
Persiapan launching sudah sempurna.
Reva dan kawan-kawan nya sudah melakukan gladi bersih.
Mereka akan tampil sebagai bagian dari pertunjukan menghibur para tamu undangan di pesta pernikahan Elle.
Tia dan Jim juga ikut ambil bagian.
Sandy diam-diam mencari tau kostum yang akan dipakai Reva nanti di acara pesta pernikahan Elle.
Tiga hari sebelum acara, Sandy mendorong pintu Pandora.
Staf Pandora segera menyambut.
"Ada yang bisa saya bantu, Mr Gunawan ?"
"Saya mau cari gelang kaki, gelang dan kalung yang pas untuk seorang drummer."
Staf Pandora menatapnya.
"Drummer ?
Anda mau yang eye catching ya ?"
Sandy tersenyum.
"Saya mau dia terlihat mempesona saat memainkan drumnya."
Staf Pandora tersenyum tipis sambil mengangguk.
Dia lalu mengajak Sandy ke tempat koleksi set.
Sandy memperlihatkan foto Reva saat memainkan drumnya.
"Gadis yang cantik." cetus staf Pandora.
Sandy tersenyum.
Dia akhirnya memilih satu set yang sangat disukainya.
Lalu pergi ke kantor Tia.
"Ko !!
Angin apa dateng ke sini ?" sapa Tia terkejut.
Sandy mencium pipi Tia.
"Gua mau nitipin ini. Jangan bilang dari gue. Tapi suruh dia pake."
Tia menerima kotak itu lalu membukanya.
Matanya melebar.
"Zamrud ?"
"Bagus kan ?" tanya Sandy.
"Indah banget, Ko."
Tia memandang kotak itu lebih lama.
Lalu Dia menatap Sandy.
"Lu udah ngelamar, Ko ?"
"Bapaknya udah tau.
Udah tau juga kalo rumah yang gue beli tahun lalu di sana, gue atas namakan bersama dengan anaknya.
Tinggal ngeresmiin aja."
"Orangnya ?"
Sandy menghembuskan nafas.
"Dia tau kalo gue bakal ngiket dia.
kawin dalam waktu dekat."
Tia kembali mengamati Sandy.
"Waktu kemarin, pas lu nyusul dia..
Lu belum nidurin dia kan, Ko ?"
"Lu mau dia gue tidurin, Ti ?" Sandy balas bertanya.
"Kenapa gak lu kasih sendiri ?" tanya Tia tidak menjawab pertanyaan retorik Sandy.
"Karna dia pasti nolak.
Lu tau kan ponakan lu kayak apa ?"
Tia merenung, lalu mengangguk.
"Emmm...lu yakin Ko?
Lu gak pingin nyari yang putih-putih, bening ?" katanya memancing.
"Astaga Tia !!
Laki lu sendiri lebih putih dari lu !!
Tapi dia disodorin yang putih-putih juga gak bergeming !
Malah sibuk ngejar lu kemana-mana." gerutu Sandy.
Tia tertawa.
"Laki gue beda, Ko.
Dia dari awal udah nyangkut sama yang coklat.
Kesambet kayaknya tu orang.
Tapi kalo lu kan...
Begitu disodorin yang bening, cantik langsung jadi bucin, budak cinta.
Bener-bener budak.
Tutup mata tutup telinga.
Wajar dong kalo kita semua ngeraguin elu.
Beda banget sih pilihan pertama sama pilihan kedua."
Sandy cemberut diingatkan kembali.
"Emang beda banget pilihan pertama sama pilihan kedua.
makanya gue ninggalin yang pertama."
Sandy diam sebentar.
"Dan Dengan senang hati." sambungnya.
__ADS_1
Matanya menangkap setumpuk majalah di meja Tia.
"Itu buat elu, Ko." kata Tia saat Sandy meraih majalah itu dari meja.
"Udah jadi ya Ti ?" komentarnya.
"Hm..
Lu bawa deh.
Terserah mau ambil berapa."
Sandy mengamati cover majalah itu.
Ada foto-foto rumahnya.
Serta foto dirinya sebagai pemilik dan foto Tia sebagai arsiteknya.
Tia mengamati Sandy.
Menunggu reaksinya.
Sandy mengangkat wajahnya.
"Gue ganteng di sini, Ti..." senyumnya.
Tia tertawa.
"Pasti dong."
Sandy berdiri.
"Ya udah, Ti...
gue mau makan siang sama laki lu.
Lu mau ikut gak ?"
Tia menggeleng.
"Nanti ada rapat.
Eh..btw..
Mantan lu lagi naik pamor tuh."
"Bodo amat." jawab Sandy singkat sambil mengecup pipi Tia lagi.
Sandy meninggalkan kantor Maxx.
Setelah makan siang.
Rapat diadakan di ruangan Tia.
Tia menjadi produser musik di drama yang dibintangi oleh Cindy.
Ironinya...
Salah satu lagu soundtracknya adalah lagu besutan SHE.
Yang digawangi oleh Reva dan kawan-kawannya.
Cindy duduk di sofa di ruang kerja Tia.
