Kamu Milikku

Kamu Milikku
Dimana Dia ?


__ADS_3

Di ujung jalan sana terlihat Sandy berdiri menunggu.


Mas Sandy !


Kenapa dia ada di sini ?


Reva bingung.


Dia menoleh ke kanan kiri.


Tidak ada orang.


Reva kembali memandang Sandy.


Sandy nampaknya menyadari kehadirannya lalu menolehkan kepalanya.


Reva !!


Sandy memanggil nya.


Reva !!


Sandy kembali terlihat memanggil namanya.


Reva melambai dan berteriak.


"Maaaas !!"


Sandy mendekat.


Saat Sandy berdiri dihadapannya, Matanya memandang jari manis Reva.


Keningnya berkerut.


"Mana cincin pertunangan kita ?" tanyanya.


Reva menunduk.


Dia menatap cincin bermata merah di jari manis kirinya.


"Mas..." jawabnya tersendat.


"Kamu hilangkan, Va ?" tanya Sandy sinis.


Reva menggeleng keras.


"Enggak Mas !" bantahnya.


"Betul gak kamu ilangin ?!" kejar Sandy.


Reva tercekat sejenak.


"Enggak Mas..Enggak. Ada kok." jawab Reva mencoba menenangkan Sandy.


"Dimana ?!"


"Ada..."


"Pokoknya aku gak mau tau, Va. Cincin itu harus ada saat kita menikah !!" potong Sandy.


"Iya Mas...iya.. Ada di...eee....ada di kamarku." jawab Reva lagi.


Sandy lalu tersenyum.


"Oke." katanya.


Sandy lalu berjalan menjauh.


"Mas...mau kemana ?" cegah Reva.


Sandy tidak menjawab.


Dia terus mengayunkan langkahnya menjauh.


"Maas, tunggu !!" panggil Reva.


Tapi Sandy tidak menghiraukan nya.


Dia terus berjalan.


Sosoknya hilang di deraian salju yang turun.


Reva berusaha mengejar, dia memanggil-manggil.


Tapi suaranya seakan hilang.


Reva terduduk.


Matanya kembali memejam.


Rasanya lelah sekali.


Reva !!


Reva membuka matanya.


Tapi salju memberati bulu matanya. Memaksanya kembali menutup mata.


Lalu mencoba membuka matanya.


Tapi dia lelah.


Lelah.


...❄️❄️❄️...


Steven mengetuk-ngetuk jarinya di setir mobil.


Matanya tak lepas dari sosok tubuh yang meringkuk di pojok emperan toko.


Sesekali dia melirik jam di dashboard mobil.


Belum saatnya.


...❄️❄️❄️...


Va...


Bangun.


Reva membuka mata.


Steven sedang tersenyum padanya.


Reva balas tersenyum.


Dia tidak ingin membuat Steven marah yang akan memberi alasan bagi Steven tidak mengembalikan cincin miliknya.


"Steve..." sapanya lembut.


"Va...Ayo bangun." kata Steven.


Reva mengangguk lalu mencoba mengangkat tubuhnya.

__ADS_1


Hhh...


Dia lelah sekali.


Dia tidak mampu mengangkat dirinya.


"Steve..Gak bisa..." katanya lemah.


"Va....Bangun..."


Suara Steven terdengar lembut.


Reva menggeleng.


"Aku capek, Steve..." jawabnya.


"Kamu harus bangun.."


Reva kembali menggeleng.


"Hhh...Aku pingin tidur." keluhnya.


"Ayo Sayang...bangun."


Reva menggeleng.


"Katanya mau ngambil cincin.." bujuk Steven.


"Aku capek. Aku mau tidur dulu sebentar." jawab Reva.


Reva kembali memejamkan matanya.


...❄️❄️❄️...


Sandy mengusap rambutnya.


Matanya terus menatap layar ponsel.


Reva masih di Beijing.


Tiga titik menandakan keberadaannya.


Satu menunjukkan keberadaan ponselnya dan dua titik lagi menunjukkan koper dan tas selempangnya.


Harusnya ketiga titik itu sedang transit di Hongkong.


