
Hari Jumat.
Reva menunggu hingga Tia dan rombongannya sampai di Methrob, baru dia berani datang.
Kemarin dia habis-habisan diledek oleh semua orang di Methrob.
Yaa..kecuali dua orang.. Steven sendiri dan Sandy.
Entah setan apa yang menjatuhkan ponselnya dan terbuka pada pengumuman dimana namanya tertulis dengan jelas sebagai asisten dosen yang baru.
Robert muncul.
"Aissh... asisten dosen baru kita datang." senyumnya.
Reva cemberut..
Wajahnya memerah.
"Om...ihhh !!"katanya.
Robert memasang wajah tak bersalah.
"Lho...Om emang ngomong apa ?" tanyanya.
"Besok sparring sama aku, Om !" balas Reva.
"Adduh..gak berani Om !
Nanti malah Om babak belur."
"Idih, Om !!
Aku kan lebih kecil.
Mana mungkin bisa bikin Om babak belur ?!" jawab Reva gemas.
"Kamu emang enggak.
Tapi...
Ada dua orang yang bakal bikin Om babak belur." jawab Robert sambil tertawa lepas.
"Oomm !!" jerit Reva.
Biliyan memunculkan wajahnya dari pintu pantry.
"Eh... asdos cantik udah datang.
Sini, Va !!" panggilnya.
Reva meninggalkan Robert sambil cemberut.
"Tante..." sapanya.
"Waah..rame...!"
Pantry memang ramai.
Keluarga Michael, Robert dan Sandy semua datang.
Reva menyalami semua orang.
Khusus untuk para Mami dan Papi, Reva mencium tangan mereka.
"Reva...
Selamat yaa...
Katanya baru jadi asdos." sapa Mami Michael.
Reva memerah.
"Ah...bukan apa-apa Tante." katanya.
"Ah...masa bukan apa-apa.
Katanya seleksi nya ketat banget.
Nilainya harus tinggi." sahut Mami Robert.
"Eh..." Reva tidak mampu berkata apa-apa.
Matanya sekilas melirik Sandy yang sedang menatapnya.
"Hebat lhoo..
Apalagi Kamu kan orang Indonesia." sahut Papi Sandy.
Reva kembali memerah.
"Iya Om..." jawabnya.
Lalu melayangkan pandangannya ke meja pantry.
"Lho udah semua ya...
Harusnya itu tugas saya.." katanya.
"Siapa aja yang duluan, Va." jawab Tia tersenyum.
"Perlu dirayain nih...
Jarang-jarang lho..orang kita bisa jadi asdos.." kata Michael.
"Ah Om...gak usah.
Itu.. kebetulan aja."
"Gak usah merendah, Va...
Kamu itu satu-satunya peneliti yang direkrut Willy sejak tingkat satu.
Itu prestasi lho." kata Robert.
"Siapa Willy ?" tanya Papi Sandy.
Dia sudah tau. Tapi dia ingin membuka mata istrinya pada gadis ini.
Gadis yang dia sukai.
"Willy Chang.
Konglomerat nomor tiga disini.
Dia yang rekrut Reva."
"Reva dulu tiga besar tertinggi di angkatannya.
__ADS_1
Sekarang...udah yang tertinggi ya Va ?" kata Tia.
"Ah..enggak Tan...
Ada satu lagi.
Aduh..dia mah...susah ngalahin deh." jawab Reva.
Papi Sandy memandang Reva.
Mengukur dan menimbang-nimbang.
Lalu...
"Istrinya Michael dari arsitek.
Istrinya Robert dari Akuntansi.
Om sih bakal senang kalo dapet menantu dari biomedical." katanya.
Bbrr..
Reva yang sedang minum tersembur.
"Aduh..
Maaf..maaf..." katanya malu.
Reva bergegas berjalan ke sudut mengambil pel.
Dia melewati Sandy.
lalu kembali ke tempatnya dan mulai mengepel.
Lalu melewati Sandy lagi untuk meletakkan pelnya.
Reva kembali berjalan melewati Sandy saat pinggangnya ditarik.
"Papi mau sama anak biomedic ?" tanya Sandy.
"Oh..iya dong.
Apalagi yang pinternya kayak Reva." sahut Papi.
"Ada tuh Pi.
Papi datang aja ke rumahnya.
Dilamar aja langsung.
Biar enggak keluyuran kemana-mana." kata Sandy melirik Reva yang pinggangnya dia pegang erat-erat.
Reva ternganga.
Dia menengadah menatap Sandy.
"Lho..Papi kenal ?" tanya Mami.
"Kenal..
