Kamu Milikku

Kamu Milikku
Renungan Steven


__ADS_3

Tok.. tok..


Reva masuk membawa nampan.


"Steve..ini kopinya.


Ada muffin hari ini."


Steven melirik.


Lalu memutar kursinya sedikit agar bisa menghadap Reva.


Dan langsung menyesal.


Reva tengah mengatur letak mug dan piring.


Cincin di jarinya bergerak-gerak, bersinar memantulkan cahaya lampu.


Steven menatap cincin itu.


Terselip manis di jari Reva yang ramping.


Bukan cincinnya.


Dia sudah memiliki bayangan seperti apa cincin untuk melamar Reva.


Sebuah cincin dari batu ametis berwarna ungu dengan diamond- diamond kecil melingkarinya.


Batu ametis ungu dengan potongan rumit.


Dia sudah melihat-lihat di Pandora.


Sekarang dia menatap cincin yang melingkar di jari Reva.


Cincin safir berwarna biru.


Bukan cincinnya.


Cincinnya berwarna ungu.


Dan gadis ini bukan tunangannya.


Dia tunangan orang lain.


"Aku tinggal ya Steve..." kata Reva memutus lamunan Steven.


Steven mengangkat wajahnya menatap Reva.


"Va.." panggilnya.


"Ya..?"


"Aku...


Maaf..aku gak bisa ngucapin selamat sama kalian."


Reva tertegun.


"Gak papa Steve."


"Tapi aku minta maaf atas ucapan ibuku kemarin."


"Aku paham Steve.


Beliau ingin yang terbaik untukmu." jawab Reva sambil memeluk nampannya.


Muka Steven berubah menjadi geram.


"Aku pergi dulu." kata Reva.


Dia berbalik.


"Va.."


Reva kembali berbalik.


"Hmm..?"


"Kamu mau pindah ?"


"Iya Steve."


"Kapan ?"


"Aku belum tau.


Om pingin secepatnya.


Tapi..aku mau ujian."


"Kasih tau aku.


Nanti aku bantu."


"Iya..


Nanti aku kasih tau.


Aku keluar dulu." kata Reva kembali membalikkan badannya.


"Va...


Apartemen itu bakal aku kosongin..


Siapa tau..


emm..siapa tau kamu butuh lagi." kata Steven menatap punggung Reva.


Reva menghentikan langkahnya.


Dia tidak berbalik.


"Terserah kamu aja Steve.


Itu punya kamu." katanya lalu keluar.


Steven menghembuskan nafasnya.


Tangannya mengepal.


Malam itu sepulangnya dari resepsi saat mengantar ibu dan ayahnya, mereka bertengkar hebat.

__ADS_1


Steven mengamuk.


Ayahnya tadinya mendukung ibunya.


Steven diharapkan akan membawa nama baik keluarga Chou.


Dia tidak boleh menikah dengan sembarang orang.


Tapi saat mendengar bahwa Reva ternyata dekat dengan keluarga Chang, dia berbalik mendukung Steven.


Bisnis itu membutuhkan relasi.


Ayahnya menyalahkan ibu Steven.


Yang tidak melakukan penyelidikan awal dulu dan langsung menemui Reva untuk memutuskan hubungan dengan Steven.


Ibu Steven langsung membentak ayah Steven.


Dia sudah menyelidiki latar belakang Reva..


Reva itu cuma anak petani.


Kebetulan saja dia sekolah di sini..


Jangan-jangan Reva diterima karena hubungan dekat Omnya dengan kampusnya.


Yang langsung dibantah oleh Steven.


Steven tau sekali riwayat Reva di kampus.


Dia bahkan hafal dengan nilai-nilai Reva berkat kemampuan ingatan fotografisnya.


"Ada banyak sekali gadis cantik, orang kita sendiri dari keluarga kaya dan terhormat yang bisa kamu pilih, Steve !" bujuk ibunya.


"Aku tidak mau mereka semua !" bentak Steven.


Steven sudah kalap.


Dia menyaksikan sendiri bagaimana Reva begitu saja ditarik keluar dari kehidupannya.


Dua kali.


Saat Sandy menyematkan cincin di jari manis Reva di hadapan semua orang dan wartawan.


Dan saat ibunya menghina Reva.


Dia melihat cara Madam Chang menatapnya.


Cara Willy menatapnya.


Dan mereka berdua menyiratkan kata-kata 'BODOH' padanya.


Di lain pihak.


Ibunya masih memegang teguh tradisi bahwa menikah haruslah dengan keluarga yang terhormat.


Dari kalangan mereka.


Tidak peduli ada cinta atau tidak.


Steven selama ini selalu dipertemukan dengan gadis-gadis seperti itu.


Dan dia pada akhirnya menghindar.


Steven mengagumi Michael.


