Kamu Milikku

Kamu Milikku
Berkeliling


__ADS_3

Selesai sarapan, mereka bersama-sama diajak untuk berkeliling.


Melihat sawah yang masih gundul bekas dipanen minggu sebelumnya, penggilingan padi, gudang gabah dan gudang beras.


Mereka semua senang sekali.


Walaupun di Taiwan ada pertanian, tapi mereka orang perkotaan.


Jarang sekali melihat langsung proses dibentuknya pada menjadi beras.


Steven banyak menyimak obrolan Sandy dengan Tito dan Papa.


Dia jadi tau bahwa Sandy ikut membantu memanen padi.


Dahinya berkerut.


Hatinya menjadi sedikit gundah.


Dia memandang Sandy.


Sandy tampan.


Kaya.


Dan baik.


Siapapun orang tua yang anaknya dipacari Sandy akan sangat bahagia.


Lihat saja Cindy.


Sekarang Cindy sibuk mengejar-ngejar Sandy setelah sebelumnya menganggap enteng hubungan mereka.


Sayangnya..sudah terlambat.


Sandy kelihatannya sudah tidak ingin lagi meneruskan hubungan itu.


Wajar.


Diapun tidak ingin punya hubungan apapun dengan perempuan macam itu.


Artis terkenal sekalipun.


Dan Sandy jelas sekali mengincar Reva walaupun tidak ditunjukkan.


Tapi siapapun yang juga menyukai Reva seperti dirinya pasti mengetahuinya.


Steven menegakkan tubuhnya.


Naluri berkompetisi nya bangkit.


Dia lalu berjalan menjajari Papa.


Bersikap tertarik dengan pengolahan pertanian dan akhirnya malah betul-betul tertarik.


Sama halnya dengan Sandy, Otaknya yang pintar mulai memikirkan tentang tehnik pertanian modern.


Dan saat dia bertanya...


Papa menatapnya sejenak.


"Bukannya kami tidak mau lebih modern.


Tapi disini masih banyak yang menggantungkan hidupnya menjadi buruh tani.


Kami di sini...di pedesaan saling tolong menolong."


Steven mengangguk.


Papa menatapnya.


Dia penasaran dengan anak muda yang jelas-jelas bukan orang Indonesia tapi memahami bahasa Indonesia.


Memang bicaranya patah-patah dan dengan logat khas orang yang jarang berbahasa Indonesia.


Lalu Papa bertanya


"Belajar bahasa Indonesia dimana ?"


Sandy tertawa.


"Steven ini jeniusnya kami, Om.


Saking jeniusnya, dia cukup dengar saja sudah paham." katanya pada Papa.


Papa menatap kagum pada Steven.


"Diktatnya Reva juga dilalap sama dia Om." sambung Sandy.


"Oh..iya...


Steven ini pemilik apartemen yang disewa Reva disana." kata Sandy meneruskan.


Steven menatap heran.


Sandy ini jelas-jelas pesaingnya.


Dia maupun Sandy tau hal itu.


Tapi..kenapa sibuk mengangkat dirinya?


"Oya ?"


Papa langsung menatap Steven tertarik.


"Terima kasih ya..


Rupanya anak saya banyak ketemu orang-orang baik."


"Reva juga baik Om.


Dia cerdas.


Saya suka ngobrol sama dia." jawab Steven malu.


Wajahnya memerah.


"Steven juga yang bikin Reva dekat sama kami semua di Methrob.


Dia datang ke apartemen Reva, bawa makanan bareng sama kami semua." senyum Sandy.


"Wah...


Baru sekarang saya tau kegiatan Reva di sana.

__ADS_1


Reva selama ini gak pernah cerita.


Hanya yang penting-penting saja.


Mungkin gak mau bikin kami khawatir." kata Papa.


"Om gak perlu khawatir.


Kami semua di sana menjaga Reva.


Apartemen yang ditinggali Reva aman.


Punya sistem keamanan yang lengkap.


Saya sudah memastikan karena dulunya saya juga tinggal disitu.


Dan Taiwan aman kok Om." kata Steven.


Papa mengangguk-angguk.


"Saya tinggal di gedung sebelahnya." tambah Steven.


Papa menoleh memandang Steven.


Menatap wajah asing itu.


Instingnya sebagai orang tua tergugah.


"Mas Sandy...Mas Steven..saya titip Reva ya.


Saya sama Mamanya kan jauh.


Sekali-kali saya boleh telpon kalian berdua ?" tanya Papa memancing.


"Boleh Om." jawab Sandy.


Sandy lalu menoleh pada Steven.


"Kamu tau arti kata Mas ?" tanya Sandy pada Steven.


Steven menggeleng.


"Mas..artinya kakak laki-laki.


Digunakan sebagai panggilan pada orang lain, kakak sendiri atau irang yang lebih tua.


Bisa juga panggilan untuk istri pada suaminya. Seperti panggilan Tia pada Michael." Sandy menjelaskan.


