
Mereka sudah sampai pada restoran yang sudah dipesan oleh tuan Andreas. Mereka berdua masuk dan duduk di meja di mana Tuan Andreas sudah memesannya
"Restoran ini bagus sekali. Tempatnya juga cukup nyaman."
"Iya, memang ini salah satu restoran yang terbaik yang aku tau. Sayang, kamu harus benar-benar menjaga dirimu dan kandunganmu." Addrian mengusap lembut pipi istrinya.
Aira ini rada heran dengan suaminya. Kenapa dari tadi Addrian seperti orang yang khawatir terus. Apa karena dia masih trauma sebenarnya dengan kejadian Aira di kampus Citra waktu itu?
"Mas, aku pasti akan menjaga diriku dan bayi kita. Jadi, kamu tidak perlu khawatir, Mas."
Addrian menatap istrinya lekat dengan tangan yang menggenggam tangan Aira.
"Ehem! Permisi, apa saya mengganggu kesenangan kalian?"
Tiba-tiba suara seseorang dari arah belakang mereka mengejutkan sepasang suami istri itu.
"Tuan Andreas? Maaf, kalau kami tidak menyadari kedatangan Anda."
"Hahaha! Kamu jangan terlalu tegang begitu. Aku tidak ada masalah. Malahan aku sangat senang melihat kalian berdua mesra seperti ini."
Addrian berdiri dari tempatnya, dan membantu Aira untuk berdiri juga. Dia memperkenal Aira pada Tuan Andreas.
"Ini istri kamu? Dia memang sangat cantik walaupun dalam keadaan hamil. Pantas saja kamu tidak mau memperlihatkannya, kamu takut ada pria lain merebut istri kamu, ya?"
Addrian tersenyum kecil. "Sebenarnya itu juga salah satu alasannya. Saya takut ada pria lain yang menyukainya."
Aira hanya bisa tersenyum kecil juga mendengar pengakuan suaminya. "Kamu itu ,Mas, bisa saja." Aira mencubit lembut lengan suaminya. "Memangnya ada yang menyukai wanita hamil besar seperti aku ini."
"Kamu jangan salah, Aira. Saat wanita sedang hamil, itu saat di mana seorang wanita diperlihatkan tingkat keseksiannya," terang Tuan Andreas.
"Itu benar, Tuan Andreas, tapi Aira tidak percaya."
"Istriku juga saat hamil malah terlihat lebih cantik dan sexy. Oleh karena itu dia aku buat supaya hamil terus. Hahahah!" Pria itu tertawa dengan senangnya.
"Anda bisa bisa saja, Tuan Andreas."
__ADS_1
Mereka memesan makanan dan mulai menikmati makan malam bersama. Tuan Andreas terlihat sangat ramah dan baik.
Addrian juga mengatakan jika ingin mengundang makan bersama Tuan Andreas dan keluarganya.
"Saya akan mencarikan waktu dan memenuhi undangan Tuan Addrian. Istri saya pasti senang mendengar jika ada sebuah keluarga yang sangat baik di sini karena jujur saja dia juga wanita yang lebih banyak di rumah. Dia jarang sekali memiliki teman, waktunya dia habiskan hanya untuk anak-anak."
"Dia istri yang baik," puji Aira dengan diiringi senyumannya.
"Iya, dia istri yang baik dan aku sangat menyayangi. Aku sekarang juga yakin jika aku tidak salah sudah meminta perusahaanmu bekerja sama denganku. Kamu pemimpin yang mencintai keluarga, dan itu salah satu cerminan pemimpin yang bertanggung jawab. Aku yakin kerja sama ini akan menjadi kerja sama yang baik dan mendatangkan keuntungan untuk kita berdua."
"Terima kasih atas pujiannya dan pasti kerja sama ini membawa kebaikan untuk perusahaan kita, Tuan Andreas."
"Mari kita lanjutkan makan malamnya."
Tangan pria itu mengambil minuman, tapi tidak sengaja malah menyenggol minuman Addrian sehingga gelas Addrian tumpah pada celananya.
"Oh my God! Saya minta maaf, seharusnya saya agak berhati-hati."
"Tidak apa-apa. Tuan Andreas saya izin ke kamar mandi dulu." Addrian beranjak dari tempat duduknya. "Sayang aku ke kamar mandi dulu."
