Kamu Milikku

Kamu Milikku
Calon Mertua


__ADS_3

Sore itu Sandy datang ke rumah Tia.


Untuk berjumpa dengan orang tuanya.


Maminya memeluk Sandy sangat erat.


Dia rindu pada anak sulungnya.


Papinya menepuk pundaknya.


Mami dan Papinya tinggal bersama dengan orang tua Robert dan orang tua Michael di rumah Tia.


Robert dan Biliyan juga tinggal di sana.


Sedangkan Michael dan Tia mengungsi ke rumah orang tua Tia.


Tanpa Jason.


Papi dan Mami Michael rindu pada cucunya itu.


Michael dengan senang hati menyerahkan Jason pada Papi Maminya.


Sambil tersenyum tipis, dia melirik Tia.


Tia pun meliriknya.


"Gak sabar nanti malam, Ti..." bisiknya di telinga Tia.


"Hush Mas...


Jangan ngomong disini.


Banyak orang.." balas Tia berbisik di leher Michael.


Michael meliriknya.


Robert menatap mereka.


Dan sebenarnya..semua orang menatap mereka.


"Heh !!


Sono gih pulang !" bentak Robert.


Tia memerah.


"Kamu sih.." rajuknya pada Michael.


Michael tertawa.


Dia mengelus kepala Tia dengan sayang.


Sandy memperhatikan mereka sambil tersenyum.


Sementara Mami Sandy sedang memperhatikan Sandy.


Diantara mereka, hanya dia saja yang belum punya menantu.


Mami sudah berusaha mencarikan gadis-gadis yang menurutnya pantas untuk dipertemukan dengan Sandy saat Sandy pulang ke rumah.


Tapi Sandy sering menolak pertemuan itu.


Dan sekarang Mami Sandy menatap iri pada Mami Robert dan Mami Michael yang sedang bermain dengan cucu mereka.


Ditambah...istri Robert pun sedang hamil anak kedua.


Sandy kapan ?


Mami Sandy menatap Tia.


Michael sungguh beruntung.


Memiliki istri seorang penyanyi terkenal.


Dan cantik.


Mami Sandy menatap Jason.


Mami lalu menatap Mami Michael.


Nama Mami Michael terkenal diantara ibu-ibu sosialita dalam lingkup pergaulan mereka.


Terutama karena menantunya seorang penyanyi kelas dunia.


Desas desus mengatakan bahwa Mami Michael ikut membantu Michael menjebak Tia untuk menikahinya.


Tidak heran.


Menantu dengan kelas seperti itu...


Aku juga akan menjebak orang kalo itu Anakku, batin Mami Sandy.


Mami Sandy lalu menatap Sandy.


Lalu keluar pertanyaan tanpa disadarinya.


"Kamu kapan mau punya istri ?" katanya.


Semua orang menatap Mami Sandy.


Lalu menatap Sandy.


Sandy sudah biasa dikejar pertanyaan seperti itu oleh orang tuanya.


Terutama Maminya.


"Nanti Mam.


Mami tenang aja." katanya santai.


"Tenang Tante...


Sandy lagi usaha tuh.


Soalnya orangnya masih kuliah." sambar Robert.


"O ya ?


Kok kamu gak pernah ngenalin sama Mami ?"

__ADS_1


"Kan masih usaha, Tante..." jawab Robert sambil menatap Sandy dengan pandangan jail.


"Cantik Bet ?" tanya Papi Sandy tersenyum.


"Manis Om.


Dan pinter banget." kali ini yang menjawab Michael.


"Oh...


wah..pinter kamu San milih cewek.


Udah cepetan." kata Papi Michael tertawa.


Sandy hanya tersenyum.


Dia menatap Maminya yang sedang menatap Jason dan Billy dengan tatapan mendamba.


"Wah..kalo Michael yang ngomong pinter, Papi percaya deh San.." Papi Sandy menanggapi Michael.


Semua orang tau kalau Michael memang pintar.


"Emang pinter.


Pokoknya Sandy gak salah pilih deh.


Tapi...belum dapet." cengir Robert.


Sandy tertawa.


"Ntar juga dapet.


Liat aja." katanya mengedipkan matanya pada Tia yang sedang menatapnya sambil tersenyum lebar.


Mami menatap Sandy lalu mengedarkan pandangannya mencari orang yang sedang ditatap Sandy.


Tia.


Ada hubungan apa Tia dengan gadis itu ?


Jam tujuh lebih mereka akhirnya berangkat ke hotel tempat jamuan diadakan.


Mereka bertemu Papa dan Mama Tia di lobi lalu naik menuju restoran.


Steven, Josh dan teman-temannya termasuk Cindy sudah menunggu.


Wajah Sandy berubah pias.


Dia betul-betul lupa dengan keberadaan Cindy.


Dan sekarang.. orang tua nya ada di sampingnya.


Hatinya mencelos.


Mereka semua berkenalan.


Cindy mendekat ke arah Papi Mami Sandy.


"Cin.. kenalin...ini Papi Mami aku." kata Sandy datar.