"Kalau disini, pantang orang yang lebih muda manggil nama langsung sama irang yang kebih tua.


Biasanya dipanggil Mas. Kakak." kata Papa.


Mereka meneruskan perjalanan ke gudang gabah.


Papa berniat untuk menjual sedikit saja dari persediaan gabahnya.


Panen raya berarti harga jatuh.


Papa tidak terlalu butuh uang.


Rombongan Papa ternyata menyita perhatian.


"Waah..Pak..


"Iya..


Temannya Reva.


Lagi pada liburan.


Jadi saya ajak kesini.


Liat-liat suasana pedesaan Indonesia." jawab Papa tersenyum dalam bahasa Jawa.


"Wuihhh.... ganteng-ganteng.


hmmm....


Yang mana yang calon mantunya Pak ?"tanya yang lain iseng.


"Ah...


Temannya semua kok." bantah Papa masih tersenyum.


"Lha wong Reva masih kuliah."


Sandy tersenyum-senyum mendengar percakapan itu.


Dia sudah cukup sering mendengar jadi sedikit memahami isi percakapan mereka.


Bahunya ditepuk dari belakang.


"Mas Sandy !!


Ikut lagi nih." tegur salah satu teman Andi.


Sandy tersenyum.


"Iya.."


Steven memperhatikannya.


Sandy banyak ditegur oleh orang-orang disekitar Papa.


Kelihatannya Sandy sudah sering ke sini.


Sandy dan Papa bersama Tito mulai terlibat percakapan dengan orang-orang yang hendak membeli gabah.


Steven dan teman-temannya berkeliling diantar oleh Agus dan Andi.


Ada beberapa anak muda juga yang ikut.


Ingin menjajal kemampuan bahasa Inggris mereka.


Satu jam kemudian, mereka lalu pulang untuk makan siang.


Reva dan Mama sudah menunggu.


Meja juga sudah diatur.


Semua orang mengambil kursi.


Reva mengambil tempat disebelah Anna.

__ADS_1


Di Ujung meja.


Obrolan kembali berkisar tentang suasana desa.


"Aku juga mau tinggal di sini" celetuk Anna.


"Kalo gitu dikamar ku aja.


Kita bertiga.


Yang cowok-cowok berbagi di empat kamar." jawab Reva.


Sandy menatap ponselnya.


Dahinya sedikit berkerut.


"Malam ini kita makan malam bareng di hotel.


Kayaknya nginepnya mulai besok malam saja.


Karena nanti pasti bakal malam banget." katanya.


Lalu menengadah.


"Om dan Tante diundang.


Ada orang tua Michael, Robert dan saya." katanya.


Papa dan Mama Reva saling berpandangan.


Papa berdehem.


"Aduh.. minta maaf Mas Sandy.


Saya sama Mamanya Reva gak bisa datang.


Ada acara di kelurahan." jawab Papa.


Mama mengangguk.


"Aku juga belum kuat Mas...Om.


Aku mau istirahat full dulu di rumah." jawab Reva.


"Kita semua Boss ?" tanya Liu.


Sandy mengangguk.


"Kita semua.


Kita dijamu sama orang tua Tia."


Papa membuka ponselnya.


"Hmm...iya Om juga dapat.


Nanti biar Om telpon kalo Om gak bisa datang malam ini.


Minta maaf untuk keluarga mas Sandy, Mas Michael, mas Robert.


Belum bisa berkenalan langsung." kata Papa.


"Mas Sandy jadi liat rumah atau kita tunda aja ?" tanya Andi.


Sandy menatap sekilas pada Reva.


"Jadi Mas.


Kalo bisa kita selesai kan..kita selesaikan saja."


"Rumah apa ?" tanya Reva.


"Mas Sandy tertarik beli rumah disini.


Jatuh cinta dia sama desa kita." senyum Tito.


"Hah ?!


Om mau beli rumah ?


Di sini ?


Di kota aja Om !


Disini kan sepi.


Gak ada apa-apanya." bantah Reva.


"Biar deket sama kamu, Va !" jawab Sandy iseng dengan senyum jail.


"Om !!" kata Reva dengan nada tinggi.


Lalu menoleh, menatap ke sekeliling nya.


Lupa bahwa mereka sedang ramai-ramai makan bersama.


Wajahnya memerah.


Semua orang sedang menatapnya.


"Reva.." tegur Mama.


Steven pun menatap Reva.


Mengamati.


Mencari tanda-tanda.


Mata Reva bertabrakan dengan tatapan Steven.


Reva kembali memerah.


Dia menundukkan wajahnya.


Meneruskan makan.


Dia malu.


Berfikir semua orang menganggapnya kegeeran.


Steven tersenyum diam-diam.


Sementara Sandy melanjutkan makannya dengan santai.

__ADS_1


...⛰️🍎🎋...


__ADS_2