
Sandy membuka matanya. Tangannya secara otomatis meraba tempat dimana Reva tidur.
Kosong.
Kesadaran langsung melingkupinya.
Sandy duduk tegak.
"Reva...." panggil nya.
Tidak ada jawaban.
Sandy turun dari tempat tidur. Dia berjalan ke kamar mandi.
"Sayang...Va...?"
Pintu kamar mandi didorong terbuka.
Kosong.
Sandy mengambil kaus dari lemari. Dia keluar kamar. Menuruni tangga.
"Reva...." panggil nya keras.
Tidak ada jawaban.
Ruang TV kosong.
Sandy menjengukkan kepalanya ke dapur.
Kosong.
Kolam renang juga kosong.
Keningnya mulai berkerut. Rasa was-was merayapi hatinya.
Pikirannya melayang pada berbagai peristiwa yang berlangsung kemarin. Adakah dia bertengkar dengan Reva?
Dia berjalan cepat ke pintu depan. Melongok dari celah pintu. Taman depan pun tak ada nampak sosok Reva.
Sandy berbalik.
Jantungnya berdebar. Kemana Reva ?
Biasanya dia pamit kalau pergi kemana-mana.
Sandy mulai menelusuri sudut rumahnya.
Tak lama dia melihat Reva sedang membungkuk di depan mesin cuci. Tangannya memegang baju dalam Sandy.
Sandy menghela nafas lega.
Dia mempercepat langkahnya.
Brukk.
Sandy menabrakkan dirinya pada Reva dan langsung memeluk erat. Hidungnya menyelusup di sela leher. Menghirup aroma Reva dalam-dalam.
"Aaa..!!!" Reva menjerit dan langsung berbalik.
Sandy tersenyum kecil.
"Kenapa gak jawab waktu dipanggil ?" tuntutnya.
"Ha ?"
Reva membuka earphone di kupingnya. Sandy yang melihat langsung mengerti. Reva tidak mendengarnya.
"Pantesan aku panggil-panggil gak jawab. Kupingnya di sumpel rupanya !" omel Sandy.
Reva tersenyum.
"Yaa...maap..darling..." jawabnya manja.
"Ihh !! Bandel !"
Tangan Sandy melayang. Satu jitakan ringan mendarat di kepala istrinya.
"Adduh !! Mas !" protes Reva. Bibirnya maju setengah senti.
Cup. Ciuman ringan mendarat di sana.
Sandy menunduk. Matanya lalu menangkap benda yang sedang dipegang Reva.
"Lho..ngapain nyuci ? Kan ada si mbok." katanya.
Reva memerah.
"Hmmm..." ragu-ragu Reva akan menjawab.
__ADS_1
"Biasanya juga si mbok yang ngerjain." sambung Sandy lagi.
Reva menggeliat, berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Sandy. Sandy semakin mengencangkan kaitan tangan nya.
"Hmm ?" tanyanya menuntut jawaban.
"Kata Mama, kalo udah kawin...sebaiknya barang-barang pribadi suami diurus sendiri sama istri. Termasuk baju dalamnya. Harus istri yang ngurus termasuk nyuci, lipat dan simpan. Jangan sampe orang lain yang ngurus. Gak baik perempuan lain megang-megang barang suami kita. Lagipula kan dapet pahala..." jawab Reva panjang lebar.
Oaaalaah.....
Sandy tersenyum lebar. Hatinya membuncah bahagia.
"Jadi sejak kapan kamu mulai nyuciin bajuku?" tanya Sandy.
"Sejak kita pulang, Mas."
"Kok aku gak tau ?" kernyit Sandy.
Reva cemberut.
"Apa ?"
"Mas ! Mas cuma meratiin yang itu aja ! Jadi gak tau kaaan... kalo selama ini aku nyuciin baju Mas !"
Senyum Sandy melebar.
Dia tau maksud Reva dengan kata 'itu'.
Tapi dia berpura-pura tidak paham.
"Itu..apaan ?" tanyanya.
Reva memerah. Dia gemas dengan kepolosan Sandy.
"Itu....ya..itu !" jawabnya tidak jelas.
Bibir Sandy merekah.
"Itu...kayak gini...? Hmm..?" jawabnya.
Mulutnya menggigit pelan cuping telinga Reva.
Reva menggigil. Aliran listrik seperti naik di sepanjang tulang punggungnya.
"Ihh...tuuu..kan !"
Hidungnya merayap di leher Reva.
Reva kembali menggigil.
"Mas ! aku mau njemur nih !" katanya meliukkan badannya menghindari serangan Sandy.
"Kan ada pengering, Sayang.." jawab Sandy tetap melancarkan serangannya.
"Ini kan karet Mas. Harus dijemur. Kalo dikeringin kan nanti melar." jawab Reva.
"Hmm....hmmm.." Sandy tidak menjawab. Bibirnya sibuk menelusuri rahang Reva.
"Mas !"
"Ya udah..terusin aja." jawab Sandy mengangkat sebentar wajahnya sebelum kembali menunduk. Meneruskan kesibukan nya.
