
Reva membereskan laptop nya.
Laporan nya sudah selesai.
Setelah membereskan mejanya, dia menanggalkan jas labnya.
Mengambil tas, dia keluar dari gedung kampusnya.
Hari ini dia tidak membawa mobil.
Tadi pagi Sandy mengantarnya ke kampus karena siangnya Sandy ada acara makan siang dengan teman-teman nya.
Dan malamnya berjanji untuk menjemputnya.
Reva duduk di bangku taman seperti biasa.
Tin...tin...
Reva mengangkat wajahnya.
Steven.
Reva berdiri menghampiri.
"Yuk pulang.." ajak Steven.
"Aku nunggu Om Sandy." jawab Reva.
Steven mengernyit.
Sandy ?
Bukannya dia ke Taipei ?
"Mau nunggu dia sampe jam berapa ?" tanyanya memancing.
Reva melirik arloji nya.
"Sebentar lagi juga datang kok."
"Kenapa kamu gak bawa mobil ?" pancing Steven.
"Tadi pagi diantar Om.
Sekarang mau dijemput lagi." jawab Reva polos.
"Kamu ikut aku aja deh.
Kita makan malam dulu.
Nanti aku telpon Sandy." ajak Steven.
Reva menggeleng.
Steven menghela nafas.
Dia mematikan mesin mobil lalu keluar.
"Steve..kamu gak perlu nungguin aku.
Aku...eh...aku gak papa.
Lagi pula...Om sebentar lagi datang kok." Reva cepat-cepat memberi alasan agar Steven pergi.
Reva panik.
Dia tau bahwa Sandy cemburu.
Tidak perlu orang pintar untuk tau bahwa Sandy cemburu pada Steven.
Sandy, walaupun terlihat tenang dan santai di permukaan, tapi dia punya trauma terhadap hubungan.
Dia takut dikhianati kembali.
Dan Reva menjadi sasarannya.
Sandy tidak akan menyakitinya secara fisik.
Tapi Reva takut Sandy akan melampiaskan nya dengan cara lain.
Cara yang seharusnya belum boleh mereka lakukan.
Tapi sekarang Reva tidak punya alasan apapun untuk mengusir Steven.
Akhirnya dengan pasrah, Reva kembali duduk di bangku taman dengan Steven disampingnya.
Steven membuka ponselnya.
Dia menscroll Instagram.
Charles.
Steven tertegun.
Dia melihat kembali foto di layar ponselnya.
Steven melirik Reva disebelahnya.
Dia sedikit memiringkan ponselnya Supaya Reva tidak melihat layarnya.
Reva bergerak.
"Liat apa sih ?
Serius amat.." tanyanya.
Steven segera mematikan ponselnya.
"Enggak.
Eh Va... kapan kamu pulang ?"
"Pulang ?
Dua minggu lagi.
Kenapa ?
Jangan bilang kamu bakal ngerinduin aku, Steve.." ucap Reva tercetus begitu saja.
Steven menoleh dengan cepat.
Reva pun tercengang.
Dia langsung menyadari bahwa dia salah bicara.
"Eh..ma...maksudku..
Aku..."
"Gak usah diralat.
Kamu tau pasti kalo aku bakal merindukan kamu." kata Steven memandang Reva.
Reva memalingkan muka.
Wajahnya memerah.
"Bukan itu maksudku, Steve." kata Reva.
"Aku tau maksud kamu." kata Steven menghela nafas.
Dalam waktu sebulan, gadis ini resmi menjadi milik orang lain.
Masalahnya...
apakah dia akan bahagia ?
Steven mengerutkan keningnya.
Dia menatap Reva.
"Apa kamu masih mencintai ku, Va ?" tanyanya pelan.
"Enggak !" jawab Reva cepat.
Steven tetap menatap Reva.
Dia tidak percaya.
Tapi tau bahwa Reva akan bertahan pada pernyataannya.
"Va...
