Kamu Milikku

Kamu Milikku
Pulang Duluan


__ADS_3

Reva sparring dengan Anna.


Badannya yang lesu membuat dia berkali-kali dikunci.


Dia memang sedang lelah.


Setelah ini dia harus membuat tugas.


Sore nanti walaupun hari Sabtu, dia harus ke lab.


Akhirnya...dia duduk menyendiri di sudut.


Menonton dari jauh.


Josh menghampiri.


"Kenapa ?" tanyanya.


"Capek." jawab Reva.


Tia datang menghampiri.


"Tumben, Va...lemes"


"Iya Tan..


Tumben Tan..ikutan ?" tanya Reva.


Tia melirik Josh sebentar.


"Pada mau ikut nonton.


Jadi rame-rame deh."


"Termasuk yang itu ?" tanya Reva.


Bibirnya mengerucut ke arah Cindy.


Tia mendekat, wajahnya menyiratkan berita gosip.


"Gara-gara dia, kita semua jadi ikut.


Kasian om Sandy.


Dipepet terus." jawabnya pelan.


Reva menghembuskan nafasnya sambil menutup mata.


"Semalam dia datang.


Ikut makan malam. Diajak sama Maminya Sandy." lanjut Tia pelan.


Reva membuka mata.


"Oh ..Ibunya Om Sandy setuju sama mereka ?"


Tia mengangguk.


"Kayaknya begitu.


Malah...disuruh cepetan."


Rasa marah dan cemburu menyelusup dalam hati Reva.


Reva menggelengkan kepalanya.


ini bukan urusan dia! begitu katanya dalam hati.


Tapi ini urusan dia ! begitu kata dirinya yang lain.


Kalau bukan urusan dia, dia tidak akan mungkin mau begitu saja dicium oleh Sandy semalam.


Entah sejak kapan tapi...


Perlahan hatinya mulai terbuka pada perhatian Sandy.


Reva lalu menatap Sandy.


Dia mulai merasa sebal.


Dia ingin fokus pada kuliahnya.


Dan kini malah harus berhadapan pada urusan seperti ini.


"Ya sudah..


Kalo gitu.. kawinin aja.." jawabnya kesal.


"Huss..." kata Tia.


"Tante..


Kalo orang tua nya udah setuju...tunggu apalagi ?!


Kawinin aja !" katanya mendelik.


Tepat pada saat itu Sandy menatap nya.


Reva memalingkan mukanya dengan judes.


Malas menatap Sandy.


Sandy mengerutkan keningnya.


Lalu matanya menangkap sosok Cindy.


Perlahan kesadaran melingkupinya.


Bibirnya tersenyum lebar.


Ah...Reva cemburu.. Bagus !!


Sedikit demi sedikit dia ingin menghapus Steven dari benak Reva.


Sandy berjalan mendekati Reva.


Tampak Biliyan ikut duduk di sebelah Reva.


Lalu Mami Michael dan Mami Robert.


Mereka membuat lingkaran.


Tangannya di tarik.


Sandy menoleh.


Cindy.


Di sudut lain, Steven menatap Reva.


Reva terlihat lesu.


Steven bangkit.


"Va !!


Sparring sama aku !" katanya dengan cukup keras.

__ADS_1


Reva mengangkat wajahnya.


Bibirnya tersenyum.


Reva berdiri.


Steven juga berdiri.


Ada satu matras kosong.


Josh ikut berdiri.


Reva membuka ikatan rambutnya lalu menguncirnya lagi. Merapikan rambutnya.


Steven mengamatinya.


Mereka lalu berputar-putar mencari posisi yang enak untuk menyerang.


Reva menendang.


Steven mengelak.


Reva memukul yang kemudian ditangkis Steven.


Steven menendang kaki Reva.


Reva terjatuh yang langsung ditindih oleh Steven.


Nafas Reva terdorong keluar.


Dia menatap Steven.


Steven tersenyum kecil.


"Ayo, Va...lawan aku." katanya pelan sambil terkekeh.


"Kamu !!" balas Reva juga pelan.


Reva berusaha untuk mengunci Steven.


Kakinya menjungkit badannya.


Berusaha sekuat tenaga membalikkan badan Steven yang lebih besar darinya.


Steven malah terkekeh.


"Ah..kamu, Va.!" katanya.


Lalu melepaskan Reva.


Dia lalu menawarkan tangannya agar Reva bangun.


Reva meraih tangan Steven.


Mereka kembali berhadapan.


Reva memukul, Steven menepis.


Reva menendang, Steven mengelak.


Reva lalu menendang kaki Steven lalu menerjang.


Steven terjatuh. Tangannya memegang Reva, membawa Reva ikut terjatuh menimpanya.


Keduanya saling memegang.


Sandy berdiri.


Menonton lebih dekat.


Cindy mencolek Mami.


"Yang lagi sparring ?" tanya Mami.


Cindy mengangguk.


"Tuh..liat Sandy Mam.." angguk Cindy pada sosok Sandy yang menonton dengan kening berkerut.


