
Sebulan kemudian....
Sandy masuk ke kantor dengan wajah cerah.
Sebulan lebih dia berlibur di Indonesia. Bersama Reva, dia berkeliling dari kota ke kota, berenang di pantai, mendaki gunung. Menikmati indahnya tanah air bersama istri tercinta.
Istri tercinta....
Kata itu membuat Sandy tersenyum lebar.
"Weittt....ada Pengantin baru nih !" canda Robert saat melihatnya masuk ke ruangan Michael.
Senyum Sandy makin melebar. Kawan-kawannya dan anak buahnya mendatanginya. Mereka saling menyentuhkan tinju lalu menepuk pundak Sandy.
Semua.
Kecuali satu orang.
Steven tetap berdiri diam sambil menyilang kan tangan di depan dada.
Sandy bukan tidak tau. Setelah semua temannya memberikan selamat, perlahan dia mendekati Steven.
"Thanks !" katanya sambil meninju pundak Steven. Tidak pelan tapi juga tidak kuat. Seakan Steven baru saja mengucapkan selamat padanya dan Sandy membalas dengan ucapan terima kasih.
Steven menatap nya tajam. Sementara Sandy tetap mempertahankan senyumnya.
Semua orang memperhatikan mereka berdua. Bersiap-siap jika mereka kembali bertengkar.
Michael menepukkan tangannya meminta perhatian mereka semua. Semua orang mengalihkan perhatiannya pada Michael.
"Oke Guys... Selamat datang kembali buat Boss Sandy ! Pastinya dengan semangat baru karena sekarang sudah ada cewek cantik yang nemenin tidur tiap malam."
Semua orang tertawa.
Michael kembali melanjutkan.
"Sekarang tim kita sudah kembali lengkap. Kita bisa kembali ke ritme semula dan mudah-mudahan ritmenya semakin naik seperti lagu barunya istri saya di chart Billboard. Semoga company kita semakin maju, kita semakin sejahtera dan tentu saja makin bahagia !!" senyum Michael.
Semua bertepuk tangan.
Sandy lalu maju.
"Dua Minggu lagi, saya dan Reva akan mengadakan resepsi kecil-kecilan di rumah kami. Semua diundang tanpa terkecuali dan kami berharap kalian semua datang dan memberikan doa restu atas pernikahan kami." senyumnya.
Matanya dengan sengaja menyapu wajah Steven.
Semua bertepuk tangan.
Kecuali Steven.
"Tenang Boss. Kami pasti datang !" ujar Andrew menenangkan.
"Iya dong..kita pasti datang." sahut Anna.
"Jangan lewatkan makanan gratis !! Ya gak Steve ?!" kata Josh sengaja memasukkan Steven dalam pembicaraan.
Steven hanya diam sambil tetap menyimpangkan tangannya di dada. Wajahnya tidak menampilkan ekspresi apapun.
Liu menepuk pundaknya dengan bersahabat. Memahami perasaan kawannya itu.
"Thanks guys..." senyum Sandy lagi.
Dia tidak peduli pada pendapat ataupun sikap Steven. Sepanjang Steven diam dan tidak mengganggu hubungan nya dengan Reva, Sandy akan membiarkan nya.
Pertemuan selesai, mereka semua kembali bekerja.
__ADS_1
Sandy rapat dengan Josh dan beberapa rekan kerjanya.
Dia harus mengupdate perkembangan divisinya.
Bukan hal baru, karena dua tahun lalu, dia pernah harus meninggalkan perusahaan untuk pergi menghindari Cindy, mantan pacarnya.
Malam menjelang.
"Va..." sapa Sandy saat menelpon Reva di jalan.
"Mas...udah nyampe ?"
"Sebentar lagi. Udah belokan gedung kamu nih."
Reva mengulum senyum.
"Ya udah..aku beres-beres dulu Mas. Tunggu bentar ya..."
"Pasti...Dua tahun aja aku ikhlas kok nunggu kamu !" canda Sandy. Bibirnya merekah menambah tampan wajahnya. Tangannya sibuk membelokkan setang setir nya.