Kenal sama Bapak Ibunya." sahut Papi Sandy santai.
Reva menutup matanya.
Sandy meliriknya.
Dulu...Tia juga begitu kan ?" katanya menatap Tia.
Tia tertawa.
"Orangnya dulu ditanya Ko...
Udah mau belum ? "
"Lho...dulu kan lu belum mau Ti ?"
"Beda San..
Dulu Tia belum mau kawin. Tapi dia pacar gue." jawab Michael tersenyum.
"Nah...yang mau dilamar itu...
Pacar siapa ?" kata Tia.
"Gak penting pacarnya siapa..Yang penting..
Jadinya sama siapa.." sahut Robert.
"Bener juga lu Bet." kata Michael.
"Jadi gimana nih..?
Apa dari sini kita mau langsung rame-rame ngelamar gadis itu ?
Siapa sih ?" tanya Mami Robert sambil tersenyum.
Keluarga Robert dan Michael sudah mahfum siapa yang dimaksud.
Karena Papi Robert dan Papi Michael ikut serta saat Papi Sandy ingin bertemu dengan Reva.
Reva diam saja.
Dia menunduk.
"Kita datang aja dulu. Kenalan.
Masalah nanti mau atau enggak..
kan tergantung anaknya.
Pendekatan antar anak.
Yang penting orang tua tau sama tau dulu." kata Mami Michael.
Reva menatap mereka semua.
Lalu memberanikan diri.
"Emang Tante dulu waktu dilamar masih belum mau sama om Michael ?"
Tia tertawa.
"Kan Tante lagi di puncak karir Va.
Makanya..kalo kawin..bisa nurunin rating..
Katanya sih begitu."
__ADS_1
"Tapi Tante dulu belum mau ?"
"Belum mau kawin.
Bukan gak mau sama Om." tegas Tia.
"Oh...
Kalo aku...
Ehmmm..
Kalo aku sih..enggak mau sama orang yang pacar nya masih gelendotan sama dia kemana-mana.
Aku bukan pelakor.
Amit-amit." katanya.
Tangannya menepis tangan Sandy.
Semua orang menatap padanya.
Dan melihat yang dilakukannya pada Sandy.
"Aku setuju sama kamu, Va.
Banyak kok cowok lain.
Kenapa harus jadi pelakor ?" sahut Biliyan.
Sandy menutup matanya.
Geram sekali.
Rasanya pingin memepet Reva ke tembok.
Tapi itu bukan sepenuhnya salah Reva.
Wajar saja Reva ragu padanya.
Dia yang tidak tegas.
Dia yang terlalu baik.
Terlalu mengiyakan.
Papi Sandy menatap Reva.
"Om setuju sama kamu.
Laki-laki harus tegas.
Iya..bilang iya.
Enggak bilang enggak.
Jangan setengah-setengah.
Kamu perempuan pintar, Reva.
Om berharap, suatu hari Om bakal punya rejeki punya mantu seperti kamu.
Cantik.
Pintar dan Tegas." katanya.
Reva memerah.
Tidak menyangka Papinya Sandy akan berkata seperti itu.
"Oh...Makasih Om." jawabnya dengan muka memerah.
Dia melangkah kembali ke tempatnya yang tadi.
Kali ini Sandy tidak menahannya.
Dan Reva lega.
Lega sudah mengatakan apa yang ada dalan pikiran nya.
Yang sepertinya tidak dimengerti oleh Om Sandy.
Om Sandy selalu berfikir bahwa uang dan harta bisa mengikatnya.
Tapi dia belum ingin uang.
Dia mampu mencari uang sendiri.
Dia percaya dengan kemampuan otaknya.
Dia ingin dicintai seperti Om nya mencintai Tantenya.
Bukan hanya sebagai pengalihan.
Pelarian.
Atau bahkan dijadikan alasan Om Sandy untuk putus dari Cindy.
Dia tidak ingin terlibat dalam urusan mereka.
Tapi tampaknya, Om Sandy ingin melibatkannya dalam urusan mereka berdua. Sandy dan Cindy.
Reva menatap Michael dan Tia.
Dia ingin suatu kali bertemu dengan orang yang menatapnya hanya karena ingin menatapnya.
Dan selalu ingin menatapnya.
Seperti om Michael menatap Tante Tia.
Penuh cinta.
Dan Hasrat.
Reva menghembuskan nafasnya.
Mungkin dia terlalu tinggi berharap.
Tapi dia masih muda.
Boleh kan berharap ?
Bahwa suatu kali akan ada seseorang yang mau berjuang untuk dia.
Bukan sekedar iseng.
...🌴🍇☘️...
__ADS_1