Tapi ketiga titik itu tidak bergerak dari hotel Rosewood.


Sandy sudah mencoba menghubungi Reva, tapi ponselnya mati.


Hotel Rosewood yang dia hubungi membenarkan bahwa Reva belum checkout dari kamar nya.


Sandy mengetikkan kode di laptopnya.


Mike ada di kantor klien mereka.


Steven tak terlacak.


Memang bukan pertama kalinya mereka tidak bisa melacak keberadaan Steven.


Justru itulah keunggulan program yang dibuat oleh Steven dan diam-diam dibeli oleh banyak pengusaha, pemimpin-pemimpin negara, petinggi militer dan selebriti dunia.


Sandy mengurut pelipisnya.


Terdengar suara orang berhenti di pintu.


Sandy mengangkat wajah.


Robert masuk dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Kenapa ? Mau kawin kok mukanya gak cerah ?" katanya.


Sandy menyandarkan kepalanya ke kursi.


Tangannya mengusap wajah.


Robert duduk di hadapan Sandy.


"Reva, Bet. Reva masih di Beijing. Harusnya dia udah dalam perjalanan pulang.." kata Sandy kembali mengusap wajahnya.


"Delay gak ? Kan baru kemarin dulu ada badai salju." jawab Robert mencoba mencari kemungkinan yang masuk akal tentang mengapa Reva batal terbang.


Sandy menggeleng.


"Pesawatnya udah terbang. Tapi Reva gak ada dan gak bisa dihubungi. Kamarnya ditelpon gak diangkat. Aku gak tau dia kenapa, gimana, ada apa ! Karna aku gak bisa kontak dia, Bet !"


Sandy akhirnya berkata dengan emosi.


Robert mengerutkan kening.


Dia lalu meraih ponselnya dan menelpon Biliyan, istrinya.


"Sayang..." sapa Biliyan.


"Bil...honey... Kamu tau dimana Reva ?" tanya Robert.


"Reva ?"


"Iya. Reva. Kamu tau dimana dia ?"


Sandy memandang lekat-lekat pada Robert.


"Lho..bukannya dia pulang ?"


"Enggak."


"Hah ?! Seminggu lagi hari H nya. Kenapa dia belum pulang ?!" sahut Biliyan kaget.


"Ya itulah ! Coba kamu tanya Tia deh. Tolong ya.. Sandy khawatir nih." pinta Robert.


"Oke.. Nanti aku kabarin." jawab Biliyan.


Robert memutuskan hubungan.


Dia dan Sandy saling pandang.


"Lu gak mau tanya sama Michael ?"


Sandy tidak menjawab, matanya menatap lurus pada Robert.


Penuh makna.


Robert menggelengkan kepalanya.


"Lu salah sangka sama Michael. Michael gak sejahat itu sama lu. Dia hanya..."


"Dia hanya gak mau Reva terluka karena gue." jawab Sandy lugas.


Robert menghela nafas.


"Dia khawatir sama Reva. Dan itu wajar. Kami semua begitu. Reva gadis baik. Sedangkan lu..."


"Sedangkan gue punya masa lalu kelam." gumam Sandy cukup keras.

__ADS_1


Robert memandang Sandy lama.


"Mantan lu terlalu terobsesi sama lu. Kita liat kejadian di kapal pesiar... Di resto... Dia tau banget kalo kalian sudah tunangan. Dan lu..."


"Dan gue juga ternyata gak bisa bersikap tegas ."


Robert tidak menjawab.


Toh Sandy sudah menjawabnya sendiri.


Artinya dia sudah melakukan refleksi diri.


"Gue mencintai Reva, Bet. Sangat. Gue janji sama diri gue sendiri, gue bakal bahagiain dia, melindungi dia dan gak akan bikin dia terluka. Kalo enggak...ngapain gue ngawinin dia ?!" kata Sandy pada Robert tapi lebih pada dirinya sendiri.


Robert tidak menjawab.


Keheningan menyelimuti mereka berdua.


Tak lama....


Robert menunduk.


Ponselnya bergetar.


"Sayang..."sapa Biliyan.