Di ujung line Reva tertawa.
"Iya deh... Kok senengnya ngungkit-ngungkit melulu..." katanya setengah merajuk.
"Lhoo ..siapa yang ngungkit-ngungkit?
Cuma mengingatkan aja..biar kamu gak lupa .."
"Hm...? Lupa apa ?"
"Biar gak lupa kalo sekarang ada cowok ganteng yang udah halal diapa-apain.."
"Ya ampuuun...." tawa Reva sementara tangannya sibuk menata mejanya kembali rapi.
Keluar lift, dia kembali melangkah cepat sambil sesekali menyapa temannya yang berpapasan dengannya.
Reva keluar dari pintu. Matanya mencari-cari mobil Sandy. Mobil SUV berwarna putih.
Mobil sport Sandy yang berwarna merah sudah dijual. Dia tidak mau menyimpan segala hal yang berhubungan dengan masa lalu. Apalagi mobil itu sering dipakai kencan dengan Cindy.
Dia tidak ingin Reva naik mobil bekas diduduki perempuan lain.
Dan karena saat membeli mobil, dia sudah berniat untuk menikahi Reva, Sandy memilih model SUV sporty. Menikah berarti punya anak. Dia ingin mobil bernuansa keluarga.
Reva berjalan mendekati mobil Sandy.
"Mana cowok ganteng yang udah halal diapa-apain?" kata Reva sambil menyelipkan badannya dalam mobil Sandy.
Sandy memajukan tubuhnya.
Bibirnya dimonyongkan meminta ciuman.
"Lha...Ini dia...cowok yang Udah gak sabar diapa-apain.." katanya mengundang.
Reva tertawa...
"Lho...mana ?"
"Apa ?"
"Ciumannya dong ?!" protes Sandy.
Reva menoleh. Tangannya diangkat menangkup pipi Sandy.
Cup.
__ADS_1
Satu ciuman ringan mendarat di pipi Sandy.
"Udah.." kata Reva yang menarik tangan nya.
Cepat menangkap tangan Reva, Sandy menariknya mendekat.
"Eh....eh... Mas !!"
"Aku maunya ini..."
Sandy langsung menyambar bibirnya.
"Mmmpphh....mmm.... Mas !!"
Ciuman mesra berlangsung satu menit.
Reva mendorong tubuh Sandy.
Puas, Sandy mundur sambil terkekeh.
"Mana cukup pipi doang ! Kita kan udah pisah delapan jam lebih !" kata Sandy.
"Ya ampuuun !! Mas ! Delapan jam doang. Yang bener aja !!" sungut Reva.
"Nanti diterusin ya, Va.." rayu Sandy sambil menjalankan mobilnya.
"Ihh...enggak ! kan udah barusan !"
"Lho...mana cukup ?!" protes Sandy.
Reva memajukan bibirnya.
Sandy melirik cepat lalu segera meminggirkan mobilnya.
"Mau ngapain ?" tanya reva heran.
Sandy tidak menjawab. Dia menarik leher Reva. Menciumnya dalam.
Satu menit kemudian.
"Mmm..Mas..." bisik Reva dibibir Sandy. Tangannya sudah lekat menggantung di leher Sandy.
"Hmm...?"
Sandy masih memejamkan mata, menikmati sisa manisnya Reva.
"Kita di kampus..."
Sandy membuka mata.
Menoleh ke kanan kiri. Untung tidak ada orang. Walaupun kaca mobil cukup gelap untuk menyembunyikan tingkah laku mereka.
Tapi tetap tidak enak kalau saja ada yang memergoki. Seperti orang pacaran saja. Mencari waktu dan tempat sepi. Padahal di rumah juga bisa. Mereka kan sudah kawin !
"Kita lanjutin di rumah, Va... di kasur, lebih empuk." kata Sandy mengedipkan matanya.
Reva menepuk dahinya.
Astagaaa !!
Mobil melaju. Sandy menekan pedal gas. Tidak sabar menikmati waktunya berdua saja dengan istrinya.
Sementara Reva tersenyum.
Rasa bahagia menyelusup dalam hatinya.
__ADS_1