
"Kamu ketemu Reva ?" tanya Robert.
"Enggak.
Beijing dilanda badai salju.
Reva lagi liburan main ski di luar Beijing." jawab Steven.
Michael menatap Sandy.
Sandy mengangguk membenarkan.
Dari jawaban Steven, nampaknya dia belum tau kalau Reva sudah kembali ke Beijing.
"Ooo...
Asik ya main ski.
Nanti kapan-kapan aku juga mau ajak Jason ke sana." jawab Michael basa-basi.
Steven mengangguk. Dia tidak mengatakan apa-apa.
"Oke..
Aku gak mau ganggu kamu.
Bye Steve.."
"Bye..."
Michael menutup telponnya, memastikan hubungan benar-benar sudah terputus.
Lalu dia mengangkat wajahnya menatap Sandy.
"Puas ?" tanyanya.
Sandy tidak menjawab.
Benaknya kembali melayang pada saat Reva tadi mengangkat telpon darinya.
Reva terdengar marah.
Ada apa antara Reva dan Steven ? batinnya bertanya-tanya.
Sementara di ujung line,
Steven mengantongi ponselnya.
Matanya menatap jauh ke arah gedung hotel tempat Reva menginap.
Ada Reva disana.
Dia tau bahwa Reva sudah kembali ke hotelnya.
Rasa hangat menyelinap dalam hatinya.
Walaupun bibirnya datar tanpa senyum, tapi matanya melembut.
Reva....
Kamu gak boleh menikahi orang lain.
Tidak selama aku masih ada..
batin Steven.
...π³πΊπ»...
Jam tujuh malam ponsel Reva bergetar.
Reva menatap layar.
Steven.
Reva menghembuskan nafas kesal.
Besok dia sudah harus pulang.
Sementara cincinnya masih di tangan Steven.
Seharian ini, Reva sudah berusaha berkali-kali menghubungi Steven tapi tidak pernah berhasil.
Reva sudah mulai memikirkan alasan untuk Sandy tentang cincin pertunangan mereka yang tidak lagi ada di tangannya.
Dia sudah pasrah bila Sandy marah padanya.
"Steve." jawab Reva berusaha menekan rasa kesalnya.
"Va...
Kamu ke tempatku sekarang." jawab Steven langsung tanpa basa-basi.
Reva yang memang sedang galau langsung marah mendengar nada perintah dari Steven.
Dia pikir dia siapa ?? batin Reva sengit.
"Gak mau !
Kamu yang harus ke tempatku.
Kembalikan cincinku." tolak Reva dengan nada tegas.
"Kamu masih mau cincinnya kan ?
Ambil sendiri.
Aku gak bisa ke tempat kamu." balas Steven tak kalah tegas.
"Bukannya kamu nginep disini ?
Kalo kamu pulang, kasih tau aja, nanti kita ketemu di lobby." tawar Reva.
"Aku gak bisa pulang.
Sibuk." tolak Steven.
Reva menghembuskan nafas kesal.
"Kamu dimana?" tanyanya mengalah.
"Mercante."
"Jauh ?"
"Enggak juga.
__ADS_1
Kamu pake taksi aja."
"Jam berapa kamu bisa ?"
"Terserah kamu.... Va."
Steven nyaris menggigit lidahnya yang hampir mengucapkan kata 'Sayang'.
Bisa-bisa Reva tidak mau lagi bertemu dengannya.
"Oke.
Nanti aku ke sana." jawab Reva.
"Aku tunggu."
Steven langsung mematikan telponnya.
Dahi Reva berkerut.
Nampaknya Steven sedang bad mood.
Di ujung line, Steven merapatkan bibirnya.
Matanya menyapu makanan di hadapannya.
Tangannya mengepal.
Dia mengeraskan hatinya.
...πͺ΅π³πΉ...
Setelah mengambil mantel dan jaket, Reva melilitkan dua helai syal di lehernya.
Memastikan dirinya benar-benar hangat, dia lalu turun ke lobby.
Reva berusaha memesan taksi tapi kelihatannya semua taksi sibuk.
Sudah setengah jam lebih sejak Reva turun dari kamar.
Jarum jam menunjukkan angka delapan lewat.
Reva lalu memutuskan untuk ke jalan.
Mencoba peruntungannya dengan mencegat taksi di jalan.
Tapi semua taksi yang dijumpainya tidak ada yang berhenti.
Berlalu dengan kecepatan tinggi baik dengan penumpang maupun kondisi kosong.
Reva lalu membuka aplikasi peta.
Melihat jarak antara dirinya dengan lokasi Steven berada.
Tujuh kilometer.
Satu setengah jam.
Reva memandang ke langit.
Kalau tidak turun salju, dia bisa saja berjalan kaki ke sana.
Reva menarik nafas panjang, lalu mulai melangkah.
Lagipula dia sudah mulai kedinginan saat Berdiri diam menunggu taksi.
