Kamu Milikku

Kamu Milikku
Anak Angkat


__ADS_3

"Mas, kenapa kamu mengajak kita makan malam? Rencana itu tidak pernah kamu katakan padaku."


"Ide itu muncul begitu saja, lagi pula kita juga sudah lama tidak makan malam, dan lebih menyenangkan bisa makan malam beramai-ramai." Addrian meletakkan istrinya di atas tempat tidur mereka.


"Mas, pasti ada hal lainnya?" Aira melihat curiga pada suaminya.


Addrian naik ke atas tempat tidur. "Kenapa sih kamu selalu bisa membaca pikiranku?"


"Tentu saja bisa karena aku ini sudah menjadi bagian dari diri kamu, Mas."


"Kamu tidak hanya menjadi bagian dari diriku, tapi juga hidupku, dan nyawaku." Addrian mendekatkan hidungnya pada hidung Aira.


"Tentu saja, dan aku sangat mencintaimu."


"Kalau mencintai, bagaimana jika kita memberikan Andrei adik?"


"Apa? Enak saja! Jahitan aku belum sembuh sudah minta anak lagi. Kamu sengaja supaya aku tidak jadi berkerja di perusahaan kamu, ya? Biar kamu bisa dapat sekretaris yang lebih cantik dan sexy."


"Tentu saja tidak. Bagiku kamu wanita paling cantik dan sexy." Addrian mulai mendusel pada Aira.


Aira gemas sekali dengan sikap suaminya ini. "Mas, sekarang ceritakan apa maksud kamu mengajak kita semua makan malam?"


"Sebenarnya tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin membuat Kenzo lebih dekat lagi dengan Niana karena aku lihat Niana tidak memiliki cinta pada adikku." Addrian melihat pada Aira.


Aira tau jika Niana masih belum bisa ikhlas melupakan kakaknya walaupun apa yang dikatakan Niana bahwa dia rela Arlan dijodohkan.


"Mas, kamu tau sendiri hubungan Niana dan kakakku dulu bagaimana? Mereka terpaksa berpisah karena kakakku tidak bisa menolak perjodohan dengan mba Riani. Apa lagi Niana dari dulu sangat menyukai kakakku dari awal mereka bertemu. Setidaknya Kenzo harus memberi waktu pada Niana."


"Aku tau, tapi adikku itu tidak bisa bersikap serius dan romantis. Dia malah suka sekali berbuat jahil dan bercanda, kalau seperti itu terus dia tidak akan bisa mengambil hati Niana. Makannya, dia harus belajar dari yang ahlinya." Sekali lagi Addrian melirik Aira.


"Oh, aku tau siapa yang ahlinya. Tuan Addriano Pramana Smith, si mantan rajanya playboy."


"Hem ...! Kenapa terakhirnya tidak enak begitu?"


Aira tersenyum dan memeluk suaminya. "Lalu, apa rencana kamu, Mas?"


"Aku akan mengirim pesan pada Kenzo nantinya agar dia menyiapkan buket bunga dan tampil rapi.


"Kenzo pasti pusing harus berbuat seperti itu." Aira terkekeh.


Addrian kemudian mengajak istrinya tidur saja karena dia juga sudah sangat mengantuk.


Pagi itu Aira sudah menyiapkan makan pagi untuk mereka di meja makan. Addrian, dan Nadin makan dengan senangnya.

__ADS_1


"Om Addrian, aku nanti pulang sekolah lebih awal karena nanti ada rapat guru, kemarin Bu guru memberitahuku."


"Kalau begitu nanti biar supir Om Addrian yang menjemput kamu dan mengantar kamu ke rumah, setelah itu biar dia kembali ke kantor."


"Okay, ayah! Ups!" Nadin segera menutup mulutnya karena salah memanggil.


Addrian melihat ke arah Aira. Aira memberi isyarat pada Addrian.


"Kamu kenapa memanggil Om Addrian dengan panggilan ayah?"


"Maaf, kadang-kadang aku kangen sama ayahku. Apa lagi kalau bangun tengah malam saat aku tidur sendiri di kamar," terangnya sedih.


"Sini, Sayang." Addrian membuka kedua tangannya dan gadis kecil itu beranjak dari tempat duduknya berjalan mendekati Addrian.