Matanya menangkap sosok Sandy di majalah yang tergeletak di meja.
Cindy mengambilnya.
Menatap lama pada sosok yang mengisi hatinya.
Hatinya berdesir saat melihat foto-foto rumah Sandy yang baru.
Dia membalik lagi halaman berikutnya
Di halaman kedua nampak foto Sandy di samping kolam renang unik.
Cindy memejamkan matanya sejenak
Ya Tuhan..
Apa yang sudah aku lepaskan ? batinnya.
Cindy kembali menatap Sandy.
Menatap senyum kekanakan nya yang menawan.
Senyum yang selalu diberikan oleh pemiliknya padanya setiap kali mereka bertemu.
Senyum yang pernah dianggapnya enteng.
Tidak dihargai.
Dan sekarang...dia sangat merindukan melihat senyum itu ditujukan padanya.
Disertai dengan pandangan memuja.
Hanya padanya.
Hatinya kembali diliputi rasa sakit.
Dia sudah mencoba untuk move on.
Dia pacaran dengan banyak orang
Bahkan dengan Jim.
Orang yang selama ini dia idamkan.
Tidur dengan aktor paling ganteng se Taiwan pun ternyata tidaklah memuaskannya.
Sampai pada satu titik..dia menyerah.
Mengakui bahwa dia mencintai Sandy.
Mencintai orang yang sudah tidak mencintainya lagi.
Cindy mengangkat wajahnya.
"Tia...
Majalah ini boleh untukku ?"
"Boleh.
Silakan ambil.
Aku memang mau nawarin kalian semua.
Ehmm...disitu ada proyek rumah yang udah aku selesaikan.
Rumah Sandy.
Pemilik Methrob." jawab Tia tidak hanya pada Cindy tapi juga semua orang yang ada di situ.
Pemilik Methrob.
Kembali Cindy merasa sakit.
__ADS_1
Pemilik Methrob itu yang dulu sangat mencintainya.
Apakah masih ada kesempatan untuknya ?
Harus !
Dia harus bisa merebut Sandy kembali.
"Oke.
Thanks ya Tia.." senyumnya ceria.
Malam sebelum hari H Di apartemen Tia.
Mereka semua akan makan malam bersama.
Reva menginap di sana.
Sementara Sandy pun ditahan oleh kedua keponakannya yang sudah beranjak besar.
Mereka semua sedang berkumpul saat Reva baru pulang.
Dia baru saja menyelesaikan gladi bersih.
Harum masakan menyambutnya.
Hidungnya diangkat tinggi-tinggi.
"Mbok Miiin...
aku lapaaar..." katanya.
Semua orang menoleh.
Tia melempar boneka mainan Sybill padanya.
Reva nyengir.
"Ini anak !!
Udah mau jadi bini orang, kelakuan masih kayak anak kecil." omel Tia.
Senyum Reva surut.
Dia membanting dirinya di samping Biliyan.
"Idih..Tante !!
Siapa yang mau jadi bini ?!" jawabnya mendelik.
Melirik Sandy sebentar.
"Ya kamu !!
Siapa lagi !!" jawab Tia.
"Masih lama, Tanteku sayaaang.." kata Reva sambil menoel pipi Sybill.
"Sini Tante...gantian..." katanya meminta Sybill.
Biliyan menyerahkan Sybill.
Reva mencium-cium Sybill
"Cayang..cayang...cayaaang..." katanya mengadukan hidungnya pada pipi Sybill.
Sybill tertawa-tawa kegelian.
Reva kesenangan.
Dia menjepit pipi dan leher Sybill dengan bibirnya sambil mengeluarkan suara, "Pooop...pooop !!"
Sybill menjerit-jerit sambil tertawa-tawa senang.
Reva tertawa terbahak-bahak.
"Lucu banget sih kamu !
Mbak culik ya...
ya..?.Ya..?
Kita ke taman bermain..!"
Billy dan Jason ikut menghampiri Reva.
"Aku sama Mas Jason boleh ikut, Mbak ?" tanya Billy.
"Boleh dong.
Kita pergi ke taman bermain."
"Bener, Mbak ?" tanya Jason.
"Iya !"
"Terus..susunya Sybill gimana ?"
"Eh...ehmm....kita bertiga aja kalo gitu."putus Reva.
"Yeeayy..." kedua bocah itu lalu meninggalkan Reva.
"Ck...ck...ck...
Kayak belum cukup aja ke taman bermain." decak Robert.
"Namanya anak-anak Om...
Aku juga masih suka theme park" jawab Reva.
Dia kembali menggelitik Sybill dengan bibirnya.
Sybill kembali menjerit-jerit kesenangan.
Mereka semua saling berpandangan melihat tingkah Reva.
"Va.." panggil Michael.
"Ya..Om ?" jawab Reva.
"Kamu suka banget ya sama bayi ?"
Reva tersenyum lebar.
"Lucu, Om..!
Gak bosen mainnya.." jawabnya.
"Bikin sendiri gih..!
Tuh udah ada yang mau bantuin bikin." cetus Michael.
"Hah ?!
Om !!"
...☘️🎀🌴...
__ADS_1