Kamu Milikku

Kamu Milikku
Gadis Penggoda


__ADS_3

Ambil baju ?


Terserah, pokoknya Reva masuk kamar dulu.


Sandy membuka pintu lebih lebar.


"Ayo masuk, Va." ajaknya.


Reva menatap Sandy, ragu-ragu sebentar.


Tapi dia tidak punya baju di kamarnya di lantai bawah.


Semua dibereskan Sandy saat Sandy memintanya untuk sekamar dengan dia.


Reva akhirnya melangkahkan kakinya melewati pintu.


Sandy menghembuskan nafas lega saat Reva menurut.


Dia akan merayu kalau perlu memaksa Reva untuk tetap tinggal di kamarnya.


Kamar mereka berdua.


Reva berjalan menuju lemari.


"Va.." kata Sandy memegang tangannya.


Mencegah Reva membuka pintu lemari.


"Aku tidur di kamarku aja, Om." jawab Reva dengan dingin.


"Va... please.


Aku gak niat bikin kamu marah."


Reva diam.


Dia menepis tangan Sandy.


"Om...Biarkan aku tenang dulu.


Oke ?


Ngeliat Om sekarang bikin aku emosi."


"Va...


Kamu boleh marah sama aku.


Pukul aku.


Kamu boleh ngamuk sama aku.


Aku terima salah.


Aku gak akan bales.


Lampiasin sama aku." kata Sandy membujuk.


"Aku minta waktu, Om


Tolong kasih aku jarak.


Biarkan aku berfikir."


Sandy menatap Reva.


Gadis ini keras kepala.


Sandy menghembuskan nafasnya.


"Oke...aku antar.


Tapi tunggu sebentar.


Aku mau mandi dulu.


Keringetan. Udah gak enak.


Ya ?" katanya.


Reva menatapnya lalu mengangguk.


Sandy mulai melepas jasnya.


Reva memalingkan muka.


Membuka lemari dan mulai mengeluarkan bajunya.


Di luar....


Cindy menyusuri koridor.


Menetapkan hatinya untuk menemui Sandy.


Tadi dia dan Helen melihat Sandy digiring oleh Robert dan Michael.


Sekilas pandang saja sudah terlihat wajah Michael yang memang dingin dan menyeramkan.


Cindy bergidik.


Kok bisa Tia mau sama orang seperti itu.


Cindy juga melihat wajah Sandy yang tertekan.


Pasti karena desakan teman-temannya yang memaksanya menikahi Reva.


Bibir Cindy berkerut marah.


Baiklah.


Dia akan menemani Sandy malam ini.


Sekaligus meyakinkan Sandy untuk meninggalkan Reva.


Kembali ke pelukannya.


Dan berjanji akan menjadi kekasih dan istri yang mencintai Sandy sepenuhnya.


Dia sampai di depan pintu kamar Sandy.


Tangannya terangkat.


Di dalam.


Bel berbunyi.


Sandy saling berpandangan dengan Reva.


Siapa malam-malam begini ?


Sandy melangkah ke pintu.


"Cindy..

__ADS_1


Ada apa ?" sapa Sandy.


Cindy ?


Reva memasang telinga nya.


Dia meletakkan baju yang sedang dimasukkan dalam kantung kertas.


Cindy memandang Sandy.


Terpesona.


Sandy hanya memakai kemeja yang sudah terbuka kancingnya.


Dia tadi hendak mandi saat bel berbunyi.


Otot-otot perut nya yang kencang dan berbuku-buku nampak jelas.


Dulu Cindy sering mengagumi dan membelai bagian itu sebelum turun ke bawah dan membuat Sandy mengerang.


Menikmati kelihaian jari dan lidahnya.


Cindy menelan ludah sebelum mampu berbicara.


"Saan...


Aku cuma mau liat keadaan kamu.


Tadi kamu kayak dipaksa pergi sama Michael dan Robert.


Kamu baik-baik aja kan ?"


"Aku baik kok.


Gak ada masalah."


Sandy diam sebentar.


"Udah malam Cin.


Kamu lebih baik kembali ke kamar mu." kata Sandy sambil mendorong pintu untuk menutupnya.


Cindy meletakkan tangannya di pintu.


"Kamu gak ngundang aku masuk, San ?


Aku mau meyakinkan diriku kalo kamu baik-baik aja.


Dan..ehmmm


Kita bisa bersenang-senang" kata Cindy menggoda.


Reva mengerutkan keningnya.


Bersenang-senang ?


Dia mau menjebak Sandy ?


Reva menipiskan bibirnya.


Dia berjalan ke lemari.


"Aku capek.


Udah malam.


Aku mau istirahat. " jawab Sandy.


"Saan..


Biarkan aku masuk.


Ayo kita bicara."


Cindy maju, dia melarikan jarinya mengelus wajah Sandy.


Sandy segera mundur.


Jantungnya berdebar, takut Reva melihat.


Ni cewek gak bisa berenti menimbulkan masalah buat gue ! makinya.


