
Sandy kembali menunduk.
Dia menghisap, memainkan lidahnya.
Lalu berpindah ke sisi satunya.
"Maaa...ss...hhh..." desah Reva.
"Hmm..."
Sandy sudah tenggelam dalam keasyikannya.
Satu tangannya mempermainkan puncak dada Reva.
"Mas....udah.." kembali kesadaran Reva mengambil alih gairahnya.
"Diam, Va !"
Sandy turun ke bawah.
Memuja perut Reva yang ramping.
"Ihh..geli..!"
Sandy terkekeh.
Satu tangannya merayap lebih ke bawah.
Reva tersentak seperti terkena listrik saat jari Sandy menyentuh bagian paling sensitif dari tubuhnya.
"Om !!" tegurnya.
"Udah basah.." bisik Sandy pada dirinya sendiri.
Gimana... ?
Lanjut... ?
Tidak lanjut.. ?
Kepala Sandy makin turun.
Hasratnya sudah menggantikan akal sehatnya.
Lagipula malah lebih bagus.
Dua bulan itu masih lama.
Siapa yang tau apa yang bakal terjadi seperti kemarin.
Diikat saja.
Toh sekarang atau nanti sama saja.
Sama-sama akan tidur bersama.
Sandy kembali menyentuh bagian sensitif milik Reva.
Reva kembali tersentak.
Karena sudah tidak tahan lagi, dia akhirnya mengangkat punggungnya.
Mendorong Sandy sekuat tenaga.
"Udah, Om...!"
Sandy menegakkan tubuhnya.
Dia kembali mendorong pundak Reva.
Reva Memberontak.
"Om..udah
Nanti.
Kalo udah kawin."
Sandy berhenti.
"Tanggung, Va." katanya kembali menindih Reva.
Reva sekuat tenaga menahan pundak Sandy.
Lalu dia berguling ke samping.
"Enggak ilok, Om.
Kita Tunggu sampe resmi ya..?" bujuknya.
Sandy menjatuhkan dirinya menelungkup sambil mengerang.
Reva tertawa.
Sandy menolehkan kepalanya pada Reva.
"Tapi term kamu yang enam bulan batal ya.."
Senyum Reva menghilang.
"Tapi aku gak mau hamil dulu, Om..."
"Mas..." kata Sandy membetulkan.
"Mas."
"Kalo kamu hamil ?"
Reva tidak menjawab.
Dia menunduk.
"Kalo hamil...
Ya sudah takdir Gusti Allah mungkin, Mas.
Tapi kalo aku gak hamil, term itu berlaku ya Mas.."
"Takdir Gusti Allah..." renung Sandy.
Dia jadi menyesal semalam tidak melanjutkan niatnya.
Sandy memiringkan badannya.
"Sini..
Aku pingin peluk kamu." katanya.
Reva menatap ragu.
"Apa ?"
"Nanti Mas khilaf..
Aku gak pake baju, Mas.
__ADS_1
Mas juga."
Sandy tertawa.
"Enggak kok.
Sini.." katanya menepuk sisi sebelahnya.
Reva beringsut mendekat.
Sandy memeluknya erat.
"Kamu tau kan kalo aku sayang kamu, Va ?"
Reva mengangguk.
"Aku gak mau orang lain.
Gak mau siapa-siapa.
Aku cuma mau kamu.
Jadi kamu jangan pernah mikir macem-macem lagi ya ?
Hmm..?"
"Kalo aku yang seperti itu sama Steven, Om juga gak boleh marah ya..." kata Reva kalem.
"Aku sama Steven kan sekarang temenan doang."
Sandy terdiam.
"Aku lupa kalo calon istriku pinter." katanya.
Reva tersenyum.
Lalu dia teringat.
"Om...
Kalo...kalo aku beneran hamil, berarti nanti pas nikah udah mau dua bulan.
Terus lahirannya pasti sebelum sembilan bulan kita nikah.
Adduh...
Gimana Om ?
Aku malu sama Papa Mama, saudara, tetangga.
Aku gak jaga diriku baik-baik." keluh Reva menutup wajahnya.
"Sst...
Enggak.
Kan udah punya suami, Va..." kata Sandy sambil menyeringai diatas kepala Reva.
"Emang kamu kapan haid lagi ?"
"Bulan depan."
"Ya udah...
Gak papa kan ?
Malah bagus.
Jadi pingin tau...kayak apa anak kita berdua nanti.."
Menikmati hidung mancung dan alis lebarnya.
"Ganteng seperti bapaknya." katanya membelai pipi Sandy.
Sandy menatap Reva.
"Pinter seperti ibunya."
Sandy kembali meraih dagu Reva.
Menciumnya dalam.