Kalo kamu merasa enggak bahagia...
please.. please... pertimbangkan untuk kembali padaku.
Aku akan nunggu kamu."
Reva menoleh pada Steven.
Terkejut mendengar perkataannya.
__ADS_1
"Aku bahagia kok.
Kamu..ehmm...
Kamu harus ngelepas perasaan kamu, Steve.
Ikutin kata ibu kamu.
Aku...eh...aku pingin kamu bahagia juga, Steve."
Steven diam.
"Steve ?"
"Steve ?"
"Steve !!"
Steven akhirnya menoleh pada Reva.
Dia melipat tangannya di depan dada.
Ponselnya dimasukkan dalam saku kemejanya.
"Berjanjilah.
Suatu saat kamu punya masalah..
Kamu datang ke aku.
Ya, Va ?
Janji ?"
Reva tidak menjawab.
"Va.?"
Reva menoleh.
"Aku harap...
Itu gak akan terjadi, Steve.
Tapi.. terima kasih tawaran nya."
Mereka berdua diam.
Sepuluh menit kemudian.
Lampu mobil menyorot.
Mobil Sandy.
Reva berdiri menghampiri.
Di dalam mobil.
Sandy menatap dua insan itu.
Tangannya mengerat pada setang setir.
Hatinya panas.
Dia menurunkan kaca.
"Va...ayo.." katanya menahan diri.
Menjaga suaranya tetap tenang.
Reva menoleh pada Steven.
"Steve...aku duluan." pamit Reva.
Steven bangkit.
"Boss..." sapa Steven.
Sandy tersenyum.
"Steve..belum pulang ?"
"Aku nungguin Reva.
Dia sendirian." jawab Steven.
Sandy merasa dihantam.
Dia dituduh membiarkan Reva sendirian menunggunya.
aku tadi masih ada kerjaan sama Charles."
"Makan siang ?" suara Steven terdengar tenang tapi menyindir.
Steven menatap Sandy tajam.
Sandy memerah.
Dia kembali dituduh.
Dituduh membiarkan Reva sendirian menunggunya sementara dia bersenang-senang makan siang bersama mantan pacar.
Memang makan siang tadi jadi agak lama karena kedatangan Cindy dan teman-temannya.
Membuat mereka bertiga kembali ke kantor Charles lebih lambat.
Dan pada akhirnya Sandy lebih lambat menjemput Reva.
"Gak akan terjadi lagi." katanya.
Steven melipat tangannya.
"Sebaiknya begitu." jawabnya.
Sementara Reva yang mendengar percakapan mereka bolak-balik menatap Sandy dan Steven.
Instingnya mengatakan bahwa mereka sedang membicarakan sesuatu tentang dia.
"Ayo, Va.." ajak Sandy lagi.
Reva mengangguk.
"Steve...
aku pulang ya.."
Steven mengangguk.
"Kalo ada apa-apa, kasih tau aku." katanya.
Reva tersenyum.
"Kalo Reva ada apa-apa, ada aku." potong Sandy.
Steven tidak menjawab.
Dia berbalik, berjalan menuju mobilnya.
Sandy menggertak kan gigi.
Dia menoleh pada Reva
"Capek, Sayang ?" tanyanya lembut.
"Lumayan, Om." sahut Reva lelah.
Baru terasa olehnya, tubuhnya yang lelah.
Hatinya juga.
Reva duduk menyandar.
Entah mengapa dia jadi ingin menangis.
Digigit nya bibirnya kuat-kuat.
Sandy mengulurkan tangannya.
Meraih dagu Reva .Memaksa untuk menghadap padanya.
"Aku kangen." kata Sandy lalu mencium bibir Reva.
Dari sudut matanya, dia melihat mobil Steven berlalu.
"Ehmm... hmmmpph..."
Sandy semakin memperdalam ciumannya.
Menumpahkan semua rasa yang sejak tadi bercampur aduk dalam hatinya.
"Hmmmph...."
Reva mendorong Sandy.
