Kamu Milikku

Kamu Milikku
Jaga Dia


__ADS_3

Reva mengepalkan tangannya diam-diam.


Habis dia tadi dikerjai oleh anak beranak ini.


Mimpi apa dia semalam ?


Dia sedang duduk bersama dengan Tia, Michael, Robert, Biliyan dan seluruh keluarga mereka di restoran.


Sandy duduk di seberangnya.


Menatapnya dengan senyum di bibirnya.


Reva melotot sejenak pada Sandy sebelum menurunkan pandangannya.


Khawatir dilihat orang.


Terdengar kekeh Sandy.


Reva kembali melirik Sandy dengan judes.


"Ketawa sama siapa lu ?" tegur Robert.


"Enggak kok..


Cuma...keponakan lu lucu." jawab Sandy.


Robert melirik sejenak.


"Keponakan gue cantik..bukan lucu." balasnya.


Robert menatap Sandy, menilai.


"Baru sekali ini gue liat lu seneng banget.


Padahal kalo ada dia, lu bawaannya senep aja." katanya menganggukkan kepala ke arah Cindy yang duduk di sebelah Mami Sandy.


"Gak ngaruh ada dia atau gak ada.


Yang penting ada dia." jawab Sandy sambil menganggukkan kepalanya pada Reva.


Reva terlihat cantik.


Tia dan Biliyan dibantu Mami Michael dan Mami Robert mendandani nya habis-habisan.


Mereka bahkan memanggil penata stylish.


Makeup nya tipis.


Tapi penampilan ala mahasiswa nya yang berubah.


Mami Robert yang suka iseng bahkan menyarankan gaun yang terbuka di punggung.


Yang diprotes keras oleh Reva.


Cindy pun berdandan habis-habisan.


Saat dia masuk, semua orang menoleh padanya.


Dia pun mengulum senyum.


Bajunya dipilih yang memesona.


Menarik perhatian semua orang.


Semua orang kecuali satu.


Padahal yang satu itu yang ingin ditarik perhatiannya.


Sandy hanya meliriknya sebentar lalu memalingkan muka.


Dan Cindy mendapat kejutan.


Ada Reva di sana.


Reva dengan dandanan berbeda dari biasanya.


Cantik dan menawan.


Gadis berusia dua puluh tahun.


Muda dan segar.


Serta ceria.


Sepanjang makan malam, Sandy tidak mampu melepaskan matanya dari Reva.


Yang membuat Cindy makin merasa marah.


"Maaf..." sapa kepala pelayan.


Mereka semua mengangkat wajah.


"Mr. dan Mrs. Chang mohon maaf sebelumnya, tapi beliau berdua meminta Miss Djoyodiningrat untuk datang ke meja Mereka. " kata kepala pelayan sambil menganggukkan kepalanya ke arah meja Willy Chang.


Terlihat Willy dari jauh melambaikan tangannya.


"Oh...Om...?" tanya Reva meminta ijin pada Michael.


Michael balas melambai lalu menganggukan kepalanya pada Reva.


"Sana, Va..." katanya sambil tersenyum.


Semua hening saat kepala pelayan membantu Reva mendorong kursinya ke belakang.


Reva lalu berjalan menuju meja Willy.


Gaunnya melambai seiring dengan langkah kakinya.


Sandy terus menatapnya.


"Anakku sepertinya benar-benar kasmaran." cetus Mami Sandy dalam bahasa Indonesia.


Sandy menoleh pada Mami lalu tersenyum.


Kemudian kembali memalingkan mukanya ke arah Robert.


Di Samping Mami ada Cindy.


Cindy menatap ke meja Willy.


Di sana Reva tampak mengobrol akrab dengan Willy dan keluarganya.

__ADS_1


Ayah ibunya.


"Mereka kelihatan akrab" cetus Mami Robert.


"Iya...


gak tau tuh.


Sebetulnya ada banyak anggota tim penelitian Stephen.


Tapi sepertinya hanya Reva yang dekat hubungannya dengan Willy dan keluarganya." jawab Tia.


"Oh...kenapa ?


Jangan-jangan..." lirik Mami Michael ke meja Willy.


Tia tertawa.


"Wah..gak tau Mi.


Memang sejak awal waktu rekrut tim, Willy secara khusus meminta Reva untuk dimasukkan." jawabnya.


Mami Sandy juga melirik ke arah meja Willy.


"Konglomerat ?" tanyanya.


Tia mengangguk.


"Iya Tan.


Tajir banget."


Mami Sandy melirik Sandy sejenak.


Wajah Sandy tetap datar.


Setengah jam kemudian, Reva kembali ke meja.


Tangannya menenteng sebuah kotak.


Kepala pelayan kembali membantunya duduk.


Perhatian semua orang kembali padanya.


Sebab Reva datang dengan muka kaget dan senang.


"Apa tuh, Va ?" tanya Tia.


Reva lalu menyodorkan kotak itu pada Michael yang berada di samping Tia.


"Ini Om.." katanya.


