Kamu Milikku

Kamu Milikku
Jangan Keluar Kamar !


__ADS_3

Hari kelima cuaca membaik.


Jalanan masih tertutup salju dan mereka belum bisa pulang ke Beijing.


"Teman-teman..


Kurasa besok kita bisa pulang." kata Hong Tao.


"Yeaay ...


Aku bosan kekurung di sini."


"Aku enggak.


Aku seneng liat salju turun."


"Emang kamu gak pingin pulang ?" tanya Shú Làn.


"Aku menikmati cuaca yang gak kita punya di Taiwan."


"Va...!


Aku heran kamu tenang-tenang aja.


Kan kamu mau kawin." kata Cherryl.


Reva yang sedang menatap salju di luar, menoleh.


"Terus aku harus gimana?


Marah-marah?


Nangis kejer ?


Apa semua itu bisa bikin salju berhenti?"


Semua tertegun sejenak mendengar kata-kata Reva.


Hong Tao mengangguk.


"Iya..kamu bener.


Lebih baik tenang menunggu daripada bikin situasi panik dan gak nyaman buat orang lain.


Hebat kamu, Va !


Jarang ada anak muda yang kalem dan berkepala dingin seperti kamu." katanya memuji.


Wajah Reva merona.


Fen dan Cherryl menatap Reva.


Sisi lain Reva.


Tenang dan tidak mudah panik.


Mungkin ini salah satu alasan yang membuat dua laki-laki seperti Steven dan Sandy mencintai dia.


Fen memikirkan dirinya yang mudah meledak.


Apa jangan-jangan gara-gara itu Steven tidak melirik dirinya sama sekali ?


Steven selama ini hanya menganggap dia sebagai teman masa kecil saja.


Tidak lebih.


Perhatian pun ya..hanya sebatas itu.


Tapi kalau melihat bagaimana Steven memperlakukan Reva.


Walaupun tau bahwa Reva sudah bertunangan...


Fen menyayangkan perhatian Steven yang sia-sia belaka.


Sia-sia karena orang yang diperhatikan akan menjadi milik orang lain.


Padahal....Fen tau selain dia banyak gadis lain yang menaruh hati pada Steven.


Lagipula... Steven itu miliarder muda.


Jangan tanya kekayaannya.


Walaupun Steven tidak ingin menonjolkan dirinya.


"Hey..."


Lamunan Fen terhenti.


"Apa ?"


"Ngapain kamu ngeliatin aku kayak gitu ?


Naksir ya ?" senyum Reva pada Fen.


Fen menarik bibirnya pura-pura cemberut.


Tapi kemudian dilihatnya semua orang juga sedang memperhatikan dirinya.


Menatap nya dengan pandangan aneh sambil tertawa.


"Sialan kalian !" gerutu Fen sambil melempar serbet.


"Soalnya..kamu ngeliatin Reva kayak gitu ?!


Gimana kita gak curiga ?! " kata Shú Làn sambil tertawa.


Reva berjalan perlahan menghampiri Fen.


Dengan dua jari, dijepitnya kedua pipi Fen.


"Naksir aku, hmm ?" kata Reva menatap dalam mata Fen.


Wajahnya didekatkan.


Pandangan mata mereka bertaut.


Fen tertegun, sejenak tenggelam dalam kedalaman mata Reva.


Lalu tersadar.


"Ih...


Enggaklah yaa !!" bentaknya.


Tangannya menampar tangan Reva.


Semua tertawa.


Fen memerah karena malu.


Malu karena kena dikerjain oleh Reva dan teman-temannya.


...🌻🌳🌺...


Mereka sampai di hotel keesokan harinya.


Teman-teman Reva yang lain segera mengambil penerbangan malam itu juga.


Sementara Reva sendiri sudah mengambil cuti untuk persiapan pernikahan sejak sebulan yang lalu.


Reva menelpon Sandy.


"Mas..." sapanya.


"Halo Sayang...


Udah di Beijing ?" jawab Sandy langsung.


"Udah Mas.


Ini...


Beneran aku harus langsung pulang ke tempat Mama ?" tanya Reva.


"Iya.


Langsung ke sana aja."


"Terus... Mas sendiri gimana ?"


Sandy menatap Reva dilayar ponselnya.


