Kamu Milikku

Kamu Milikku
Dia Tidak Pantas


__ADS_3

Keesokan paginya...


Sandy turun menuju ke meja makan.


Meja makan kosong.


Reva tidak ada.


Sandy memutar langkahnya.


Dia kembali naik menuju kamar Reva.


Tok..tok...tok...


Tak terdengar suara dari dalam.


Tok...tok...tok...


"Pak Sandy, Mbak Reva sudah berangkat."


"Berangkat ?


Sandy melirik arlojinya.


Jarumnya menunjukkan pukul setengah delapan kurang.


Masih pagi sekali.


"Pergi jam berapa ?" tanya Sandy.


"Jam setengah enam."


"Hah ?!"


Si Mbok diam.


Pikiran Sandy sudah kemana-mana.


"Bawa koper ?"


"Enggak Pak.


Cuma tas yang biasa.


Sama tas laptop."


Sandy membuka pintu kamar Reva.


Langkahnya menuju ke lemari.


Dia membuka pintunya.


Baju-baju Reva masih tersusun rapi di sana.


Sandy membuka laci.


Baju dalam Reva tersusun rapi.


Sandy melayangkan matanya ke arah meja belajar


Rak buku masih penuh.


Sandy mengembuskan nafas lega.


Tangan nya yang tanpa sadar mengepal menahan rasa nervous sekarang membuka dengan rileks.


Sandy turun.


Sambil sarapan dia mendial nomor Reva.


Tidak diangkat.


Dia mendial lagi.


Tidak diangkat.


Lalu mendial lagi.


Tidak diangkat.


Sandy lalu mengetikkan pesan.


Va, nanti makan siang bareng ya. ketiknya.


Kirim.


Tiga jam kemudian.


Sandy kembali menelepon.


Tidak diangkat.


Pesannya juga tidak dibaca.


Empat jam kemudian.


Sudah tujuh pesan dikirimkan.


Tidak ada balasan.


panggilan telepon pun tidak ada yang diangkat.


Bahkan di saat jam istirahat dimana biasanya Reva makan siang.


Sandy mulai cemas.


Dia tidak lagi bisa berkonsentrasi.


Sore...


Kini Sandy yakin ada yang tidak beres.


Reva menghindarinya.


Sandy bergegas ke kantor Michael.


Dia mendorong pintu ruangan Michael.


"Kel...


Lu tau Reva dimana ?"


Michael mengangkat matanya.


Terkejut dengan pertanyaan Sandy.


"Kenapa ?"


"Reva gak jawab telponku." jawab Sandy.


Kecemasan terlihat jelas di wajahnya.


Dia tidak melihat Steven disana.


Steven meraih ponselnya.


Dia mendial Reva.


Tidak diangkat.


Dia mendial lagi.


Tidak diangkat.


Mendial lagi.


Kembali tidak diangkat.


Dia mencari posisi ponsel Reva.


Di kampus.


Steven menatap Michael yang sedang menatapnya.


Steven menggeleng.


Michael meraih ponselnya.


Mendial nomor Reva.


Tidak diangkat.


Kembali mendial.


Tidak diangkat.


Mendial lagi.


Michael menggeleng.


"Lu berantem ?" tanyanya langsung.


Sandy menggeleng.


"Coba Tia." katanya.


Michael mendial Tia.


"Halo, Sayang...


Tau Reva dimana ?"


Mata Michael menatap Sandy.


Sandy balas menatapnya dengan penuh harap.


"Enggak ?"


Sandy lemas. Pundaknya turun.


"Bisa tolong telponin Reva gak ?


Tunangannya nyariin nih.." senyum Michael.


"Iya...


Tolong ya..


Bye Sayang..."

__ADS_1


Michael memutuskan sambungan.


"Lu gak berantem ?" tanyanya lagi.


"Enggak."


Steven tersenyum sinis.


Sandy memandangnya.


"Apa ?" tantangnya.


"Enggak berantem ?


Bullshit !!


Kamu kemarin foto-foto mesra sama Cindy di resto."


"Kamu gak usah ikut campur !"


"Kamu gak pantes buat dia !!


Dia terlalu suci buat kamu !!" bentak Steven.


"Kamu yang gak pantes.


Ibu kamu menghina Reva."


"Paling enggak aku gak selingkuh.


Foto-foto mesra sama mantan.


