Kamu Milikku

Kamu Milikku
Lepaskan..


__ADS_3

Sandy mencari-cari grup Reva.


Tadi dia menonton SHE.


Menikmati atraksi yang dimainkan oleh Reva.


Dan kemudian, dia bertemu dengan klien Methrob.


Mengobrol lama dengan mereka bersama Michael dan Robert.


Sekarang dia ingin menemui Reva.


Dia melihat sekilas sosok Jasmine.


Sandy tersenyum.


Dia melangkah mendekati.


"Hai...


Selamat ya..


Kalian bagus banget." sapanya.


Mereka semua menatapnya was-was.


"Eh...oh...Makasih ya..." sahut Selina akhirnya.


Sandy mengerutkan keningnya.


"Mana Reva ?" tanyanya tetap tersenyum.


Mereka semua saling berpandangan.


Reva sudah dibawa pergi sejak setengah jam yang lalu bersama Steven.


Entah dimana mereka sekarang.


Mini berdehem.


Kembali mereka saling bertukar pandang.


"Emm..Reva...tadi...emm..."


"Reva tadi dibawa Steven." sela Esse.


"Apa ?!" Sandy terkejut.


"Esse !!"


Teman-temannya mengingatkan.


Esse mendelik.


Dia menatap Sandy.


"Reva tadi dibawa Steven.


Padahal...ehemm...


Padahal disini ada ibunya Steven.


Bagaimana kalo ibunya menemukan Mereka ?


Habis nanti Reva !" kata Esse mengadu pada Sandy.


Sandy mengeluarkan ponselnya.


"Oke..aku akan cari Reva.


Thanks infonya." katanya sambil meninggalkan mereka.


"Esse !!"


"Apa ?


Reva Tadi dipaksa untuk ikut dia.


Padahal mereka udah putus kan.


Dipaksa putus sama ibunya.


Aku sih..mending milih Sandy.


Ribet kalo orang tua mulai ikut campur." omel Esse.


Teman-temannya mengangguk-angguk.


"Iya..


Aku juga mending sama Sandy." kata Selina.


"Aku juga." kata Jasmine.


"Yaah..


Mereka berdua sama-sama mencintai Reva.


Tapi...mending sama Sandy deh.


Aku serem sama ibunya Steven." kata Mini.


"Terus...kalo kalian ingat..


Gara-gara Sandy lho, Reva jadi konsen lagi mainnya.


Kita semua harusnya berterima kasih sama Sandy.


Kalo gak ada dia....


Belum tentu band kita bisa sebagus ini mainnya malam ini." kata Esse.


Sementara di kamar.


Steven mendekati Reva dengan langkah pelan.


Langkahnya seperti harimau yang sedang mendekati mangsanya yang sudah tidak berdaya.


Tanpa sadar Reva mundur.


Hatinya menciut.


"Aku mau apa, Va ?" kata Steven pelan.


Reva diam.


Menatap Steven dengan was-was.


"Kita perlu bicara, Va."


"Kita udah cukup bicara, Steve."


"Kamu gak kasih kesempatan kita untuk bicara.


Kamu mendadak ngomong kalo ibuku nyuruh kamu ngejauhin aku..

__ADS_1


Dan tau-tau kamu menghilang..


Begitu saja."


"Terus kamu mengharapkan apa, Steve?"


"Va...


Aku ini laki-laki.


Ibuku gak bisa ngatur hidup aku begitu saja."


"Dia bisa.


Dia melahirkan kamu, Steve."


"Dia enggak bisa, Va !"


"Oke....Terus..kamu mau apa ?"


"Kita terus, Va."


Reva menatap Steven tak percaya.


"Aku gak bisa." jawabnya tegas.


Steven menaikkan alisnya.


"Kenapa gak bisa ?


Karena kamu udah berpaling sama Sandy kan ?"


"Karena aku gak pingin ngerubah anak orang jadi anak durhaka."


"Astaga !!"


Gak usah banyak alasan, Va !!"


"Tapi itu alasanku yang sebenarnya.


Ibumu...ibumu pasti pingin yang terbaik buat kamu, Steve.


Dan aku gak mau jadi dinding penghalang hubungan antara kamu dengan ibumu."


"Ibuku gak perlu masuk dalam hubungan kita, Va."


Reva menghela nafas.


Dia lelah.


Reva lalu duduk di ujung tempat tidur.


"Ibumu..akan selalu ada di dalam hubungan kita, Steve."


"Kita kawin, Va."


Reva mendelik.


"Kamu pikir setelah kawin, kita gak akan berhubungan dengan ibumu ? Keluarga mu ?


Kawin itu bukan cuma antar dua orang, Steve,


tapi penyatuan dua keluarga.