Titik yang menunjukkan Reva berada sejak terakhir ditelpon tadi belum bergerak juga.
Hampir sejam kemudian titik itu bergerak.
Tapi pelan.
Pelan ?
Steven menggelengkan kepalanya.
Reva pasti jalan kaki !
Steven berdecak tidak senang.
Apa Reva sudah benar-benar melepaskan cintanya padanya ?
Sampai-sampai dia rela berjalan kaki tujuh kilometer hanya untuk cincin milik Sandy ?
Steven mengelus ringan bulatan kecil di saku celananya.
Cincin itu terus dia bawa kemana-mana.
Walaupun cincin itu pemberian Sandy, tapi Steven menganggap cincin itu milik Reva.
Jadi membawa cincin itu rasanya seperti berada di dekat Reva.
Steven kembali memperhatikan titik yang bergerak pelan di ponselnya.
Sementara itu, Reva terus berjalan sambil memperhatikan peta.
Sesekali dia berlari kecil untuk menghilangkan rasa dingin.
Jalanan masih cukup ramai.
Reva merapatkan jaketnya merasa hangat karena memakai empat lapis pakaian sekaligus.
Setengah jam berlalu.
Salju putih ringan melayang dari langit.
Reva mendongak.
Salju kembali turun.
Masih ada tiga kilometer lagi.
Reva mempercepat langkahnya.
Lima belas menit kemudian.
Salju turun semakin deras.
Jalanan mulai kosong.
Reva mempercepat langkahnya.
Sepuluh menit kemudian.
Salju menebal.
__ADS_1
Reva semakin sulit untuk melangkah.
Kakinya tenggelam dalam tumpukan salju.
Reva mengeluh keras.
Di sekitarnya tidak ada orang.
Jadi dia melepaskan rasa kesalnya dengan berteriak jengkel.
Tumpukan salju menghalanginya berjalan dengan cepat.
Sampai dia melihat emper toko dan bergegas ke sana.
Berlindung di bawah atapnya sambil menggigil kedinginan.
Giginya gemeretuk.
Reva mengibas-ngibaskan tangannya.
Berusaha mengusir dingin yang mengungkungi dirinya.
Salju turun sedikit lebih deras.
Reva menimbang-nimbang.
Apakah dia akan meneruskan perjalanannya
Atau....
Merelakan cincin pertunangannya.
Reva menatap jari manisnya yang masih bertengger cincin bermata biru milik Steven.
Mas Sandy pasti marah bila tau cincin pemberian darinya ada pada Steven.
Ya..
Mas Sandy pasti marah.
Reva menghela nafas lalu menghembuskan nya kembali.
Melihat hawa keluar dari mulutnya.
Dengan tekad bulat, dia melanjutkan perjalanannya.
Tak terlintas dalam benak Reva bahwa Sandy akan lebih senang Reva kembali ke hotel, ke kamarnya yang nyaman dan tidur untuk kemudian besok terbang dengan aman kembali pulang ke rumah untuk menikah.
Daripada mengarungi salju dan bekunya udara malam hanya untuk bertemu Steven dan mendapatkan cincinnya kembali.
...πΌπΉ...
Steven mengetuk-ngetuk jarinya di meja.
Dahinya berkerut melihat titik yang kembali bergerak pelan.
Matanya lalu memandang keluar jendela.
Salju turun deras.
Sudah tiga jam berlalu.
Reva masih belum sampai.
Steven mengeraskan hati nya.
Bibirnya merapat, tangannya mengepal.
Maafkan aku, Va..
Tapi aku harus melakukannya.
Kamu tidak boleh menikah dengan Sandy.
Atau siapapun juga.
Hanya aku.
Begitu batinnya berkata.
...π»πΌ...
Reva kembali berteduh.
Sekarang salju turun dengan deras.
Tapi aplikasi cuaca mengatakan bahwa salju hanya akan turun deras sekitar dua puluh menit.
Setelah itu akan reda kembali.
Reva menatap sepatu musim dinginnya.
Sepatunya itu hanya sedikit diatas mata kaki.
Dan tidak diperuntukkan untuk mengarungi salju.
Kalau tau harus mengarungi salju seperti ini harusnya tadi siang dia membeli sepatu bot salju selutut.
Reva kembali menggigil kedinginan.
Dirapatkan nya jaket dan syal.
Topi kupluk diturunkan semakin dalam hingga hampir menutupi matanya.
Tapi itupun masih belum mampu mengusir hawa dingin.
Reva melompat-lompat.
Lima belas menit kemudian.
Reva berdiri bersandar di pintu toko yang sudah tutup.
Energinya habis.
Tangannya memeluk tubuh.
Dua puluh menit kemudian.
Reva berjongkok mencoba menggelung dirinya.
Giginya gemeletuk.
Matanya terpejam.
Tangannya mengatup memeluk lutut.
__ADS_1
Perlahan, angin membawa butiran salju mulai menutupi lengkungan bulu matanya yang lentik.
...π»πΌ...