Kamu sama mantan kamu sama aja.


Sama-sama tukang selingkuh !!


"Apa kamu bilang ?!" Sandy membentak.


"Kamu nyelingkuhin Reva !!


Sana !!


Kamu balik sama mantan kamu yang doyan tidur sama semua laki-laki.


Whore !!


Sesama manusia doyan selingkuh !" kata Steven dengan dingin.


"Steven !!" bentak Sandy.


"Ibuku emang gak setuju.


Tapi aku bisa ngelindungin dia.


Tapi kamu ?!


Kamu menghina dia dengan majang foto-foto mesra kamu sama Cindy. "


"Foto apa ?" tanya Michael dengan nada rendah tapi berbahaya.


Sandy menatap Michael.


Matanya bersinar cemas


"Kemarin dia makan siang sama Cindy.


Pake acara peluk-pelukan.


Dan ditunjukkan di Ig.


Semua orang liat." tunjuk Steven.


"San ?"


"Enggak !


Aku enggak peluk-pelukan.


Fitnah !"


"Halah...


Gak ngaku.


Buktinya ada !!


Reva terlalu baik buat kamu.


Kamu gak pantes buat dia.


Kamu pantasnya sama cewek itu aja, si tukang selingkuh itu.


Soalnya kalian berdua sama-sama tukang selingkuh !"


"Sialan kamu !!"


Sandy menerjang Steven.


Steven yang sudah siap mengelak, menendang mundur kursinya lalu melayangkan pukulan ke Sandy.


Sandy membalas.


Semua orang mendengar keributan itu.


Mereka berbondong-bondong datang ke ruangan Michael.


Josh, Andrew, Liu, Roger dan Mike segera menahan Sandy dan Steven.


Keduanya ditarik.


Steven yang sudah emosi meronta-ronta.


Sama halnya dengan Sandy.


"Kamu laki-laki brengsek.


Kamu ngerebut dia dariku.


Abis itu kamu sia-sia in dia.


kamu sibuk peluk-pelukan sama Cindy.


Pamer di Ig..


Kenapa kamu gak kawinin aja si ****** itu.


Reva terlalu baik buat kamu.


Kamu gak pantes dapetin dia."


"Emang kamu pantes ?!


Ibu kamu menghina dia!"


"Tapi aku gak selingkuh !


Aku mencintai dia.


Asal kamu tau..


Dia juga mencintai aku.


Tapi kamu pake cara licik buat ngerebut dia.


Kamu paksa dia buat ngawinin kamu.


Buat apa ?


Karena Reva deket sama keluarga Chang kan ??


Biar koneksi kamu bisa naik.


Tapi kalo kamu kawin sama si ****** itu, kamu gak bakal dapet apa-apa.


Ya kan ?


Ngaku aja deh !!" bentak Steven.


"Kamu nuduh yang enggak-enggak!!"


Aku mencintai Reva !!


"Kalo cinta gak bakal peluk-pelukan sama mantan pacar yang udah kamu tidurin berkali-kali !!"


Sandy memerah saking marah dan malu.


Steven tidak tanggung-tanggung menuduhnya.


"Cukup !!" bentak Michael.


"San..bener lu peluk-pelukan sama Cindy ?"suara Michael yang rendah terdengar berbahaya.


"Enggak !!"


"Bohong !!


Liat aja di ig Charles, Ernest, dia.


Cindy pasang foto mereka di sana." tunjuk Steven.


Wajahnya merah saking emosi.


Anna meraih ponselnya.


Dia membuka ig dan mulai menscroll Ernest, Charles juga Cindy.


Wajahnya berubah saat melihat foto-foto itu.


Michael yang melihat perubahan wajah Anna memandang Sandy.


Mukanya berubah menyeramkan.


"Mana ?" tanyanya dengan nada rendah.


Anna memutar ponselnya.


Semua orang dapat melihat foto-foto itu.


Cindy terlihat menyandarkan tubuhnya Dengan mesra ke dada Sandy.

__ADS_1


Michael maju lalu langsung meninju wajah Sandy.


Bukk


Sandy yang tidak menyangka terdorong ke belakang.


Bibirnya robek.


Dia merasakan manis darah di sudut bibirnya.


Sandy mengusapnya.


"Itu buat selingkuhan kamu !" kata Michael.


Michael kembali maju.


Kali ini Sandy sudah siap.


Bukk.


