
Riani tidak marah sama sekali melihat ekspresi Aira. Dia sudah paham setiap orang yang melihat bekas luka itu kalau tidak jijik ya terkejut.
Keluarga Aira menyuruh mereka semua masuk dan berkumpul di ruang utama.
Aira berjalan dengan Riani. Aira sudah jatuh cinta dan cepat dekat dengan Riani karena melihat wanita itu terlihat adalah orang yang baik dan penyayang. Meskipun sebenarnya dia masih berharap Niana yang menjadi calon istri kakaknya, tapi Aira juga tidak akan menolak jika Riani kelak yang menjadi jodoh kakaknya karena semua itu adalah takdir yang memang harus dijalani oleh kakaknya.
"Mba, mana Arlan? Apa dia ada di rumah?" tanya wanita yang adalah ibu dari Riani.
"Tentu saja dia ada. Itu dia." Telunjuk Tatiana menunjuk pada seorang pria yang sedang turun dari anak tangga.
Arlan tampak terlihat sangat tampan dan gagah, dia memakai kemeja berwarna putih tanpa dasi dan suit dan tiga kancing dari atas tidak dia sematkan.
Riani melihat dari bawah calon suaminya itu. Wajahnya tampak datar.
"Mba, itu Mas Arlan. Kakakku tampan, kan?"
Wajah Riani tampak tersipu malu. Dia menganggukkan kepalanya sekali dengan pelan.
Arlan tampak tersenyum ramah dikenalkan oleh mamanya kepada keluarga Riani.
"Dia sangat tampan, Mba Tia," puji ibu Riani.
"Tentu saja dia sangat tampan karena dia adalah putraku." Mereka berdua malah tertawa.
"Ma, mana gadis yang ingin dijodohkan denganku?" tanya Arlan seketika.
"Kamu sudah tidak sabar melihat calon istrimu?"
"Bukan tidak sabar, bukankah acara ini memang diadakan untuk aku bisa bertemu dengan gadis yang Mama jodohkan?"
"Dia sedang bersama dengan adik kamu."
Aira menggandeng tangan Riani mereka berjalan mendekat ke arah Arlan.
Arlan tampak memperhatikan Riani dari atas sampai bawah. Baginya gadis yang akan dijodohkan dengannya ini tidak terlalu buruk.
"Mas Arlan, ini Mba Riani. Cantik, kan?"
"Aira!" Riani terlihat malu dengan pujian Aira.
"Iya," jawab Arlan singkat.
Riani mengangkat kepalanya menatap Arlan yang menjawab jika Riani memang cantik.
"Hai, Riani," sapa Arlan.
"Hai, Arlan. Bu, dan Budhe, boleh tidak aku bicara sama Arlan berdua."
__ADS_1
'Gadis ini berani juga langsung ingin berduaan denganku. Hm! Aku ingin tau apa yang ingin dia bicarakan denganku?' ucap Arlan dalam hati.
"Tentu saja boleh. Kalian berdua memang harus bicara berdua."
"Arlan, apa bisa bicara berdua?"
"Tentu saja. Kita bicara dia dekat kolam renang saja."
Riani mengangguk dan dia berjalan mengikuti di mana arah kaki Arlan melangkah.
Aira yang melihatnya tampak merasa ada yang berbeda ini dengan kakaknya.
Sesampainya di sana Arlan segera memutar tubuhnya menatap dengan serius pada Riani.
"Kamu mau bicara apa?"
"Arlan, sebelumnya aku minta maaf jika acara ini mungkin mengganggu kamu."
"Kamu kenapa bisa sangat tau akan hal itu?"
Riani tampak tersenyum kecil. "Arlan, apa kamu sudah punya kekasih?"
Arlan agak terkejut mendengar pertanyaan gadis yang ada di depannya.
"Sudah, tapi kita memutuskan untuk mengakhiri hubungan karena dia tau aku akan dijodohkan denganmu dan dia tidak mau kalau sampai aku menjadi anak yang berani melawan kedua orang tuaku."
Arlan seketika tersenyum miring. "Jika hal itu berarti, pasti tidak akan ada pertemuan ini. Kamu sendiri kenapa tidak menolak perjodohan ini?"
"Aku sayang kepada kedua orang tuaku. Harapan mereka aku bisa menikah dan memiliki keluarga kecilku yang bahagia. Jadi, aku menerima perjodohan yang kedua orang tuamu rencanakan."
