
Susah payah Sandy menghentikan dirinya.
Kalau mengikuti hasrat, ingin sekali dia menyeret Reva ke kamar dan langsung menidurinya.
Reva sendiri tampak sudah pasrah pada apapun yang akan Sandy lakukan.
Tapi Sandy ingin menikmati Reva dalam status pernikahan.
Memuja tubuhnya sebelum menyiramkan benihnya di rahim Reva dan menanti dengan bahagia saat anak mereka datang ke dunia.
Dia ingin memberikan Reva pengalaman yang indah saat penyatuan mereka untuk pertama kalinya.
Mereka akhirnya duduk bersisian menatap matahari yang mulai terbenam.
Sandy teringat dengan cincin yang dia tinggal di kamar apartemennya.
Dia merasa kesal sendiri.
Seharusnya kemarin dia bawa.
Sekarang sepertinya waktu yang romantis untuk melamar Reva.
Apalagi dengan kegiatan yang baru mereka lakukan.
Tapi dia tidak bawa.
Dalam pikirannya, Reva akan menolak mentah-mentah ditemani berlibur olehnya.
Dia Tidak menyangka, Reva akan menyambutnya seperti ini.
Sandy tersenyum kecil.
Mereka berdua duduk di pasir menjulurkan kaki.
Sandy sudah kembali memakai kausnya.
Reva meliriknya.
"Om..." katanya agak ragu.
"Hmm ?"
"Om pasti kecewa ya sama aku ?" katanya tanpa mau menatap Sandy.
Matanya lurus menatap cakrawala.
"Hah?!
Kenapa ?"
"Ehm..."
"Apa ?"
"Aku kan baru putus.
Tapi..tapi aku...eh.."
Pipi Reva memerah.
Tapi dia memaksakan dirinya melanjutkan.
"Aku mau aja dicium seperti itu sama Om." katanya sambil menundukkan kepala.
"Berarti..aku sama aja kayak Cindy ya, Om ?
Gak bisa setia."
Plak.
"Aduh...Om...
Kok aku dikeplak lagi."
"Soalnya otak kamu perlu diguncang.
Biar mikir nya bener !"
"Kamu kan udah tau kalo bakal jadi istriku."
"Ehmm...emang Om masih mau ?
Dengan kejadian tadi ?
Om gak takut kalo aku...kalo aku nanti..."
"Stop !.Jangan diterusin !
Kamu gak sama."
"Om bilang gitu karena..karena...
ehmmm....mau nerusin yang tadi kan ?" tuduh Reva.
Plak.
"Anak ini !!
Kalo aku mau dari tadi udah diterusin Va !"
"Iya Om ?"
"Iya Lah !!
Wong kamu pasrah kayak gitu kok !" gerutu Sandy.
Plak.
Tangan Sandy dipukul.
Sandy terkekeh.
"Aku pingin menikmati kamu dalam pernikahan.
Pingin kasih kamu pengalaman yang indah untuk pertama kalinya.
Kalo sekarang kita lakuin, kita ngelakuinnya enggak bebas.
Enggak plong.
Was-was.
Aku pingin kamu juga menikmati.
Hubungan seperti itu, Va...paling indah kalo kita berdua menikmati."
"Tapi Om menikmati kan waktu tidur sama Cindy ?"
Sandy menghembuskan nafasnya.
Cindy lagi .. Cindy lagi..!!
__ADS_1
Sampe kapan nama Cindy bakal berhenti menghantui dirinya.
Ampun deh !!
Sandy menghadap kan dirinya pada Reva.
"Laki-laki butuh kepuasan fisik, Va.
Iya...aku mendapat pelepasan fisik.
Tapi enggak secara batin.
Aku enggak menikmati secara batin.
Dan Waktu itu...aku ngelakuinnya karena pingin balas dendam.
Aku gak ikhlas, diriku ditipu mentah-mentah.
Aku balas dia.
Menipu dia.
Memakai badan dia untuk pelepasan fisikku.
Dan dia berfikir kalo aku mencintai dia.
Padahal enggak."
"Apa suatu kali nanti Om akan seperti itu sama aku ?
Waktu perasaan Om sekarang sudah memudar ?" tanya Reva pelan.
"Apa kamu bakal ngelakuin seperti Cindy ?"
Reva menggeleng.
"Orang tuaku saling mencintai, Om.
Aku juga pingin punya suami yang mencintaiku seperti Papa mencintai Mama."
"Yah..sebentar lagi kamu bakal dapat suami seperti itu."
"Om, maksudnya ?"
"Siapa lagi, anak bodoh !!" jawab Sandy gemas.
Reva diam. Matanya kembali menatap cakrawala.
Senja mulai turun, memberi semburat ungu di ufuk langit.
