Kamu Milikku

Kamu Milikku
Rencana Di Jalankan Part 2


__ADS_3

Aira mencoba memberikan semangat untuk kakaknya agar tetap tertawa dan bahagia menerima semua yang akan terjadi dalam hidupnya.


"Niana juga akan bahagia nantinya. Mas Arlan tidak perlu khawatir, walaupun dia nanti ternyata memang dengan Kenzo, aku yakin Kenzo juga pasti akan bisa membahagiakan dia." Sekarang gantian Aira yang memeluk Kakak laki-laki satu-satunya itu.


"Kemarin saat melihat Niana dengan Kenzo rasanya ada hal yang sakit di sini, Dek." Arlan menunjuk ke arah dadanya.


"Dulu aku juga begitu, apa lagi mengetahui kebenaran tentang Mas Dewa, tapi semua sudah berlalu dan Addrian menyembuhkan semuanya."


"Addrian sangat mencintai kamu."


"Aku juga sangat mencintainya. Mas Arlan nanti juga akan bahagia." Aira menarik dirinya dari dekapan kakaknya.


"Semoga." Arlan tersenyum aneh.


"Mas Arlan kemarin belum menemui Niana?"


Arlan menggelengkan kepala. "Saat melihat dia dengan Kenzo aku langsung pergi dari sana. Aku mencoba menenangkan diriku sejenak.


"Coba terima semuanya, Mas."


Arlan menarik napasnya dalam dan dia akan mencoba menerima semuanya saja, dan biar semua berjalan apa adanya.


"Kalau begitu Mas Arlan siap-siap dulu dan aku mau membantu mama lagi di bawah."


"Iya. Aira, kamu jangan terlalu lelah, nanti kalau ada apa-apa sama kamu. Addrian bisa-bisa menjadi Hulk dan mengamuk." Arlan tersenyum kecil.


"Dia tidak hanya jadi Hulk, jadi hell boy juga." Aira tersenyum dan dia berjala keluar kamar kakaknya dengan memegangi perutnya.


Arlan berdiri di sana dan mencari ponselnya. Dia mencoba menghubungi Niana.


"Halo," ucap Niana lirih.


"Hai, Na."


"Hai, Mas, kenapa kamu menghubungiku? Bukannya kamu hari ini ada pertemuan antara keluarga Mas Arlan dan gadis yang akan menjadi calon istri Mas Arlan."


"Kamu tau?"


"Tentu saja, tau. Aira pernah memberitahuku, dan sebenarnya aku mau ke sana untuk membantu, tapi ibuku meminta untuk mengantar ke desa. Aku akan pulang ke desaku dalam beberapa hari."

__ADS_1


Niana ini memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya di restoran Arlan karena jika tidak begitu, maka akan membuat dirinya dan Arlan sama-sama sakit.


"Apa mau aku antarkan ke sana?"


"Mas, kamu hari ini pasti sibuk. Jadi, Mas tidak perlu repot mengantarkan aku. Nanti aku akan diantar oleh Kenzo."


"Kenzo." Arlan tersenyum miris. "Apa kamu dan dia sudah berpacaran?"


"Kita tidak ada hubungan, Mas, dia itu sahabat baikku dan Aira. Mas juga sudah tau sejak dulu."


"Iya, lagi pula untuk apa aku mengurusi urusan kalian. Kamu adalah wanita bebas dan bisa berhubungan dengan siapa saja. Ya sudah kalau begitu selama berlibur dengan Kenzo."


"Mas, aku tidak sedang liburan."


"Bye Niana."


"Mas ... Mas ...!" panggil Niana tidak dipedulikan, Arlan malah menutup panggilannya.


"****!" Addrian melempar ponselnya sampai ponsel itu menghilang entah ke mana. Addrian masuk ke dalam kamar mandi dan dia memilih bersiap-siap saja menuruti apa kata mamanya. Dia ingin melihat bagaimana wajah gadis yang akan mamanya jodohkan dengannya.


Acara hari ini dimulai dengan keluarga Aira yang menunggu menyambut kedatangan keluarga gadis bernama Riani Nabilla Linggar, dia seorang guru musik di salah satu sekolah musik yang terkenal di kota itu. Kedua orang tua Riani juga bukan termasuk keluarga kalangan atas. Mereka menetap di sebuah pedesaan dengan suasana yang sangat indah dan nyaman. Riani tinggal di kota ini dengan keluarga bibi dan pamannya yang cukup berada.