"Kamu berangkat..


Aku juga berangkat.


Kamu kasih tau kapan terbangnya.


Nanti aku pesan tiket yang sama."


"Oh..." Reva sedikit termangu.


Cincin....


"Kenapa ?"


"Oh...


Enggak.


Cuma..."

__ADS_1


"Cuma apa ?"


"Gak papa Mas !" kata Reva akhirnya.


Sandy menghembuskan nafas.


Lalu satu pikiran terlintas di benaknya.


"Eh..Va...


Biar aku yang nyariin pesawat nya.


Nanti aku kirim kode booking nya ke kamu."


Reva terhenyak.


"Mas...


Gak papa kok..


Aku bisa kok nyari sendiri pesawat nya." katanya.


"Jangan !


Biar aku.


Niy sebentar kok."


"Oh..."


"Ya udah..


Sebentar lagi aku kirim kode booking nya." kata Sandy.


"Oke Mas."


Reva menutup telpon sambil termangu.


Dia lalu memindai ponselnya mencari nomor Steven.


Beberapa kali memanggil tapi sampai nada panggil berhenti, Steven tidak mengangkat.


Reva mulai cemas.


Dan juga marah.


Drrt...


Drrt...


Reva mengangkat tanpa melihat layar.


"Ste..!!" jawab Reva dengan nada tinggi.


"Va..


Halo..."


Suara Sandy.


Reva langsung menutup mulutnya.


Hampir saja...


Reva mendekap mulutnya dengan telapak tangannya, mencegah suara apapun keluar dari mulutnya.


"Sayang .." sapa Sandy dengan manis.


Reva menenangkan dirinya sebelum menjawab.


Jantungnya berdebar.


"Mas ...


Udah dapet tiketnya ?" katanya manis.


"Udah dong.


Lusa ya.."


"Oke Mas.." senyum Reva.


Sandy lega.


Tadinya dia sempat menduga kalau Reva akan keberatan karena....


"Ya udah...


Kalo gitu aku tutup dulu ya..


Om kamu udah jerit-jerit nih."


Bibir Reva mengembang.


Kan aku punya dua Om disana."


"Dua-duanya !


Semuanya minta perhatian.


Padahal udah pada punya bini !"


Pluk.


Buntalan kertas menyambar dahi Sandy.


Nampak jelas dari layar dari ponsel Reva.


"Duh !!


Tuh Va !!


Liat kan ?!


Aku dibully !!" kata Sandy dengan nada tinggi.


Reva tertawa.


"Jangan percaya Va !!" terdengar suara Robert setengah tertawa.


Sandy memonyongkan bibirnya.


"Pokoknya Kamu harus belain aku, Va!"


"Mau dibelain bagaimana siiih ?" sahut Michael mengejek.


Sandy melirik ke atas ponselnya sekejap sebelum kembali menatap Reva.


Reva menatapnya sambil tersenyum.


Dagunya ditopang dengan tangan.


"Udah makan, Va ?" tanya Sandy mengubah topik.


"Belum Mas.


Sebentar lagi aku turun." jawab Reva.


Sandy mengernyit sedikit


"Kenapa gak room service aja ?" katanya dengan nada tidak suka.


"Oh ..


Mas gak mau aku turun ke restoran ?"


"Bukan gitu ...


Tapi ...kamu kan sendirian.


Temen-temen kamu udah pulang semua.


Nanti kalo ada apa-apa gimana ?"


"Di dalam hotel kok Mas.


Aman..." bantah Reva.


"Jangan !


Pake room service aja.


Dengerin aku kali ini ya Va !" kata Sandy tegas.


Reva menghela nafas, tapi tetap berusaha tersenyum.


"Oke Mas.


Nanti aku pesan aja."


"Hmmm...


Ya udah.


Kamu jangan keluar kamar.


Udah malam." kata Sandy mewanti-wanti.


"Iya Maaas...." senyum Reva.


Sandy tersenyum. Lega mengetahui Reva mengikuti kata-katanya.

__ADS_1


"Ya udah...


Abis makan tidur ya..


Istirahat yang cukup.


Aku pingin kamu fit saat kita menikah." kata Sandy.


"Fit ?!


Emang lu bakal di kasih jatah, San ?!" kembali suara Robert terdengar mengejek Sandy.