"Memangnya kamu tidak memiliki kekasih? Jangan bilang kalau kamu tidak punya kekasih karena hal itu tidak mungkin. Kamu cantik, terlihat juga pintar, tidak mungkin kamu tidak memiliki kekasih."
"Aku memang tidak punya kekasih dan tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun."
"Apa? Kamu serius?" Arlan tampak terkejut. Riani mengangguk. "Kenapa bisa begitu? Apa kamu orangnya terlalu memilih?"
"Aku tidak pernah memiliki tipe pria yang aku cintai karena aku tidak berani melakukan hal itu."
"Kenapa?"
"Arlan, aku takut mencintai seseorang, aku takut mereka kecewa memiliki kekasih sepertiku?" ucap Riani lirih.
"Memangnya kamu kenapa? Kamu memiliki kelainan?"
Riani menggelengkan kepalanya pelan. Tangannya kemudian menyikap rambut yang menutupi wajahnya yang ada bekas luka di sana.
"Karena ini."
__ADS_1
Arlan tampak terkejut melihat bekas luka itu. Dia seketika mundur dari Riani.
"Setiap pria yang melihat bekas luka ini pasti jijik dan tidak mau mendekat padaku. Aku juga tidak menyalakan mereka."
"Oleh karena itu juga kamu mau menerima perjodohan ini karena pasti kamu akan mendapatkan seorang suami? Hah!" Arlan seolah tidak percaya jika mamanya akan menjodohkan dirinya dengan gadis buruk rupa.
"Aku sudah bilang alasannya kenapa aku mau dijodohkan dengan kamu. Kalau kamu sudah menolak, tapi hal itu tidak didengar, maka aku yang akan mengatakan kepada keluarga kita untuk membatalkan perjodohan ini, meskipun aku harus membuat hati kedua orang tuaku terluka."
Riani yang akan berjalan pergi dari sana seketika tangannya dihentikan oleh Arlan.
Riani tampak kaget melihat ke arah tangannya. "Ada apa?"
"Kamu tidak perlu membatalkan perjodohan kita ini." Arlan melepas tangan Riani.
"Kenapa?" Riani melihat heran pada Arlan.
"Karena aku tidak mau membuat seorang anak durhaka pada kedua orang tuanya."
"Tapi, bukannya kamu menolak perjodohan ini? Aku tidak mau kamu nanti merasa tersiksa dengan harus menikah denganku."
"Kita pikirkan saja nanti. Sekarang kita kembali ke ruang utama. Mereka semua pasti sudah menunggu kita."
Arlan berjalan masuk dan Riani kembali mengikutinya. Mereka berkumpul kembali bersama para keluarga.
Aira yang melihatnya tampak masih penasaran dengan apa yang kakaknya dan calon istrinya itu bicarakan.
"Mba Riani tidak apa-apa?" tanya Aira memastikan.
"Aku tidak apa-apa Aira. Kamu kenapa wajahnya tampak khawatir begitu?"
"Jujur saja aku takut kalau Mas Arlan berkata hal yang membuat Mba sedih karena sebenarnya--."
"Kakak kamu tidak menyetujui perjodohan ini?" Aira agak kaget dengan ucapan Riani. "Aku senang Arlan sudah mengatakan hal yang jujur. Aku juga sudah memberitahu jika aku memiliki cacat di wajahku."
"Mba Riani juga menunjukkan luka itu?"
Riani mengangguk. "Tidak ada yang perlu aku tutupi, Aira. Jika ingin memulai suatu hubungan harus diawali dengan kejujuran. Itu salah satu prinsipku."
Aira semakin terpesona dengan hati yang dimiliki oleh gadis yang akan dijodohkan oleh kakaknya itu.
Keluarga Aira mengajak keluarga Riani makan bersama. Mereka semua tampak hangat dan kedua orang tua Riani terlihat masih kental akan sikap khas orang yang tinggal di pedesaan.
Selesai acara makan bersama, Tatiana menegaskan lagi tentang kenapa acara hari ini berlangsung.
"Ma, aku menerima perjodohanku dengan Riani," ucap Arlan tegas.
Semua orang di sana tampak bahagia. Beda dengan Riani dan Aira. mereka merasa jika apa yang dikatakan oleh Arlan tidak seperti yang diinginkan hatinya.
__ADS_1