"Selamat datang, senang sekali kalian bisa datang ke sini memenuhi undangan kami," mama Tatiana memeluk hangat temannya itu.


"Kami yang sangat terhormat bisa Mba Tia undang ke rumah mewah, Mba Ini."


"Kamu jangan bicara begitu. Rumah kamu di desa juga sangat besar dan bagus, apa lagi pemandangan di belakang rumah kamu itu indah sekali. Pokoknya nanti kalau anak kita menikah, aku mau menginap di sana selama seminggu kalau bisa. Iya, kan, Yah?"


"Iya, ayah juga sudah bosan dengan suasana perkotaan ini."


"Wah! Mama kenapa tidak pernah mengajak Aira ke sana? Aira juga mau melihat pemandangan pedesaan, Ma," celetuk Aira.


"Ini Aira putri kamu yang waktu pernikahannya aku tidak dapat hadir ya, Mba?"


"Iya, Ini Aira dan kamu waktu itu tidak hadir karena ibumu meninggal."


"Iya. Aira, bibi minta maaf karena tidak bisa hadir di acara pernikahan kamu waktu itu."


"Tidak apa-apa, Bi. Bibi sendiri mendapat musibah."

__ADS_1


Kedua mata Tatiana mengedar mencari di mana sosok calon menantunya yang lama dia tidak bertemu.


"Asha, apa ini Riani?" Tatiana melihat seorang gadis dengan baju dress di bawah lutut dan lengan tiga perempat, berwarnan putih tulangnya. Gadis itu memiliki wajah kalem dan senyum yang manis.


"Iya, dia Riani. Riani anaknya memang sangat pendiam dan kalem. Dia juga sangat pemalu."


"Anak gadis memang begitu. Sayang, Budhe kangen sama kamu." Tatiana memeluk erat gadis dengan rambut di kuncir sederhananya itu.


"Maaf, jika Riani jarang datang ke rumah budhe. Itu karena Riani merasa sungkan sendiri kalau tidak dengan bapak dan Ibu."


Riani ini benaran mencerminkan gadis desa yang pemalu, tapi sangat menghormati orang tua.


"Tidak apa-apa kalau kamu berkunjung ke sini. Budhe akan sangat senang kalau kamu datang ke sini. Kamu juga bisa berteman baik dengan Aira."


Gadis manis pemilik mata belok itu tampak melihat Aira dan tersenyum pada, Aira. "Kamu sedang hamil? Berapa bulan?"


"Ini mau memasuki usia delapan bulan. Mba Riani cantik sekali."


"Tentu saja cantik, sepupu siapa dulu," celetuk seorang gadis yang jika dilihat dia masih sangat belia.


"Sisi, jangan membuat malu kakak kamu," tegur wanita yang adalah bibi dari Riani.


"Sayang." Tangan Tatiana membelai pipi Riani yang tertutup dengan rambutnya. Sejenak Tatiana terdiam melihat bekas luka yang ada pada wajah sebelah kiri Riani.


"Budhe," panggil Riani dan sontak saja membuat Tatiana kembali menginjakkan kakinya di bumi.


"Maaf, Sayang, budhe hanya sedikit melamun tadi."


"Tidak apa-apa. Budhe, apa Arlan sudah tau jika dia akan dijodohkan denganku-- gadis yang memiliki bekas luka pada wajahnya?"


Aira agak kaget mendengar apa yang baru saja Riani katakan. "Bekas luka, Mba?" tanya Riani heran.


"Iya, di wajahku ada bekas luka Aira dan ini tidak bisa di operasi karena menyambung dengan saraf mata, kalau sampai ada kesalahan dalam operasi, akan dapat membuat kebutaan dan aku tidak mau kalau sampai itu terjadi. Aku ingin bisa terus mengajar bermain musik dan melihat indahnya saat anak-anak bermain denganku."


"Maaf, apa aku boleh melihatnya, Mba?"


Riani mengangguk dan menunjukkan bekas luka itu dengan menyikapi rambutnya yang menutupi wajahnya.


Aira sampai membuka mulutnya melihat bekas luka itu.

__ADS_1


__ADS_2