
Pagi itu, Addrian mengajak Aira pergi ke rumah sakit guna memeriksakan kandungannya.
Tampak layar televisi besar di depan mereka berdua dan terlihat sebuah gerakan di sana.
"Bayi kalian sehat. Ini kepalanya dan kedua tangannya. Hidungnya sangat mancung," jelas dokternya.
Aira dan Addrian tampak tersenyum bahagia melihat apa yang ada di depan mereka. "Bayi kami sudah terlihat sangat jelas, Dok."
"Iya, dia sudah terbentuk dengan baik, tapi belum benar-benar sempurna. Kalian masih harus bersabar menunggu beberapa bulan lagi."
"Aku sudah tidak bersabar melihat anakku lahir, Dok. Dia pasti mirip denganku karena memiliki hidung yang mancung."
"Hidungku juga mancung, Mas, siapa tau dia juga mirip denganku," sela Aira tidak mau kalah.
Dokter cantik itu hanya bisa tersenyum melihat pertengkaran sepasang suami istri yang sangat manis itu."
"Dok, apa jenis kelaminnya juga sudah terlihat?"
"Bayi kalian berjenis kelamin laki-laki. Ini sudah tampak pentungannya."
"Hah? Pentungan?" Addrian seketika mendelik kaget.
"Alat kelaminnya, Addrian."
"Dokter serius anak aku laki-laki?" Wajah Addrian tampak bersinar bahagia.
"Iya, anak kalian laki-laki dan dia sangat sehat."
"Katanya kalau anak laki-laki, wajahnya cenderung mirip ibunya. Besok dia pasti wajahnya mirip denganku."
"Iya, dia mirip sama kamu, tapi sifatnya mirip aku."
"Jangan sampai, Mas."
"Lah kenapa? Dia, kan, anakku. Apa dia bukan anakku?" Addrian menaikkan salah satu alisnya.
"Hem!" Aira langsung mencubit perut Addrian dengan cubitan mautnya sampai sang suami meringis kesakitan.
Dokter cantik yang sudah kenal mereka berdua tampak menggeleng-gelengkan kepalanya melihat senang.
***
Hari berlalu dengan cepat. Perut Aira juga semakin membesar hampir memasuki usia delapan bulan.
Addrian pun sudah berkutat dalam dunia bisnis. Dia bekerja dengan sangat baik. Daddynya pun bangga karena Addrian bisa belajar dengan cepat.
"Selamat Pak Uno, kita memenangkan tender kali ini."
"Terima kasih, Mba Mona. Semua ini juga berkat kerja sama kita semua."
"Pak Uno lah yang sudah banyak berusaha dan pandai membawa perusahaan ini ke arah yang lebih baik. Daddy Pak Uno tidak salah memilih Pak Uno memimpin perusahaan ini."
__ADS_1
"Terima kasih sekali lagi. Aku senang bisa membawa perusahaan Daddy maju."
Tidak lama ponsel Uno berdering dan dia melihat nama daddynya. "Nak, selamat atas keberhasilanmu."
"Terima kasih, Dad."
"Kamu belajar cukup cepat dan baik. Daddy merasa tenang sekarang jika suatu hari memberikan perusahaan itu di tanganmu untuk kamu kelola."
"Aku hanya membantu, tapi daddylah yang sudah sabar mengajariku."
"Kamu memang putra terbaikku. Walaupun kamu tidak berasal dari benihku, tapi aku tau kamu adalah putra yang bisa aku banggakan."
"Aku sangat menyayangi Daddy."
"Daddy juga sangat menyayangi kamu, Jagoan. Nak, ada hadiah kecil yang Daddy kirimkan untuk kamu dan keluargamu, dan semoga kamu serta Aira menyukainya."
"Hadiah kecil?"
"Iya, ayah kirimkan ke rumah kalian. Selamat bertugas kembali ya, Nak."
"Terima kasih, Dad."
Addrian tampak penasaran hadiah kecil apa yang daddynya ingin berikan padanya?
"Saya senang melihat Pak Uno dan Tuan Daddy sangat akrab seperti teman, padahal saya tau jika Pak Uno bukan anak kandung Tuan Daddy, tapi kalian seperti ayah dan anak kandung."
"Aku juga menyayangi ayahku, Daddy juga. Mereka berdua adalah dua orang pria yang sangat berarti dalam hidupku."