Wajah Cindy langsung berbinar.


Sekarang dia dikenalkan pada orang tuanya.


"Halo..Papi..Mami..


Saya Cindy..


Pacar Sandy." katanya langsung dengan senyum menawan di bibirnya.


Papi Mami Sandy menoleh pada Sandy.


"Lho..katanya belum San...?" senyum Papi.


Sandy tidak menjawab.


Sialan! rutuknya dalam hati.


Cindy mengulurkan tangan.


Mami dan Papi menyambutnya.


Tak lupa cium pipi kiri dan kanan pada Mami.


"Kayaknya pernah ngeliat ya ?" tanya Mami.


Cindy tersenyum.


"Cindy aktris Mi.


Beberapa dramanya sudah diputar di Indonesia." jawab Sandy.


"Oo..pantes..." senyum Mami


Mami lalu memukul tangan Sandy.


"Kamu kok gak bilang-bilang punya pacar cantiknya kayak gini. Udah cepetan.." kata Mami.


Cindy tertawa renyah.


Hatinya membuncah.


"Ayo Mi...kita duduk.." ajaknya menggandeng tangan Mami.


Mereka berjalan di depan Papi dan Sandy.


"Itu bener pacar kamu ?" bisik Papi.


Sandy tidak menjawab.


Keningnya berkerut.


"Sann!" panggil Papi.


"Nanti Sandy ceritain Pi." katanya.


Gantian Papi yang berkerut.


Dia mengenal anaknya.

__ADS_1


Ada yang tidak beres.


Dia memandang ke depan.


Kalau hubungan mereka tidak berlangsung baik, bakal semakin rumit karena istrinya nampaknya kecantol pada si aktris ini.


Istrinya punya obsesi terhadap artis karena berkaca pada istri Michael yang memang artis.


Gadis-gadis yang selama ini disodorkan pada Sandy memang rata-rata artis.


Istrinya ingin seperti istri Pak Hermawan.


Jadi idol ibu-ibu sosialita dalam pergaulan mereka.


Mereka semua lalu duduk.


Makan malam dimulai.


Papa menjadi host.


Mami Sandy menatap Mama Tia.


Mami Michael duduk berdampingan dengan Mama Tia.


Mereka nampak akrab.


Hmm.. sebentar lagi, aku juga akan seperti Maminya Michael.


Punya menantu seorang aktris kenamaan dari mancanegara, bukan cuma artis lokal, batinnya.


Bibirnya tersenyum.


Dia memandang Cindy.


Cantik.


Tidak salah Sandy memilih.


Sementara itu..


Sepanjang makan malam, Sandy terlihat diam.


Dia tidak banyak menyahut dan hanya tersenyum sedikit saat teman-temannya atau keluarga mereka melontarkan canda.


Robert dan Michael ingin sekali menepuk pundaknya dan memeluk Sandy.


Memberikan dukungan moral padanya.


Papi Michael juga menatap Sandy.


Papi cukup akrab dengan teman-teman Michael.


Walaupun paling kalem, biasanya Sandy ceria kalau sudah kumpul-kumpul seperti ini.


Tapi kali ini, entah ada masalah apa, Sandy terlihat murung.


Sebaliknya...


Cindy terlihat ceria.


Dia banyak mengajak ngobrol Mami Sandy dalam bahasa Inggris.


Cindy memberitahu drama apa saja yang dibintangi nya. Mami Sandy mendengarkan dengan seksama.. Beberapa dari drama itu pun sudah ditonton oleh Mami.


Cindy tersenyum manis.


Bagus !!


Ternyata ibu Sandy merupakan penggemar drama dan sudah pernah menontonnya.


Ah..jalan semakin mulus.


Cindy melirik Sandy.


Sandy nampak sedang diam mendengarkan Liu berbicara.


Cindy kembali menoleh pada Mami Sandy.


"Mi..besok mau kemana ?" tanyanya.


"Besok?


Ikut yang punya rumah aja." jawab Mami Sandy.


Mami Sandy lalu menoleh pada Mama Tia.


"Besok ada acara, Jeng ?" tanyanya.


"Besok mau jalan ke desa keramik gak?" tanya Mama Tia.


Mami Sandy, Robert dan Michael serempak mengangguk.


Mama Tia mengangguk.


"Besok dijemput jam sembilan."


"Eh Jeng..." tegur Mami Sandy


"Jangan lupa jemput calon mantuku." katanya dengan senyum sumringah.


Sandy mengangkat wajahnya.


Bibirnya menipis.


Dia kesal sekali.


Rasanya ingin berdiri dan langsung memutuskan Cindy saat itu juga di depan semua orang.


Maminya lagi-lagi ingin ikut campur mengurusi kehidupannya.


Siapa yang mau ngawinin si jalang itu !! pikirnya kesal.


Dia membanting sendoknya pelan.


Lalu berdiri dan meninggalkan meja.


Dia tidak pernah kembali.


...⛰️🍎🎋...

__ADS_1


__ADS_2