbaring miring, memeluk bantal dan kembali tidur.


Nafasnya mulai teratur.


Steven berdiri bersandar.


Memperhatikan Reva tidur.


Pintu terbuka.


Sandy masuk.


"Belum sembuh?" tanyanya.


Steven menggeleng.


Menatap Sandy.


"Aku gak ikut diving." katanya.


Sandy mengangguk.


Pintu kembali terbuka.


Jason masuk.


"Jason..kenapa kesini ?"


Jason menatap Sandy.

__ADS_1


"Bak Lepa cakit ?" tanyanya dengan mata polos.


Sandy tersenyum.


Dia membungkuk, menggendong Jason. Mencium pipinya gemas.


"Iya.


Mbak Reva lagi bobok.


Kita gak usah ganggu ya.


Biar Mbak Reva cepat sembuh." kata Sandy membawa Jason mendekat tempat tidur.


Jason menoleh ke bawah.


Menatap Reva.


"cepat cembuh bak Lepa.." bisiknya di pipi Sandy.


Sandy tersenyum.


"Yuk kita keluar." ajaknya.


"Bai Akel." lambai Jason pada Steven.


Steven tersenyum, balas melambai pada Jason.


"Bye Jason.."


Sandy membawa Jason ke ruang sarapan.


Di sana sudah menunggu Tia dan Michael.


"Gimana ?" tanya Tia.


"Tidur." jawab Sandy memangku Jason.


"Steven masih disana ?" tanya Michael.


Sandy mengangguk.


Michael menatap Sandy.


"Apa ?" tanya Sandy.


"Kalo itu Tia, gue gak bakal ngelepas dia ditungguin orang lain." kata Michael.


Tia tertawa.


"Mas..so sweet banget siih.."


Michael menoleh pada Tia.


"Kapan aku pernah ngelepas kamu Ti ?"


Tia tersenyum.


Dia membelai pipi Michael. Menatap sayang.


"Enggak pernah." jawabnya.


Sandy menatap mereka berdua dengan iri.


"Kalian ini !


Bikin iri aja!" katanya menggerutu.


Michael menoleh menatap Sandy.


"Itu namanya perjuangan San.


Gak ada salahnya kita memperjuangkan orang yang memang patut kita perjuangkan."


"Iya..iya....Kita semua tau kok." jawab Sandy.


"Terus ?" kejar Michael.


"Terus ?


Ngapain gue beduaan sama Steven disana ?"


Michael berdecak.


"Jangan marah kalo nanti Reva mendarat di pelukan Steven." katanya.


Tia menepuk Michael.


emang Reva perempuan apaan ?!" omelnya.


Michael kembali berdecak.


"Reva itu udah punya rasa sama Steven.


cuma.. masing-masing gak mau mengakui aja.


Jangan heran kalo nantinya mereka jadian.


Enggak sekarang.


Nanti.


Lu sekarang ini udah kalah dua kosong sama Steven.


Satu, Reva udah punya rasa sama Steven.


Dua, lu masih kesangkut sama Cindy.


Anak-anak semuanya mendukung Steven.


Gak ada yang dukung lu.


Lu itu..kartu mati.


Budaknya Cindy.


Cowok bodoh !" tandas Michael gemas.


Sandy memerah.


"Lu temen gue apa bukan sih ?" katanya.


"Gue temen lu


Makanya gue kudu buka mata lu !" kata Michael.


"Justru karna semua orang tau gue masih keiket sama Cindy makanya gue nyingkir.


Gue takut Reva diapa-apain.


Dianggap perebut pacar orang.


Makanya gue nyingkir dulu.


Nanti Kel...


Nanti." jawab Sandy kalem.


Michael kembali berdecak.


Tia tersenyum.


"Beda orang, beda pendekatan, Mas.


Kalo kamu kan..tipe straight.


Kalo udah mau yang itu. Ya..yang itu yang dikejar


Diterabas. Digotong pulang.


Apapun resikonya.


Ko Sandy beda tipe.


Dia kalem.


Kalian berdua ini beda tipe.


Tapi bisa jadi sahabat lengket yaa.. ?" kata Tia dengan senyum.


"Bahas apaan nih ?"tanya Robert menarikkan kursi untuk Biliyan.


Biliyan duduk sambil memegang perutnya.