"Iya.. Ada kabar dari Tia ?"


"Hmmm.... Tia juga bingung. Akhirnya dia telpon Mamanya Reva. Mamanya malah gak tau kapan tepatnya Reva pulang. Reva bilang nanti kalo nyampe Jakarta, baru dia telpon. Jadi Mamanya lagi nunggu. Karna persiapan pernikahan sudah selesai. Tinggal ngepas baju pengantin aja."


Sandy mendengarkan suara Biliyan dari speaker yang dipasang oleh Robert.


Tak lama ponselnya bergetar.


Tia.


"Halo Ti..." sapanya.


"Ko ! Reva belum pulang ?" tanya Tia dari ujung line.


Sandy mengurut pelipisnya.


"Belum Ti. Sepertinya dia masih di Beijing. Kamarnya juga belum check out. Tapi ponselnya gak bisa dihubungin."


"Aku juga ngubungin Reva tapi gak berhasil. Aku telpon Mbak Wid, tapi dia juga gak bisa hubungin Reva."


Sandy mengangkat wajahnya menatap Robert.


Matanya bersinar cemas.


Robert sudah selesai menelpon.


Suara langkah kaki terdengar.


Michael masuk ke ruangan Sandy.


"Siapa itu ?" tanyanya menunjuk ponsel di meja Sandy.


"Mas !" sapa Tia yang dari ujung line mengenali suara Michael.


"Ti..." sapa Michael.


Dia berjalan mendekati meja.


"Mas..gimana ?"


"Gue udah kontak Steven dan Mike, tapi ponsel mereka off. Gue hubungin kantor klien kita tapi Mike juga gak tau dimana Steven." kata Michael dengan suara keras agar terdengar oleh Tia di telpon.


Matanya menatap Sandy.


"Aduh....gimana ini ?" suara Tia terdengar cemas.


"Besok gue ke Beijing." putus Sandy.


Michael mengangguk.


"Oke. Gue temenin." kata Michael.


"Gak usah Kel. Gue bisa sendiri. Tapi tengkyu tawarannya."


"Ko...San ! Biar Mas Michael temenin ya.. Dua kepala lebih baik dibanding satu." kata Tia dari ujung telpon.


"Gak usah, Ti." tolak Sandy.


Michael mengerutkan keningnya.


"San..." katanya ragu-ragu.


Sandy menatapnya.


"Apa ? Ngomong aja. Kita semua temenan udah lama banget. Gue terbuka kok." katanya dengan tenang.


Michael mengerling sebentar pada Robert.


"Kalo ini ada hubungannya sama Steven...Gue harap lu bisa... Eee...bisa nahan diri." kata Michael.


"Nahan diri untuk apa ? Untuk gak menghajar dia habis-habisan ?" jawab Sandy dengan tenang.


Michael menghela nafas.


"Steven masih muda. Reaksinya masih impulsif. Lu.."


"Emang kita umur berapa Kel? Gue baru dua delapan. Masih muda juga. Kalo dia main kasar, gue juga bisa !" potong Sandy.


"Tapi..."


Michael masih mencoba menenangkan Sandy.


"Mas..." potong Tia.


"Ya ?"


"Biar Ko Sandy yang menyelesaikan. Ko...pergi ! Susul Reva. Kalo udah ketemu..kabarin kami. Apapun keputusan lu, gue dukung." kata Tia.


Wajah Sandy sedikit cerah mendengar kata-kata Tia.


"Thanks Ti. Gue kabarin nanti."


"Oke...Semoga kalian selamat dan lancar ya. Ingat Ko.. Ibadah itu emang banyak halangannya. Tapi kalo lu sabar ngejalaninnya, semua gak akan sia-sia. Ada buah manis yang menunggu lu." kata Tia lagi.


Sandy tersenyum.


"Love you, Ti..." katanya sambil melirik Michael.


Michael balas melotot.


Sementara Tia dan Robert tertawa.


Ah... syukurlah.


Jangan sampai persahabatan sekian tahun rusak karena kesalahpahaman..batin mereka.


...🌼🌹🌻🌹🌼...

__ADS_1


__ADS_2