Mana bisa nerusin kalo kayak gini ?! batin Reva sebal.
Reva akhirnya berdiri diam. Menikmati cumbuan Sandy.
Masih memegang baju dalam Sandy, tangannya naik melingkari leher Sandy. Kakinya berjinjit.
"Emm..."
Sandy senang dengan balasan Reva. Dia memperdalam ciumannya.
Si mbok yang akan masuk ke ruang cuci menghentikan langkahnya. Dua sosok tubuh yang sedang bermesraan itu tidak menyadari kehadirannya.
Diam-diam si mbok mundur. Bibirnya tersenyum senang.
Kelihatannya kedua majikannya bahagia satu sama lain.
Bagus !
Mudah-mudahan cepat dapat momongan, doanya dalam hati.
...❄️🌴🌻...
"Pesta ?"
"Iya..pesta..."
Cindy, Aaron, Mike, Helen dan Silvie sedang duduk-duduk di cafe di dalam gedung Maxx entertaintment.
__ADS_1
"Siapa yang pesta ?"
Aaron melirik Mike.
"Reva." jawabnya singkat.
"Hmm..." Cindy diam tidak menanggapi.
"Pesta pernikahan dia." sambung Aaron.
Cindy menoleh cepat.
"Dimana ?" tanya Helen.
Aaron kembali menatap Mike. Mike dekat dengan personil SHE. Dia kencan dengan Mini.
"Rumahnya Sandy." jawab Mike sambil menatap sekilas pada Cindy.
Semua tau bahwa Cindy belum bisa move on. Walaupun sudah ganti pacar sekian kali. Rata-rata pengusaha.
Mike hanya berharap bahwa obrolan ini tidak akan merusak hubungan nya dengan Mini dan para personil SHE yang lain.
"Kok aku belum dapet undangan ?" tanya Silvie. Bibirnya berkerut tidak suka.
"Ya memang mereka belum nyebar undangan. Gak banyak. Paling teman, kolega. Cuma itu aja sih." jawab Mike.
"Kamu tau banyak. " cetus Helen.
"Ya soalnya pestanya yang ngatur anak-anak SHE."
Cindy berdiri.
"Mau kemana ?" tanya Aaron.
"Syuting." jawab Cindy lalu langsung melangkah pergi.
Mereka semua diam saat Cindy sudah pergi.
"Kenapa sih dia belum bisa move on ?" gerutu Aaron.
"Itu kan perasaannya dia..ya terserah dia dong.." jawab Helen membela.
"Bukan begitu...Len..." kata Mike.
Aaron dan Mike saling berpandangan. Mereka mengerti maksud masing-masing.
"Semakin dia gak move on, semakin sakit dia. Makanya aku pingin dia move on. " jelas Aaron.
"Betul. Apalagi Sandy dan Reva kelihatan bahagia. Apa yang paling menyakitkan selain ngeliat mantan yang ninggalin kita sekarang lebih bahagia ?" imbuh Mike.
Helen diam.
"Aku setuju sama Aaron. Daripada nyakitin diri sendiri kenapa gak pindah ke lain hati ? Toh Cindy cantik, seksi, terkenal. Banyak yang mau kok ! " kata Silvie.
"Kalian berdua ini kan dekat sama dia. Kasih tau dong. Jangan malah didorong semakin jatuh." tegur Silvie pada Helen dan Aaron.
Aaron menghembuskan nafas keras.
"Kalian tau kan gimana keras kepalanya dia ?" katanya.
"Ya.. biarpun keras kepala...kan mestinya dia harus sadar. Liat kenyataan ! " gerutu Silvie.
Semua diam.
Tidak ada gunanya menanggapi. Karena ini masalah kemauan Cindy sendiri.
Helen berdehem.
"Aku udah berusaha menyadarkan dia. Aaron juga." katanya.
Mereka semua kembali diam.
"Kalo gitu..gimana kalo kita bikin program menyadarkan Cindy ?" cetus Silvie sambil nyengir beberapa saat kemudian.
"Progam apaan ?" tanya Mike.
"Ah..kamu sih gak usah ikut ! Kamu kan pacarnya Mini ! " sembur Helen.
Mike tersenyum. Dia berteman dekat dengan Aaron. Karena itu dia sering ikut berkumpul dengan Aaron dan teman-temannya. Sekaligus menjadi sumber berita bagi anak-anak SHE tentang Helen dan gengnya.
Seluruh personil SHE yang memang sangat dekat hubungannya memiliki sentimen terhadap Helen, Cindy dan geng mereka.
Mereka semua saling menghindari untuk bekerja sama dalam satu tim.
Kalaupun terjadi, biasanya ada kompromi yang dibuat oleh para crew dan asisten masing-masing. Memaksa mereka untuk tetap berhadapan dan bekerja atas nama profesionalisme.
Hal itu membuat Daniel cukup pusing dan sebal. Tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.
...🌻🌴🌺...
__ADS_1