
Sandy mengamati Reva.
Muka Reva yang memerah saat digoda oleh anak buahnya.
Bantahannya yang bertubi-tubi dan akhirnya pasrah karena Steven tidak membantu.
Pipinya masih tetap merah.
Nampak jelas walaupun kulitnya coklat muda.
Steven pun nampaknya kelihatan menikmati menggoda gadis itu.
Dia sedikit demi sedikit menambahi bumbu sehingga teman-teman nya malah semakin yakin kalau mereka jadian.
Reva akhirnya memutuskan makan dengan tenang. Tidak mengatakan apa-apa.
Percuma.
Sandy jadi merasa de javu.
Melihat Michael saat SMA dulu yang menciptakan kondisi dimana teman-teman Tia akhirnya menyangka bahwa mereka pacaran.
Padahal belum.
Sandy kembali menatap Reva.
Menatap Reva dengan sudut pandang baru.
Pembicaraan di mobil tadi mengubah pandangannya terhadap Reva.
Reva ternyata banyak dihargai oleh orang lain.
Willy Chang bukan konglomerat abal-abal. Kekayaannya nomor tiga di negara ini.
Dan dia menempatkan Reva di tim dalam pengobatan ibunya.
Dia saja yang selama ini buta.
Dia tidak melihat Steven yang mendekatkan diri pada Reva.
Padahal semua orang tau, Steven bukan tipe yang gampang mendekatkan diri pada perempuan.
Dia punya standar.
Tia.
Jadi Steven menganggap, Reva sudah memenuhi standarnya.
Standar apa ?
Cerdas. Cantik. Berpotensi.
Setia.
Makanya Steven rajin mengunjungi Reva di apartemennya.
Apa kata Michael tadi ?
Kalau ingin punya anak yang cerdas, carilah ibu yang cerdas juga karena kecerdasan diturunkan oleh ibu.
Jadi Steven sedang mencari ibu dari anak-anaknya.
Sandy memindahkan matanya mengamati Steven.
Steven sering menatap Reva dengan tatapan intim.
Steven mengagumi. Jatuh cinta ?
Kemana saja dia selama ini?
Terpuruk dalam kubangan cinta pada Cindy.
Si cantik Cindy.
Si Sexy Cindy.
Sandy menunduk, meraih ponselnya dan mulai mengetik.
'kamu dimana?' ketik Sandy.
Cindy tidak membalas.
Sepuluh menit kemudian Cindy membalas.
'syuting.'
'nanti sore aku ke tempat mu'
'mau ngapain?'
'tidur'
Cindy menatap lama jawaban dari Sandy.
Tidur ?
Tidur beneran ?
Tidur..menidurinya?
Sepanjang hubungan mereka, Sandy tidak pernah mengajak Cindy tidur yang membuat Cindy kesal dan meragukan kemampuan Sandy sebagai laki-laki.
Cindy bukan perawan ting ting.
Dia perempuan berpengalaman.
Dan dia ingin menikmati hidup.
__ADS_1
Dia ingin menikmati Sandy, pacarnya, tapi ternyata Sandy pria alim.
Makanya waktu itu dia membuat Sandy mabok dan menidurinya.
Dan dia menyesal.
Sandy malah sibuk mengajaknya menikah.
Merongrongnya.
Cindy mengetik.
Sandy menatap jawaban Cindy.
'Oke'
Dia tersenyum.
Nanti di jalan dia akan membeli pengaman.
Sandy meraih gelas lalu meminumnya.
Matanya masih menatap Reva dan Steven.
...⛰️🍎🎋...
Sandy menjemput Cindy di tempat syuting.
Dia mencium bibir Cindy sekilas sebelum menyetir menuju apartemen Cindy.
Cindy melirik Sandy.
Dadanya berdebar.
Sandy terlihat...sexy.
Tampan dan kukuh.
Sandy memarkir mobilnya lalu memutari mobil, membuka pintu Cindy dan membantunya turun.
Cindy makin berdebar.
Tanpa berkata-kata mereka naik ke unit Cindy.
Cindy memasukkan password dan membuka pintu.
Sandy menunggu hingga Cindy selesai membuka sepatunya lalu menggendongnya .
"Kemana ?" tanya nya.
Cindy menunjuk satu pintu lalu mencium bibir Sandy dengan penuh gairah.
Masih menggendong dengan mulut terus melahap bibir Cindy, Sandy masuk dan menendang pintu hingga tertutup.
Dia merebahkan Cindy, lalu mulai membuka kemejanya.
Celana panjang dan boxer menyusul.
Dirinya sudah siap.
Cindy pun melepas bajunya.
Menurunkan rok ketatnya.
