Kamu Milikku

Kamu Milikku
Cerita Sandy


__ADS_3

Papi Sandy akhirnya mendapatkan cerita dari Sandy.


Wajahnya berkerut marah.


"Kamu itu keterlaluan baiknya !


Kalo Papi udah Papi putusin langsung saat itu juga." katanya memarahi Sandy.


"Sekarang masalahnya malah berbelit.


Mami kamu kayaknya udah kecantol sama perempuan itu.


Udah !!


Kamu gak usah nongol lagi di depan dia.


Kamu pingin memastikan dia gak akan nuntut atau jebak kamu kan ?


Jalan terbaik, kamu gak usah ketemu dia lagi.


Michael sama Robert udah bener.


Kamu beruntung punya teman-teman seperti itu.


Lebih dari saudara, mereka berdua itu." lanjutnya


Sandy mengangguk.


"Makanya Sandy gak pernah nongol Pih." katanya.


Papi menatap Sandy.


Mempelajarinya.


"Terus...siapa gadis yang disebut sama teman-teman kamu ?"


Sandy tersenyum lebar.


"Oo...Reva ?" jawabnya.


Papi memperhatikan perubahan wajah dan emosi Sandy.


"Orang mana ?


Indonesia apa Taiwan ?"


"Orang kita Pi."


"Emang pinter ?"


Sandy menganggukkan kepalanya.


Dia lalu bercerita.


"Ck...ck..


Ya udah...iket sekalian."


"Yah.. masalahnya..." Sandy berhenti.


"Kenapa?


Dia belum mau?" tebak Papi.


Sandy tersenyum.


"Tuh....Papi tau..."


"Yaah..apalagi yang menghalangi kamu kalo bukan alasan itu ?"


"Dia....menyukai orang lain." renung Sandy.


Papi menatap Sandy.


"Kayak apa orangnya ?" tanya Papi.


Sandy memperlihatkan foto Reva.


"Cantik." kata Papi.


"Papi tau ?


Selama ini, aku nginep di rumahnya."


Sandy lalu bercerita.


"Kapan kamu mau ngajak Papi ke rumahnya?


Papi mau kenalan.


Ya udah.. besok kita kesana.


Malam ini kamu tidur di rumah Papanya Tia.


Jadi besok bisa kesana bareng Papi."


"Mami gimana,Pi?"


"Ah...Mami kamu biarin aja.


Diajak malah bikin masalah.


Gak usah.


Kita rapiin dulu masalah kamu sama Cindy.


Biar selesai..


Baru nanti kalo kamu udah ada kemajuan sama Reva, baru bilang.


Kalo sekarang sih...bisa ribut."


Sandy mengangguk.


Malamnya.


"Pi !


Sandy kemana sih ?


Kok gak pernah ada.


Kasian tuh.. Cindy udah jauh-jauh nyusul kemari..


Katanya gak pernah ketemu.


Mami juga gak pernah ketemu." omel Mami saat makan malam.


Papi menghela nafas.


"Sandy katanya lagi ada bisnis.


Biarin aja.


Laki-laki itu harus punya penghasilan yang besar biar nanti bisa manjain anak istri."


Mami tersenyum.


"Papi bener juga.


Eh..Pi..

__ADS_1


Punya mantu cantik kayak gitu..berarti nanti cucu kita ganteng-ganteng dan cantik dong ya ?"


"Hmmm..."


Papi malas menjawab.


"Pi...


Suruh cepet aja..


Kita pergi ke Taiwan..ngelamar.


Biar keiket.


Dulu kan Tia juga digituin Pih.


Makanya bisa jadi tuh mereka."


"Tanya Sandy."


"Lho iya .


Terus...kalo mantu kita artis terkenal kayak gitu kan...nama kita juga jadi naik Pih."


"Nama kita juga udah naik karna anak kita sendiri.


Sandy udah kerja keras buat naikin namanya sendiri.


Dia terkenal sebagai pengusaha game company.


Gak butuh artis buat naikin namanya dia.."


"Iya sih..


Tapi coba liat Michael.


Dia lebih terkenal lagi gara-gara kawin sama Tia.


Mami pingin Sandy kayak gitu Pih."


"Mih...


Jodoh kita gak tau.


Papi cuma pingin Sandy bahagia.


Buat apa kawin sama artis tapi dia gak bahagia."


"Lho...


Papi liat Cindy dong..


Matanya keliatan banget kok kalo dia mencintai anak kita."


"Hm..."


"Pih...


Jadi kapan kita ke Taiwan ?"


"Mami ke Taiwan mau ngapain?


Kalo mau ngelamar tunggu aba-aba dari Sandy.


Kalo mau main doang..ayukk..


Papi juga udah lama gak jalan-jalan."


"Dua-duanya dong Pih.


Minimal kita kenalan dulu"


"Tunggu Sandy." jawab Papi pendek.


Tuh.. Robert sama Michael udah punya anak.


Robert malah udah mau punya dua.


Sementara Sandy..istri aja belum punya.


Lagian...


Cindy cantik..terkenal dan kliatannya cinta sama Sandy.


Apalagi Pih ?"


"Setia."


"Apa ?"


"Selain cantik, terkenal, cinta, juga kudu setia .


Kalo enggak..kita bakal ragu..itu cucu kita beneran apa bukan ?!" tandas Papi.