Michael membuka kotaknya.


"Mobil, Va ?" tanyanya mengangkat wajah memandang Reva.


Reva mengangguk.


"Padahal aku gak punya SIM sini."


"terus..mana mobil nya ?" tanya Biliyan.


"Ehmm..kata Mrs. Chang, dikirim ke apartemen ku, Tan.."


Dipinjemin ?"


Reva memerah.


"Aku nganggep nya sih di pinjemin."


"Tapi sebetulnya dikasih ?" kejar Robert.


Reva mengangguk.


Mereka semua menatap Reva.


Bukannya apa-apa....


Ibu seorang konglomerat single yang dikabarkan sedang mencari istri untuk anaknya, memberikan mobil untuk seorang gadis.


Secara pribadi.


Mereka lalu melanjutkan makan.


Beberapa saat kemudian, Willy menghampiri meja mereka.


"Michael, Robert, Sandy..." sapanya.


"Willy..." sapa mereka bertiga.


"Itu bukan dariku.


Itu dari Ibuku.


Ibuku mendengar, peneliti kesayangannya kecelakaan sampe gegar otak liburan kemarin.


Dan sekarang..beliau juga mendengar kalau Reva menjadi asdos .


Yang artinya...dia bertambah sibuk.


Jadi Ibuku memutuskan untuk memberi mobil pada Reva." kata Will sambil menunjuk kotak yang sekarang ada di hadapan Michael.


Willy diam sebentar.


"Beliau ingin mobilitas Reva lebih mudah.


Dan juga lebih aman." katanya sambil menatap Sandy dan kemudian Cindy.


Sandy memerah.


Cindy pun memerah.


Bahkan Willy pun mendengar.


Tidak heran.


Pertengkaran mereka saat Sandy memutuskan hubungan tersebar kemana-mana.


Jeritan Cindy yang sedang marah diingat oleh para crew restoran serta pengunjung yang sedang makan di sana.


Michael berdehem.

__ADS_1


"Katakan pada Ibumu, kami semua berterima kasih.


Jangan khawatir...


Kami semua akan menjaganya.


Kalian tenang saja."


"Ya... tolong jaga dia.


Ibuku bisa marah kalo ada apa-apa.


aku bakal kena getahnya." senyum Willy.


"Ah.. Willy..


Aku jadi tersanjung..." senyum Reva bercanda.


"Bagus !


Kamu memang harus tersanjung.


Jarang sekali ibuku memberi perhatian pada orang." jawab Willy.


"Ibumu kan memang baik pada semua orang."Jawab Reva.


"Liburan semester besok, kami semua diajak."


Reva menutup mulutnya.


"Diajak kemana ?" tanya Tia.


Willy tersenyum.


"Rahasia kita ya, Va ?" katanya dengan misterius.


Cindy menatap Willy dan Reva dengan iri.


Gadis kecil asing ini sudah bisa merebut hati ibu Willy dan Willy ?


Willy lebih tua dari Sandy sekitar sepuluh tahun lebih.


Rambutnya sudah mulai menipis.


Walaupun dengan kekayaan nya..itu tidaklah menjadi masalah.


Willy sendiri adalah pebisnis tangguh.


Dia cerdas dan tajam.


"Aku tinggalkan dulu kalian semua.


Permisi..


Reva..jangan lupa janji kita ya..."


Reva mengangguk.


"Iya Willy.." jawabnya patuh.


Willy lalu meninggalkan mereka.


Cindy kembali menatap Sandy.


Dia kembali terpesona.


Kenapa dulu dia tidak menyadarinya ?


Bahwa Sandy ganteng dan sangat manis?


Dan juga manis bersikap.


Cindy merapatkan bibirnya.


Biar saja Reva dengan konglomerat nya.


Yang penting Sandy miliknya.


Tapi...


Sandy sekarang bahkan tidak ingin melihatnya.


Ya Tuhan...


Kenapa..?


Kenapa..?


Cindy menghembuskan nafasnya.


Mami Sandy menoleh.


"Kenapa Cin ?"


"Ah..enggak apa-apa, Mi.." jawab Cindy sambil tersenyum manis.


Cuma Mami Sandy yang berada di pihaknya.


Papi Sandy kelihatannya lebih memilih mendukung keputusan anaknya.


Jangan tanya yang lain.


Mereka semua senang, Sandy memutuskannya.


Mereka tidak suka caranya memperlakukan Sandy.


Terdengar Mami berdehem.


"Reva !!


Ada hubungan apa kamu sama konglomerat itu ?" tanya Mami dengan suara tajam.


Reva terperanjat.


"Saya salah satu anggota peneliti yang dibiayai oleh Willy, Tante." jawab Reva.


"Kamu enggak selingkuh kan sama dia ?"


"Hah ?!"


"Karena Mami gak akan memaafkan siapapun yang sudah menyelingkuhi anak Mami !!" kata Mami dengan tegas.

__ADS_1


Cindy terbatuk-batuk.


__ADS_2