Sandy menindih Cindy, menjangkau kait bra, menurunkan bawahan dan mulai menjelajahi tubuh Cindy dengan mulut dan tangannya.
Cindy melenguh.
Sandy memindahkan tangannya.
Cindy menjerit.
Sandy menempatkan dirinya diantara Cindy dan mulai mendorong masuk.
Matanya menatap Cindy.
Mereka baru sekali melakukan hubungan, tapi Cindy tidak seketat yang dia bayangkan.
Tidak seperti cerita Michael.
Michael pernah bercerita, setelah berbulan-bulan tidak tidur dengan Tia, Tia ternyata ketat sekali.
Perlu usaha untuk menembusnya.
Sandy diliputi kecewa.
Tapi dia meneruskan dorongan nya.
Menggertakkan gigi, menahan dirinya untuk memuaskan diri menunggu hingga Cindy puas.
Tangan Sandy bermain.
Keduanya bermandikan keringat walaupun kamar Cindy sejuk ber AC.
Saat Cindy bergetar, Sandy pun melepaskan dirinya.
Keduanya tersengal-sengal.
Sandy berguling.
Cindy tersenyum puas.
Tangannya memeluk tubuh Sandy yang berotot.
Memainkan puncak dada Sandy.
Sandy menoleh.
__ADS_1
"Mau lagi ?" tanya nya.
Mulut Cindy cemberut.
"Perlu nanya ?"
Sandy lalu berbaring miring.
Menatap wajah Cindy yang cantik.
Terlihat sensual dengan rambut yang menempel karena keringat.
Tangannya menjangkau buah dada Cindy, memainkannya.
Kepalanya lalu menunduk, bibirnya mengatup dan lidahnya memainkan puncak dada Cindy.
Sandy lalu memasang pengaman dan mulai membuat Cindy menjerit-jerit.
...⛰️🍎🎋...
Lewat tengah malam, Sandy baru pulang.
Emosinya sudah terkuras tadi.
Hasratnya sudah di lampiaskan.
Harusnya dari dulu dia lakukan.
Dua kotak pengaman berisi enam kini tersisa satu.
Sandy membawanya pulang.
Dia tidak mau mengambil resiko.
Tadi, saat Cindy ke kamar mandi, Sandy membongkar nakasnya dan menemukan tiga kotak pengaman serta satu tube gel pelumas.
Cindy rupanya cukup produktif.
Dia juga membongkar lemari Cindy dan menemukan dalaman dan baju laki-laki.
Tau gini, dulu dia tidak perlu menahan- nahan untuk menjaga Cindy tetap suci sampai mereka menikah.
Pakai saja.
Lampiaskan saja.
Toh ternyata Cindy sudah tidak perawan lagi.
Dan yang lebih parah, Cindy juga tidak ragu tidur dengan laki-laki lain.
Sandy merasa sangat bodoh.
Bodoh dan naif !
Sandy menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Teman-temannya sangat baik padanya.
Dan dia berterimakasih pada mereka.
persahabatan mereka yang sudah berlangsung sejak SMA membuat mereka saling melindungi satu sama lain.
Sandy tidak bisa membayangkan betapa marahnya mereka saat tau dirinya dikhianati.
Tapi dirinya yang naif ini tetap saja membela pacar cantiknya yang ternyata tukang selingkuh.
Dan hal itu membuat kedua sahabatnya tidak berani mengatakannya dengan terus terang.
Tapi obrolan mereka di mobil saat berangkat makan siang membuat dia ingin membuktikan sendiri.
Dan ternyata mereka itu tidak omong kosong.
Mobil Sandy melewati komplek apartemen Reva.
Sandy memelankan laju kendaraannya.
Dia melongok ke atas.
Gelap semua.
Reva sudah tidur.
Sandy mengulum senyum.
Satu per satu masalah harus diselesaikan dulu.
Sebelum dia mengejar yang satu ini.
Steven bukan lawan yang bisa dianggap enteng walaupun statusnya bawahan mereka.
Satu pikiran baru melintas dalam benaknya.
Jika suatu hari nanti gadis itu menjadi miliknya, berarti dia dan kedua sahabatnya menjadi saudara.
Bukan cuma sekedar saudara karena persahabatan tapi betul-betul menjadi saudara karena perkawinan.
Sandy memukul setirnya.
Kenapa dia tidak memikirkannya ?
Nampaknya Michael dan Robert sudah terpikir akan hal ini saat mereka dulu berbicara di mobil yang menuju kantor mereka.
Berarti sekarang tergantung dia.
Tapi..apakah Reva bersedia menerimanya yang sudah bekas seorang perempuan yang berhasil membodohinya ?
Padahal Reva seorang perempuan pintar.
__ADS_1
Sandy kembali merasa sangat bodoh.
...⛰️🍎🎋...