"Iya, Mas."
Lama-lama Aira merasa tidak nyaman karena dari tadi rekan bisnis suaminya itu melihatinya terus.
"Nyonya Aira, apa kamu sudah lama menikah dengan Tuan Addrian?"
"Kita hampir satu tahun menikah, Tuan Andreas."
"Oh begitu. Aku dengar dulu Tuan Addrian adalah pria yang memiliki banyak sekali wanita dalam hidupnya. Apa kamu tidak menyesal menikah dengan pria seperti Tuan Addrian?"
Aira terdiam sejenak. Dia agak kaget saja kenapa ini orang berubah sikapnya seperti ini. Beda dari awal dirinya dikenalkan oleh suaminya.
"Tentu saja saya tau bagaimana kehidupan suamiku dulu, dan saya tidak menyesal sama sekali menikah dengannya."
Pria itu memberikan senyum miringnya. "Kamu sangat cantik dan aku lihat kamu memiliki hati yang baik. Sayang sekali jika memiliki suami seorang playboy."
__ADS_1
Tiba-tiba tangan pria itu mendekat dan jari telunjuknya mengusap lembut punggung tangan Aira yang berada di atas meja.
Aira yang merasakan sentuhan kecil pria itu menarik tangannya dengan cepat.
"Tuan Andreas jangan kurang ajar. Aku ini seorang istri."
"Aku tidak kurang ajar, aku hanya menunjukkan rasa kasihanku sama kamu. Jangan berpikiran buruk denganku, Aira." Pria itu malah tersenyum manis.
"Saya tidak perlu dikasihani karena hidup saya dan Mas Addrian sangat bahagia terlepas dari siapa mas Addrian dulu."
"Kamu memang istri yang sempurna." Sekali lagi Tuan Andreas menatap Aira dengan tatapan yang jujur saja Aira tidak menyukainya. Tatapan itu tidak sepantasnya diberikan oleh pria yang sudah berkeluarga.
"Tuan Andreas, bersikap baiklah atau aku akan bicara pada suamiku."
"Memangnya aku kenapa? Jangan pernah bertindak bodoh dengan membahayakan bisnis suami kamu, Aira. Dia masih anak baru di dunia bisnis dan aku sudah bertahun-tahun berkecimpung di dunia bisnis. Aku bisa dengan muda membuat apa yang dibangun suami kamu yang masih baru belajar itu hancur dengan mudahnya."
Aira terdiam menatap pria dia depannya. Dia tau maksud dari ucapan pria itu.
"Maaf, apa aku terlalu lama di dalam kamar mandi?"
Aira melihat pada suaminya. "Mas, kenapa kamu lama sekali di kamar mandi?"
"Tadi kamar mandinya ada perbaikan sedikit. Jadi, aku harus menunggu dulu."
"Istri kamu orang yang ramah dan menyenangkan, dia juga sangat setia saat aku mencoba bertanya apa dia pernah berpikir ingin selingkuh dari kamu jika suatu hari bisnismu hancur dan dia mengatakan akan selalu bersamamu. Dia wanita yang hebat, Tuan Addrian. Pertahankan dia."
Aira agak terkejut dengan ucapan pria itu.
"Aira memang istri yang sempurna bagi saya. Oleh karena itu saya sangat takut kehilangannya. Terima kasih atas pujiannya kepada Aira."
Mereka kembali melanjutkan makan malamnya sampai pukul sembilan malam
Addrian dan Aira pulang karena dia tidak mau membawa istrinya pulang larut malam mengingat istrinya sudah hamil besar.
"Senang berkenalan dengan keluarga Tuan Addrian. Besok aku dan sekretarisku akan datang ke perusahaanmu dan kita akan membicarakan tentang kapan proyek kita akan segera dilaksanakan."
__ADS_1
"Saya menunggu kedatangan Anda Tuan Andreas." Addrian berjabat tangan dengan rekan bisnisnya. Pun Aira juga berjabatan tangan dengan pria itu.
Di sepanjang perjalanan Aira hanya terdiam. Addrian yang melihatnya tampak sedikit heran. Apa ada sesuatu yang mengganggu istrinya?