Kamu Milikku

Kamu Milikku
Kebaikan Seorang Addrian


__ADS_3

Addrian mengatakan pada ibu Mona yang baru datang jika masalah ini akan diusut sampai mereka menemukan siapa yang menabrak sekretaris kesayangan daddynya itu.


Malam itu mba Mona mendapatkan pelayanan yang baik karena semua akan diurus oleh Addrian. Mba Mona sudah keluar dari ruang operasi, tapi belum bisa dijenguk karena harus menunggu keadaanya stabil dulu.


"Tito, aku minta tolong kamu mengurus segalanya tentang Mba Mona. Aku tidak bisa di sini terlalu lama juga karena hari juga semakin malam dan istriku sedang hamil besar. Apa kamu bisa membantuku?"


"Pak Addrian jangan khawatir karena saya akan mengurus semua yang di sini."


"Terima kasih, Tito."


"Pak," panggil Tito.


"Ada apa?" Addrian melihat wajah Tito seolah dia sedang bingung. "Kamu kenapa, Tito?"


"Pak, saya mau bicara sesuatu, tapi ini hanya dugaan saja."


"Maksud kamu apa?"


"Pak, sebenarnya tadi sebelum Mba Mona kecelakaan, saya sempat melihat mobil yang menabrak mba Mona itu sudah ada beberapa menit di sana."


"Maksud kamu kecelakaan ini sudah di rencanakan? Begitu?"


Tito seketika menganggukkan kepalanya. "Saya waktu itu sudah pulang lebih dulu karena ada tugas di luar kantor, dan saya sempat berhenti di warung kopi dekat kantor untuk membeli sesuatu. Di sana saya melihat ada mobil itu, tapi tidak saya lihat wajahnya karena kaca jendela mobilnya ditutup."


"Apa ada yang tidak suka atau dendam dengan mba Mona? Tapi apa yang dia lakukan sungguh buruk."


"Tindakan pak Addrian sangat tepat dengan melaporkan hal ini agar dapat diusut dengan tuntas."


"Pelaku itu jika memang dia merencanakannya, maka dia harus mendapat hukuman yang setimpal."


"Benar, Pak."


"Kalau begitu aku akan kembali dulu, dan besok aku akan ke sini lagi."


Addrian melihat istrinya sedang duduk dan menanyakan ibunya mba Mona yang terlihat sedang menangis.


Ibu Mba Mona menyuruh Aira pulang saja karena ini juga sudah malam, apa lagi di rumah sakit lama-lama juga tidak baik untuk Aira dan bayi dalam perutnya.


Aira dan Addrian yang sudah berada di rumah dan mereka sedang berbaring di atas tempat tidur dengan Addrian memeluk Aira dari belakang.


"Mas, apa Mba Mona kakinya akan bisa berjalan lagi?"


"Aku tidak tau, Sayang. Kita berdoa saja semoga kaki mba Mona dapat sembuh dan tidak ada masalah yang serius dengannya.

__ADS_1


"Iya, Mas, kasihan kalau sampai ada apa-apa dengan Mba Mona, apa lagi sekarang dia adalah tulang punggung untuk keluarganya."


"Ayahnya baru saja meninggal dan dia harus mendapat kejadian seperti ini."


"Mas, kalau keadaan mba Mona seperti ini, lalu, siapa yang akan menemani kamu ke Singapura? Apa akan di tunda?"


"Sepertinya tidak karena semua sudah di siapkan dan aku akan tetap pergi. Mungkin sendirian atau dengan Citra yang juga tim dari proyek ini."


"Apa? Citra?" Aira seketika mendelikkan kedua matanya.


"Iya, tapi kamu tidak perlu cemburu karena aku pergi karena bisnis, Sayang, bukan bulan madu."


"Apa tidak ada lainnya selain Citra?"


"Tidak ada, tapi jika mba Mona belum pernah memberitahu pada Citra, mungkin juga aku akan berangkat sendiri."


Aira berpikir jika ini semua sangat penting untuk pekerjaan suaminya.


"Ya sudah, Mas, aku tidak akan marah kalau nantinya Mas harus pergi dengan Citra, tapi ingat terus jika Mas sudah menikah."


"Apa maksud kamu? Tentu saja aku selalu ingat jika aku sudah menikah dan memiliki seorang istri."