Mami ikut mengamati Sandy.


Dia melihat anaknya terlihat marah.


Marah ?


Cemburu ?


Mami lalu melayangkan pandangannya pada Reva yang sedang berusaha mengunci Steven.


Diam-diam takjub juga dengan kekuatan Reva.


Lawan Reva bukannya kecil.


Steven satu kepala lebih tinggi dari Reva. Bahunya lebar, tangan nya berotot.


Tapi Reva tetap adu kekuatan dengan lawannya. Dan belum kalah.


Mami kembali menatap Sandy.


Sandy sudah terlihat akan maju memisahkan keduanya saat wasit, Josh, maju memisahkan Reva dan Steven.


Reva berdiri.


Rambutnya berantakan.


Dia lalu melepaskan ikatan rambutnya, menggerai, mengibaskan kepalanya agar rambutnya terurai lalu mengikatnya kembali.


Sandy dan Steven menelan ludah melihatnya.


Reva kembali bersiap-siap.


Cindy berjalan mendekati Sandy.


Dia berdiri di samping Sandy.


Reva melirik.


Sandy sedang menatapnya.


Cindy juga sedang menatapnya.


Tangan Cindy menggapai pinggang Sandy.


Reva merapatkan bibir.


Berkonsentrasi untuk menyerang Steven.


Reva menyerang, melakukan pukulan tipuan lalu melancarkan tendangan memutar.


Steven mengelak, saat Reva memutar, dia menangkap pinggang Reva. Membawanya menempel pada dirinya.


Dan sekilas tanpa kentara, mencium pipinya.


Reva tersentak.


Pipinya memerah.


Dia melirik sekitarnya.

__ADS_1


Bertanya-tanya adakah yang melihat.


Lalu memandang Steven.


Steven sedang memandangnya.


Matanya berkilat jail.


Reva menghembuskan nafas.


Tangannya naik keatas tanda menyerah.


"Josh...aku udahan." katanya.


Josh memandang Steven sejenak.


Lalu mengangguk.


Reva berbalik meninggalkan arena, mengambil tasnya lalu masuk kamar ganti.


Sesaat kemudian dia keluar sudah berganti pakaian.


Dia mendekati Tia dan rombongan nya.


"Tante, saya pamit dulu.


Harus bikin tugas." katanya.


"Pulang sama siapa, Va ?" tanya Biliyan.


"Sendiri aja Tan.


Masih pada latihan kan..


Saya harus buru-buru." katanya.


Reva lalu langsung menyalami semua grup ibu-ibu.


Termasuk Mami Sandy.


Sesaat dia ragu sejenak sebelum mengulurkan tangannya pada Cindy.


Cindy melirik sejenak pada Mami Sandy lalu menyambut uluran tangan nya.


Tidak enak kalau dia tidak menyambut.


Semua orang memperhatikan nya.


Reva bergegas keluar. Berjalan cepat menuju halte


Di halte bus, dia naik bis pertama yang datang. Tak peduli dengan jurusannya.


Pokoknya dia ingin pergi dari sana.


Bis ternyata menuju kota distrik sebelah.


Reva menikmati perjalanannya.


Ada temannya yang tinggal di sana.


Reva mengontaknya.


Berjanji bertemu di satu kedai makan.


Satu jam kemudian Reva sudah duduk menunggu temannya datang.


Dia memesan grape cheese smoothie dan sepotong pie susu dan brownies.


Dia membuka ponselnya.


Dua pesan dari Sandy dan Steven yang isinya, "Kamu dimana ?"


Reva meneruskan menscroll.


Tidak mempedulikan pesan-pesan itu.


Temannya datang.


Kemudian satu lagi.


Kemudian satu lagi.


Berempat mereka mengobrol di cafe itu.


Beberapa saat kemudian, satu orang dihampiri oleh pacarnya.


Hingga kini mereka menjadi berlima.


Dan bahan gosipnya semakin banyak.


Cafe itu memang cafe tempat berkumpulnya anak-anak muda.


Baik yang masih sekolah maupun yang sudah kuliah.


Suara dengung percakapan menggema di dalam cafe.


Reva tenggelam dalam obrolan mereka.


Pesanan makanan pun bertambah.


Dua jam kemudian, mereka baru selesai.


Dan berniat pindah tempat.


Rencananya mereka akan nonton di cinema.


Reva menarik pintu saat dahinya di dorong oleh telunjuk seseorang.


"Mau kemana lagi ?!"


Reva mendongak.


Terkesiap.


Steven.


Teman-temannya ikut menatap Steven.


"Siapa, Va ?" tanya salah seorang.


Steven menatap mereka semua.


"Pacarnya dia."


Steven lalu menatap Reva.


Menantang untuk membantah.


Dan Reva langsung membantah.


"Bukan... bukan..." katanya panik sambil mengibas-ngibas kan tangan nya.


Steven tersenyum simpul.


Dia merangkul kan tangannya ke pinggang Reva. Menariknya mendekat.


"Dia masih malu." katanya.

__ADS_1


"Steve !!"


__ADS_2