Sandy terdorong ke belakang.


Tapi dia hanya diam menerima pukulan Michael.


"Dan ini buat rasa sakit yang Reva rasakan !"


Michael kembali melayangkan pukulannya.


Dia tidak peduli Sandy melawan atau tidak.


Bukkk.


Sandy kembali terdorong ke belakang.


Kepalanya pusing.


Matanya gelap sejenak.


"Ini karena mempermalukan dia dan keluargaku.!"


Sandy tetap berdiri.


Matanya penuh tekad.


"Kel..lu pukul gue sepuasnya.


Gue gak bakal bales.


Gue salah membiarkan Cindy berpose seperti itu.


Tapi gue gak peluk-pelukan sama dia.


Gue sama dia bahkan enggak sentuhan !" katanya susah payah.


Bibirnya perih saat berbicara.


Michael tersenyum sinis.


"Tapi lu mempermalukan Reva."


Sandy memucat.


Dia ingat perkataan Reva semalam.


Pernahkah dia memikirkan perasaan Reva ?


Pernahkah dia memikirkan apa yang dipikirkan orang-orang terhadap Reva ?


Kenapa dia begitu lalai tidak pernah memperhitungkan perasaan orang yang dia cintai ?


Michael meraih ponselnya.


"Lu sama Reva selesai sampai disini.


Gue telpon Papa Reva sekarang.


Kalian batal nikah."


"Kel !!


Lu gak punya hak ngebatalin pernikahan gue !"


"Gue punya."


Michael menunduk menatap ponselnya.


Mencari nomor Papa Reva.


Sandy yang sudah di lepaskan oleh Josh dan Andrew menerjang Michael.


"Gue bilang lu gak berhak !!" bentaknya.


Steven maju.


Dia melayangkan tinjunya.


Sandy terjungkal.


Sandy kembali berdiri dan menerjang Michael


Dia tidak peduli.


Dia hanya ingin mencegah Michael menelpon Papa Reva dan membatalkan pernikahan mereka.


Michael melayangkan tinjunya ke wajah Sandy.


Bukk.


Bibir Sandy kembali robek.


Tubuhnya kembali terjengkang ke belakang.


Tapi dia berdiri lagi.


Michael menatapnya tajam.


Bersiap untuk menghadapi Sandy yang sudah bersiap-siap menerjangnya kembali.


"Udah..udah..."


Robert maju menahan dada Sandy.


Menenangkan dirinya.


"Kel...


Kita gak bisa memutuskan sekarang.


Kita harus tanya Reva dulu." kata Robert.


"Reva gak mau ngomong sama dia.


Itu artinya Reva juga gak mau lagi ngelanjutin pernikahan ini." kata Michael.


"Reva harus ngomong sendiri sama gue.


Gue udah bicara soal ini sama dia baik-baik semalam." kata Sandy dengan suara agak terpendam.


Bibirnya perih sekali.


"Reva terlalu baik.


Kamu pasti bakal play victim.


Pura-pura jadi korban jadi dia bakal kasihan.


Aku gak akan biarkan Reva kawin sama kamu.


Dia gak akan bahagia.


Kamu dan selingkuhan kamu itu bakal bikin Reva menderita." sela Steven dengan dingin.


"Kamu jangan ikut campur !


Kamu juga pernah bikin Reva nangis." balas Sandy.


"Aku gak pernah bikin Reva nangis.


Bukan aku.


Aku bakal bikin Reva bahagia.


Lagi pula...


Reva masih mencintaiku.


Aku gak tau pake cara apa kamu bisa merayu Reva sampai bersedia kawin sama kamu.


Tapi dia gak akan bahagia.


Karena Reva masih mencintaiku dan aku mencintainya." kata Steven.


Sandy melotot.


Perkataan Steven seperti air jeruk yang diteteskan ke luka, menusuk hatinya.


Terasa perih.


Reva belum mencintainya.


Ya.


Dia harus mengakui itu.


Reva menyayanginya.


Saat ini itu sudah cukup.


Seiring waktu berjalan, dia akan berusaha membuat Reva mencintainya.


Jalannya sudah terbuka.


Reva bersedia menikahi nya.


Walaupun dia harus sedikit memaksa dan melakukan trik.


Tapi Reva bersedia.


Dan sekarang sepertinya dia sudah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Reva.

__ADS_1


...🍇🍒...


__ADS_2