"Va..."
"Hm...?"
"Aku pingin kita kawin secepatnya."
"Hah ?!
Om !!.Aku masih kuliah."
"Kawin sama kuliah kan bisa jalan bareng, Va !"
"Tapi...
Om...aku gak pingin keganggu dulu."
"Aku gak akan ganggu kamu, Va.
Rumahku udah selesai.
Kita tinggal disana."
"Om...."
"Kamu malah lebih enak, Va.
Kamu bisa fokus ke studi kamu.
Kan yang ngurus rumah ada asisten.
Aku udah minta Papa kamu nyariin orang buat bantuin di rumah kita."
Reva menoleh menatap Sandy.
"Om sering telpon Papa ya ?"
Sandy tertawa.
"Iya dong.
Kan kita punya rumah disana.
Papa kamu sama Tito, Agus bantuin ngurusin."
"Rumah kita ?
Rumah Om."
"Rumah kita, Va.
Kamu sebentar lagi jadi istriku kok."
"Om pede banget."
Plak.
"Aduuh..!!" jerit Reva.
"Kamu itu statusnya 'taken'
Udah ada yang punya.
Aku !" kata Sandy dengan gemas.
Reva menunduk.
"Va..." kata Sandy lembut.
"Aku minta waktu, Om."
"Enggak.!"
"Apa ?!"
"Enggak.
Aku udah cukup nunggu kamu, Va." jawab Sandy tegas.
Reva menunduk. Jarinya menggores pasir.
Satu sisi Sandy yang jarang terlihat.
__ADS_1
Tegas dan menuntut kepatuhan.
"Om, gak nyesel nanti ?"
"Enggak !!" jawab Sandy gemas.
Ini anak kok gak percaya-percaya sih ?!
"Aku bisanya cuma keluar masuk lab doang, Om.
Kalo..ehmm...kalo cewek-cewek selera Om kan , keluar masuk salon, club high class, butik-butik terkenal.
Penampilan mereka juga bening-bening lho Om.
Kalo aku..penampilan ku monoton, Om.
Jas lab doang. Itupun warnanya juga putih.
Mentok-mentok cuma biru muda atau hijau muda.
Rambut juga ditutupin sama cover.
Bukan hasil stylist beken.
Bau ku juga bau desinfektan.
Bukan parfum mahal.
Terus....aku cuma bisa bicara tentang virus, bakteri, sel.
Kalo cewek selera Om kan bisa bica.... hmmmpph... hmmmpph.."
Reva tidak bisa meneruskan ucapannya.
Mulutnya dibungkam dengan ciuman dari Sandy yang sudah gemas mendengar omongannya.
Sandy menyelesaikan ciumannya saat melihat Reva sudah pasrah memejamkan matanya.
Dia menjauhkan kepalanya sambil menatap mata yang masih terpejam itu dengan senyum lebar.
"Mau bau desinfektan kek..
Mau pake jas lab doang kek.
tapi dalamnya gak pake apa-apa...aku sih seneng aja, Va !!
Reva membuka matanya.
Menemukan Sandy yang sedang menatapnya.
"Om !!
Ih..ngeres mulu pikirannya !!"
Sandy tertawa.
"Ya ngeres lah..
Ada cewek cantik di sebelah aku, bajunya basah, nyeplak badan.
Dicium diem aja."
Plak.
Bahu Sandy dipukul.
"Yuk Om...
Pulang."
"Hmm..?
Kemana ?"
"Ke kamar dong Om..!!"
"Hmm...mau nerusin yang tadi ?" goda Sandy melirik Reva penuh harap.
Plak.
Lengan Sandy dipukul.
"Jangan harap ya Om.
Dan Om !!
Om pesen kamar sendiri gih..
Aku takut jadinya..
Kok Om jadi kayak pejantan yang lagi musim kawin sih ?!"
"Takut kenapa ?
Kan kamu juga bakal jadi istriku, Va."
"Iya..tapi kan gak ada jaminan.
Siapa tau, abis dapetin aku, terus Om kabur."
Sandy tertawa geli.
"Bisa dikebiri aku sama dua Om mu.
Belum lagi dua Tante mu yang galak-galak itu."
"Bah !!
Mereka semua itu sayang sama Om."
"Sayang sih sayang...
Begitu pada tau aku merawanin keponakannya, selamat tinggal masa depanku...
Keturunan ku...Anak cucuku.."
Reva tertawa.
"Jadi aku aman ya Om ?"
Sandy melirik.
"Kecuali..."
"Hmm...?"
"Kecuali kalo kamu mau kerjasama.
Dengan senang hati, Va..." senyum Sandy mengedipkan mata.
...🌴🎀☘️...
__ADS_1