"Tidak perlu, Mba. Nanti aku ada meeting dan akan makan siang dengan klien bisnisku yang baru."
"Kalau begitu saya permisi dulu."
Uno merapikan meja kerjanya. Setelah itu dia tampak melihat pada bingkai foto yang ada di depan mejanya.
"Apa yang sedang dia lakukan di rumah, ya?" Uno mengambil ponselnya dan menghubungi wanita yang sangat dia cintai.
"Halo, Mas, kebetulan kamu menghubungiku. Tadi aku mau menghubungi kamu."
"Oh ya? Kenapa bisa pas sekali?"
"Tentu saja, kita itu suami istri jadi chemistrynya sangat kuat."
"Karena kamu sudah menyatu denganku, Sayang."
"Iya, me-nya-tu," ucap Aira mengeja.
"Awas kalau aku pulang nanti. Berani sekali menggoda suaminya."
"Siapa yang menggoda? Jangan memulai, Mas. Perutku sudah semakin besar dan sulit jika harus bercinta sama kamu."
"Kamu lupa apa kata dokter cantik dan sexy itu," suara Addrian dipelankan pada tiga kata terakhir.
__ADS_1
"Iya, aku tau jika aku sudah tidak sexy."
"Siapa bilang? Kamu malah ratunya sexy bagiku."
Terdengar suara tawa cekikikan dari Aira. "Mas, merayu kamu berhasil."
"Kalau begitu nanti malam ya? Kata dokter malah menyarankan kita sering berhubungan untuk membuka jalan bayi. Katanya kamu mau melahirkan secara normal?"
"Iya, tapi kok capek rasanya bercinta dengan perut yang sudah besar."
"Nanti akan aku buat kamu tidak capek."
"Selalu memaksa. Mas, aku sampai lupa mau mengatakan jika ada hadiah dari Daddy untuk kamu dan itu sudah ada di rumah."
"Memangnya apa hadiahnya, Sayang?"
"Kata Daddy kamu harus lihat sendiri. Aku tidak boleh memberitahumu."
"Kenapa pakai acara main rahasia sama aku?"
"Ini bukan rahasia, Ini kejutan. Jadi, cepat pulang agar kamu tau hadiah apa yang Daddy kirimkan untuk kamu, Mas."
"Kalau pulang cepat aku tidak bisa, Sayang karena aku ada meeting sebentar lagi. Ini klien baru dan dia mengajakku makan siang."
"Klien baru? Apa dia seorang wanita?"
"Iya, dia wanita cantik, sexy, pandai dan sukanya memakai baju sexy. Namun, sayang namanya Andreas."
"Mas! Kamu mengesalkan! Pokoknya setelah selesai urusan pekerjaan ya langsung pulang. Aku menunggu kamu di rumah."
"Iya, aku akan segera pulang setelah pekerjaanku selesai. Sayang, sudah dulu ada yang mengetuk pintu, dan kamu jangan lupa makan yang banyak. Aku mencintai kamu."
"Aku juga mencintai Mas Addrian."
Addrian mengakhiri panggilannya dan kemudian menyuruh seseorang yang mengetuk pintu kantornya untuk masuk.
"Pagi, Pak Addrian," sapa seorang gadis yang sangat Addrian kenal.
"Citra, ada apa?"
Gadis bernama Citra itu berjalan masuk dengan tangan membawa lunch box berbentuk rantang kecil yang cantik.
"Kamu pasti belum makan siang. Kebetulan aku tadi masak banyak untuk bekal makan siang di kantor, dan aku juga membawakannya untuk kamu." Citra menaruh tantangnya di atas meja di depan meja kerja Addrian.
"Terima kasih, tapi aku tidak makan siang di kantor karena aku mau meeting sekaligus makan siang dengan rekan bisnisku yang baru."
Wajah Citra yang duduk di sana tampak terlihat sedih dan kecewa. "Tapi aku sudah membuatkan makan siang ini. Lalu, harus aku apakan makan siang ini?" Citra melihat ke arah rantang makanannya.
Addrian beranjak dari tempatnya dan berjalan mendekati Citra. "Bagaimana kalau kamu berikan pada teman kamu saja?"
Citra tidak akan mau memberikan masakan yang dia buat khusus untuk pria yang dia cintai pada orang lain.
__ADS_1