Addrian memeluk Nadin dengan erat. "Kamu kalau terbangun tengah malam boleh pergi ke kamar kami."


Nadin menggeleng. "Aku tidak mau mengganggu Om dan Tante karena kalian pasti capek seharian bekerja dan mengurus adek bayi."


Addrian tersenyum mendengar apa yang Nadin katakan. Dia tidak menyangka jika Nadin pemikirannya sampai sejauh itu. Dia memang anak yang baik.


"Nadin, apa Nadin mau memanggil ayah pada om Addrian?"


"Apa boleh? Bukannya Om Addrian bukan ayah Nadin. Om Addrian hanya ayahnya adik bayi."


"Anak angkat? Maksudnya Nadin jadi anak Om dan Tante?"


"Iya, Nadin menjadi kakaknya Andrei."


Seketika gadis kecil yang sekarang duduk dipangkuan Addrian memeluk Addrian dengan erat. Kedua tangannya bergelayut pada leher Addrian.


"Aku mau. Nadin ingin mempunyai ayah."


"Kalau begitu panggil Om dengan sebutan ayah mulai sekarang."


Nadin mengangguk dengan cepat. "Ayah Addrian," ucapnya kemudian.


Addrian dan Aira tampak senang mendengar hal itu. Dia melihat pada suaminya dan Addrian yang melihat tatapan Aira tampak penasaran karena tatapan Aira tidak biasa baginya.


Aira mengantar Addrian sampai ke depan mobil.


"Nadin masuk ke dalam mobil dulu ya?"


"Iya, Ayah Addrian." Gadis itu berlari dengan senang masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Addrian menarik tangan Aira mendekat ke arahnya. "Sayang, tadi kamu melihatku kenapa tatapan kamu seperti ada hal yang ingin kamu katakan padaku?"


"Aku ingin mengatakan jika kamu adalah orang yang baik dan ayah yang baik. Nanti malam akan ada hadiah untuk suami sebaik kamu." bisik Aira sembari menarik dasi Addrian.


"Wow! Aku jadi tidak sabar ingin mengetahui hadiah apa yang menungguku."


"Sudah! Berangkat sana, nanti Nadin terlambat sekolah."


Addrian mengecup kening Aira dan Aira seperti biasa mengecup punggung tangan suaminya. Si Kecil Andrei masih tidur karena semalam dia bangun untuk susu dan susu.


Addrian berada di dalam kantornya melakukan tugas seperti biasa, sampai jarum jam menunjukkan pukul sepuluh pagi.


"Sebaiknya aku menjemput Nadin ke ke sekolahnya." Addrian beranjak dari tempatnya dan saat keluar dari ruangannya dia melihat kepala divisi menghampirinya.


"Pak, apa Anda mau pergi?"


"Aku mau menjemput putriku sekolah sebentar. Memangnya ada apa?"


"Pak, saya ingin mengajak Anda sebentar ke kantor cabang karena ada masalah sedikit di sana. Apa Anda tidak keberatan?"


Addrian tampak berpikir sebentar. "Apa bisa menunggu sebentar?"


"Tidak bisa, harus sekarang, Pak karena di sana sudah menunggu beberapa orang yang mengurus masalah ini."


"Baiklah, tapi aku akan menghubungi supirku dulu untuk menjemput putriku."


"Baiklah, Pak."


Akhirnya Nadin dijemput oleh supirnya Addrian dan Nadin diantar pulang ke rumah.


Di rumah, Nadin yang baru saja sampai langsung berganti baju dan dia membantu Aira mengurus si kecil Andrei.


"Nadin, Tante Aira sudah membuatkan puding buah yang enak. Kamu makan saja dulu."


"Kok Tante? Bukannya mama Aira sudah menjadi Mamanya Nadin?"


"Maaf, Sayang. Kamu benar, kalau sekarang Tante Aira adalah mama Nadin." Aira mengecup kecil hidung anak itu.


Nadin tidak lama mendengar suara pintu diketuk oleh seseorang, dan dia ingin membuka pintunya, tapi Aira menyuruh agar Nadin mengambil puding buahnya saja dulu.


Aira meletakkan Andrei yang tengah tertidur setelah minum asi.


Aira menuju pintu dan saat pintu dibuka dia agak terkejut melihat siapa yang ada di depan pintunya.

__ADS_1


__ADS_2