"Enggak Cin.


Aku..."


"Dia gak perlu ditemani.


Udah ada aku.." sahut satu suara di belakang mereka.


Menyela apapun yang ingin Sandy katakan.


Cindy terbelalak saat melihat Reva.


Sandy pun tak kalah terkejut.


Reva berjalan pelan menghampiri mereka.


Dia memakai kemeja Sandy.


Tiga kancing teratas terbuka memperlihatkan


branya dan sebagian tonjolan gunung kembarnya.


Dia tidak memakai apa-apa lagi.


Hanya kemeja Sandy yang kedodoran di tubuhnya yang langsing.


Pipinya memerah.


Rambutnya sedikit berantakan.


Terlihat seperti Sandy baru mengacak-acak rambutnya dalam kemesraan mereka.


Reva lalu menempelkan tubuhnya pada Sandy.


Tangannya mengambil satu tangan Sandy.


Melingkarkannya ke leher.


Telapak tangan Sandy diletakkan di dekat dadanya.


Sedikit menyelipkannya ke dalam kemejanya yang terbuka.


Menyentuhkan ujung jari Sandy di belahan dada yang kencang dan mulus.


Jantung Sandy berdetak kencang.


Reva begitu seksi dan menawan.


Cantik dan menggairahkan.


"Oh.. ternyata kamu Cin...

__ADS_1


Ngapain ke sini malam-malam ?" tanya Reva enteng.


Bibir Cindy terbuka.


Dia tidak mampu menjawab.


"Sandy lagi sibuk.


Besok aja ya ?" kata Reva.


Satu kakinya naik melilit kaki Sandy.


Telapaknya menelusuri betis Sandy yang tertutup celana panjang.


Menggoda Sandy.


Pahanya yang polos terlihat di sela-sela kemeja Sandy yang dipakainya.


Sandy melirik kearah kepala Reva.


Lalu melirik kearah paha nya yang polos.


Betisnya merasakan kaki Reva yang membelainya.


Pusat dirinya mengeras.


"Si...sibuk ?" kata Cindy terbata.


Dia sama sekali tidak menyangka Reva ada di kamar Sandy.


Tadi di ballroom terlihat jelas pertengkaran mereka.


Reva meninggalkan Sandy.


Dan kemudian Sandy digiring oleh teman-temannya.


Reva juga pergi dengan teman-temannya sendiri.


Dia menatap kaki Reva yang sedang sibuk.


Menengadah menatap Sandy yang sedang menunduk mengamati tingkah Reva.


Terlihat Sandy sangat menikmatinya.


"Hmm..


Kamu menyela sesi sibuknya kami." jawab Reva sambil mengedipkan matanya pada Cindy.


Seakan sedang menceritakan rahasia tertentu.


Bibirnya menyunggingkan senyum malas.


Reva mengangkat telapak tangan Sandy.


Tanpa ragu membawa jari telunjuk Sandy ke mulutnya.


Menghisap lalu menjilat perlahan.


Lidah merah muda terlihat menelusuri sepanjang jari telunjuk Sandy.


Pusat diri Sandy tambah mengeras.


Dia tidak menyangka Reva akan melakukan itu untuk memprovokasi Cindy.


Dan dirinya.


Nantang niy cewek ! batinnya.


"Diam aja..


Kamu mau ngomong apa sih ?" kembali Reva bertanya.


Satu tangannya menyelip ke dalam kemeja Sandy yang terbuka.


Membelai kulit pinggang Sandy yang polos.


Sandy bergidik.


Dia tidak tahan lagi.


"Udah ya Cin." katanya.


Langsung menutup pintu.


Cindy terbelalak menatap pintu yang dibanting di hadapannya.


Braak..


Suara itu terdengar Sesaat dia berjalan pergi.


Sepertinya Reva sedang di tekan ke pintu oleh Sandy yang tidak sabaran untuk mencumbu.


Cindy berhenti lalu menoleh.


Tangannya mengepal.


Wajahnya memerah karena marah.


Dia betul-betul kesal.


Jadi rencananya tidak berhasil.


Mereka bukan hanya akur tapi malah sedang asik bermesraan.


Kurang ajar !! geramnya.


Yang sebenarnya terjadi adalah, Reva membentur kan dirinya sendiri ke pintu.


Dia ingat trik ini dulu saat Steven ingin menjauhkan diri dari Lily.


Tapi tindakannya malah memancing Sandy.


Sandy langsung mengurungnya dengan kedua tangan.


Tubuhnya dipepet begitu ketat.


Braak..


Lutut Sandy membentur pintu.


Suaranya kembali terdengar oleh Cindy yang sedang berjalan menjauh.


Cindy mempercepat langkahnya.


Dia tidak ingin mendengar lebih banyak..


Cindy tau sekali seperti apa Sandy saat sedang bergairah.


Tangannya menutup kedua telinganya.


Bibirnya cemberut.


...🌴🍇🎀...

__ADS_1


__ADS_2