Aku gak mau punya ibu mertua yang membenciku.


Membenciku karena menganggap gara-gara aku, anaknya melawan dia.


Sampai kita punya anak..


Punya cucu..


Aku enggak mau, Steve.


Tolong..pahami !"


Steven berlutut dihadapan Reva.


Dia memegang kedua tangan Reva.


"Va...


Aku mencintai kamu.


Aku gak akan ngebiarin kamu menghadapi ibuku seorang diri." katanya memohon.


Reva menunduk.


Menatap dalam mata Steven.


Hatinya begitu sakit.


Dia pun masih menyimpan rasa pada Steven.


Tidak mudah melupakan seseorang yang sudah ada di hati hampir tiga tahun lamanya.


"Aku yang gak bisa, Steve.


Waktu ibu kamu datang...


Aku...aku melepas kamu Steve.


Aku cuma enggak tau...kapan aku punya keberanian ngomong ke kamu."


"Va..."


Reva menutup matanya.


"Aku harus pergi Steve.


Ada jumpa pers."


Reva bangkit.


"Va !!"


Reva berjalan menuju pintu.


"Va !"


Steven memeluk Reva dari belakang.


Tidak ingin melepaskan nya.


"Lepasin Steve..."


"Enggak.


Aku gak akan ngelepas kamu, Va.


Aku gak pernah mencintai orang lain seperti aku mencintai kamu, Va." bisik Steven di telinga Reva.


"Steve...


Kamu sama aku...

__ADS_1


Kita adalah dua dunia yang berbeda.


Gak akan pernah bisa bersatu."


"Apanya yang enggak bisa bersatu..


Kita sama-sama manusia , Va...


Kenapa gak bisa bersatu.


Budaya, adat,segala macem itu semua cuma bikinan manusia.


Tapi Tuhan menciptakan manusia sama.


Jadi kenapa kita enggak bisa bersatu..."


"Steve..


sebanyak apapun kita melawan...


kita bakal ketemu sama yang namanya adat, budaya, ras.


Lepasin Steve.


Aku juga ngelepasin kamu."


Reva berkata dengan rasa sakit di hatinya.


Matanya berlinang.


Pelukan Steven makin kuat.


Ibu jarinya menghapus air mata di pipi Reva.


"My girl...


Aku gak bisa, Va.."


Reva menarik lepas pelukan Steven.


"Aku harus pergi Steve..


Ada jumpa pers." katanya.


Reva lalu setengah berlari keluar dari kamar dan langsung menuju lift.


Diam sebentar lalu menekan tombol lantai teratas.


Dia melangkah di lantai roof top.


Ada cafe disana.


Saat ini sedang sepi.


Karena semua orang terpusat di grand ballroom.


Suasananya remang-remang.


Masih ada waktu setengah jam sebelum acara jumpa pers.


Dia ingin menenangkan dirinya.


Sementara di bawah.


Sandy mencari Reva kemana-mana.


Robert dan Michael juga ikut mencari.


Steven yang sudah turun ke ballroom terkejut saat mereka bertanya dimana Reva.


Jadi Reva tidak ada di sini ?


Kemana gadis itu ?


Dia ikut mencari.


Sepuluh menit sebelum acara, Reva turun.


Dia sudah segar.


Reva masuk ke ruang makeup.


Minta untuk di make up ulang.


Dan tidak ada satupun dari para pencarinya yang berfikir untuk mencari Reva di ruang makeup.


Saat jumpa pers dimulai, Reva sudah siap bersama teman-temannya.


Sandy yang sedang mencari Reva di roof top di telpon oleh Michael.


"San ..


Udah ketemu."


"Hah ?!


Dimana ?"


"Ada nih...lagi jumpa pers.


Seger kok." jawab Michael sambil menatap wajah Reva yang duduk di meja jumpa pers.


"Astaga....


Itu anak !!" kata Sandy dengan geram tapi sekaligus lega.


Sandy lalu menelpon Steven.


"Boss..." angkat Steven.


"Reva...


Udah ketemu.


Dia ada di jumpa pers."


Steven diam.


"Steve....?"


"Eh...iya Boss..." jawab Steven tergagap.


Sandy memutuskan hubungan.


Dia lalu turun melalui lift.


Steven menonton jumpa pers Reva.


Menatap gadis itu.


Reva terlihat segar.


Dia menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan dengan lancar.


Dia salah satu yang menjadi penerima pertanyaan terbanyak karena semua orang tau bahwa dia keponakan penyanyi terkenal, Tia.

__ADS_1


Dan para wartawan menyukai atraksinya tadi.


...🎀...


__ADS_2