"Lhoo...si Cindy sampe nyusul ke sini.


Katanya diomelin lho dia sama yang punya Maxx...tuh.. temen nya Tia.


Si Tia juga..bukannya bantuin calon iparnya." omel Mami.


Papi memutar badannya menghadap Mami.


"Pokoknya tunggu Sandy.


Dan kita gak usah ikut campur urusannya dia.


Sandy, anak kita, pinter.


Bukan laki-laki bodoh.


Biar dia yang memutuskan.


Kan dia yang mau kawin."


Mami cemberut.


Bibirnya maju setengah senti.


Papi memandang dengan gemas.


Mami Sandy masih terlihat sangat cantik di usianya.


Sandy mirip dengan Maminya.


Papi jadi teringat bagaimana dulu dia mengejar-ngejar Mami.


Saingannya banyak.


Tapi akhirnya Mami luluh juga padanya.


Papi tersenyum sendiri.


"Ngapain senyum-senyum sendiri, Pi ?" tegur Mami."


"Ah enggak..." elak Papi.


Takut Mami besar kepala kalau dia mengatakan terus terang.


"Pi...


Tapi beneran ya..kita ke Taiwan ?"

__ADS_1


"Mau ngapain ?"


"Ya nengokin Sandy dong !!" jawab Mami mengubah strategi.


"Hmm..


Nengokin Sandy oke..Tapi ikut campur urusan Sandy, Papi gak mau.


Anak kita udah dewasa.


Lagipula Sandy tipe mandiri.


Dia gak suka kalo kita ikut campur urusan dia.


Apalagi soal kawin." tandas Papi.


"Iya..iya..." jawab Mami sedikit menyerah.


"Nanti aja kalo yang lain juga pada mau ke Taiwan. Kita bareng mereka." kata Papi.


"Kapan mereka mau ke Taiwan ?"


"Bulan depan."


Senyum Mami merekah.


Bagus !!


Mami ingin cepat-cepat berkenalan dengan calon besannya.


Siapa tau bisa cepat-cepat mengikat keduanya.


Mami berencana mengadakan pesta besar-besaran.


Cindy kan artis.


Mami dengar dulu waktu Tia kawin, dia dapat banyak sponsor.


Jadi mereka juga tidak banyak mengeluarkan uang.


Sebagian besar ditanggung oleh sponsor.


Bahkan menurut gosip, mereka malah meraup untung.


Karena pernikahan nya di liput TV lokal dan mancanegara.


Mami ingin seperti itu.


Lagipula... Cindy cantik, seksi, dan terlihat mencintai Sandy.


Sandy pasti bahagia, demikian pikir Mami.


Mereka sampai di hotel.


Sebentar lagi rombongan Methrob harus pulang.


Masa berlibur sudah usai.


Jadi mereka sekali lagi mengadakan jamuan bersama.


Cindy duduk di meja.


Senyumnya yang merekah membeku melihat orang tua Sandy lagi-lagi hadir tanpa Sandy.


Michael dan Robert saja sudah datang bersama keluarga mereka.


Hanya Sandy.


Dan...Reva.


Alis Cindy berkerut.


Reva tidak pernah muncul.


Menurut Steven dan teman-temannya, Reva harus beristirahat penuh di rumahnya.


Dia dan Jenny harus berangkat besok.


Karena syuting akan dimulai 3 hari lagi.


Dia butuh istirahat setelah penerbangan panjang.


Tapi Sandy sepertinya tidak tau akan hal ini.


Dia menghilang.


Tidak pernah muncul.


Bahkan Maminya sendiri pun tidak tau dimana keberadaan anaknya.


Mami dan Papi hanya berkata bahwa Sandy sedang ada bisnis lain.


Bisnis di luar Methrob.


Jenny yang juga sering menghilang bersama Steven dan anak-anak Methrob yang lain juga mengatakan bahwa Sandy sedang sibuk.


Sibuk apa ?


Tidak ada yang tau.


Cindy memandang Jenny.


Jenny terlihat sedang mengobrol panjang lebar dengan Anna.


Mereka nampak akrab.


Cindy mengerutkan kening.


Dia tidak pernah suka dengan Anna.


Dulu saat pertama datang ke Methrob, dia menyuruh Anna membuatkan kopi untuknya.


Dia pikir Anna seorang sekretaris.


Dia baru tau saat Sandy mengatakan bahwa Anna head department di Methrob.


Jabatan yang tinggi.


Pantas saja Anna marah besar.


Tapi kan tetap saja..dia pacar pemilik Methrob.


Harusnya Anna menghormatinya.


Ahh..biar saja.


Toh yang penting sekarang Mami dan Papi Sandy sudah mengenalnya.


Jalannya akan semakin mulus.


Cindy berencana untuk secepatnya menikahi Sandy.


Nanti setelah mereka semua di Taiwan, dia akan intensif mendekati Sandy.


Kalau perlu, dia yang pindah ke apartemen Sandy dan membuat dirinya hamil.


Sebetulnya dia sudah siap membuat dirinya hamil sejak datang untuk liburan menemani Sandy.


Dia sudah tidak pernah lagi meminum pil kontrasepsi.


Dia ingin menjadikan Sandy miliknya.

__ADS_1


...⛰️🍎🎋...


__ADS_2