Tia mengamati.


Robert duduk.


Jason turun dari pangkuan Sandy.


Dia menarik Billy ke area bermain.

__ADS_1


"Bahas tipe pendekatan sama cewek." kata Michael.


"Gak usah dibahas.


Deketin aja langsung.


Tempel.


Tembak.


Langsung lamar ke orang tuanya.


Berantem sama adiknya juga gak papa.


Pokoknya yang penting dapet." tandas Robert.


Tangan Biliyan melayang


"Aduh !" keluh Robert.


"Lho..gue ngomong kenyataan kok.


Cowok kudu gitu.


Kita yang aktif.


Agresif.


Kalo enggak.. keburu direbut orang.


Tuuh..liat Michael.


Kalo Tia enggak diseret pulang, nama belakang Jason bukan Hermawan. Tapi Chua."


Tissue melayang ke muka Robert.


"Sialan lu Ko !" kata Tia.


Michael merapatkan bibir.


Tia menatapnya was-was.


Sepertinya komentar Robert akan membuatnya membayar harganya nanti malam pada Michael.


Michael meliriknya.


Mereka bertatapan.


Tia memerah.


"Ntar aja balas dendamnya.


Gue gak keberatan dititipin Jason kok." sela Sandy kalem.


Kali ini Sandy yang mendapat lemparan tissue.


"Kita itu lagi bahas lu Ko !" tandas Tia.


"Jadi..kalian pinginnya gue kesana.. duduk-duduk sebelah Steven gitu?" tantang Sandy.


"Udah telat !" kata Michael menyuap telurnya.


"Kalian ini...


Reva itu masih panjang jalannya.


Baru mau semester tiga.


Masih dua tahun lagi.


Gak usah diganggu dulu." sahut Biliyan tenang.


"Lu lupa adik lu sendiri ya Sayang ?" cetus Robert.


"Kenapa adik gue ?" tanya Biliyan.


"Adik lu udah mantengin bininya dari kelas sepuluh


Gue udah mantengin lu dari kelas sebelas.


Emang beda-beda caranya.


Tapi...kami para cowok udah nentuin sikap dari awal.


Gue juga bingung sama lu, San?


Dari dulu sampe sekarang, lu sama sekali kagak ngincer siapa-siapa ?" tanya Robert tidak percaya.


Sandy menatap Robert.


Lalu menggeleng mantap.


"Sekarang?" tanya Robert.


"Sekarang ?


Ya yang itu..


Yang lagi sakit tuh." senyum Sandy.


"Bener lu ngincer dia ?


Jangan-jangan lu pake dia buat nutupin ...ehem...eh..lu gak suka sama cowok kan ?" tanya Michael.


Kali ini serbet yang melayang ke muka Michael.


"Aduh !!"


"Sori ya..


Gue masih doyan cewek.


Cuma..sebelum ini..emang gak ada yang klik aja.


Kalo sama Cindy...


Gak tau ya...


mungkin karena gue iri sama kalian.


Kalian punya hubungan yang kuat dan stabil.


Jadi..mungkin karena itu...


Gue juga pingin seperti kalian.


Dan gue..bodoh sekali." jawab Sandy.


Ponselnya bergetar.


Sandy menunduk.


Mengusap ponsel.


"Aduuh..gue lupa bales pesennya kemarin.


Kemarin mau minta tolong Reva yang balesin.


Tapi Reva sakit." keluhnya.


"Mana sini..


Gue yang balesin." kata Tia.


Sandy menyodorkan ponselnya.


Tia mengerutkan keningnya saat membaca pesan Cindy.


"Dia pikir lu ini emang budak ya.." komentar Tia.


Tia lalu mengetik.


"Jangan keliatan kalo gue mau mutusin dia, Ti" cetus Sandy.


"Ah enggak.Gue bilang kalo ini rapat kerja.


Tapi pingin ganti suasana.


Makanya lu balasnya telat, karna ada rapat sampe tengah malam." jawab Tia.


"Udah berapa lama?" tanya Robert.


"Udah mau delapan minggu.


Tinggal empat minggu lagi.


Dan gue bebas !!" senyum Sandy.


Teman-temannya menatapnya.


Sandy tampak sangat bahagia.

__ADS_1


...⛰️🍎🎋...


__ADS_2