Reva memerah.


Ini Om-om nya kok vulgar sekali ya ?


Sandy melihat rona di wajah Reva.


Dia terkekeh, merasa terhibur dengan keluguan Reva.


"Mas...aku tutup ya telponnya." kata Reva.


"Iya ..


Inget yaa...


Jangan keluar kamar.


Pesan makanan aja."


"Iya.


Bye.. Mas..."


"Bye Sayang..."


Sandy tidak mengusap tombol merah di layar ponselnya. Dia hanya menunggu Reva yang menutup telponnya.


Saat layar menggelap, Sandy meletakkan ponselnya di meja.


Dia mengernyit.


Jelas sekali.


Tadi Reva hampir memanggil nama Steven sebelum Sandy memotongnya.


"Kenapa Lu ?" tanya Michael.


Sandy tidak menjawab.


Matanya masih merenung.


"Oiii !!" sentak Robert.


Sandy menengadah.


"Steven dimana ?"


"Masih di Beijing."


"Di Rosewood ?" kejar Sandy.


Robert dan Michael saling bertatapan.


"Kel !!


Lu paham kan perasaan gue ?!


Dulu waktu Daniel sama Tia..." kata Sandy sengit.


"Oke... oke...


Gue paham." potong Michael mengangkat tangannya.


Dia lalu beranjak bangun dari tempat duduknya dan hendak berjalan keluar ruangan Sandy.


"Kel !" panggil Sandy.


Michael berhenti lalu menoleh.


"Lu telpon dia di sini."


"Kenapa ?


Lu gak percaya sama gue ?" tanya Michael.


"Iya." tantang Sandy.


Michael menatap Sandy tajam, lalu menghembuskan nafasnya.


Dia kembali berjalan ke arah kursi yang tadi ditinggalkannya.


Setelah duduk, dia lalu menelpon Steven.


Matanya tetap menatap Sandy.


Mereka saling bertatapan.


"Halo.." sapa Steven dari ujung line.


"Hey Steve !"


"Boss !


Tumben...


Ada apa ?" sapa Steven dalam logat Indonesia


Sandy yang ikut mendengarkan mengernyitkan dahinya.


Dia tidak suka mendengar Steven berbicara dalam bahasa Indonesia, bahasa mereka.


Itu hanya mengingatkannya tentang betapa Steven mencintai Reva.


"Kamu lagi ngapain ?" kata Michael.


Steven tersenyum.


"Kerja dong Boss.


emangnya ngapain lagi ?" jawabnya santai.


"Malam-malam begini ?" tanya Michael lagi.


Dia sedikit memberi petunjuk pada Steven dalam suaranya.


Steven tertawa.


"Iya...


Kayaknya malah lanjut sampe pagi.


Nih...liat." jawab Steven sambil mengubah posisi kameranya.


Terlihat suasana kantor dengan banyak orang mengelilingi meja. Monitor-monitor besar menampilkan data dan diagram.


Sekilas nampak Mike sedang sibuk dengan laptopnya.


Sandy menghela nafas lega.


Paling tidak, Steven tidak ada di sekitar Reva.


Biar saja dia sibuk !


"Rajin kamu.." cetus Robert.


Steven tertawa.


"Mencari sesuap nasi dan sebakul berlian.


Begitu ya ungkapan kalian ?" katanya.


Michael dan Robert tertawa.


"Kamu tau banget istilah kami !" jawab Michael.


"Tau dong !" balas Steven.


"Jadi...malam ini kamu lembur nih, gak pulang ke hotel ?" tanya Michael langsung.


"Lembur Boss." jawab Steven lagi.


Michael tertawa.


"Bagus !


Eh .. ngomong-ngomong, kamu nginep di mana sih ?" katanya menyelipkan pertanyaan Sandy di balik perkataan nya.


"Boss mau ke sini juga ?" balas Steven.


Dia tau maksud pertanyaan Michael.


"Hmm...


Bagus gak tempatnya ?"


"Lumayan.


Tapi yang paling penting, aku cuma jalan kaki ke WFC." jawab Steven.


"Loh...kamu nginep dimana ?"

__ADS_1


"Rosewood." jawab Steven terang-terangan.


__ADS_2