"Sudahlah! aku mau tidur saja. Aku capek." Aira langsung memejamkan kedua matanya rapat.


"Kamu itu aneh sekali, Sayang." Addrian pun ikut memejamkan kedua matanya.


Keesokan harinya, Addrian sebelum ke kantor dia pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Mba Mona.


Addrian sampai di sana dan ternyata mba Mona sudah dipindahkan ke ruangannya.


"Pak Addrian," sapa Tito.


"Tito, bagaimana keadaan mba Mona?"


"Kata dokter keadaanya sudah stabil, tapi ada masalah pada kakinya."


"Kenapa dengan kakinya?" Addrian tampak cemas.


"Kemungkinan besar kaki mba Mona tidak akan dapat digunakan lagi untuk berjalan, Pak."


"Apa? Oh Tuhan, ternyata yang aku pikirkan dengan Aira semalam benar terjadi. Kaki mba Mona mengalami kelumpuhan."


"Dokter juga sudah berusaha dengan baik mengenai hal ini, tapi tetap tidak bisa."

__ADS_1


"Apa ibu mba Mona sudah mengetahui masalah ini?'


"Mereka sudah tau dan mereka tampak shock, bahkan mba Mona pun juga sudah mengetahui keadaannya seperti itu."


"Oh Tuhan!" Addrian mengelap wajahnya kasar.


"Pak, saya sampai tidak tau harus berbuat apa sekarang. Bahkan saya ingin menenangkan mba Mona, tapi tidak tega melihat wajahnya."


"Biar aku saja nanti yang coba bicara dengan mba Mona."


"Iya, Pak."


Addrian masuk ke dalam kamar VIP tempat mba Mona dirawat. Addrian dapat merasakan aura kesedihan mendalam di sana. Terlihat dua orang sedang berpelukan dengan air mata yang terlihat di kedua kelopak mata mereka.


Mba Mona dan ibunya saling berpelukan dan mencoba saling menguatkan. Di sana juga ada adik dari ibunya mba Mona, dia juga matanya tidak luput dari kesedihan.


"Maaf, apa saya sudah mengganggu?"


"Pak Addrian," suara mba Mona terdengar lirih.


Addrian melangkah masuk dan menghampiri mba Mona yang sekarang dengan posisi tersadar di atas tempat tidur yang dicondongkan.


Ibu Mba Mona seketika menangis dan Addrian memeluknya dengan menahan rasa sedih.


"Kalian harus kuat karena cobaan ini tidak ada yang tau."


"Pak, kaki saya lumpuh dan pasti saya sekarang akan menjadi orang yang tidak berguna selamanya."


"Mba Mona tidak boleh berkata seperti itu. Kaki Mba memang lumpuh, tapi semua itu tidak mempengaruhi kecerdasan yang mba Mona miliki, dan perusahaanku membutuhkan orang seperti mba Mona."


"Maksud Pak Addrian?"


"Daddyku sudah aku beritahu tentang semua ini dan daddyku akan segera datang ke sini. Mba Mona, meskipun kaki Mba Mona lumpuh, perusahaan tetap membutuhkan kecerdasan Mba Mona."


"Jadi, Pak Addrian tetap akan memperkerjakan saya di perusahaan?"


"Tentu saja karena perusahaan tidak mau kehilangan orang seperti Mba."


Seketika mereka tampak bahagia mendengar apa yang baru saja Addrian katakan.


Addrian dan daddynya juga tidak akan mungkin tega membuat mba Mona dikeluarkan dari sana, apa lagi sekarang mba Mona adalah tulang punggung keluarga. Dia harus tetap bekerja untuk membiayai hidupnya dan orang tua satu-satunya yang sekarang dia miliki.


"Nanti Mba tidak perlu khawatir karena aku akan menyiapkan satu orang yang akan membantu Mba Mona saat berada di kantor. Dia akan mengantar jemput Mba Mona dan membantu Mba Mona saat datang ke kantor."

__ADS_1


"Pak, saya sangat berterima kasih dengan apa yang sudah Pak Addrian lakukan kepada saya."


"Apa yang aku lakukan tidak sebanding dengan apa yang sudah Mba Mona berikan untuk perusahaanku."


__ADS_2