
Citra berjalan mendekati Addrian yang duduk di tempatnya. "Addrian, apa Aira meminta berpisah darimu?" Sebenarnya itu yang diharapkan oleh Citra.
"Dia tidak meminta berpisah denganku. Kita berdua hanya sedang saling memenangkan diri saja dan aku nanti akan menemuinya lagi untuk memohon maaf darinya."
"Addrian, bagaimana jika Aira mengambil keputusan ingin berpisah darimu?"
Kedua mata Addrian membulat mendengar apa yang Citra baru saja katakan. "Aira tidak akan meminta berpisah dariku, dia sangat mencintai aku."
"Tapi jika dia terlalu sakit dengan apa yang terjadi antara kita, dan dia akhirnya meminta berpisah bagaimana?"
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengabulkan permintaannya itu."
Tangan Citra memegang pundak Addrian. "Kenapa? Apa karena kamu sangat mencintai dia?"
"Tentu saja, aku sangat mencintai Aira, apa lagi ada bayi kami di dalam perutnya. Aku tidak ingin kehilangan mereka berdua."
__ADS_1
"Addrian." Tangan Citra mengusap lembut pipi Addrian. Addrian yang merasakan sentuhan Citra sedikit terkejut. "Bagaimana jika di dalam Perutku ini nanti akan tumbuh bayi kamu? Apa kamu tidak akan peduli dengannya?"
Addrian terdiam di tempat. "Jangan bicara hal yang belum pasti terjadi. Lagi pula kita baru melakukannya sekali."
"Kita tidak akan akan tau. Mungkin saja hal itu bisa terjadi."
Addrian teringat jika Aira juga hamil padahal baru sekali dia melakukannya dengan Aira. Lalu, bagaimana jika Citra sampai hamil?"
"Addrian, kalau Aira ingin berpisah denganmu, lebih baik kabulkan saja hal itu, dan aku yang akan melahirkan anak kita nantinya."
"Citra?" Addrian sangat terkejut sekali lagi mendengar ucapan Citra.
"Citra, aku mengatakan cinta bukan untuk kamu, tapi untuk Aira, dan mungkin saat itu aku tidak sadar dan bermimpi melakukannya dengan Aira, bukan dengan kamu karena tidak ada nama wanita lain selain istriku."
Citra yang menahan marah seketika beranjak dari tempatnya. "Addrian, aku sudah memutuskan jika aku tidak akan mau pergi jauh darimu karena kamu pria yang pertama menyentuh dan kamu juga yang akan menjadi pria terakhir yang akan bersamaku."
__ADS_1
Citra berjalan pergi dari sana. Addrian tidak menyangka jika Citra akan mengatakan hal itu. Mungkin dia seperti itu karena dia baru pertama kali disentuh oleh seorang pria dan pria bodoh itu adalah dirinya.
"Oh Tuhan! Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Addrian teringat ucapan Kenzo agar Addrian pergi menemui bunda dan menceritakan semuanya. Siapa tau bunda akan memiliki solusi akan hal ini, tapi Addrian mencoba untuk membuat agar orang tua atau keluarga mereka tidak mengetahui dulu masalah ini.
Addrian melihat pada bingkai foto istrinya. Dia sangat merindukan Aira dan ingin sekali memeluk serta mencium perut Aira, hal yang setiap hari dia lakukan.
Aira yang berada di rumahnya juga sedang menatap wajah foto Addrian di dalam kamarnya. "Mas, aku kangen sama kamu."
Tidak lama ponsel Aira berdering dan Aira mengira itu dari Addrian, tapi ternyata tidak.
"Aira, bisa bicara sama kamu sebentar?"
"Ada apa?"
__ADS_1
"Kamu kenapa? Kenapa suara kamu terdengar sangat sedih. Apa ada hal serius yang sedang terjadi denganmu?"
"Aku dan Addrian sedang ada masalah yang besar, dan kita sedang saling berjauhan." terdengar suara isak tangis Aira.