__ADS_1
"Aku kehabisan nafas." katanya terengah-engah.
Sandy belum ingin menjauh.
Dia masih menatap bibir Reva.
Reva mundur.
"Om kenapa sih ?" tanyanya khawatir.
Sandy menatap mata Reva.
Mencari-cari.
"Kamu cinta aku, Va ?" tanyanya.
Reva tersenyum.
"Hmm.." jawabnya sambil sekilas mencium bibir Sandy.
Dalam waktu satu jam, dua orang bertanya hal yang sama padanya.
Sandy melepaskan setirnya.
Tangannya menggapai pinggang Reva.
Satu tangan memegang dagu, memaksa Reva untuk memandangnya.
Sandy Menatap mata Reva dalam-dalam.
"Va...malam ini kita ML ya ?"
"Hah ?!"
"Malam ini kita ML.
Toh kita udah mau kawin.. Semuanya udah settle.
Gak apa-apa kan, Va ?"
Reva mendorong dada Sandy.
"Om lagi kenapa sih ?" tanyanya.
Sandy kembali menarik Reva.
"Lagi pingin sama kamu, Va." bisiknya.
Kepalanya merunduk. Wajahnya ditekan di ceruk leher Reva.
Tangan Sandy memeluk erat tubuh Reva.
"Aku gak mau kehilangan kamu, Va..
Aku cinta kamu." bisik Sandy.
Bulu kuduk Reva meremang.
Dia membiarkan Sandy memeluknya.
Sandy lalu mencium lehernya.
Reva terlonjak.
Sandy terkekeh.
"Segitunya..." katanya.
"Sabar Om.." katanya.
"Yuk pulang.."
Reva mengangguk.
Hatinya lega.
Sandy tidak menganggap kehadiran Steven tadi sebagai alasan untuk bertengkar.
Reva sedang lelah.
Dia tidak akan sanggup bertengkar dengan Sandy seandainya tadi Sandy berniat mengangkat hal itu sebagai masalah.
Reva menyandar, menutup matanya.
Sandy melirik.
"Kamu capek ya ?" katanya.
Satu tangannya membelai kepala Reva.
Reva mengangguk.
Sandy langsung merasa bersalah.
Harusnya tadi dia memaksa Charles dan Ernest untuk cepat-cepat kembali.
Tidak perlu menunggu Cindy dan teman-temannya selesai makan.
"Jangan tidur dulu.
Makan dulu ya ? Malam ini aku gak balik ke tempat Michael.
Aku nemenin kamu."
Reva membuka matanya.
"Gak usah, Om.
Om balik aja.
Mumpung belum malam banget."
"Enggak.
Aku mau sama kamu malam ini."
Reva langsung menoleh.
"Kenapa ?
Gak papa kan ?
Kita udah mau kawin, Va." kata Sandy sedikit keras.
Reva tersenyum.
"Yang bilang gak boleh itu siapa ?"
Reva balik bertanya.
Sandy menghembuskan nafas lega.
"Aku pikir kamu bakal ngelarang aku, Va."
"Lagi pula itu rumah Om.
Aku belum punya hak ngelarang Om masuk rumah sendiri."
Sandy mencengkeram setir.
"Kamu udah punya hak, Va.
Kamu selalu punya hak."
"Jangan gitu ah, Om.
Walaupun kita udah kawin nanti, aku tetap gak punya hak ngelarang Om masuk rumah itu.
Yang ada...aku yang harus keluar." senyum Reva.
Ciit.
Sandy menginjak rem mendadak.
"Om !!
Ada apa ?" tanya Reva panik.
Dia memanjangkan lehernya untuk melihat keluar menyangka ada sesuatu di luar.
"Reva !"
Reva terlonjak mendengar suara Sandy.
"Apa ?"
"Kamu gak pernah keluar dari rumahku.
Gak akan pernah !
Sekali masuk...gak akan ada jalan keluar." kata Sandy.
Eh ?
__ADS_1
...☘️🎀🍇...