"Hhmmph... hmmmph..Om.." tegur Reva saat merasakan tangan Sandy meremas buah dadanya.
"Mas."
Bisik Sandy di bibir Reva.
"Kalo manggil Om, kan Om jadi inget kalo kita belum kawin."
"Hmm..." Sandy masih belum ingin melepas Reva.
"Udah ah Om..
Aku ke kamar mandi dulu." tepis Reva lalu berlari membawa serta selimut yang menutupi tubuhnya.
Dua jam kemudian...
Michael, Robert dan Sandy duduk-duduk di ruang privat.
Sandy baru saja bercerita tentang Reva.
"Tapi lu bener belum nidurin ?!" tanya Robert memastikan.
"Bener !!
Sumpah !!
Enggak gue apa-apain.
Cuma..
Yaa..pokoknya enggak gue tidurin !"
"Gue gak tau harus muji lu atau bilang lu bodoh !!" geleng Robert.
Michael tertawa.
"Coba bayangin..
Ada cewek...
Tunangan lu.
Kurang Dua Bulan lagi mau kawin.
Tidur enggak pake baju sama sekali di samping lu.
Kalo gayanya Michael sih.. langsung diembat.
Apalagi pake embel-embel cinta."
Michael semakin ngakak.
"Gue jadi ragu.
__ADS_1
Lu sebetulnya masih bisa main gak sih ?" ledek Michael.
"Gue nyesel cerita sama kalian."
kata Sandy dengan muka merah.
"Gue rasa si Cindy ngigo.
Bukan elu nkali yang bisa muasin dia.
Salah orang !"
"Sialan lu !!"
"Lha.. buktinya ?
Mana ada cowok bener yang bisa negebiarin ceweknya gak pake baju tidur aman di samping dia."
Michael dan Robert memandang Sandy.
"Apa ?!" sentak Sandy sebal.
"Jangan-jangan...." Michael menatap Robert.
"Naah...iya..
Jangan-jangan..." Robert tidak menyelesaikan kata-katanya.
"Jangan-jangan apa ?!" sentak Sandy lagi.
"Untung kita bedua cepet kawin, Kel...
Jadi selamat.
Kalo enggak...."
"Kalian ngomong apa sih?" sentak Sandy lagi.
"Ngomong tentang elu lah !" kata Michael.
"Emang gue kenapa ?!"
"Elu...
Apa lu pernah naksir kita berdua ?" kata Robert blak-blakan.
"Hueek..." Sandy menunjukkan muka ingin muntah.
"Gue ?!
Naksir lu bedua ?!
Neraka pake AC baru dah tu kejadian !"
Kedua temannya tertawa terbahak-bahak.
"Eh..tapi ngomong-ngomong...
Beneran si Reva percaya lu udah nidurin dia ?"
Sandy mengangguk.
"Tapi kan ada rasanya kalo udah ditidurin.
Apalagi pertama kali.
Yang udah berkali-kali aja berasa kok !" bantah Robert.
"si Reva kan masih Ting Ting, Bet.." kata Michael.
"Tapi dia kan anak medic lho..
Masa gak tau sih ?!" kata Robert lagi.
"Dia tau..
Makanya dia periksa seprai.
terus dia periksa diri sendiri.
Tapi...mungkin karena panik atau kalut..
Dia mikirnya jadi kemana-mana.
Sampe sumpah-sumpah kalo dia belum pernah sama siapa-siapa." jawab Sandy sambil tersenyum.
Teringat wajah panik Reva.
"Tapi lu juga yakin dia belum pernah ?" tanya Michael.
Sandy mengangguk.
"Ketutup.
Gue Gak bisa masuk.
Bisa..tapi dia bakal kesakitan dan bangun."
Teman-temannya memandangnya.
"Jadi tolong bilangin sama bini-bini lu pade ya...
jangan kasih petunjuk kalo dia sebenarnya belum gue tidurin.
Ya...?
Lu bedua tolongin gue lah..
Gue masih insecure nih.
Kalo gak gini, gue takut dia di tengah jalan bakal minta batal lagi."
"Lu mau bayar gue sama bini gue berapa buat uang tutup mulut ?" tawar Robert.
"Lu sama temen sendiri perhitungan banget sih ?!" gerutu Sandy.
"Eet ..bukan perhitungan...
Tapi...yaah....kita kan orang bisnis.
Ya Kel?"
Michael senyum-senyum.
"Pokoknya lu semua harus ngomong sama bini lu pada.
Jangan bocor sama Reva.
Jangan pernah ngasih tau kalo dia belum gue apa-apain.
Ya..?
Janji ya ?!" kata Sandy berkeras meminta janji Robert dan Michael.
"Gak gratis, San..." senyum Michael.
__ADS_1
"Bah !!"