Michael masih muda, masih SMA saat memiliki sebuah game company.


Michael cerdas, muda dan kaya.


Tapi tidak pernah terlihat tertarik pada gadis-gadis yang mendekati nya.


Robert dan Sandy mengatakan bahwa Michael sudah punya pacar.


Saat Michael mengenalkan pacarnya pada para anak buahnya di kantor, Steven terpesona.


Jadi ini pilihan Michael.


Pantas saja, batinnya.


Gadis pilihan Michael cantik, jago nyanyi dan pintar.


Dia kuliah di Aussie.


Mengambil jurusan arsitektur.


Jelas bukan gadis biasa.


Sejak itu, Steven menetapkan pilihannya.


Tak sengaja dia bertemu pertama kali dengan Reva saat pesta pernikahan Michael.


Gadis tanggung berumur lima belas tahun yang memanggilnya dengan sebutan uncle.


Dan membuat mereka berdua berdebat.


Steven jelas tidak mau kalah.


Dia baru berusia dua puluh tahun.


Masa dipanggil uncle ?!


Dan dia mengingat gadis itu saat bertemu kembali tiga tahun kemudian.


Dari sanalah cerita ini bermula.


Steven menghembuskan nafas dengan kasar.


Sampai saat ini...cuma Reva gadis yang bisa diajak bertukar pikiran dengannya.


Cuma Reva yang bisa memahami dia.


Cuma Reva yang dapat menjangkau cara berfikirnya.


Otaknya yang jenius.


Gadis-gadis lain yang disodorkan orang tuanya tidak ada yang mampu menjangkau cara berpikirnya.


Dan dia bosan mendengarkan mereka.


Orang tua nya tau bahwa dia jenius.

__ADS_1


Tidak kah mereka paham bahwa dia membutuhkan pendamping yang sama pintarnya ?


Kenapa mereka cuma memikirkan tentang cantik dan terhormat saja ?


Dunia pernikahan tidak melulu hanya melihat cantik saja.


Tapi orang yang nyaman kita ajak berkomunikasi dengan baik.


Reva bukan sekedar pintar.


Dia juga cantik.


Dia juga....dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Steven.


Dia sempurna untuk Steven.


Sekarang gadis itu di luar jangkauan nya.


Gadis itu..


Kening Steven berkerut.


Dia mengenal Reva.


Dan dia yakin Reva masih mencintainya.


Kalau dia tidak salah mengartikan kata-kata Reva di kamar hotel waktu itu.


'Kita adalah dua dunia yang berbeda


Gak akan pernah bisa bersatu.'


Begitu kata-kata Reva.


Reva sengaja bertunangan supaya dia bisa melupakan Reva.


Itu cara Reva mencintainya.


Reva tidak ingin dia berhadapan dengan orang tuanya.


Melawan orang tua.


Reva baru bertunangan.


Masih ada kesempatan.


Kapan mereka akan menikah ?


Nanti dia akan mencari tau.


Kalau masih lama...


Yaah....yang sudah menikah saja bisa bercerai...apalagi cuma bertunangan kan ?


Dan sementara itu, dia akan meyakinkan Reva bahwa orang tuanya lama kelamaan akan memberi restu juga.


Setelah meyakinkan Reva, dia akan membawa Reva ke luar Taiwan.


Mereka bisa hidup dimana saja.


Uang bukan masalah.


Karir Reva juga bukan masalah.


Dia cerdas.


Dia bisa berkarir dimana saja.


Nah..sekarang...


Bagaimana meyakinkan Reva ?


Itu bagian yang susah.


Reva jelas tidak segan-segan meninggalkan nya karena masalah orang tua.


Steven tersenyum sayang.


Dia tidak ragu.


Anak-anak mereka akan dididik oleh Reva agar menyayangi orang tuanya.


Reva sendiri menyayangi orang tuanya.


Tok..tok..


Steven mengangkat wajahnya.


Bibirnya tersenyum.


Gadis yang sedang dipikirkannya berdiri di pintu ruangannya.


"Kenapa senyum-senyum sendiri ?" tanya Reva.


"Emang gak boleh senyum ?" balas Steven.


"Serem ah...!" kata Reva.


"Apa ?" tanya Steven.


"Aku pulang dulu." kata Reva.


"Aku anterin ?"


Reva tersenyum.


"Aku harus balik ke kampus, Steve.


Lagian aku bawa mobil sendiri." katanya


"Oh..oke."


"Bye Steve.." pamit Reva.


"Bye.."


Reva berbalik.


Steven masih menatap punggung Reva yang kemudian menghilang di balik partisi.


Reva Tidak akan menjadi Revalina Gunawan.

__ADS_1


Dia akan menjadi Revalina Chou.


...☘️🍇🍓🌴...


__ADS_2